
Selesai dari pameran lukisan, rombongan Luna beralih ke Du - Fan sebuah theme park terbesar yang ada di Indonesia. Taman bermain seluas 14 hektar ini, mencakup berbagai wahana, atraksi, taman, serta fasilitas lainnya yang tersedia di dalam taman bermain tersebut. Terdapat beragam wahana yang mengguncang adrenalin di Dufan, seperti roller coaster yang tinggi dan cepat, permainan ayunan yang mengayuh tinggi di udara, dan menara drop yang menghantam tanah dengan cepat. Sensasi meluncur dengan kecepatan tinggi dan terjatuh dari ketinggian akan membuat detak jantung meningkat dan adrenalin meluap. Luna dan Amanda menatap wahana ekstrim itu dengan pandangan ngeri, berbeda dengan Dindra yang tampak antusias mencoba seluruh wahana ekstrim disana.
"Luna mau cobain itu nggak" tunjuk Dindra ke salah satu wahana seraya tertawa remeh karena tahu Luna pasti akan menolak mentah - mentah.
Mata Luna seketika mendelik, "Lo gila.... nggak, gue nggak mau. Lo aja main sana" sewot Luna.
"Yahhh masa gue main sendirian sih, temenin kek. Tega banget lo sama gue, kalau gue diculik gimana?"
"Siapa juga yang mau nyulik tukang makan kayak lo, yang ada penculiknya rugi" balas Amanda.
"Ikut - ikut aja sih, bang Eric mau nemenin gue nggak naik itu" ajak Dindra dengan tampang memelas.
Eric langsung gugup diajak Dindra menaiki wahana itu, sebenarnya dia sendiri pun juga takut menaiki wahana ekstrim yang disebut Hysteria itu bisa dipastikan jantungnya akan naik turun tidak beraturan.
"Bang, mau kan temenin gue..." pinta Dindra lagi.
"Kayaknya bang Eric takut deh Din" sahut Luna.
"Nggak kok, gue nggak takut, wahana gini ah cemen buat gue" sesumbarnya tapi tak bisa menutupi rasa takut dalam hatinya sendiri.
Akhirnya mereka berdua pun menuju wahana itu, karena tiket mereka merupakan tiket jalur cepat jadi mereka bisa langsung masuk tanpa harus mengantri lama - lama. Sementara Luna dan yang lain menunggu dibawah memberi semangat.
"Lun, kayaknya bang Eric takut deh" bisik Amanda.
Luna mengangguk, "Kayaknya, soalnya mukanya udah setengah pucat banget tadi".
"Bang, kalau emang nggak bisa main. Nggak papa loh" tawar Dindra, tapi Eric menggeleng dan mengatakan kalau dirinya tidak apa - apa menaiki wahana ini.
"Baiklah..."
Raut tegang terlihat jelas di wajah Eric, apalagi saat wahana itu naik ke atas perlahan - lahan, jantung Eric semakin tidak karuan ritmenya hingga akhirnya mereka dibawa dengan perlahan ke ketinggian tertinggi wahana tersebut. Duduk di ketinggian 58 meter membuat nyawa Eric serasa melayang dari raganya. Takut, itu yang dirasakan oleh Eric saat ini, melihat Dindra yang tampak tersenyum lepas membuat dia gengsi untuk menunjukkan rasa takutnya.
"Lo pasti bisa Er, cuma bentar doang" batinnya dalam hati.
Wahan sudah mencapai puncak, ketegangan semakin terasa, tangannya menggenggam erat dan saat wahana tiba-tiba dilepaskan menuruni menara dengan kecepatan tinggi, Eric langsung berteriak kencang hingga memekakkan telinga.
"Stopppp..... gue nggak mau mati, berhenti woeyyy!!!! Berbagai macam teriakan keluar dari bibir Eric tanpa dia sadari. Waktu 3 menit terasa sangat lama bagi Eric, sampai akhirnya Eric bisa bernafas lega saat akhirnya wahana itu berhenti dan membawanya turun.
Kakinya terasa lemas saat dia menurunkan langkahnya, hingga dia harus dipegangi oleh Dindra karena hampir - hampir dia terjatuh. "Bang, lo nggak papa?" tanya Dindra dengan raut wajah cemas serta khawatir.
Eric menggeleng seraya mengibaskan tangannya, dia bersumpah tidak akan pernah menaiki wahana ini lagi.
***
Wahana selanjutnya yang akan mereka masuki adalah rumah hantu atas saran Zayn, karena Amanda tidak berani untuk masuk sementara Dindra harus menemani Eric yang masih shock setelah menaiki Hysteria jadilah Zayn dan Luna masuk berdua saja kedalam wahana itu.
