
Dengan suara yang masih terisak sesengukan Luna menceritakan permasalahan di rumahnya yang sampai membuatnya memutuskan untuk keluar dari rumah. Luna merasa sakit hati, apalagi dengan tamparan yang diberikan oleh ibunya. Selama ini ibunya tidak pernah memukulnya, bahkan membentak saja tidak pernah. Hanya karena membela mantan suaminya yang berselingkuh ibunya tega menampar wajahnya.
Panggilan tidak terjawab dari Rein, ibunya dan Jeje diabaikan oleh Luna. Bahkan dia mematikan ponselnya. Dindra dan Amanda yang mendengarkan pun cuma bisa menenangkan saja, mereka sendiri tidak tahu harus memberi solusi seperti apa, karena baik Dindra dan Amanda merasa tidak bisa terlalu ikut campur dengan permasalahan Luna dengan kedua orang tuanya meskipun mereka sahabat dekat. Mereka hanya bisa menenangkan dan menghibur serta mendengarkan semua curhatan Luna, hal inilah yang membuat Luna sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka berdua.
***
Keesokan paginya Luna bangun sedikit lebih siang dari biasanya, "Hari ini Rein ada pemotretan. Apa aku hari ini ijin saja ya?" pikir Luna, apalagi dia melihat matanya sudah membengkak akibat menangis semalaman. Sayangnya Roy tidak mengijinkan dia untuk ijin hari ini sehingga mau tidak mau Luna harus kembali bekerja.
"Puas lo?" tanya Roy ke arah Rein yang tersenyum tipis begitu dia menolak untuk memberikan ijin cuti kepada Luna. Sementara dari kejauhan Eric senantiasa menatap Roy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Thanks bang" jawab Rein.
Roy pun segera beranjak pergi sampai Eric tiba - tiba menghadangnya, "Gue mau ngomong sama lo" ucap Eric dengan pandangan mendesak, Roy pun menoleh ke arah Rein untuk memberitahunya apa yang terjadi dan dia hanya mengangguk. Dengan terpaksa Roy pun kembali duduk untuk mengetahui apa yang ingin mereka bicarakan.
"Kalian mau ngomong apa?" tanya Roy penasaran.
Tanpa banyak bicara, Rein menunjukkan rekaman cctv yang ada di apartemen Soraya di hari dia tewas, dimana disitu terlihat jelas Roy sedang berada disana. Raut wajah Roy seketika memucat. "D-darimana lo dapat rekaman ini?" tanya Roy dengan nada panik.
"Lo nggak perlu tahu, gue bisa dapat rekaman ini darimana. Tapi yang pasti lo berutang penjelasan sama gue soal ini" ucap Rein tajam.
Roy, terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia membuka suara. "Gue emang ada disana waktu itu, tapi bukan gue yang bunuh Soraya. Gue berani sumpah Rein, bukan gue yang bunuh" kata Roy.
Rein mengangguk, dia tahu bukan Roy yang membunuh Soraya yang jadi pertanyaannya adalah apa yang dilakuin Roy disana pada malam itu. Roy menghembuskan nafasnya, dia merasa tidak ada gunanya lagi menutupi hal ini lebih lama.
"Pertama - tama lo harus tahu dulu Soraya itu siapa" ucap Roy
"Maksud lo?" tanya Rein yang makin penasaran dengan ucapan Roy.
Sekali lagi Roy menghela mafasnya, dia kemudian mulai menceritakan semuanya.
"Rein, lo masih ingat kan om Arif yang selingkuh sama mbak Inayah pengasuh lo waktu kecil dan berujung perceraian mereka? Soraya adalah anak mereka, dengan kata lain dia adik lo sendiri. Selepas perceraian kedua orang tua lo, hidup om Arif berantakan, dia jadi sering mabuk dan judi"
"Dua bulan kemudian ternyata, mbak Inayah hamil dan om Arif menolak buat bertanggung jawab atas kehamilannya. Karena stress dan malu, mbak Inayah beberapa kali mencoba untuk menggugurkan kehamilannya, tapi tidak berhasil hingga akhirnya dia melahirkan dan meletakkan bayi itu ke panti asuhan. Setelah itu mbak Inayah hilang tanpa jejak"
Roy menghentikan ceritanya, seraya meneguk air mineral di hadapannya. Rein terpaku dengan fakta yang baru dia ketahui sekarang ini, Soraya adiknya? Bagaimana mungkin? Apa ada kebetulan seperti ini?. Eric pun tidak kalah terkejutnya, selama ini dia mengenal Soraya dia sama sekali tidak mengetahui soal fakta ini.
"Lanjutin bang" pinta Rein yang tak bisa menahan gejolak perasaannya sendiri.
