
"Karena gue suka sama lo!!!" teriak Rein, yang langsung membuat Luna terdiam, terpaku, terpana bingung harus mengatakapan apa.
Begitu juga dengan Eric yang ikut melongo mendengar pernyataan tiba - tiba dari Rein itu, sementara itu Rein yang keceplosan berbicara langsung tertegun tidak bisa berkata - kata lagi.
"Cukup, gue cabut dari sini. Lama - lama disini bisa bikin gue sakit kepala" sergah Eric seraya beranjak pergi dari kamar Luna meninggalkan Rein dan Luna yang tampak canggung satu sama lain.
Sejurus kemudian mata Luna membulat, Rein menyukainya apa dia tidak salah dengar?.
"Lo ngomong apa barusan?" tanya Luna mencoba memastikan lagi pendengarannya.
Rein mendengus kesal ditanya seperti itu, setelah dia mendapatkan keberanian entah dari mana sampai tiba - tiba menyatakan perasaannya kepada Luna, gadis itu masih membuatnya harus mengulangi ucapannya lagi. Keberanian yang tadi ada seketika menguap begitu saja. Dia takut jika mengulangi ucapannya, Luna akan langsung menolaknya begitu saja. Seorang Rein ditolak saat menyatakan cinta, memikirkannya saja dia tidak mau. "Lupain aja, gue nggak ngomong apa - apa"
"Lo tadi bilang kalau lo suka sama gue?" ulang Luna.
"Kalau itu yang lo denger ngapain masih nanya lagi" balas Rein kesal.
"Ya karena gue mau mastiin kalau gue nggak budek denger omongan lo" sengit Luna
"Terus, lo ngerasa budek nggak???" tanya Rein sengit.
"Telinga gue masih normal ya!!!" balas Luna tak kalah sengit.
"Kalau masih normal kenapa masih nanya lagi???"
Kedua orang ini malah bertengkar hebat dan berakhir Rein meninggalkan kamar Luna sendirian.
Luna menghentakkan kepalanya ke bantal dengan kesal, padahal dia juga ingin mengatakan kalau dia juga menyukai Rein tapi kenapa Rein malah megajaknya berdebat. Memangnya salah kalau dia hanya ingin mengkonfirmasi lagi pernyataan Rein supaya tidak ada salah paham. Sepertinya memang Luna tidak bisa berpacaran dulu, di sudut hatinya dia masih takut jika membuka hatinya lebih dalam.
Sementara disisi lain, Rein tak kalah uring - uringan. Menurutnya tidak seharusnya Luna menanyakan lagi apa yang dia katakan kalau dia sudah mendengarnya dengan jelas. Apa dia tidak tahu kalau dia membutuhkan banyak keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Selama ini dia berusaha menyangkal perasaannya sendiri, tapi melihat Zayn tadi merayu dan menggoda Luna membuat hatinya terbakar dan dia tidak ingin kalau Luna sampai jatuh cinta kepada Zayn.
"Ekspresi lo jijik banget dari tadi, lo ditolak sama Luna?" tanya Eric yang melirik Rein dari kaca spion mobilnya.
"Sembarangan aja lo kalau ngomong, gue Rein mana mungkin ditolak"
"Jadi lo diterima?" tanya Eric lagi, tapi Rein justru diam tidak menjawab.
"Pasti ditolak" tebak Eric singkat.
"Diam deh congor lo, nyetir aja yang bener" wajah Rein benar - benar kecut. Matanya terpejam menyesali kenapa tadi dia harus bertengkar dengan Luna, dasar nggak romantis.
Eric tersenyum geli melihat kelakuan Rein, dia tidak mengira kalau seorang Rein akan uring - uringan hanya karena seorang gadis seperti Luna. Tiba - tiba saja Eric menginjak rem mobilnya mendadak, sampai membuat Rein terjungkal kedepan.
"Lo apa - apaan sih? Yang bener dong nyetirnya" protes Rein sambil mengelus dahinya yang terantuk sandaran kursi depan.
