
Rein terdiam sepanjang jalan, dia tidak mengatakan sepatah kata pun setelah kepulangannya dari rumah Angeline. Hal ini membuat Luna bertanya - tanya dengan apa yang terjadi di antara mereka tadi, "Rein. Kamu lapar kan, kita makan dulu yuk. Aku tahu ada restoran enak didekat sini" kata Luna yang berusaha mencairkan suasana.
Rein tidak mejawab perkataan Luna selain gelengan kepala. Luna melirik ke arah Eric seolah ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau gitu kita makan di apartemen kamu aja ya" kata Luna lagi.
"Aku mau sendiri dulu, kamu pulang aja ya" pinta Rein.
Luna menggeleng, dia tahu saat ini Rein butuh seseorang untuk bersandar dari masalahnya, "Kamu tega nyuruh aku pulang dalam kondisi lapar. Setelah aku makan dirumah kamu, aku bakal langsung pulang setelah mastiin kamu bener - bener baik - baik saja. Denger ya, ini karena aku asisten kamu jadi aku harus mastiin kamu nggak kenapa - kenapa" sifat Luna yang keras kepala inilah yang kadang tidak bisa dibantah oleh Rein, akhirnya diapun hanya mengangguk pasrah menuruti keinginan kekasihnya.
***
Di Apartemen, Rein langsung menuju kamarnya sementara Eric dan Luna langsung menyiapkan bahan - bahan untuk memasak makan malam, tiba - tiba sebuah ide terlintas di benak Luna. Dia menghubungi Dindra dan Amanda, tapi karena Amanda sedang demam terpaksa Dindra datang sendirian. Mereke berencana untuk mengadakan barbeque party di balkon apartemen.
"Bang, lo sama Dindra siapin ini ya, gue panggil Rein dulu buat gabung sama kita" ucap Luna. Luna sudah mendengar keseluruhan cerita dari Eric sewaktu mereka berada di rumah Angeline.
Di kamar, Rein masih termenung bingung dengan semua kenyataan yang tiba - tiba muncul dalam benaknya sampai sebuah ketukan dan sapaan hangat menyapa dirinya. "Rein, aku boleh masuk?" tanya Luna sambil melongokkan kepalanya kedalam.
Rein mengangguk pelan. Perlahan - lahan Luna masuk menghampiri Rein yang sedang duduk di kursi malas di kamarnya, lalu memeluknya. Dipeluk seperti itu, perasaan sesak yang dirasakan oleh Rein seketika mendesak keluar menghasilkan cairan bening di bola matanya. Rein terisak, selama ini Luna tidak pernah melihat Rein serapuh sekarang. Entah apa yang dia rasakan sekarang ini, tapi Luna hanya ingin sedikit meringankan beban pikiran Rein.
"Baby, aku anak pembunuh" lagi - lagi Rein mengatakan hal yang sama.
Luna menutup mulut Rein dengan jari telunjuknya, "Kamu adalah Rein dan selamanya adalah Rein. Kalaupun orang tuamu melakukan kesalahan, itu adalah kesalahan mereka. Kamu jangan menyalahkan dirimu seperti ini Rein. Lagipula belum terbukti kalau apa yang diomongin sama bang Roy itu bener. Kamu harus ngebuktiin dulu, baru kamu bisa menyimpulkan lagi" nasihat Luna.
"Tapi gimana kalau bener, gimana kalau emang papa aku yang bunuh Soraya, gimana kalau mama aku emang berkomplot?" tanya Rein. Dia benar - benar terlihat frustasi.
Luna sekali lagi memeluk Rein, "Selama belum ada bukti apapun, kamu nggak boleh mikir macam - macam. Lagipula....." Luna sejenak menghentikan ucapannya, dia teringat dengan apa yang dikatakan oleh Roy setelah keluar dari rumah Rein.
"Lagipula apa?" tanya Rein.
"Lagipula mau kamu anak pembunuh atau bukan, aku tetap sayang sama kamu" jawab Luna seraya tersenyum dan mengecup pipi Rein yang langsung membuat wajah Rein memerah.
