
Roy melajukan mobilnya ke arah luar kota, hal itu membuat Natasya bertanya - tanya, bukankah mereka akan ke hotel. Tapi kenapa tujuannya ke tempat lain. Roy beralasan dia tidak mau wajah Natasya dikenali jika mereka pergi ke hotel bersama - sama, merasa alasan Roy cukup masuk akal. Natasya pun setuju sambil dia memberi kabar kepada Vania untuk tetap mengikuti mereka berdua.
Satu jam kemudian mereka tiba di sebuah villa. Villa yang cukup besar dan dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan sedikit menjauh dari pemukiman penduduk. "Keluarlah, kita sudah sampai" ajak Roy seraya tersenyum manis. Natasya akui jika Roy terlihat tampan, dengan tubuh tinggi tegap pesonanya tidak kalah dengan Rein. Walaupun dia sempat ragu mengingat lokasi yang sangat berjauhan dari pemukiman penduduk, Natasya tetap mengikuti Roy masuk kedalam villa tersebut.
Sesampainya didalam Roy langsung merengkuh pinggang Natasya, memagut bibirnya dan menciumnya dengan kasar hingga Natasya mulai kehabisan nafas. Roy membawa Natasya kedalam kamarnya, masih dengan mencium bibir Natasya dengan begitu rakusnya, "Tunggu Roy, aku ingin ke toilet dulu" ucap Natasya seraya menghentikan ciuman Roy.
Roy pun mengangguk, didalam toilet Natasya mengirim pesan kepada Vania kalau sebentar lagi dia akan memberi Roy obat tidur. Tanpa disadari Roy sudah masuk kedalam kamar mandi dan menyusulnya, "R-Roy, kenapa kau disini? Tunggu saja aku di ranjang. Malam ini aku akan memuaskanmu" senyun Natasya sambil mengalungkan tangannya ke leher Roy.
Pria itu terdiam sambil menatap Natasya dengan tatapan tajam yang menusuk, hingga membuat Natasya sedikit merinding melihat sorot mata Roy yang sangat menakutkan.
"Roy ada apa denganmu? Kau menakutiku" ucap Natasya.
Roy kembali memagut bibir Natasya, mencium dan memainkan lidahnya hingga Natasya melenguh. "Roy, hen..hentikan" seru Natasya yang mulai kehabisan nafas dan memukul dada bidang Roy.
Tiba - tiba dari belakang Roy mengeluarkan sebilah belati dan langsung menusuk punggung Natasya, darah langsung memuncrat ke dinding saat Roy mencabut belati dari punggungnya.
Sementara itu Natasya mengerang kesakitan, menatap nanar ke arah Roy. "L-lo, bajingan" pekik Natasya sambil menahan rasa sakit di punggungnya.
"Natasyaaa, lo pikir gue mau ngotorin tubuh gue buat nge we sama lo? Lo itu wanita murahan, wanita la cur. Lo perusak rumah tangga orang lain dan ngehancurin kehidupan mereka, lo harus mati. Supaya keluarga yang lo hancurin bisa hidup dengan tenang" Seru Roy sambil mengangkat kembali belatinya dan langsung menusuk jantung Natasya hingga dia tewas seketika.
Setelah memastikan Natasya sudah tidak bernyawa, Roy meraih ponsel Natasya dan mengirim pesan kepada Vania dan menyuruhnya untuk masuk kedalam villa miliknya itu.
Sementara itu di luar, Vania tersenyum membaca pesan dari Natasya, dia lalu keluar dari tempat persembunyiaannya dan masuk kedalam villa yang langsung disambut dengan hantaman keras di kepala Vania yang langsung membuat Vania terkapar meregang nyawa.
"Sialan, kalian berdua benar - benar merepotkan" gumamnya.
Setelah melakukan aksinya, Roy lalu mengambil sekop dari gudang dan mulai menggali tanah di halaman belakang rumahnya, dengan tanpa rasa bersalah Roy memasukkan tubuh Vania dan Natasya kedalam lubang yang sudah dia gali dan menguburnya kembali.
