
Kamar Vania benar - benar seperti terkena badai, setelah penolakan semalam oleh Rein, dia melampiaskan kekesalannya dengan kembali menghadiri sebuah pesta dan pulang dalam keadaan mabuk lalu membanting semua barang - barang dikamarnya bahkan pajangan di kamarnya ikut pecah. Saat dia tengah akan mencapai puncak, tiba - tiba Rein menghentikan permainannya dan menyebut nama Aichi.
Siapa Aichi? Awalnya Rein menyebut nama Soraya, kenapa berubah menjadi Aichi? Pertanyaan itu timbul tanpa bisa dia jawab, "Apa Rein punya pacar baru? Gue harus cari tahu siapa yang bernama Aichi"
Vania merasakan tubuhnya sangat sakit, setelah dia berpesta sampai dini hari bahkan melakukan hubungan intim dengan seorang pria yang tidak dia kenal untuk melepaskan hasratnya yang tertunda akibat penolakan Rein.
Vania melihat banyak memar ditubuhnya, memar yang tidak dia ketahui penyebabnya, tiba - tiba dalam benak Vania terbersit sebuah ide licik di kepalanya. Tidak menunggu waktu lama, dia memotret beberapa memar ditubuhnya dan mempostingnya ke sosial media miliknya, dan sesuai dugaan postingannya seketika menjadi viral. Vania menyeringai licik, "Rein lo rasain pembalasan gue karena udah nolak gue dan bikin gue malu semalam" seringainya.
***
Saat Luna tiba di apartemen Rein, ternyata sudah ada Roy dan Angeline disana bersama dengan Rein yang tampak kacau. "Luna, hari ini semua jadwal Rein dibatalkan. Lo disini saja bersama dengan Rein dan Eric, jangan biarkan dia kemana - mana" ujar Roy sesampainya Luna di apartemen yang terang saja membuat Luna keheranan karena hari ini jadwal Rein sangat padat tiba - tiba harus dibatalkan begitu saja.
Luna kebingungan dengan keadaan yang tampak kacau di ruangan itu, dia menatap Eric dan Rein mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Semalam kau pulang jam berapa Luna?" tanya Angeline tiba - tiba.
Luna menjawab jika semalam dia pulang dari apartemen Rein sekitar jam 8 malam setelah jadwal terakhirnya selesai, "Jadi kau tidak tahu semalam Rein pergi kemana?" tanya Angeline, Luna menggeleng pelan.
"Dia pergi ke club lightsum tadi malam, dan dia kembali jam dua belas malam bersama dengan Vania, sebelum akhirnya Vania pulang jam setengah satu dini hari" jelas Eric yang segera mendapat lirikan tajam dari Rein.
Roy menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya ke sofa, sementara Angeline hanya mondar - mandir di sekitar ruangan itu sibuk dengan ponselnya.
Luna pun jadi semakin bingung dengan situasi yang masih belum bisa dia mengerti itu, sampai Roy lalu menjelaskan bahwa Vania menuduh Rein melakukan pelecehan sek sual kepada dirinya semalam. Berita itu bahkan sekarang menjadi viral, apalagi Vania juga menunjukkan bukti memar di wajah dan tubuhnya. Semua orang sekarang menghujat Rein dengan mengatakan bahwa Rein adalah seorang predator.
Bahkan rekaman CCTV lorong apartemen Rein yang menampakkan mereka pulang bersama - sama serta Vania yang keluar dari apartemen Rein tiga puluh menit kemudian juga bocor.
Berita itu diperkuat dengan rekaman dari cctv club malam yang memperlihatkan mereka pulang bersama - sama dari club lightsum. Rein hanya terpaku, "Gue memang pulang dianter dia tapi gue nggak ngelakuin pelecehan ke Vania, nge we aja nggak" kilah Rein dengan wajah yang tak kalah frustasinya.
Roy jelas tampak gusar, terlebih Angeline yang sejak tadi sibuk menerima telepon, "Sekarang lebih baik kita diam dulu tidak menanggapi berita itu sambil kita cari solusi untuk masalah ini, untuk sementara ini lo nggak usah kemana - mana dan diam dirumah dan lo nggak bisa ngebantah" ujar Roy melotot saat Rein akan membantah ucapannya.