"Sorry, ada barang gue ketinggalan di kamar Luna. Kita balik dulu bentar" ucap Eric tanpa menunggu persetujuan Rein langsung memutar haluan kembali ke arah rumah sakit.
Merasa bersalah Eric mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri, "Maafkan saya. Saya nggak sengaja.... Eh Dindra" seru Eric dengan mata berbinar melihat gadis yang dia tabrak ternyata adalah Dindra.
"Loh, bang Eric. Masih disini?" tanya Dindra, sambil mengibaskan baju dan celananya yang kotor, serta mengambil bungkusan makanan untuk dia makan bersama Luna.
"Lo nggak papa? Maafin gue udah nabrak lo. Gue buru - buru mau ambil barang yang ketinggalan di kamar Luna" jelas Eric.
"Nggak papa sih. Tapi hati - hati dong mas, untung gue yang lo tabrak. Coba orang lain, bisa ngamuk pasti" sungut Dindra.
"Iya gue minta maaf ya Din"
"Gue maafin" balas Dindra sambil berlalu masuk kedalam kamar Luna yang rupanya tengah tertidur, setelah mengambil barang yang ketinggalan, Eric pun pamit pergi tak lupa dia kembali minta maaf kepada Dindra atas kesalahannya tadi.
"Ngapain lo senyum - senyum, belajar gila lo" sahut Rein melihat Eric kembali ke mobil sambil tersenyum - senyum sendirian.
"Bukan urusan lo, ya udah kita balik sekarang" ucap Eric lagi masih dengan senyuman yang sama.
Rein memperhatikan Eric dengan tatapan aneh dan penasaran.
***
Sudah jauh malam, tapi Rein tidak juga bisa memejamkan matanya padahal besok dia ada jadwal syuting pagi hari. Tapi hingga pukul dua dini hari matanya masih juga terjaga tanpa ada tanda - tanda mengantuk sama sekali.
Rein bahkan sudah habis menghitung domba melompat hingga hitungan ke seribu, tapi tetap saja matanya sulit sekali terpejam. Benaknya masih dipenuhi oleh pertengkarannya dengan Luna tadi, "Aduh apa gue salah ya tadi? Kalau dia ilfeel sama gue gimana" batin Rein sendu.
Akhirnya karena tidak bisa tidur, Rein memutusan untuk menulis lirik lagu, sudah menjadi kebiasaannya jika dia tidak bisa tertidur maka dia akan menulis lirik lagu untuk kemudian dia aransemen menjadi sebuah lagu yang enak untuk didengar.
Rein mulai mencoret - coret kalimat di ipadnya sampai dia menyadari bahwa kalimat yang dia tulis semuanya adalah nama Luna.
Rein melongo sendiri, "Apa - apaan sih yang ada di otak gue, kenapa juga gue nulis nama Aichi berulang - ulang. Rein sadar Rein" tepuknya pada pipinya sendiri. Merasa stuck, Rein kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, memandangi langit - langit kamarnya yang terpantul cahaya bintang dari projector lampu sehingga membuat kamarnya seperi sebuah planetarium mini.
Di tempat lain, Luna yang sempat tertidur sejenak pun sama tidak bisa tidurnya seperti Rein. Matanya seolah enggan menuruti perintahnya untuk segera mengantuk dan tertidur, pikira Luna melayang memikirkan perkataan Rein. Apa benar Rein betul - betul menyukainya dan bukan ingin mempermainkannya saja? Bagaimana kalau Rein hanya ingin menjebaknya dan membuangnya setelah dia puas mempermainkan hatinya.
"Ngapain juga ya tadi gue berantem sama Rein, padahal kan gue bisa aja ngomong baik - baik sama dia"
"Aduhhh kenapa isi kepala gue isinya Rein melulu sih sekarang" pekik Luna dalam hati.
...****************...
Terima kasih buat yang sudah kasih gift, tombol like dan sebagainya. Terima kasih banyak😘😘
Love yang banyak dari othor.
...Selamat membaca semua ❤️❤️❤️❤️...