MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Jangan bermain api



Sesuai dugaan Dindra, Vania benar - benar datang ke private party itu. Berbekal kamera tersembunyi yang terpasang di tasnya Dindra bersama dengan Eric masuk kedalam party itu dibantu oleh Chico kaka dari Dindra yang sudah bersiap di panggung untuk setting alat DJ yang akan dia mainkan nanti. Sedangkan Luna dan Rein menunggu di mobil yang dia parkir sedikit menjauh dari rumah itu dengan cemas serta khawatir jika rencana mereka akan gagal.


Chico sudah mewanti - wanti agar tidak mengacaukan acara, Dindra dengan seksama mulai memperhatikan seluruh tamu yang hadir. Benar saja tidak ada yang menggunakan ponsel sama sekali. Saat mereka masuk, semua ponsel dimasukkan kedalam ziplock yang diberikan kunci khusus. Zip lock ponsel ini didesain untuk menutup kamera depan maupun belakang, jadi mereka masih bisa menerima telepon ataupun mengirim pesan tapi tidak bisa menggunakan kamera karena tertutup oleh penghalang yang sudah terpasang di kantong ziplock tersebut.


Dindra perlahan mendekati Vania yang sedang berkumpul dengan Natasya, dia mengambil duduk di tidak jauh dari tempat mereka. Sementara Eric yang sudah merubah penampilannya agar tidak dikenali oleh Vania mulai membaur dengan tamu yang lain setelah sebelumnya memasang sebuah penyadap dibawah meja mereka agar semua ucapan mereka bisa didengar.


"Van, gue nggak nyangka Rein bisa lakuin itu ke lo. Itu beneran?" tanya Natasya yang mulai membuka pembicaraan diantara mereka berdua.


Vania meneguk minuman keras didepannya sebelum dia menjawab, "Gue sakit hati beb sama dia, sialan banget gue ditolak kemarin. Padahal kita berdua udah sama - sama telanjang, terus ya gue udah mau nyampe eh ama dia dilepehin gitu aja terus gue diusir. Ya udah sih gue kasih pelajaran aja si Rein udah berani nolak gue." Vania terkikik saat dia menceritakan semua itu kepada Natasya.


"Wah gila lo beb, kalau lo ketahuan gimana? Bisa ancur karir sama nama lo, tau sendiri Rein itu bekingan fansnya kenceng banget. Bisa dirujak lo sama mereka kayak kasus Soraya dulu" Natasya menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan rencana Vania yang menurutnya gegabah itu.


"Apaan sih lo bahas orang mati, gini ya gue sih yakin Rein nggak bakal bisa ngebuktiin apa - apa. Lo liat aja semua cctv udah jelas gue pulang bareng sama dia, terus meskipun setelah dari apartemennya gue kesini, tapi look arround nggak ada satupun yang bisa merekam apapun disini" seru Vania sambil tertawa remeh.


Natasya masih terus mencibir Vania yang menurutnya gegabah, pandangan Natasya berhenti saat tiba - tiba dia terpaku dengan sosok Dindra yang gerak geriknya terlihat mencurigakan dan merasa bahwa Dindra terus mengawasi mereka. Mendadak dia berdiri untuk menghampiri Dindra yang masih fokus merekam pembicaraan mereka. Mengetahui bahwa Natasya mengikutinya, Dindra segera pergi dari sofa itu dan membaur dengan yang lain hingga Natasya kehilangan jejaknya sebelum dia bisa melihat wajah Dindra dengan jelas. Dindra juga memberi kode kepada Eric untuk ikut keluar bersamanya.


***


Rein sejak tadi gusar menunggu kabar dari Eric atau Dindra dengan cemas, sudah pukul 12 malam tapi mereka belum juga keluar atau memberi kabar sejak mereka masuk kedalam sejak jam 10 malam tadi. Sampai - sampai Luna jengah sendiri dengan tingkah Rein yang tidak bisa diam dengan tenang, Luna sendiri sudah ijin kepada ibunya kalau dia akan menginap di rumah Dindra


"Rein lo bisa diem nggak sih?" protes Luna kesal.


