
Dindra memekik saat Luna menceritakan kejadian kemarin, begitu juga dengan Amanda yang baru saja tiba dari Australia setelah dia mengikuti olimpiade kampus. "Tapi kenapa lo malah berantem sama dia?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Iya kenapa tuh Lun, kan dia udah bilang suka sama lo. Terus lo bukannya jawab, malah nanya lagi ke dia dan berujung lo berantem sama dia?" tanya Dindra sama tidak pahamnya dengan Amanda.
Luna mengangkat bahunya, dia sendiri juga tidak paham kenapa dia justru bertengkar dengan Rein yang baru saja menyatakan perasaannya.
"Lagian lo juga sih pake nanya ulang, ngapain coba" ledek Dindra.
"Ya kan biar gue nggak salah paham aja" kilah Luna.
"Emang dongo sih dia, kelamaan omblo akut makanya nggak paham beginian" sambung Amanda.
Luna menebalkan telinganya saat teman - temannya terus saja meledeknya karen hal ini.
"Eh Lun, kemarin tante Winda nelpon nanyain lo. Bingung gue jawabnya. Lo masih belum bilang ya kalau lo cuti kuliah? Saran gue sih baiknya lo cerita deh sama nyokap lo. Takutnya dia tahu dari orang lain. Dosa lo bohongin orang tua" jelas Dindra.
Luna tercenung sejenak, sebenarnya dia juga enggan berbohong seperti ini. Tapi saat ini dia tidak ingin membebani pikiran ibunya, apalagi sebentar lagi sidang perceraian kedua orang tuanya akan digelar. Lebih baik Luna menunda sedikit lebih lama untuk memberi tahu ibunya perihal cuti kuliahnya.
Setelah selesai mengurus administrasi dan segala sesuatunya, Luna pun pergi meninggalkan kamar rawatnya. Hari ini dia akan kembali kerumah, tapi tiba - tiba saja Zayn muncul di hadapan mereka seraya tersenyum lebar.
"Kak Zayn? Ngapain disini?" tanya Luna yang tampak terkejut dengan kedatangan Zayn yang tiba - tiba itu.
Diam - diam Dindra berfoto selfie yang menampakkan Zayn dibelakangnya dan mengirimkannya kepada Rein, bibirnya menyeringai usil. "Sebentar lagi pasti ada yang kebakaran jenggot" kekehnya.
Rein nampak tak bersemangat melakukan kegiatannya hari itu, dia merasa galau setelah pernyataannya kemarin. Apalagi saat Luna masih belum juga membalas pesan yang dia kirimkan sejak pagi, berkali - kali Rein melihat layar ponselnya berharap Luna membalas pesannya tapi tidak ada apapun. Dibaca pun tidak.
"Dia hari ini pulang kan? Apa dia bisa pulang sendiri?" batin Rein dalam hati.
Dering ponsel tanda pesan masuk terdengar oleh Rein, dengan penuh semangat dia membukanya tapi sekejap kemudian dia merasa kecewa karena ternyata yang mengirimkan pesan itu adalah Dindra yang mengirimkan sebuah foto.
Rein melihat foto yang langsung membuatnya mengepalkan tangannya, kenapa bisa ada Zayn disitu? Apa yang dia lakukan? Harusnya dia yang mengantar Luna pulang, tapi malah Zayn yang disana. Rein merutuki dirinya, ingin rasanya dia menyusul Luna tapi tidak bisa karena dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya disini.
Disuatu hotel bintang tiga, Vania terlihat duduk mematung dalan keadaan telanjang bulat, disampingnya seorang laki - laki tua tampak menyeringai menikmati setiap inci dari tubuh Vania. Semenjak keluarganya bangkrut dan berita tentang dia memnfitnah Rein viral, dia tidak lagi mendapatkan tawaran pekerjaan apapun. Semua endorsement dibatalkan, follower sosial medianya juga menurun drastis, bahkan agensi - agensi model yang biasa menariknya untuk menjadi model di acara tertentu pun juga tidak pernah lagi menghubunginya.
