
Sinar mentari menyapa wajah Luna pagi itu, semalaman Luna tidak bisa tidur dengan nyenyak, terlalu banyak yang dia pikirkan dan juga menangisi keluarganya yang tidak lagi utuh. Luna mengerjapkan matanya sambil sesekali meregangkan badannya yang pegal. Matanya juga terlihat bengkak sebesar jengkol, sejenak dia merasa usianya bertambah tua beberapa tahun dalam semalam.
"Ehmmmmm, kepala gue pusing banget, badan juga pegel, mata ngantuk. Tapi gue sekarang harus kerja. Apa gue nanti mampir beli kopi aja sebelum berangkat biar nggak ngantuk, sekalian beli buat Rein dan Eric" gumamnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. Dia ingat biasanya ayahnya yang membangunkannya, sekarang dia tidak lagi mendengar seruan menyuruhnya untuk segera bangun.
"Luna kangen sama ayah" bisiknya pagi itu. Jauh dilubuk hati Luna dia sebenarnya sangat merindukan ayahnya tapi rasa kecewa, gengsi dan sakit hati terlebih melihat ibunya yang selalu bersedih membuat Luna menepis perasaan rindu itu.
Samar - samar tercium aroma masakan sedap yang membuat Luna segera beranjak dari kamarnya. Dia menuju dapur dan melihat ibunya sudah sibuk berkutat memasak, "Pagi bu" sapa Luna seraya bergelayut manja memeluk ibunya.
"Sudah bangun kak?" sahut ibunya yang sedang mengaduk sayur bayam dan menggoreng ayam untuk menu sarapan hari ini.
"Iya bu, wah kayaknya enak banget ini" seloroh Luna sambil mencoba mencomot sepotong perkedel jagung kesukaannya tapi segera ditepis ibunya.
"Mandi dulu kak, kamu nggak ada kuliah emangnya hari ini" tegur ibunya.
"Eh, i-iya, kenapa bu?" balas Luna gelagapan.
"Kamu nggak ada kuliah hari ini?"
"Oh kuliahnya diundur nanti siang bu, dosenku lagi ngisi seminar online" kilah Luna seraya berlari ke kamar mandi.
Luna mengelus dadanya di kamar mandi, sekali lagi dia terpaksa membohongi ibunya sendiri, "Maafin Luna bu, udah bohong sama ibu" gumamnya.
Singkat cerita, setelah mandi dan sarapan Luna pun pamit bergegas untuk pergi ke tempat Rein.
Eric dan Rein seperti biasa pagi itu mulai berselisih paham karena masalah sarapan, "Gimana ceritanya lo masak telur ampe gosong banget?" tanya Rein dengan wajah masam.
"Gue nggak bisa masak, lagipula apinya aja kegedean masa baru di masukin udah gosong pake meledak - ledak lagi" sewot Eric sambil membuang telur gosong itu ke tempat sampah.
"Udah deh, biar gue aja yang masak. Lama - lama dapur gue hancur gara - gara lo" tukas Rein merebut sutil dan pan dari tangan Eric lalu mencucinya.
Eric memperhatikan Rein memasak masakan dan memutuskan kalau dia akan menyiapkan meja makan saja. 'Cklek' terdengar suara pintu yang terbuka lebar dan tampak Luna yang baru saja datang.
"Hey Lun, udah datang juga akhirnya. Mau ikut sarapan?" tanya Eric.
Luna menggeleng, "Nggak usah bang, gue udah sarapan tadi dirumah. Kalian aja sarapan dulu, gue siapin perlengkapan Rein" kata Luna sambil ngeloyor ke arah wardrobe Rein.
Rein memperhatikan Luna dari dapur sejenak sebelum dibuyarkan oleh letupan telur yang dia goreng untuk sarapan. "Ini kopi lo, dan ini buat bang Rein" ucap Luna sambil memberikan dua gelas kopi untuk mereka dan segelas kopi untuknya sendiri.
"Tumben lo minum americano?" tanya Rein.
"Gue ngantuk banget, jadi minum ini biar gue nggak ngantuk. Kenapa emangnya?"
"Ya nggak papa sih, tapi kalau lo nggak biasa minum americano bisa - bisa asam lambung lo naik. Lo punya sakit maag kan?"
"Darimana lo tahu kalau gue punya sakit maag?" tanya Luna singkat.
