
Hari ini adalah hari terakhir Luna menjadi asisten Rein. Luna sudah menyiapkan sebuah kado manis untuk Rein, dan hari ini juga Luna sengaja datang lebih pagi dari biasanya untuk memberi kejutan kepada Rein. Semalam setelah selesai melakukan syuting podcast, Luna ijin untuk pulang terlebih dahulu karena harus mengurus registrasi ulang semester baru di kampusnya. Sebenarnya Luna sendiri enggan untuk pulang lebih cepat mengingat saat itu ada Natalie yang juga ada disana, melihat perempuan itu begitu intens menggoda Rein membuat Yura sempat emosi. Kalau saja Dindra tidak menghubungi Luna dan memberitahu bahwa kemarin adalah hari terakhir untuk registrasi dan pendaftaran mata kuliah yang akan dia ambil, Luna tidak akan meninggalkan Rein berdua bersama dengan ulat bulu rontok seperti Natalie yang sedikit - sedikit nonggengin bokong teposnya supaya terlihat seksi di mata Rein.
Sementara itu Eric sendiri hanya berdiam diri di mobil, sebelum malam hari dia kembali melanjutkan tugas dari Rein mencari keberadaan Arif yang masih juga belum ditemukan.
Sementara di tempat lain Roy kembali menuruni penjara bawah tanah tempat dia menyekap pria tua yang tubuhnya mulai kurus dan menampakkan tulang belulang di dadanya, bau busuk kencing dan kotoran memenuhi penjara bawah tanah itu. Rambutnya yang memutih dan wajahnya yang dipenuhi jenggot tampak menghitam karena debu dan keringatnya sendiri.
"Laaapaarrr.... Lapaarrr" lirih pria itu begitu melihat Roy datang dengan langkah angkuhnya.
Pria yang masih dalam kondisi terantai di lehernya itu tidak bisa leluasa bergerak karena ujung rantai yang menancap kuat di tembok, kaki dan tangannya pun juga tak lepas dari borgol yang memiliki rantai dan tampak mulai karatan.
Roy membuka pintu jeruji besi dan berjongkok didepan pria yang mengais - ngais lantai dengan jari yang dihiasi kukunya yang memanjang dan menghitam karena darah, "Beri aku air dan makanan, aku lapar sekali. Kalau kau menyiksaku seperti ini, lebih baik kau membunuhku" ucap pria itu.
Roye menunjukkan seringai jahatnya, "Kau belum boleh mati terlebih dulu. Bahkan jika kau ingin mati, aku akan membuatmu hidup"
Roy lalu mengambil selang air, dan menyemprotkan air untuk meluruhkan bau kotoran dan pesing kedalam saluran pembuangan air. Dia lalu menyemprotkan air ke tubuh pria malang itu, alih - alih menghindar pria itu justru menengadahkan kepalanya dan meneguk air yang keluar dari selang tersebut untuk menghilangkan rasa haus dan lapar yang melilitnya.
Selesai melakukan itu, Roy melemparkan sebungkus nasi dan sebotol air untuk pria itu dan pergi meninggalkan pria itu yang tampak rakus memakan nasi pemberian Roy.
***
Luna memasuki apartemen Rein yang tampak sunyi, "Rein masih tidur kayaknya. Masih satu jam lagi, biarin dulu kali ya sambil gue siapin semuanya"
'Ceklek'
"Udah datang Lun?" tanya Eric yang juga baru saja tiba dari pencariannya.
"Iya bang, abang juga baru nyampe?" Eric mengangguk dan segera pergi ke kamarnya untuk mandi.
"Mending lo bangunin Rein deh, tau sendiri kan dia susah buat dibangunin" ucap Eric.
"Iya abis gini bang, mau nyiapin barangnya Rein dulu" senyum Luna.
Selesai menyiapkan segala keperluan Rein, Luna bersiap untuk membangunkan Rein. Perlahan dia memasuki kamar Rein dan membuka tirai hingga membuat sinar matahari masuk dan menerpa wajah Rein serta menerangi kamar Rein yang gelap gulita.
"Rein, bangun.. Hari ini kamu ada pemotretan. Jangan sampai telat" ucap Luna sambil membuka tirai kamar Rein satu persatu.
"Ehmmmm, iyaa aku bangun" sahut Rein lirih.
Luna berbalik menatap Rein, tapi sesaat kemudian matanya membeliak ketika dia melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat. Wajah Luna menegang, apalagi saat sebuah wajah yang begitu membuatnya sebal dan dongkol setengah mati muncul.
"Rein...." lirih Natalie dengan wajah mengantuk.
Rein menoleh dan terjungkal karena kaget saat mengetahui Natalie ada di sampingnya, "L-Lo, ngapain lo disini?!!!" teriak Rein.
"Sayang, Luna ini... ini nggak kayak yang kamu pikir. Kamu salah paham. Biar aku jelasin dulu" sahut Rein yang langsung menghampiri Luna berusaha menjelaskan duduk perkaranya kepada Luna yang dari sudut matanya sudah terlihat genangan air mata yang siap akan tumpah kapan saja.
