
Dindra menunggu kedatangan Luna di bioskop dengan cemas, sudah hampir jam tujuh malam tapi Luna tidak kunjung muncul, "Aduh kemana sih dia? Kenapa belum nyampai juga" gumamnya.
Tiba - tiba ponsel Dindra berdering, panggilan dari Luna segera saja dia mengangkat panggilan itu. "Lo dimana Lun, jangan bilang lo lupa ada janji sama gue!" seru Dindra.
"Gue nggak lupa, tapi maaf banget. Gue nggak bisa datang, tapi sebagai gantinya gue kirim bang Eric buat nemenin lo. Ngomong - ngomong dia naksir lo" ucap Luna yang langsung mematikan ponselnya begitu saja.
"Tunggu Lun.. Eh... Aduh sialan ni bocah, pakai dimatiin lagi. Gue kan belum selesai ngomong" kesalnya.
"Tunggu dia ngirim bang Eric buat nemenin gue? Terus dia tadi bilang apa, bang Eric naksir gue. Lunaa... jangan bilang lo mau jodohin gue sama bang Eric" gumamnya lagi sambil menatap pesan yang baru saja dikirimkan oleh Luna.
[Bestiee, maafkan aku yang sudah mengkhianati janji pertemuan kita. Aku kirimkan pangeran tampan untukmu sebagai pengganti bekicot sawah yang sudah menyakitimu. Jangan marah ya, baik - baik sama bang Eric]
[Ps : Dia beneran naksir lo, tapi kalau lo nggak suka nggak papa. Setidaknya bang Eric lebih baik daripada undur undur pasir kayak Arya]
[Ps lagi, gue emang mau jodohin lo, kalau jadi kan gue dapat pahala. Have fun ya bestie]
Dindra hanya menatap geli dengan pesan yang dikirim oleh Luna ini, apalagi kata pertamanya yang seperti syair lagu jadul yang biasa didengar oleh orang tuanya.
"Dindra!" panggil sebuah suara yang Dindra yakin adalah Eric.
Dindra menoleh dan melihat pria tinggi dengan kulit sedikit kecoklatan, memakai kemeja putih dengan kancing sedikit terbuka di bagian atas dipadukan dengan trouser hijau tua dan sepatu hitam. Di wajahnya bertengger kacamata tipis yang membuatnya semakin terlihat menawan dan tampan. Untuk sesaat Dindra terdiam memandangi Eric yang tampak tampil beda hari ini, untung saja Dindra juga sudah berdandan maksimal, sehingga dia bisa mengimbangi penampilan Eric yang lebih mirip model itu.
"Ba-bang Eric... Udah datang? Kalau gitu langsung masuk aja, bentar lagi filmnya udah mau mulai" ajak Dindra.
"Ayo, aku udah beli makanan juga buat dimakan di dalam" balas Eric sambil menunjukkan kantong berisi makanan yang sudah dia beli beberapa saat sebelumnya tanpa sepengetahuan Dindra.
Kedua sejoli ini tampak gugup satu sama lain, bagi Dindra ini adalah kali pertama dia pergi bersama seseorang yang bukan kekasihnya, sementara bagi Eric ini adalah kali pertama dia pergi dengan seorang wanita.
Sementara di tempat lain, Luna dan Rein tengah menikmati makan malam sambil melihat pemandangan kota dari tempat mereka. Pemandangan malam ini selalu menjadi destinasi favorit bagi pasangan muda untuk menghabiskan waktu bersama.
"Kamu kenapa senyum - senyum gitu baby?" tanya Rein.
"Nggak, aku bayangin Dindra sama bang Eric bakal secanggung apa mereka berdua" ucapnya.
"Kenapa bayangin orang lain sih, bayangin aku kapan?" goda Eric.
"Ih ganjen amat ya" kekeh Luna.
Mereka berdua tertawa bersama, sementara dari kejauhan sepasang mata dengan sorot kebencian terus saja mengawasi mereka.