Rein melirik, "Temen lo lama banget sih di dalam, sampai sekarang nggak ngasih kabar. Jangan - jangan malah keasyikan party lagi dia" tuduh Rein.


Luna mendelik, bisa - bisanya dia menuduh Dindra seperti itu, mungkin saat ini kalau Luna bawa saos cabe udah dia balurin ke bibir Rein yang sejak tadi terus saja mengomel,


"Lo tuh ya, moncong lo kalau ngomong yang bener dong. Temen gue mau bantuin lo, bisa - bisanya lo bilang kalau mereka mau nikmatin party. Nggak tahu diri emang" seru Luna sengit.


"Nggak tahu diri? Siapa?" tanya Rein pura - pura tidak paham.


Rein menunggu dengan cemas dan langsung mengajukan banyak pertanyaan apakah mereka berhasil mendapatkan bukti yang mereka perlukan. Dindra mengangguk bangga, mereka lalu kembali ke apartemen Rein untuk mempersiapkan langkah selanjutnyya.


***


Di apartemen Rein


Dindra menunjukkan hasil rekaman suara dan video yang mereka ambil diam - diam, sementara Eric menyerahkan video cctv saat kedatangan Luna hingga dia pulang dari rumah itu.


Untung saja Eric bisa mengelabui penjaga sehingga dia bisa melihat rekaman cctv saat itu.


Rein menyeringai puas, "Mampus lo Vania" ucap Rein sendiri.


Seperti yang sudah diinfokan oleh Dindra, fanbase Rein mulai bergerak memposting video dan rekaman suara ke berbagai media sosial sehingga dalam waktu kurang dari satu jam postingan itu menjadi konsumsi banyak orang. Akibat video itu, simpati publik pun mulai beralih kepada Rein. Postingan itu dalam beberapa jam mulai viral, beberapa akun bahkan terpantau menyebut Rein dan Vania untuk keluar memberi penjelasan dan Rein melakukannya terlebih dahulu.


Dengan begini Vania nggak bakalan bisa menyangkal, sementara disisi lain Vania yang tidak tahu dengan apa yang terjadi terus saja menikmati pesta bersama  pria yang dia pilih untuk menemaninya, "Touch me baby..." dengan gerakan seduktif Vania menggoda pria yang ada dihadapannya agar mau bermain bersamanya malam ini tanpa dia sadari bahwa dalam beberapa jam kedepan dia akan merasakan pembalasan yang tidak akan dia bayangkan akibat mengusik Rein.


Setelah fanbase Rein memposting video tersebut, Rein juga mulai melakukan live streaming dan pelan - pelan menjelaskan semuanya, ditengah - tengah live streaming, Eric menyerahkan sebuah dokumen kepada Rein. Dokumen itu berisi seluruh informasi penting tentang keluarga Vania yang ternyata sedikit demi sedikit mulai terlibat masalah yang membuat mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk membahagiakan Vania.


Dari komentar yang muncul di live streaming beberapa orang tampak mengujatnya, sampai kemudian Rein menunjukkan rekaman video dan suara yang mereka dapatkan membuat dukungan mereka menjadi senakin besar.


"Kenapa lo ngeliatin gue?" tanya Luna heran melihat Rein menatapnya dengan begitu lekat.


"Nggak, siapa juga yang ngeliatin lo. Pede banget" balas Rein yang terlihat sedikit salah tingkah.


"Ngomong- ngomong makasih udah bantuin gue, lo juga Dindra. Makasih banyak udah bantuin gue keluar dari kekacauan kayak gini" sela Rein.


Dindra mengangguk tersenyum, "Gue penasaran sama tampang Vania besok ketika berita ini sampai ketangannya" ujarnya sambil terus tertawa kencang.