"Belasan tahun berlalu, lo makin terkenal dan entah karena takdir atau gimana Soraya bisa jadi model dan dekat sama lo. Mbak Inayah yang menghilang pun tiba - tiba muncul lagi dan ngancam bu Angeline bakal bongkar kalau Soraya adalah adik lo sendiri, bayangin gimana reaksi masyarakat kalau lo pacaran sama adik sendiri. Apalagi penyebab perceraian kedua orang tua lo karena perselingkuhan nggak ada yang tahu"
"Karena ancaman itu, Angeline langsung hubungin om Arif dan minta dia buat ngasih peringatan ke mbak Inayah dan Soraya buat nggak macam - macam, apalagi Soraya waktu itu udah pacaran sama lo"
"Soraya tahu, soal dia adalah adik lo sendiri dan dia mau manfaatin status itu buat naikin namanya sendiri, Soraya nggak sebaik yang lo pikir Rein" ucap Roy.
"Om Arif... Waktu itu gue sengaja mau ketemu sama Soraya buat jauhin lo sementara waktu, karena waktu itu lo sedang ada project penting saat gue kesana, gue lihat om Arif bunuh Soraya setelah terlebih dahulu dia ngebius Soraya sampai pingsan dan itu atas perintah nyokap lo, dengan imbalan nyokap lo ngelunasin semua hutang judinya"
'Prangg' seketika gelas yang dipegang oleh Rein merosot dan jatuh berkeping - keping ke lantai, tangannya gemetar. Ayahnya seorang pembunuh, yang membunuh Soraya, gadis yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati. Membunuh putrinya sendiri dan ibunya adalah dalang dari semuanya, seperti yang dikatakan oleh Eric kalau ibunya terlibat.
"Rein, lo tenangin diri lo dulu" ucap Roy yang cemas dengan reaksi Rein.
Rein lalu melirik ke arah Eric, "Jadi lo bukan kakaknya Soraya?" tanya Rein.
"Gue kakak Soraya waktu di panti asuhan, selama iniĀ gue kerja di luar negeri dan saat gue tahu dia meninggal gue bertekat buat cari tahu penyebabnya. Soal dia adalah adik lo, gue juga baru tahu soal ini" jawab Eric jujur.
Roy mendekati Rein dan berusaha menenangkannya, dia tahu Rein pasti sangat shock dengan kenyataan ini. Mengetahui fakta yang terkubur selama belasan bahkan puluhan tahun. "Rein lo nggak papa kan?"
"Keluar..." ucap Rein.
"Rein tapi lo ada..."
"Gue bilang KELUAR!!!!!" Teriakan Rein mengejutkan Luna yang baru saja datang, dia melihat raut wajah Roy, Eric dan Rein tampak menegang satu sama lain. Dia bisa merasakan bahwa suasana di ruang tamu sedang tidak baik - baik saja.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Rein masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya sekencang mungkin, dari dalam Luna bisa mendengar teriakan Rein dan suara benda - benda yang dibanting oleh Rein di kamarnya.
Eric dan Roy mencoba menyusul Rein dan menenangkan Rein membujuknya untuk keluar, tapi dihadang oleh Luna, "Gue nggak tahu apa yang terjadi sekarang, tapi tolong biarin dia sendirian dulu. Hari ini Rein nggak bakal kemana - mana, gue bakal jagain dia. Bang Roy, tolong lo bantu buat atur ulang pemotretan hari ini" pinta Luna seraya melirik ke arah kamar Rein.
Roy dan Eric pun setuju, mereka lalu pergi meninggalkan Rein berdua dengan Luna, "Tolong jagain Rein ya Lun" pinta Roy. Luna mengangguk pelan.
***
Sudah dua jam Luna berdiri meringkuk didepan pintu kamar Rein, tampaknya Rein sudah cukup tenang. Perlahan - lahan, Luna mengetuk pintu kamar Rein beberapa saat. Membujuknya untuk membuka pintu kamarnya, syukurlah Rein bersedia membuka pintu kamarnya.
Melihat Luna dihadapannya, tanpa ragu Rein memeluk Luna erat, "Ini nggak benar kan Aichi? Baby, bilang sama aku ini nggak benar. Soraya bukan adik aku dan aku bukan anak pembunuh" lirih Rein.
Luna membalas pelukan Rein, "Tenangin diri kamu dulu. Aku bakalan disini nemenin kamu" ucapnya.
Rein tampak sedih, wajahnya terlihat sendu, tatapan matanya juga sayu. Entah apa yang sedang terjadi Luna tidak mengerti, walaupun kemarin dia sempat dibakar cemburu. Tapi melihat Rein seperti ini membuat hatinya tidak tega jika dia meninggalkan Rein dalam keadaan seperti ini.
Lua mengarahkan Rein untuk duduk ke sofa di ruang tamu, sementara dirinya membersihkan kamar Rein yang berantakan dibantu oleh Eric.
"Sebenernya kenapa sih dia bang? Kenapa dia bilang dia putra pembunuh? Dan apa maksudnya kalau Soraya adiknya?" tanya Luna yang tak urung penasaran dengan apa yang terjadi sampai membuat Rein seperti itu.
Eric mengangkat bahunya, dia tidak ingin mengatakan apapun dan menyuruhnya untuk bertanya sendiri kepada Rein setelah dia tenang.