"Gue yakin ini jebakan Vania buat jatuhin nama lo depan publik, karena lo udah mutusin dia dan nggak lagi kerja sama dengan Vania, lo tahu dia licik kenapa sih lo bisa pulang bareng sama dia bukannya sama Eric" pekik Roy.
Eric berkilah bahwa Rein memaksa untuk pergi sendirian sehingga dia hanya mengawasi dari kejauhan, dan saat mereka pulang bersama mereka memang masuk ke kamar bersama, "Tapi setelah itu aku dengar Rein mengusir Vania sepuluh menit setelah mereka masuk, dan saat Vania keluar, aku nggak lihat ada memar atau apapun di wajahnya. Yang pasti dia kelihatan kesal, lebih seperti kesal karena tidak berhasil mendapat apa yang dia inginkan bukan kesal karena habis dilecehkan" jelas Eric.
"Luna mungkin untuk sementara lo libur dulu, toh Rein juga nggak kemana - mana" kata Roy lagi.
Luna menolak, dia ingin tetap bekerja karena dia sedang cuti kuliah kalau dia diam dirumah akan membuat ibunya curiga apalagi sekarang bukan waktunya libur kuliah. Roy dan Angeline pun menyetujui setidaknya ada yang akan mengawasi Rein agar tidak bertindak gegabah ditengah rumor yang beredar sekarang.
Ketika mereka sedang memikirkan solusi untuk rumor ini, ponsel Luna berdering dan tampak Dindra berada diujung panggilannya, "Hmmm kayaknya dia mau tahu deh. Mendingan nggak aku angkat dulu, sekarang situasinya nggak memungkinkan" batin Luna dalam hati.
Angeline dan Roy berusaha menghubungi Vania dan managernya tapi sama sekali tidak tersambung, gadis itu bahkan melakukan live streaming dan menjual cerita sedihnya untuk menarik simpati orang - orang.
"Sepertinya Vania bener - bener serius mau jatuhin lo Rein" kata Roy sambil melihat live streaming Vania melalui akun anonim miliknya.
Lagi - lagi ponsel Luna berdering, lima belas panggilan tidak terjawab dari Dindra, "Aduh dia kenapa sih?" seru Luna dalam hati.
"Siapa Luna?" tanya Roy dengan tatapan menyelidik.
"Dari rumah mas" kelit Luna yang kemudian menjauh setelah Roy mengijinkan untuk mengangkat teleponnya.
Luna menjauh ke arah balkon, "Apa sih lo Din, lagi riweh nih gue" seru Luna.
"Iya gue tahu, rumor skandal Rein kan. Lun dengerin gue, Rein nggak salah sama sekali. Vania tuh nyebar fitnah" kata Dindra yang terdengar sangat serius dari nada bicaranya saja, bahkan terakhir kali Luna ingat Dindra berbicara dengan nada serius seperti ini adalah saat mereka memergoki Rama berselingkuh dari Marsya dulu.
"Iya gue juga mikirnya gitu, tapi buktinya kuat banget. Nggak ada sesuatu yang bisa ngebuktiin kalau Vania bohong" jawab Luna tak kalah serius.
"Ada sayang... Kalau boleh, gue mau kasih liat sendiri ke Rein bukti kalau dia nggak salah. Gimana?" tawar Dindra berharap Luna menyetujui tawarannya agar dia bisa bertemu dengan idolanya lagi.
Luna terdiam sejenak, dia lalu mengatakan kalau dia harus berdiskusi dulu dengan Rein karena dia tidak bisa memutuskan hal sepenting ini. Dindra setuju untuk menunggu kabar dari Luna lalu menutup teleponnya.
Ditempat lain Dindra memandang tajam ke kakak laki - lakinya, "Sekarang lo ceritain semuanya ke gue atau gue bakal aduin lo ke bokap sama nyokap kelakuan lo dibelakang mereka" ucapnya setelah selesai berbicara dengan Luna di telepon.
Kakak laki - lakinya hanya terduduk lesu menanggapi ancaman Dindra yang terlihat tidak main - main. "Oke deh, tapi lo harus janji nggak ngomong sama papa kalau gue ngambil duit UKT buat have fun" balasnya.
"Iya gue janji" sahut Dindra sambil tersenyum penuh kemenangan.