
"Jadi sekarang kita pacaran ya...ya...." Rein berkali - kali mengulang perkataannya sampai membuat Luna sebal dan langsung menyuruhnya diam karena tidak ingin semua orang tahu. Luna juga meminta agar untuk sementara hubungan mereka dirahasiakan terlebih dahulu dari rekan - rekan kerjanya. Mungkin untuk beberapa orang terdekat mereka saja yang boleh tahu.
"Memangnya kenapa kalau semua orang tahu? Bukankah bagus, jadi tidak akan ada yang berani mendekatimu. Terutama Zayn yang brengsek itu" ujar Rein.
'Bletak' kepala Rein ditimpuk oleh Luna menggunakan sumpit yang ada diatas mejanya dan membuat Rein mengaduh kesakitan.
"Aichi, baby, kenapa kamu mukul aku. Sakit tahu" protes Rein.
"Kamu kalau ngomong suka sembarangan deh, kamu lupa situasinya" seru Luna mengingatkan.
Rein menggaruk kepalanya dan mengangguk, Rein hanya tidak mau Luna kembali didekati oleh pria lain seperti Zayn. Membayangkannya saja Rein sudah sangat kesal, apalagi melihat kekasih barunya ber-akrab ria dengan pria lain.
"Halo...." tiba - tiba ponsel Luna berbunyi, rupanya assisten sutradara menelponnya dan meminta agar Rein bisa kembali ke lokasi karena ada adegan yang harus dia ulang. Rein mendengus kesal dengan panggilan kerja ini, padahal dia ingin menghabiskan waktu bersama - sama dengan Luna lebih lama.
Luna tersenyum geli saat menatap Rein yang merengut kesal, dan segera menariknya pergi. "Ayo cepet, cari duit biar bisa beliin aku makan enak" sahutnya seraya mendorong tubuh Rein keluar dari restoran setelah selesai membayar bill pesanan mereka.
***
"Rein, aduh sorry banget adegannya yang tadi harus diulang. Lo ada acara nggak bentar lagi?" tanya Hamdan assisten sutradara.
"Emang kenapa sih bang harus diulang? Bukannya tadi bang Doni udah bilang oke" tanya Rein yang kelihatan sekali kalau dia sangat kesal harus mengulang adegan yang seharusnya sudah dia selesaikan.
"Iya sorry banget, kata bang Doni adegan kiss scene kurang greget dan kurang dapat feelnya makanya harus diulang" balas Hamdan.
Jangan ditanya bagaimana reaksi Luna saat mendengar adegan kiss scene yang harus diulang itu, matanya serta merta langsung memberikan lirikan tajam menusuk ke arah Rein. Tapi sayangnya Rein tidak menyadari hal tersebut.
"Rein, lo bisa kan ulang adegannya. Nggak lama kok, setelah take lo bisa langsung cabut. Easy" imbuh Hamdan lagi.
Rein menimbang - nimbang, tawaran Hamdan. Tiba - tiba Rein merasakan bulu kuduknya meremang, seperti ada kekuatan tak kasat mata yang siap untuk menerkam dan membunuhnya sewaktu - waktu di belakangnya. Lalu saat Rein menoleh, dia paham kenapa bulu kuduknya tadi meremang, tatapan tajam dari Luna lah penyebabnya. Rein menyadari jika kekasihnya sedang cemburu.
"Gimana Rein? Lo setuju kan, kalau lo setuju. Cepet lo ganti baju terus dirias lagi sama Alena" imbuh Hamdan yang langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Rein.
Rein dan Luna sama - sama terpaku ditempatnya, tampak keduanya terlihat canggung satu sama lain. "Ngapain masih mematung disini? Mau jadi patung roro jonggrang?" sarkas Luna yang membuat Rein keki.
"Kamu marah?"
"Nggak lah, ngapain aku marah. Ini kan emang kerjaan kamu. Jadi ya aku harus terima dong. Masa gini aja marah sih" kelit Luna.
Walaupun Luna berkata seperti itu tetap saja Rein tahu kalau Luna memang cemburu, dan dia merasa senang jika Luna cemburu padanya, artinya Luna memang benar - benar mencintainya seperti dirinya yang mencintai Luna.
Rein pun bergegas mengganti pakaian dan merias wajahnya lagi, dia ingin segera menyelesaikan adegan yang harus diulang ini supaya segera selesai. Malam ini dia berencana untuk mengajak Luna makan malam di restoran miliknya. Selain menjadi artis dan penyanyi solo, Rein juga sedang berusaha membangun bisnisnya sendiri. Setelah modalnya cukup Rein ingin berencana untuk pensiun dari dunia hiburan dan fokus mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner seperti cita - citanya dulu. Bahkan Rein juga berencana untuk mengambil sekolah masak dan menjadi seorang chef profesional.
Baginya menjadi artis dan penyanyi solo tidak bisa dia pertahankan selamanya, karena selalu akan ada bibit - bibit baru yang akan menggantikannya nanti. Untuk itulah dia ingin mempersiapkan dirinya dari sekarang. Dia tahu jika untuk bisa keluar dari dunia entertainment tidak akan mudah, mengingat ibunya tidak akan mengijinkannya begitu saja untuk berhenti karena itu sama artinya menghentikan pundi - pundi uang masuk ke kantong mereka.
