MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Menggali Masa Lalu



Hari ini Roy akan mendampingi Rein karena Luna sedang libur, pagi - pagi dia sudah berada di tempat Rein dan menyusun semua barang - barang Rein. Matanya memicing saat dia melihat Rein keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk, dengan senyum tersungging diwajahnya dia menghampiri Rein. Bersikap seperti biasa, supaya Rein tidak curiga dengannya dan memainkan peran yang selama ini selalu dia mainkan.


"Lo udah siap? Kita berangkat sekarang aja kalau gitu" ajak Roy. Rein memgangguk. Mereka berdua pun segera berangkat diikuti oleh Eric dibelakangnya, entah kenapa Eric merasa kalau Roy sedikit aneh belakangan ini terutama sejak mereka bertanya soal Soraya.


Pertemuan di rumah Angeline beberapa saat lalu juga cukup mencurigakan karena biasanya Roy tidak pernah sampai datang kerumah Angeline jika hanya untuk membicarakan masalah pekerjaan. Pasti ada hal lain yang mereka bicarakan.


Roy melirik Rein yang duduk di sampingnya sementara Eric menyetir mobilnya. Hari ini mereka akan melakukan meeting dengan salah satu brand ternama dimana Rein akan menjadi brand ambasador product tersebut. Selagi menunggu Rein menelpon Luna, tapi tidak tersambung. "Kemana dia?" pikirnya.


"Kenapa Rein?" tanya Roy.


"Nggak bang, gue coba nelpon Aichi tapi nggak bisa mulu dari tadi" keluh Rein.


"Lagi repot kali dia jalan sama Dindra" balas Roy singkat.


Mendengar itu Eric mengernyitkan dahinya, darimana dia tahu soal Dindra? Roy tidak pernah bertemu dengan Dindra sebelumnya, bahkan saat kasus pelecehan yang menyeret nama Rein  pun Roy tidak sempat bertemu dengan Dindra yang membantu Rein karena harus pergi bersama dengan Angeline mengurus segala kekacauan yang terjadi.


Kecurigaan Eric semakin bertambah saat dia mendapati Roy berkali - kali melihat Rein dengan tatapan seolah - olah dia ingin menyakiti Rein. Karena masih sebatas kecurigaan tanpa bukti, Eric tidak bisa berbuat apapun selain mencoba untuk terus mengawasi Roy.


"Hey Rein, ketemu lagi dong kita" sapa Natalie yang muncul bersama orang - orang yang akan meeting dengannya.


"Natalie, ngapain kamu disini?" tanya Rein heran.


"Oh ini, perusahaan keluarga aku" senyumnya. Nampak sekali mata Natalie berbinar - binar melihat Rein di hadapannya. Demi membuat Rein menjadi kekasihnya, Natalie memaksa orang tuanya untuk menjadikan Rein sebagai brand ambasador produk skin care terbaru mereka, dengan begitu harapan Natalie untuk menjadi kekasihnya Rein bisa terwujud.


Rein tampak tidak nyaman dengan sikap Natalie yang memeluknya sembarangan didepan semua orang, meskipun dia dan Natalie adalah teman sejak kecil tapi seharusnya Natalie bisa mengendalikan dirinya dan bersikap profesional. Salah satu sifat yang tidak disukai oleh Rein sendiri adalah sikap Natalie yang menurutnya suka seenaknya sendiri dan berlaku sombong.


SIngkat cerita meeting pun selesai dan mereka memutuskan untuk bekerja sama dimana Rein ditetapkan sebagai brand ambasador produk skin care tersebut. Selesai melakukan meeting, lagi -  lagi Natalie menghampiri Rein dan merayunya untuk makan siang bersama. Dengan tegas Rein menolak ajakan Natalie, karena toh dia juga ada pekerjaan lain yang tidak bisa dia tinggalkan.


Namun seperti tidak tahu malu, Natalie justru ingin ikut kemana Rein akan pergi, hal ini tentu saja langsung di tolak mentah - mentah, akan tetapi Roy dengan gampangnya menyetujui permintaan Natalie.


"Bang, kok lo setuju sih dia ikut sama kita?" protes Rein.


"Udahlah nggak papa, lagian kalian berdua kan temen sejak kecil, plus ini buat jaga hubungan baik karena barusan lo udah teken kontrak sama mereka" desak Roy.


Rein mengacuhkan Natalie dan langsung kembali ke mobilnya bersama dengan Eric. "Lo bawa mobil lo sendiri aja, dan bang Roy bareng aja sama Natalie. Kita ketemu di lokasi" ucap Rein saat Natalie dan Roy akan masuk kedalam mobil bersama dengannya.