Dia kemudian juga membersihkan cipratan darah dengan cairan pembersih pors tex untuk menghilangkan jejak.
Sekarang yang harus dia lakukan adalah menghilangkan bukti mobil yang dikendarai oleh Vania dengan menerjunkan mobil tersebut ke jurang yang ada di jalur pegunungan.
***
Flashback 20 tahun yang lalu
"Lepaskan Widuri, aku sudah tidak mau lagi hidup denganmu" teriak pria itu seraya menepis tangan Widuri dari kakinya dengan sedikit tendangan.
Roy kecil memperhatikan pertengkaran ayah dan ibunya sambil melihat keluar rumah mereka dimana seorang wanita dengan perut yang sudah membesar menunggu seraya tersenyum melihat ibunya dipukuli.
Puncaknya pria yang marah itu lalu menendang perut Widuri yang juga sedang hamil besar hingga membuat wanita itu memekik kesakitan, tak lama darah segar mulai menggenang melalui sela sela kakinya, dengan wajah panik Roy kecil memohon agar ayahnya mau menyelamatkan ibunya, tapi permohonan itu tidak digubris sama sekali justru ayahnya malah segera pergi meninggalkan Roy kecil bersama dengan Widuri yang sudah tidaj sadarkan diri.
Roy kecil berlari keliling kampung untuk mencari bantuan, tapi tidak ada yang bersedia menolongnya karena takut jika harus berurusan dengan polisi, akhirnya setelah beberapa saat seorang warga bersedia membantunya dan membawanya kerumah sakit, tapi sayang Widuri dan calon bayinya meninggal dalam proses persalinan.
Roy kecil yang tidak memiliki siapapun selain ibunya terpaksa melakukan pekerjaan kasar seperti penjual koran dan pengamen untuk menyambung hidup, sampai suatu hari dia melihat ayahnya sedang berbahagia bersama dengan istri baru dan juga seorang balita yang berusia dua tahun.
Melihat hal itu, rasa dendam pun tumbuh di hati Roy, disaat hidupnya serba sulit ayahnya justru sedang berbahagia dengan kehidupan barunya. Dia lalu memutuskan untuk membalas kematian ibunya.
Dirinya tidak rela melihat ayahnya hidup tenang sementara dia harus menderita sendirian.
***
Perlahan - lahan Roy masuk kedalam basement villa miliknya, di basement itu terdapat sebuah penjara kecil miliknya.
"Makanlah" seru Roy seraya melemparkan sepiring makanan hewan untuk seorang pria yang lehernya terikat dengan rantai seperti anjing.
Roy menyeringai jahat, "Susah juga mencarimu ya pak tua. Akhirnya gue bisa balas dendam atas apa yang udah lo lakuin ke gue dan ibu gue. Gue bakal bikin hidup lo gak tenang dengan rasa bersalah"
"Lo liat aja kehancuran yang bakal gue kasih ke anak kesayangan lo itu" kekeh Roy tanpa mempedulikan permintaan pria yang sudah tua itu untuk melepaskannya.
"Kehidupan yang lo jalani sekarang masih lebih baik dari yang gue jalani dulu, dan jangan khawatir gue nggak bakal bunuh lo sampai balas dendam gue terlaksana"
"Gara - gara lo, gue benci dengan wanita pelakor seperti Natasya dan Soraya, yang tega merusak kebahagiaan sebuah keluarga. Setiap kali gue ngelihat wanita kayak mereka, gue bener - bener pengen ngulitin mereka, sayangnya Vania harus menerima akibatnya karena terlalu ikut campur sama urusan gue. Beraninya dia mau jebak gue" ujarnya dengan wajah geram.
Pria yang terantai itu berusaha memohon kepada Roy agar dia dilepaskan, beberapa hari disekap rupanya sudah membuat pria itu kehilangan kewarasannya sampai - sampai dia kerap menggumam sendiri dan berteriak tidak karuan.
Roy telah naik ke atas dan bersiap untuk kembali ke apartemennya. Karena dia harus kembali menjalani perannya sebagai Roy, seorang pria tampan yang baik hati dan tidak sombong.