Sementara Vania memerlukan banyak uang untuk memenuhi gaya hidupnya, itulah kenapa dia mulai menjadi wanita simpanan para pria tua yang mau membayar tinggi untuk menikmati tubuhnya. Vania tidak memiliki kemampuan lain selain wajah dan tubuhnya, dengan bayaran puluhan juta untuk sekali main Vania bisa tetap memenuhi gaya hidupnya tapi kadang kala uang itu pun habis dalam sekejap jika dia mengadakan pesta untuk dirinya dan teman - temannya.
"Sayang, kenapa kamu kok diam saja. Apa kamu tidak ingin merasakan hentakan rudal ku yang kokoh dan keras ini" rayu pria buncit dengan wajah berminyak ke telinganya.
Vania melirik malas, "Rudal kecil gitu aja dibanggain, kalau bukan gara - gara duit lo juga gue males ngelayani lo. Boro - boro puas, kerasa masuk aja nggak" batin Luna menatap remeh saat pria tua itu mengacungkan miliknya dengan penuh rasa percaya diri.
Laki - laki itu mulai merengkuh tubuh Vania kedalam pelukannya, dan menciumi bibir Vania dengan kasar, dia merasa senang akhirnya dia bisa merasakan tubuh Vania seperti yang selama ini dia impi - impikan, tidak salah jika dia harus merogoh kocek sampai delapan puluh juta hanya untuk berhubungan se x dengan wanita ini.
Suara lenguhan penuh gairah keluar dari bibir lelaki itu yang terus menjelajahi tubuh Vania dan memainkan inti milik Vania dengan jari - jari gemuknya. Di rang sang seperti itu, membuat libido Vania seketika naik, dia mulai melenguh dan memekik pelan. Meskipun dia tidak seluruhnya menikmati permainan ranjang hari ini, tapi dia berkewajiban untuk memekik dan melenguh supaya laki - laki itu mengira bahwa dia bisa memuaskan Vania.
"Eugh... Om.... udah Om" pekik Vania dengan suara yang dibuat - buat. Mendengar itu laki - laki itu semakin bersemangat mendaki puncak gunung kembar dengan sapuan bibirnya. Baginya desah an Vania seolah penyemangat baginya untuk muali mengarahkan inti miliknya memasuki sarang milik Vania yang tertutup bulu tipis karen baru saja di waxing.
Vania tersenyum kecut, saat laki - laki itu mulai menyesap biji melon import miliknya. Tidak ada kenikmatan sama sekali yang dia rasakan, hingga permainan berakhir pun Vania tidak bisa merasakan apapun.
Singkat cerita pria itu kemudian pergi meninggalkan sejumlah uang tips untuk Vania yang segera merebahkan diri sambil menonton televisi. Saat dia menonton televisi tampak wajah Rein dilayar berukuran 42 inch itu. Rein sedang mempromosikan film terbarunya yang akan rilis akhir bulan ini.
Gigi Vania menggeretak, nafasnya memburu, alisnya naik wajahnya mulai memerah menatap Rein dengan penuh kebencian. Semua yang terjadi dengannya sekarang ini adalah ulah dari Rein, dan dia akan membalas perlakuan Rein kepadanya dengan menghancurkan nama baiknya. Tapi kali ini dia akan bermain lebih rapi supaya tidak menjadi boomerang baginya.
Dulu dia tergila - gila dengan Rein karena penampilan Rein terlebih dengan statusnya sebagai idola dan artis tenar tentu akan membuatnya bisa mendongkrak namanya agar bisa lebih dikenal lagi. Tapi siapa sangka pria yang dia cintai itu sekarang menjadi pria yang sangat dia benci karena telah menghancurkan hidupnya.
Vania bersumpah dia akan membalas perlakuan Rein, hingga pria itu tidak akan sanggup menunjukkan wajahnya kedunia seperti yang di lakukan Vania sekarang ini.
"Lo bakal terima pembalasan gue Rein, jangan harap lo bisa hidup tenang setelah lo bikin gue jadi gelandangan kayak gini!!!!" pekik Vania frustasi.
Vania lalu mulai menghubungi Natasya untuk meminta bantuannya menjebak Rein sekali lagi.