"Kayaknya lo happy banget hari ini Rein, dari tadi senyum terus" kata Alena sambil memoles wajah Rein supaya tampak makin tampan dan makin bersinar di kamera.
"Iya kak, gue lagi happy banget hari ini" balasnya sambil terus saja tersenyum melirik ke arah Luna yang sedang sibuk menggambar sesuatu di bukunya menggunakan pensil. Alena menyadari lirikan Rein dan menoleh ke arah Luna, lalu tersenyum. Baginya tidak sulit untuk mengartikan tatapan penuh cinta yang dilayangkan oleh Rein kepada Luna. Pun Alena juga sudah menyadari dari gerak - gerik dan tingkah laku Rein dalam memperlakukan Luna. Alena sudah lama mengenal Rein jadi dia tahu kalau saat ini Rein sedang jatuh cinta.
"Iya deh yang lagi happy... semoga happy terus" imbuh Alena.
"Rein!!!!" suara seorang wanita memekik memanggil nama Rein begitu dia masuk kedalam ruang makeup.
Semua orang yang ada diruangan tersebut langsung menoleh, termasuk Luna. Matanya memandang wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, wanita dengan rambut panjang curly terurai, Wajahnya memiliki bentuk oval, dengan alis yang tebal terbentuk dengan sempurna. Matanya yang besar terlihat berbinar-binar saat dia menatap Rein.
"Siapa ni cewek? Apa dia artis atau model?" tanya Luna dalam hati.
"Kapan kamu datang?" tanya Rein.
Wanita itu tersenyum dan menghampiri Rein dengan senyum sumringah di bibirnya, dan langsung memeluk Rein erat bahkan tanpa malu - malu wanita itu mencium pipi Rein. Tampak raut terkejut di wajah Rein.
"Nat, apa - apaan sih kamu" protes Rein yang langsung melirik Luna yang sudah memberikan tatapan tajam padanya. Rein bisa melihat aura gelap mulai menyelimuti Luna dan tanpa sadar dia bergidik ngeri.
Luna mendelik begitu melihat pemandangan dihadapannya. "Cih, sepertinya dia kesenangan sekali dicium wanita cantik" gerutunya.
"Aku kangen sama kamu tahu nggak, tadi tante Angeline yang ngabarin kalau kamu ada disini jadinya aku nyusulin kamu"
"Aku udah selesai kuliah dan baru balik kemarin dari Singapore. Kamu makin ganteng aja ya" Natalie mengusap kepala Rein dan juga menggenggam tangan Rein erat.
"Jadi kapan kamu mau ngelamar aku?"
"Uhukkkk... uhukkkk" baik Alena maupun Luna langsung terbatuk ketika mendengar pertanyaan itu. Melamar? Maksudnya selama ini Rein sudah punya kekasih dan berniat untuk melamar wanita ini?
"Nat, kamu becandanya jangan keterlaluan deh. Nggak enak kan kalau didengar orang lain" balas Rein yang mulai terlihat panik.
Wajah Rein mulai mengeluarkan keringat dingin takut jika sampai Luna salah paham dengan pertanyaan Natalie.
"Muka kamu kenapa panik gitu sih Rein, udahlah santai aja. Sorry becanda gue kelewatan ya" candanya.
'Krataaaakkkkkk' Saking gemas dan sebalnya melihat Natalie, Luna sampai mematahkan pensil ditangannya menjadi dua dan melemparnya secara asal ke lantai.
"Kak Alena, aku keluar dulu ya. Disini gerah banget kayak di neraka" sarkas Luna lagi.
Alena mengangguk sambil melirik ke arah Rein yang tampak ingin menghentikan langkah Luna.
Luna kemudian gegas mengajak Eric untuk menemaninya ke mobil, "Bang kalau Rein tanya, bilang aja aku pulang duluan. Makasih" sahut Luna sambil mengambil barang - barangnya di mobil.
***
Luna yangs edang dalam perjalanan pulang menggunakan taxi online benar - benar mengabaikan seluruh panggilan dan pesan dari Rein. Dia masih kesal karena Rein tidak menolak ketika Natalie memeluk dan mencium pipinya. "Dasar buaya" makinya dalam hati.
Sesampainya dirumah, Luna kembali dikejutkan dengan kehadiran ayahnya yang sudah resmi bercerai dengan ibunya itu. "Ayah...."
"Kak duduk sebentar, ayah sama ibu mau bicara" ucap ibunya dingin. Luna merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres, apalagi saat dia melihat Jeje menunduk ketakutan.
"Kenapa bu?" berhati - hati Luna duduk di sofa disamping ibunya.
"Jawab pertanyaan ayah sama ibu dengan jujur. Bener kamu cuti kuliah?" pertanyaan ibunya langsung membuat Luna terdiam.
****
...Mohon dukungan untuk author, klik like, komen, rate and vote....
...Dukungan kalian berarti sekali buat author...
...Terima kasih...
...Salam sayang dari abang Rein dan mbak Bulan....
...❤️❤️❤️...