"Stop!!! Jangan dekat - dekat!!!" Luna berusaha mengatur nafasnya dan debaran jantungnya melihat pemandangan pagi ini yang sangat membuatnya sakit hati dan kecewa. Dadanya sesak, apalagi melihat Natalie keluar dari dalam selimut hanya menggunakan pakaian dalam saja sementara Rein menggunakan kaos oblong dan boxer tipis.
Tak sanggup berkata - kata Luna keluar dari apartemen tersebut, disusul oleh Rein yang mengejarnya dan menahan tangannya. "Luna tunggu dulu, kamu salah paham. Aku nggak ngapa - ngapain sama dia!!!" teriak Rein.
"Nggak ngapa - ngapain? Kalian tidur di ranjang yang sama, bahkan dia cuma pakai bra dan cd doang itu kamu bilang nggak ngapa - ngapain?. Aku yang gila atau kamu?"
"Stop!!! Jangan bawa - bawa Tuhan Rein. Meskipun kalian nggak ngapa - ngapain, tapi itu nggak ngerubah kenyataan kamu tidur di ranjang yang sama dengan Natalie. Kamu tahu? Aku chat kamu semalaman karena khawatir kamu pulang sendirian setelah teror yang kamu terima, apalagi bang Eric nggak ada di samping kamu"
"Aku nunggu Rein, aku nunggu kabar kamu. Takut kamu kenapa - kenapa, tapi kamu malah....." Luna tersenyum getir.
"Rein, Aku bisa memafkan kesalahan apapun kecuali selingkuh, kekerasan dan kebohongan. Makasih buat luka yang udah kamu buat. I'M DONE WITH YOU!!" Luna menyambar tasnya dan beranjak pergi meninggalkan Rein yang masih terus berusaha menahannya.
"Lepasin Rein!!"
"Nggak, aku nggak akan lepasin kamu. Kamu harus dengerin penjelasan aku dulu"
Sekuat tenaga Luna berusaha melepaskan diri dan menghempaskan pelukan Rein lalu berbalik dan menampar Rein. "Gue bilang lepasin gue pak Reinaldo Hartawan Atmaja".
Tamparan keras dari Luna sukses membuat Rein terpaku, dia bisa melihat air mata yang mulai jatuh menggenangi pipi Luna. "Luna..." lirihnya.
Luna pun pergi meninggalkan Rein yang seolah masih terpaku di bumi, saat dia menyadari kepergian Luna dan kembali akan mengejarnya. Eric menahan tangan Rein. "Rein..." panggil Eric yang membuat Rein menghentikan langkahnya.
Dia menatap ke arah Eric yang mengisyaratkan pada Rein agar membiarkan Luna pergi.
"Bang, Luna salah paham bang. Tolong jelasin sama Luna bang" rengek Rein dengan wajah frustasi.
"Biarin dia tenangin pikirannya dulu, dia lagi kacau. Lo juga kacau. Nggak akan ketemu solusinya, yang ada lo malah berantem sama dia" ucap Eric.
"Mendingan lo urusin perempuan yang ada di kamar lo sekarang dan cari tahu, kenapa dia bisa tidur di kamar lo" jelas Eric sambil berlalu.
Rein menatap ke arah kamarnya dengan setengah berlari dia menghempas pintu kamarnya hingga membuat Natalie yang baru saja berpakaian terkejut. "Ngapain lo dikamar gue hah?" tanya Rein emosi.
"Rein kamu lupa kalau semalem kamu pulang sama aku?" tanya Natalie dengan senyum tipis menguntai di wajahnya.
"Meskipun gue pulang sama lo, tapi ngapain lo dikamar gue dan tidur disini. Kenapa lo nggak langsung pulang?" sergah Rein.
"Kamu tega biarin aku pulang sendirian, malem - malem? Aku cewek loh Rein" sengit Natalie.
"Lagipula, semalam kamu juga menikmati kan?" cibir Natalie lagi.
"Maksud lo apa? Jangan bilang kalau gue sama lo ngelakuin itu?" tanya Rein lagi.
"Nah itu paham" sindir Natalie lagi.
"Keluar lo dari kamar gue, keluar lo dari rumah gue dan jangan pernah tunjukkin muka lo depan gue"
"Kayaknya itu hal yang sulit, lo nggak lupa kan kalau kita masih ada hubungan kerjasama?" ucap Natalie.
"Gue bakal batalin kerjasama diantara kita, dan lo nggak usah khawatir gue bakal ganti rugi" sahut Rein.
"Bang Eric....!!! Usir cewek ini dari rumah gue dan jangan biarin dia injekin kakinya di rumah ini lagi" titah Rein.
Eric pun langsung menggelandang Natalie keluar yang berontak karena ditarik paksa oleh Eric, "Sialan kamu Rein, kamu nggak bisa lakuin ini sama aku!!!!"