
Selama berhari - hari Luna meratapi patah hatinya, sampai - sampai Dindra dan Amanda bingung harus berbuat apalagi untuk menghibur sahabatnya ini. Semua panggilan telepon dan pesan dari Rein tidak dia gubris, hingga akhirnya Rein nekat untuk datang menemui Luna di apartemen milik Amanda tempat dia tinggal sekarang ini.
"Manda, please tolong gue. Gue mau ketemu sama Luna" kata Rein melalui sambungan telepon.
"Dia salah paham, ini nggak seperti yang dia pikirin" ucap Rein lagi.
Amanda menghela nafas panjang, "Sorry Rein, gue nggak bisa apa - apa. Luna udah pesen kalau dia nggak mau ketemu sama lo lagi. Apalagi sekarang dia juga bukan asisten lo lagi kan?" tanya Amanda,
Rein terus memohon agar dia bisa bertemu dengan Luna dan menjelaskan semua yang terjadi tapi sia - sia, Luna tidak mau berbicara atau bertemu dengannya. "Luna, lo beneran nggak mau ketemu sama Rein?" tanya Amanda pada Luna.
Luna menggeleng, "Gue nggak mau ketemu sama tukang selingkuh kayak dia!!" tegas Luna.
"Gue nggak ngerti apa yang terjadi sebenernya, tapi paling nggak sebaiknya lo dengerin dulu penjelasan dia. After that, baru lo bisa putusin apa lo mau maafin apa nggak? Kalau kayak gini yang ada lo juga nggak tenang dan terus - terusan sakit hati" balas Amanda.
Diantara mereka bertiga memang Amanda yang jauh lebih dewasa bahkan Amanda seolah ibu kedua bagi Dindra dan Luna. "Apapun penjelasannya, nggak menutup kenyataan kalau mereka tidur sekamar semalam. Itu yang gue nggak bisa terima Manda" Luna kembali terisak tapi segera menghapus genangan air mata yang membasahi sudut matanya.
"Ya udah, gue mau ketemu sama dia buat dengerin semua penjelasan dia. Tapi setelah itu terserah gue kalau gue nggak mau lanjutin hubungan gue sama dia" kata Luna pada akhirnya.
Amanda tersenyum dan segera berlari keruang tamu tempat Rein menunggu bersama dengan Eric dan Dindra.
***
'Tok-tok-tok' suara pintu kamar diketuk dari luar oleh Rein, setelah mendengar jawaban dari Luna dia memberanikan untuk masuk.
"Nggak usah ditutup pintunya, gue nggak mau orang - orang mikir macem - macem" sinis Luna begitu dia melihat wajah Rein muncul dari balik pintu.
"Mau ngomong apaan? Cepet ngomong. Gue nggak punya banyak waktu" ketus Luna lagi.
Melihat Luna dihadapannya membuat Rein ingin menghambur memeluk Luna, mungkin dengan begitu Luna akan luluh dan mau mendengarkan ucapannya tapi masalahnya tidak semudah itu, Rein bisa melihat tatapan mata Luna telah berubah kepada dirinya. Tatapan mata yang biasanya hangat dan penuh cinta itu kini berubah dingin dan penuh amarah.
"Sayang.. Aichi.."
"Berhenti panggil gue sayang atau Aichi, kita berdua udah nggak ada hubungan apa - apa lagi"
"Nggak, kamu tetep pacar aku. Kalau kamu mau berhenti jadi asisten aku nggak masalah tapi tidak dengan berhenti jadi pacar aku. Untuk sekarang aku akan anggap kalau kamu cuti panjang jadi asisten aku selama kamu kuliah" kata Rein.
"Mau lo apa sih, kurang jelas kemarin gue ngomong sama lo, kalau lo sama gue end" balas Luna sambil mengibaskan tangannya ke arah lehernya.
"Lo kesini mau ngomong apaan. Buruan!!! Udah gue bilang kan kalau gue nggak ada waktu banyak nanggepin omong kosong buaya kayak lo" imbuhnya lagi.
Rein menghela nafas sejenak, dan mengambil posisi duduk di dekat Luna yang langsung beringsut menjauh. "Aku sama Natalie nggak ngapa - ngapain. Kamu lihat ini" ucap Rein sambil memperlihatkan rekaman cctv kamarnya kepada Luna.
