MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Jebakan Vania



Suara musik berdentum kencang, diiringi lampu kelap kelip temaram semua orang menikmati penampilan DJ musik dan pertunjukan striptease yang ditampilkan oleh wanita - wanita seksi di tengah - tengah mereka.


Rein tampak duduk sendirian di lantai atas VVIP, tidak mempedulikan penyakit auto imun yang dia derita, dengan santainya dia meneguk segelas minuman beralkohol dihadapannya. Disaat yang sama Vania yang juga berada di lokasi yang sama memperhatikan Rein yang sedang sendirian ditemani oleh siapapun. Pertengkarannya dengan Eric saat dia mengetahui kalau Eric adalah kakak dari Soraya cukup membuatnya shock karena itu Rein memutuskan untuk pergi ke sebuah club malam yang menjadi langganannya dan menghabiskan waktunya disana dan melarang Eric untuk mengikutinya. Meskipun Rein tahu, Eric pasti akan mengawasinya dari jauh.


"Rein...." Vania menyapa Rein yang terlihat sedikit mabuk itu.


Rein yang merasa terganggu dengan kehadiran Vania, bergegas beranjak pergi tapi seketika ditahan oleh Vania. "Mau kemana lo? Gue tahu hubungan kerjasama kita sudah selesai, tapi paling nggak, kita bisa minum bareng kan? Sebagai seorang teman atau kolega" tanya Vania sambil tersenyum.


Rein mendesis dan kembali duduk, ditemani oleh Vania mereka mulai minum bersama dan menikmati suasana di dalam club malam itu. "Rein, apakah kau benar - benar tidak memiliki perasaan kepadaku?" tanya Vania sambil mendekatkan tubuhnya kearah Rein dan mencium lehernya.


Rein melirik tajam, "Lo jangan mancing gue Vania. Gue pergi" sahut Rein sambil berdiri tapi segera saja dia limbung karena mabuk, dengan cepat Vania menahan tubuh Rein dan membopongnya keluar, dia menyeringai licik saat membawa Rein keluar dari club malam itu menuju apartemen milik Rein.


***


Vania membaringkan tubuh Rein di ranjangnya, dia tersenyum senang. "Malam ini lo bakal jadi milik gue Rein" seringainya.


Sudah cukup lama Vania terobsesi dengan Rein bahkan selalu berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi saat itu Rein memiliki Soraya sehingga tidak mudah untuk menaklukkan hatinya dan sekarang seolah semesta sedang berpihak kepadanya dia sedang bersama dengan Rein sekarang.


Rein menatap Vania, di matanya dia seolah melihat Soraya. Wanita yang dia cintai, "Soraya... kamu..." lirihnya.


"Iya sayang, aku datang untukmu" satu persatu Vania menanggalkan pakaiannya hingga tidak menyisakan selembar pun ditubuhnya. Perlahan dia naik ke atas ranjang menghampiri Rein yang sudah sangat mabuk, dengan gerakan seduktif Vania mengecup bibir Rein lembut, dicium seperti itu Rein membalas ciuman Vania dengan ganas.


Dalam pikiran Rein saat ini dia sedang melihat Soraya didepannya, wanita yang dia rindukan selama ini. "Sorayaa....Aku kangen sama kamu" bisiknya.


Tangannya mulai menyentuh bagian tubuh Vania, menciumnya dengan ganas dan mengungkung tubuh Vania sambil tersenyum, "Malam ini aku milikmu Rein" bisik Vania di telinga Rein yang semakin membuat Rein menggila dan ******* bibir Vania ddan menggigit bibir Vania hingga membuat Vania melenguh karena merasakan sensasi panas menjalari seluruh tubuhnya.


Tangan Rein dengan bebas menjelajahi seluruh tubuh Vania hingga membuat Vania memekik kecil saat inti miliknya dimainkan oleh Rein. "Ah Rein lo benar - benar hebat bisa bikin gue melayang. Terus Rein, malam ini kau bebas melakukan apapun" Vania mendesah kuat saat Rein terus memainkan inti miliknya dengan penuh gairah.


Akal pikiran Rein sepertinya sudah tertutup rapat hingga tidak bisa membedakan Vania dan Soraya, Rein menikmati setiap inci tubuh Vania, gairahnya sudah sangat memuncak. Sudah sejak lama dia tidak pernah melakukan hal ini semenjak kematian Soraya. Rein merasa senang saat dia akhirnya bisa melepaskan hasrat kerinduan yang selama ini dia pendam.