Rein yang sejak tadi mengawasi tentu saja tak mau jika Zayn berada didalam wahana itu berdua saja dengan Luna, diam - diam dia ikut menyelinap masuk kedalam mengikuti Zayn dan Luna di belakang mereka tanpa mereka sadari.
Rein sudah menduga jika Zayn akan memanfaatkan situasi agar bisa menggoda Luna atau mungkin merangkul dan memeluk Luna dengan berpura - pura menenangkan Luna yang ketakutan.
"Luna, kamu kalau takut pegangan aku aja" sahut Zayn dengan senyum terukir diwajahnya.
"Eh, aku nggak papa kok kak"
"Nggak papa, kalau kamu takut kamu bisa peluk aku kayak gini" imbuh Zayn yang langsung menarik pinggang Luna dan memeluknya.
Dipeluk seperti itu, tentu saja Luna langsung berontak. "Kak apa - apaan sih, peluk - peluk" protes Luna yang terlihat tidak suka saat Zayn tiba - tiba memeluknya begitu saja, padahal mereka baru memasuki wahana itu tidak begitu lama.
Zayn mencelos kesal, "Maaf aku cuma nggak mau kamu ketakutan aja kok" modusnya.
"Kurang ajar si Zayn" desis Rein saat memperhatikan mereka dari belakang.
"Aku nggak bakalan takut masuk rumah hantu beginian" terang Luna, dan benar saja Luna tampak biasa saja saat melewati berbagai macam boneka mengerikan sambil sesekali muncul jump scare untuk mengagetkan mereka. Merasa strateginya tidak berhasil, gantian Zayn yang berpura - pura ketakutan agar bisa memeluk Luna. Rumah berhantu ini terdiri dari berbagai ruangan yang dirancang dengan detail untuk menciptakan suasana yang menegangkan. Mereka terus berjalan beriringan diikuti oleh Rein di belakangnya, lalu tiba - tiba hantu yang diperankan oleh pegawai wahana muncul tiba - tiba mengagetkan mereka bertiga dan seperti yang direncanakan oleh Zayn dia langsung memeluk Luna tiba - tiba seolah dia ketakutan.
Serta merta Luna berusaha melepaskan pelukan Zayn, tapi bukannya lepas, pelukan Zayn malah semakin erat, bahkan Luna bisa merasakan kalau tangan Zayn mulai meraba bagian sensitif tubuhnya.
"Kak, lepasin" seru Luna dengan wajah panik.
"Kamu diam aja Lun, aku tahu kamu juga takut. Kamu pasti senang kan aku peluk kayak gini" bisiknya.
Luna langsung mendelik, dia semakin meronta berusaha melepaskan pelukan Zayn dan tangannya yang mulai masuk kedalam kaos yang dia pakai, tiba - tiba saja sebuah tangan menarik tubuh Zayn ditarik kemudian didorong hingga membuat Zayn terjatuh dan terjungkal.
"Brengsek, modus lo dari dulu nggak berubah ya!!!" bentak Rein dengan tatapan nyalang.
'Bugh'
Sebuah pukulan kencang mendarat di wajah Zayn, "Jangan pernah lo muncul atau ganggu Aichi lagi, atau gue bakalan habisin lo" ancam Rein seraya menarik tangan Luna untuk keluar dari wahana itu.
Luna tak kuasa menolak tarikan tangan Rein dan mengikuti dia hingga keluar dari wahana. Setelah dia keluar, barulah dia menyadari sosok yang menolongnya itu.
"Rein...." lirihnya.
"Lo nggak papa? Dia udah ngapain lo tadi" sahut Rein dengan wajah masih tertutup masker, tapi dari sorot matanya menampakkan kecemasan.
"Loh kok ada Rein disini" seru Dindra dan Amanda yang menghampiri mereka begitu mereka keluar dari wahana tersebut.
Luna tidak menjawab, dia masih shock dengan apa yang baru saja dia alami barusan. "Gue bawa Luna pulang dulu, dia lagi nggak sehat" kata Rein mengabaikan tatapan penuh tanda tanya diwajah mereka.
Luna hanya pasrah saat dia digandeng Rein keluar dari taman bermain itu untuk pulang.
...****************...
Bantu like dan ken dong biar othor makin semangat buat update. ❤️❤️❤️
...Terima kasih buat yang udah setia membaca, othor bener - bener terharu...
...😘😘😘😘😘...