Ya, Luna akan menyembunyikan fakta itu dulu sebelum semuanya jelas. Roy sudah lama kerja dengan Rein, jadi tidak mungkin kalau dia akan mengkhianati Rein.
Luna lalu mengajak Rein untuk keluar dari kamarnya dan ikut dalam pesta barbeque malam ini, "Ayo, senyum dong. Aku bakalan bantu kamu buat cari papa kamu sampai ketemu. Kita akan tahu kebenarannya kalau udah nemuin papa kamu kan?" tanya Luna.
"Makasih ya Aichi. Makasih karena kamu nggak ninggalin aku disaat seperti ini" ucap Rein, sambil mencuri sebuah kecupan dari bibir Luna.
"Idihhh apaan sih nyosor - nyosor, ngomong - ngomong aku masih kesel ya sama kamu soal kemarin. Siapa itu Natalie, kayaknya akrab bener ampe cipika cipiki gitu?" ledek Luna.
Rein tertawa, tawa yang diharapkan oleh Luna sejak tadi. Tawa yang selalu dirindukan oleh Luna. "Dia itu teman masa kecil aku sayang, nggak ada hubungan apa - apa. Kamu cemburu?" ledek Rein.
"Iya lah, datang - datang main peluk dan cium, ih apaan. Aku nggak suka sama dia" jelas Luna.
"Ayok" ajak Luna seraya mengulurkan tangannya. Rein mengangguk.
***
Sementara itu di sebuah club malam, Roy tampak duduk sendirian menghabiskan sebotol minuman keras bersama dengan seorang wanita yang terlihat tidak asing lagi, Natasya.
"Ngapain lo disini sendirian?" tanya Natasya.
"Gak ada urusannya sama lo, pergi lo dari hadapan gue!!" usir Roy sinis.
"Roy, lo nggak ada kenalan apa buat gue. Gue nggak ada tawarin casting ataupun model, endorse gue juga sepi banget" pinta Natasya.
Roy seketika mencibir, " Bukannya lo dikasih jatah sama laki lo?"
"Gue udah putus sama dia, dia ketahuan sama istrinya. Please Roy bantuin gue, gue butuh duit" pinta Natasya lagi.
Roy memandang Natasya dari atas sampai bawah, wajah Natasya memang cantik, walaupun menurut Roy sedikit membosankan satu - satunya yang menarik dari Natasya adalah ukuran melonnya yang lumayan besar selain itu bo-kong nya yang bulat dan sintal membuat Natasya memiliki daya tarik sek sual yang cukup tinggi.
"Gue bisa kasih lo duit, tapi lo harus mau tidur sama gue malam ini. Gimana?" ujar Roy.
Natasya sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui usulan Roy, mereka lalu pergi dari club malam tersebut menuju sebuah hotel yang terletak di pusat kota. Sebelum mereka pergi mata Natasya sempat beradu dengan Vania yang mengawasi dari kejauhan.
"Kena lo Roy, gue bakal bikin lo mabuk dan ceritain semua rahasia Rein sama gue biar gue bisa bongkar ke media dan jatuhin nama dia. Setelah dia nolak dan bikin karir gue hancur, jangan kira gue bakal diam aja lihat dia semakin naik" geram Vania yang masih tidak rela hidupnya berantakan akibat ulahnya sendiri.
Sementara itu Roy yang mengetahui keberadaan Vania hanya tersenyum tipis, "Lo kira lo bisa jebak gue dengan ngumpanin Natasya. Lo lihat aja, apa yang bisa gue lakuin buat nyingkirin perempuan murahan seperti kalian. Perempuan yang cuma bisa merusak rumah tangga orang lain. Kalian benar - benar menjijikkan, sama seperti Soraya" seringaian jahat muncul di wajah Roy.
Natasya dan Roy lalu masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju gedung hotel, sementara Vania mengikuti mereka dibelakang.
Kedua gadis ini tidak mengetahui bahaya apa yang akan mengancam mereka.
...****************...
...Haloo... 🔥🔥🔥...
...Terima kasih banyak buat semua dukungannya....
...Bisa like, komen, vote dan rate ya....
...Dukungan kalian berarti sekali buat Author....
...Selamat membaca ❤️❤️❤️❤️...