Rein mulai bersiap menghujamkan miliknya kedalam inti Vania saat tiba - tiba dia terbayang oleh bayangan Luna di pikirannya yang berteriak memanggil dan memarahinya. Seketika itu juga Rein langsung terpaku hingga membuat Vania heran saat Rein menghentikan gerakannya saat akan menghujam intinya.


Rein menatap Vania, sedetik kemudian dia tersadar siapa wanita dihadapannya dan langsung mengumpat, "Fu ck..... Apa yang lo lakuin disini?" maki Rein dengan tatapan penuh kemarahan, meskipun dia masih dalam pengaruh alkohol melihat apa yang terjadi di kamarnya dengan pakaian mereka yang berserakan serta tubuh mereka yang polos, Rein bisa menelaah apa yang sudah terjadi.


"Pergi lo dari kamar gue, anggap kejadian ini nggak pernah terjadi" perintah Rein.


Vania langsung bangun dan menatap Rein heran, "Rein lo kenapa? Bukannya lo nikmatin apa yang udah kita lakuin tadi" Vania bergerak berusaha mencium bibir Rein sekali lagi. Tapi Rein segera menghempas tubuh Vania dengan kasar ke atas ranjang dan melemparkan selimut untuk menutupi tubuh Vania dan menyuruhnya berpakaian dan pergi.


Vania kepalang malu, dia merasa sangat dipermalukan, "Rein gue nggak akan tinggal diam dengan perlakuan lo sekarang. Lihat aja, gue bakal balas ini. Lo udah bikin gue malu, dasar bajingan!!!!" teriaknya seraya mengambil pakaiannya dan pergi meninggalkan Rein yang masih tampak shock dengan apa yang sudah terjadi.


Vania keluar dari kamar Rein terburu - buru saat Eric menghadangnya, "Kayaknya lo nggak berhasil tidur dengan Rein, kalau dilihat dari ekspresi wajah lo" seringainya.


"Diam lo dasar bodyguard miskin" sergah Vania sambil berlalu pergi.


Eric menyeringai tipis saat melihat Vania meninggalkan apartemen dengan wajah bersungut - sungut. Eric menatap Rein yang sedang terduduk di sofa kamarnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, sebelum akhirnya Rein menyadari hal itu dan bangkit membanting pintu kamarnya dengan kencang.


"Rein, sepertinya lo masih belum bisa move on dari Soraya. Tapi sayangnya itu tidak mengubah kenyataan kalau lo gagal ngelindungi dia hingga dia tewas terbunuh di tangan orang terdekat lo sendiri" ucap Eric yang juga menuju kamarnya sendiri.


***


Sementara di rumah Luna terjadi ketegangan antara ayah dan ibunya yang sedang menangis terisak. "Tega kamu mas, mengkhianati aku" isak ibunya.


Saat ini dirumah mereka telah datang seorang wanita yang usianya tidak terlalu jauh dengan Luna, membawa seorang anak kecil berusia lima tahun dan mengaku bahwa dia adalah kekasih dari ayahnya.


"Bu, maafkan ayah. Ayah sudah khilaf bu" pinta Dirga sambil berlutut memohon ampun. Dirga juga menatap Luna dan Jeje untuk meminta dukungan tapi sekarang tatapan kedua putrinya telah berubah menjadi tatapan kebencian dan kekecewaan, ayah yang selama ini mereka kagumi ternyata berselingkuh dengan wanita muda selama enam tahun hingga memiliki seorang anak laki - laki.


"Mau apa mbak kamu kesini? Kamu mau hancurin rumah tangga orang tua saya, iya" teriak Luna penuh amarah.


"Maaf mbak, tapi saya tidak memiliki hubungan dengan pak Dirga. Melainkan sahabat saya Nadila, dia sudah meninggal dunia dua minggu yang lalu mbak. Dan saya hanya ingin menyampaikan amanat mbak Dila untuk membawa anaknya kepada ayahnya" jelas wanita bernama Sofia itu.


Luna dan Jeje saling berpandangan dan memperhatikan anak kecil yang tampak polos tidak berdosa itu.