
Pagi - pagi sekali, Eric sudah bangun dan mandi. Hari ini dia akan pergi bersama dengan Luna, Dindra, Amanda dan Zayn ke pameran. Eric memakai pakaian kasual yang cocok dengan tubuhnya yang tegap dan berotot, tak lupa dia juga menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.
Sementara di ruang makan, Rein sengaja mengacuhkan Eric yang masih saja mondar - mandir di kamarnya.
"Lo yakin nggak mau ikut?" tanya Eric sekali lagi.
"Nggak, gue nggak mau ikutan. Lagipula hari ini gue ada pemotretan, bentar lagi juga bang Roy bakalan datang jemput gue. Lo mending buruan pergi deh. Pusing gue cium wangi parfum lo" sahut Rein ketus.
Eric mencibir mendengar ucapan Rein, tapi dia juga mencium aroma parfumnya apa memang parfumnya memiliki aroma yang tidak enak. Eric mendengus kesal setelah memastikan tidak ada masalah dengan aroma parfumnya. Mana mungkin parfum pilihan yang dia beli seharga jutaan rupiah memiliki aroma yang tidak enak.
"Kalau lo berubah pikiran, kita bakal liat pameran itu di Art Fusion Gallery" imbuh Eric.
Singkat cerita setelah Eric selesai bersiap - siap, dia pun beranjak pergi melihat Rein sudah tidak ada lagi di ruang makan, Eric tanpa berpamitan pun pergi ke tempat pameran. Selepas kepergian Eric, Rein buru - buru beranjak pergi dari rumahnya, menggunakan hoodie dengan tudung lebar berwarna hitam, masker dan topi hitam. Jika orang berpapasan dengannya mungkin tidak ada yang akan mengenali dirinya.
***
Mata Luna berbinar - binar melihat koleksi pameran lukisan yang sudah lama ingin dia datangi, bibirnya tak henti - hentinya berdecak kagum. Sejak akun sosial media offcial Art Fusion Gallery mengatakan akan mengadakan pameran lukisan disini, Luna sudah sangat antusias dan sudah menanti untuk melihat pameran itu, tapi sayangnya pameran hanya diadakan oleh kalangan terbatas yang bisa datang dengan undangan saja sehingga memupuskan keinginan Luna untuk mengunjungi pameran lukisan ini. Siapa yang menyangka kalau Zayn bisa membantunya melihat lukisan ini bahkan sebelum pameran dibuka secara resmi, benar - benar menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Luna.
Dindra dan Amanda bahkan sampai menggeleng geli melihat tingkah sahabatnya yang memang sangat mengagumi lukisan dan karya seni itu. Berbeda dengan mereka berdua yang datang hanya ingin berfoto - foto saja. Luna mengamati setiap lukisan yang dipajang dengan seksama, untuk satu lukisan saja Luna bisa menghabiskan waktu sekitar 10 menit hanya untuk memandanginya.
"Kak Zayn, makasih banyak udah ngajakin kita semua kesini. Mana sepi banget lagi karena belum buka jadi aku bisa leluasa mengamati setiap lukisan ini" kata Luna sumringah.
"Luna kalau udah ke pameran beneran bisa lama ngeliatin satu lukisan doang" ledek Dindra seraya tertawa lepas.
"Bener, jadi maklumin aja kalau dia begini" imbuh Amanda.
Zayn mengangguk seraya tersenyum, sejatinya pameran ini akan dibuka secara resmi besok siang, tapi karena Zayn mengenal penyelenggaranya secara pribadi, jadilah mereka bisa melihat - lihat seluruh koleksi lukisan yang ada disana.
Tanpa mereka sadari sesosok pria mengendap - endap mengikuti mereka sejak tadi, dengan wajah masam. Menutupi setiap inci wajahnya dan hanya menyisakan mata yang terus menatap nyalang ke arah rombongan Luna.