"Natalie sengaja berbuat seperti itu sama aku, supaya aku mau jadi pacarnya. Tapi dia nggak tahu kalau di kamarku ada cctv"
"Mama yang pasang, untuk ngawasin aku. Tapi ternyata berguna disaat kayak gini" lirih Rein.
Luna memperhatikan rekaman cctv yang memperlihatkan kalau memang Natalie sengaja melakukan perbuatan itu untuk mengelabui Rein yang pulang dengan keadaan mabuk. Rekaman itu juga menunjukkan Rein yang mengusir Natalie beberapa kali, tapi perempuan itu mengabaikan Rein dan malah melepaskan pakaiannya hingga menyisakan br*a dan ****** ***** saja kemudian tidur di samping Rein yang sudah tertidur lelap karena mabuk.
"Aku benar - benar nggak ngapa - ngapain sama dia sayang" ucap Rein mencoba meraih tangan Luna yang duduk menjauh darinya.
"Kalian berdua emang nggak ngapa - ngapain, tapi pertanyaannya, ngapain dia nganterin kamu pulang? Padahal ada bang Eric yang bisa kamu panggil untuk antar kamu? Emang nggak ada yang lain yang bisa antar kamu pulang?" sinis Luna lagi. Meskipun Rein sudah membuktikan dirinya tidak melakukan apapun dengan Natalie, tapi tetap saja Luna masih sangat kesal karena Rein diantar pulang oleh Natalie.
"Sayang.. Aku harus gimana biar kamu maafin aku hmm?" tanya Rein.
"Nggak tahu, pikir aja sendiri. Aku mau ke kampus dulu" jawab Luna sambil meraih totebagnya dan pergi meninggalkan Rein yang masih terpaku dengan rasa bersalah.
Baru saja Rein akan beranjak pergi, Luna tiba - tiba muncul kembali "Ngapain masih disitu? Mau dimaafin nggak? Kalau mau, anterin aku ke kampus" ucap Luna lagi.
Segera saja senyum merekah di wajah Rein, "Sekarang?" tanya Rein sumringah.
"Tahun depan! Ya sekarang lah, cepetan aku harus ke bagian administrasi kampus" seru Luna dari luar.
Dindra, Eric dan Amanda yang sedang menunggu di ruang tamu pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dua orang dihadapan mereka, "Yang satu tukang ngambek, yang satu bucin" cibir Dindra.
"Berisik deh lo Din, coba deh lo pacaran sama bang Eric biar tahu asam manisnya orang pacaran" cibir Luna balik.
"Lah kok jadi gue?" protes Dindra
"Iya biar lo cepet move on dari Arya mantan lo yang demen minta duit ke lo tuh" ledek Luna.
"Sialan lo, ngeledekin gue" seru Dindra sambil melempar bantal sofa kepada Luna yang segera ditangkap oleh Rein yang berdiri dibelakangnya.
"Amanda, jangan diem aja dong. Belain gue kek" kata Dindra melirik ke arah Amanda.
"Ehm gimana ya, tapi yang diomongin Luna bener juga sih. Gue setuju sama Luna kalau lo harus cepet move on dari Arya mumpung ada Eric, Arya tuh ganteng doang tapi duit kagak ada. Mau lo dikasih makan stik keju sama dia kalau nikah tar?" imbuh Amanda.
"Ih lo jadi ikutan ledekin gue sih" Dindra segera merengut melihat kedua sahabatnya meledeknya habis - habisan.
Dindra kemudian melirik ke arah Eric, "Emang bang Eric mau pacaran sama aku?" tanyanya pada Eric yang langsung tersedak saat meminum air minumnya.
"Dih santai bang, kenapa muka lo merah gitu ditembak Dindra?" ledek Rein sambil tertawa.
"Ehm, Din sorry aku sama Rein pergi dulu ya" kelit Eric yang langsung beranjak dari sofanya.
Dindra memandang ke arah Eric yang buru - buru pergi bersama Rein dan Luna, "Cih gemes banget tampang paniknya" senyum Dindra dalam hati.