Luna selesai mengepak perlengkapan Rein dan menunggu di ruang tamu, sejak pagi tadi kepalanya terus berdenyut, dia lalu meneguk kopi yang dia beli dan sengaja membeli kopi seperti yang biasa dibeli oleh Rein.
"Huwekkkkk" baru juga menyesap kopi miliknya, Luna langsung merasa lidahnya kebas. Kopi apa ini, pahit sekali? Menurutnya rasanya seperti meminum jus pare, sangat pahit. Baru seteguk dia minum, dia merasa kantuknya sudah hilang. Rupanya dahsyat juga efek kopi americano ala Rein ini. Hanya saja untuk meminumnya lagi Luna tidak berani, akhirnya dia justru menambahkan gula dan susu yang banyak kedalam kopinya untuk menetralisir rasa pahit kopinya itu.
"Pahitnya kopi ini udah kayak kisah hidup gue sekarang" batinnya sendu.
***
Kegiatan Rein hari ini benar - benar padat nyaris tanpa jeda, seperti dikejar - kejar oleh waktu mereka pergi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, entah kenapa Luna merasa sangat lelah hari ini. Bahkan wajahnya terlihat memucat, "Lun, lo nggak papa? Muka lo pucat banget" tanya Eric yang sedang duduk disampingnya menunggui Rein melakukan adegan demi adegan untuk syuting filmnya.
"Gue nggak papa bang, kayaknya karena kecapekan aja. Bentaran juga sembuh"
"Ya udah lo istirahat aja di mobil, nih kuncinya. Nanti kalau Rein butuh apa - apa biar gue yang kerjain. Muka lo pucat banget" ucap Eric seraya menyerahkan kunci mobil kepada Luna.
Luna mengangguk menuruti ucapan Eric, dia melangkah gontai menuju mobil dan beristirahat disana.
Selesai syuting adegan pertama, Rein tidak melihat Luna dimana pun dan hanya melihat Eric ditempat seharusnya dia bersama dengan Luna. Rein mengedarkan pandangannya ke sekeliling lokasi syuting tapi tidak juga melihat Luna.
"Aichi kemana?" tanya Rein.
"Mobil, kayaknya dia lagi nggak sehat jadi gue suruh istirahat. Mukanya pucat banget gue lihat" jawab Eric singkat.
Rein lalu pergi meninggalkan Eric dan menuju mobil, tapi yang dia lihat saat dia sampai ke mobil adalah Luna ternyata sedang berbincang - bincang dengan Zayn salah satu artis yang juga menjadi lawan mainnya dalam film terbarunya. Dia segera mempercepat langkahnya menghampiri mereka berdua.
"Ngapain lo disini?" tanya Rein sengit. Bukan menjadi rahasia umum, Zayn dan Rein merupakan salah satu saingan di industri entertainment bahkan mereka secara terang - terangan bisa saling menyindir di sosial media atau siaran live untuk menunjukkan bahwa mereka adalah yang terbaik di bidangnya.
"Weits, chill bro... Gue tadi lihat aspri lo ini sempoyongan jalan ke mobil, makanya gue tolongin ketimbang pingsan di jalan" kekeh Zayn.
"Urusannya apa lo nolongin asisten gue?" seru Rein.
"Gue nggak mau debat ya sama lo, harusnya lo berterima kasih sama gue udah nolongin asisten lo. Bukan malah marah - marah, makanya jangan lo forsir asisten lo berlebihan. Dasar edan" Zayn lalu beranjak pergi setelah berpamitan kepada Luna yang memang terlihat pucat.
Rein mendengus kesal seraya melirik ke arah Zayn yang pergi menjauh. Hatinya merasa kesal saat melihat Luna berbicara dengan Zayn. "Lo sakit?" tanya Rein dengan wajah sedikit terlihat cemas.
"Gue nggak papa, cuma sedikit pusing doang" balas Luna singkat.
Tiba - tiba saja Rein masuk kedalam mobil, duduk disamping Luna. "Ngapain lo disini, lo kan ada syuting?" tanya Luna heran dengan sikap Rein.
"Gue kepanasan, pengen ngadem. Kenapa emangnya? Nggak boleh? Lagian juga sekarang adegannya si Zayn, bukan gue" ujar Rein seraya menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Luna terpaku dengan jawaban Rein dan memilih untuk diam tidak membalas, kepalanya terlalu pusing untuk berdebat dengan Rein sekarang ini. Dia lalu ikut menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya, sebelum akhirnya dia jatuh tertidur.
Rein melirik ke arah Luna sambil tersenyum tipis.