***
Dindra dan Eric baru saja keluar dari bioskop, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
'Krucuuukkkk'
Suara perut Dindra yang kelaparan terdengar jelas di telinga Eric, Dindra yang malu langsung menutup perutnya dan berkata kalau itu bukan dia. Akhirnya Eric pun mengajak Dindra untuk makan di restoran yang masih buka di mall tersebut, mereka memesan menu yang simple dan cepat karena sudah last order.
Tak berapa lama, akhirnya makanan mereka pun tiba. "Ayo makan dulu Din"
Dindra mengangguk, dia yang biasanya rame tiba - tiba menjadi pendiam dihadapan Eric. Jantungnya berdegup kencang, dia sangat gugup sampai - sampai dia merasakan jantungnya akan keluar saat Eric memberikan act of service untuknya. Sikap Eric benar - benar sangat dewasa dan perhatian, seratus delapan puluh derajat berbeda jauh dengan Arya yang selalu marah dan menuntutnya. Dalam hati Dindra bersyukur akhirnya dia bisa terlepas dari hubungan toxic yang selama ini membelenggunya.
"Bang, makasih ya sudah nemenin aku nonton" ucap Dindra setelah dia selesai menghabiskan makanannya.
Eric tersenyum, "Sama - sama, oh ya mungkin Luna udah bilang ya sama kamu kalau aku suka sama kamu. Tenang aja, aku nggak akan paksa kamu buat terima aku kok. Aku bakal tunggu sampai hati kamu kebuka buat aku, aku juga sadar kalau kita belum lama kenal"
"Hah, gimana? Aduh ini secara nggak langsung bang Eric nembak gue gitu?" gumam Dindra dalam hati.
"Aku tahu kamu baru putus jadi kamu pasti nggak nyaman kalau aku bicara gini sama kamu. Tenang aja, kamu berhak kok nolak kalau emang kamu nggak suka" kata Eric lagi.
"Tapi bang, kok bisa abang suka sama aku, padahal kita belum lama kenal?"
"Aku juga nggak nerti, awalnya aku hanya tertarik sama kamu. Eh ternyata berujung aku jadi suka sama kamu. Kalau misal kamu nggak nyaman buat jalan lagi sama aku nggak papa kok, aku emang minta bantuan Luna buat deket sama kamu" senyum Eric.
"Bu-bukan, bukan aku nggak nyaman jalan sama abang. Tapi maaf bang, ini terlalu cepet. Mungkin abang bisa kasih aku waktu dulu sampai aku benar - benar yakin sama abang" kata Dindra lagi.
Eric mengangguk, "Oke, tiga bulan cukup kan? Kalau dalam tiga bulan perasaan kamu masih sama. Aku akan mundur, aku emang suka sama kamu tapi aku nggak mau memaksakan perasaan aku ke orang lain. Perasaanku sama kamu itu adalah urusanku, dan kamu terima atau tidak perasaan kamu itu adalah hak kamu"
Dindra melongo mendengar ucapan Eric, bijaksana sekali. Dia tidak memaksakan perasaannya ke Dindra, dan tidak menuntut Dindra untuk menerima perasaannya seperti yang dilakukan oleh Arya. Terlihat perbedaan yang cukup besar antara Arya dan Eric.
"Kalau kayak gini, gue beneran bisa jatuh cinta sama Eric. Pemikirannya dewasa banget, apa karena umur ya?" pikir Dindra.
"Oke bang, tiga bulan. Setelah tiga bulan kalau perasaanku nggak berubah ke abang, aku minta maaf ya bang" ucap Dindra.
"Nggak perlu minta maaf, aku hanya harus tahu kapan saatnya buat mundur kalau kamu emang nggak suka sama aku. Cinta itu nggak bisa dipaksa kan? Tapi semoga aja dalam tiga bulan kamu mau terima aku" imbuh Eric lagi.
Mereka berdua pun segera menyelesaikan makan malamnya dan beranjak pergi meninggalkan mall yang sepertinya sudah akan tutup itu.