Ketika Luna menoleh ke belakang karena tertarik dengan sebuah lukisan kecil, pria itu sontak langsung bersembunyi di balik pilar besar di tengah ruangan sehingga tidak terlihat oleh Luna. Untung saja galeri itu memiliki banyak pilar tinggi dan besar yang cocok untuk menyembunyikan tubuhnya dari pandangan Luna. Sesekali pria itu mengintip dan melihat interaksi antara Luna dan Zayn yang terlihat sangat akrab dan intens. Bahkan Eric, Dindra dan Amanda pun sengaja berjalan agak menjauh seolah memberi kesempatan bagi Zayn untuk menggoda Luna.
Zayn dan Luna berjalan beriringan, dari belakang jelas Zayn mencoba untuk merangkul atau menggenggam tangan Luna. Pria itu terus menatap dan mengikuti mereka secara, pandangannya tidak pernah luput dari Luna dan Zayn terus saja mengawasi mereka dari kejauhan sambil terus mendengus kesal.
Netra pria itu terus memicing mengawasi tajam mengawasi pergerakan Zayn dan Luna, seolah dia bersiap untuk menerjang jika Zayn berani mendaratkan tangannya di pundak Luna walau hanya secuil saja.
Luna tampak tertawa lepas, terlihat kalau dia sangat menikmati pameran itu. Hatinya seketika mencelos melihat Luna begitu gembira. Pria itu kembali menyembunyikan dirinya dibalik tembok, ketika Zayn menoleh. Hampir - hampir dia ketahuan saat itu juga, tapi saat dia kembali mengintip dia menyadari satu orang sudah menghilang.
"Kayaknya ada yang kurang.." gumamnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling galeri.
"Rein..." sapa Eric dengan pandangan meledek.
Rein yang sudah kepalang tanggung ketahuan segera menarik Eric bersamanya agar tidak membuat yang lain curiga.
"Ngapain lo narik gue!!" Rein segera membekap mulut Eric dan menyuruhnya diam karena takut seruannya barusan terdengar oleh yang lain.
"Bang diem dong, kalau ketahuan yang lain gimana" sergah Rein seraya berbisik pelan.
"Ngapain lo disini, katanya lo nggak mau ikut?" ucap Eric tak kalah lirih.
"Gue.... gue..... " Rein tergagap memikirkan alasan yang tepat mengapa dirinya bisa ada di galeri, mengikuti mereka dan berpakaian layaknya seorang penculik.
"Lo mau ngawasin Luna sama Zayn?" tebak Eric sambil tersenyum meledek.
Tebakan Eric seratus persen benar, dia memang ingin mengawasi Zayn dan Luna tapi tetap saja dirinya gengsi untuk mengakui hal itu. "Ya udah lo ikut aja, ngapain sembunyi disini" imbuh Eric.
Rein diam sesaat, dipandanginya wajah Eric yang terlihat sekali sedang meledeknya dengan perasaan jengkel luar biasa. Dia sedang menyembunyikan diri, bagaimana mungkin tiba - tiba dia muncul dan membaur bersama mereka sementara kemarin saja dia menolak mentah - mentah ajakan Luna. Bayangkan bagaimana ekspresi Luna jika dia tahu - tahu muncul untuk bergabung? Mau ditaruh mana wajahnya nanti.
"Loh bang Eric kemana?" Dindra menoleh mendapati pria disampingnya sudah menghilang.
Semua orang lalu berhenti, dan ikut mencari keberadaan Eric dan memanggilnya.
"Semuanya nyari lo, udah lo sana. Inget jangan bilang kalau gue disini" perintah Rein sambil mendorong tubuh Rein keluar dari tempat persembunyiannya.
"Bang Eric, ngapain disitu?" tanya Luna heran, begitu juga dengan Zayn yang langsung memicingkan matanya tajam.
"Oh... eh ini tadi gue nerima telepon bentar dari Rein"
"Rein kenapa? Apa dia bikin ulah lagi"
"Nggak, nggak ada apa - apa. Dia lagi dirumah aja kok nontonin drama cinta segitiga" sanggah Eric asal.
"Baru tahu gue kalau Rein suka nontonin drama" seloroh Zayn datar.
Eric tak menimpali lagi perkataan Zayn karena selanjutnya mereka akan melanjutkan untuk menikmati lukisan di ruangan lain. Sebelum mereka mengakhiri kunjunga dan pergi ke sebuah theme park Du-fan untuk menghabiskan waktu bersama - sama.