"Loh kenapa? Aku mau semobil sama kamu" ucap Natalie dengan menunjukkan wajah memelas.


Mau tak mau, Natalie pun menuruti perkataan Rein walau dengan perasaan dongkol.


***


"Rein, kayaknya lo mesti waspada deh sama Roy! Gue curiga dia ada niat buruk sama lo dan ada hubungan erat sama kematian Soraya" kata Eric yang kini sudah berdua saja dengan Rein.


Rein yang sedang membuka ipad miliknya langsung mengangkat kepalanya, "Maksud lo bang?" tanyanya tidak mengerti.


"Gue cari bukti dulu buat mastiin omongan gue, tapi sebisa mungkin lo jaga jarak deh sama dia"


"Kayaknya lo terlalu lebay deh, bang Roy itu udah sama gue sejak tujuh tahun yang lalu dan selama ini dia selalu baik kok sama gue" ucap Rein.


"Lo kenal Roy dimana?" tanya Eric.


Rein pun mulai menerawang jauh ke masa tujuh tahun yang lalu, saat itu dia baru saja lulus SMA dan akan menjadi pemeran dalam sebuah sinetron stripping terbaru, dari situlah dia mengenal Roy yang saat itu bertugas sebagai crew. Beberapa kali bertemu secara kebetulan membuat Roy dan Rein pun jadi semakin akrab, puncaknya saat manager Rein tiba - tiba menghilang dan mengirim pesan mengundurkan diri jadilah Rein dan Angeline kalang kabut mencari manager pengganti. Akhirnya atas dasar kepercayaan, Rein pun meminta Roy untuk menjadi managernya hingga sekarang ini.


Selama bertahun - tahun bekerja Roy selalu menunjukkan kinerja yang memuaskan, bahkan Angeline yang tidak pernah memuji pekerjaan orang lain pun memuji pekerjaan Roy yang rapi dan lebih baik dari manager sebelumnya. Ditambah lagi sikap dan perilaku Roy yang baik membuat Rein sangat percaya dengan Roy.


"Jadi lo nggak pernah selidiki latar belakang Roy? Keluarganya, atau mungkin tempat tinggal dan asalnya waktu itu?" tanya Eric begitu dia mendengar cerita Rein.


Rein menggeleng, yang dia tahu hanyalah Roy anak yatim piatu dan tidak punya orang tua, selain itu untuk asal dan latar belakangnya Rein tidak terlalu mempermasalahkan jadi dia pun tidak pernah mencari tahu apapun.


"Rein, gue boleh selidiki latar belakang Roy. Gue nggak tenang soalnya" ucap Eric.


Meskipun menurut Rein hal sia - sia untuk menelusuri latar belakang Roy, tapi melihat kekhawatiran dalam diri Eric, Rein pun mengangguk saja. Menurutnya hanya pemeriksaan latar belakang saja tidak akan berdampak besar atau terlalu berpengaruh baginya. Memang apa yang akan disembunyikan oleh Roy darinya terkait latar belakangnya? Rein merasa tidak ada yang disembunyikan oleh Roy.


"Oh ya bang, soal pencarian papa gimana? Ada perkembangan?" tanya Rein.


Eric menggeleng, dia sudah meminta bantuan teman - teman dan sumber daya yang dia miliki untuk mencari tahu keberadaan Arif tapi tidak menemukan apapun. Bahkan terakhir setelah mereka menemukan tempat tinggal Arif yang baru, mereka hanya mendapati tempat itu kosong tak berpenghuni, sepertinya Arif sudah pergi entah kemana sejak Rein datang kerumah Angeline beberapa minggu yang lalu.


"Gue masih berusaha buat cari tahu, semoga dalam waktu dekat ada kabar baik" jawab Eric.


Roy mengangguk paham, doanya sama. Semoga dia bisa segera menemukan ayahnya, agar semua tabir kematian dan alasan kematian Soraya yang sudah menyeret namanya bisa terbuka. Kalau saja Soraya meninggal karena sakit atau memang benar - benar bunuh diri, mungkin Rein akan mengabaikannya, tapi setelah tahu bahwa Soraya meninggal akibat dibunuh dengan dugaan bahwa yang membunuh adalah ayahnya sendiri, mau tak mau Rein pun harus mencari tahu. Dia tidak mau nama baiknya hancur karena masalah yang tidak dia ketahui ini.