
"Ayah... kenapa ayah lakuin itu. Ayah... aku kangen sama ayah" Rein menoleh ke arah Luna yang sedang mengigau, peluhnya bercucuran. Rein lalu mencoba memegang dahi Luna. Panas.
"Astaga dia demam" seru Rein panik, dia lalu segera turun dari mobil dan memanggil Eric.
"Bang, adegan gue udah selesai semua kan? Nggak ada yang perlu diulang kan? Gue balik dulu ada urusan penting mendadak" seru Rein yang langsung pergi setelah mendengar jawaban dari Johan sutradara yang menangani filmnya itu.
"Eric kita kerumah sakit, Luna demam" ucap Rein, Eric yang sedang asyik memakan pop mie segera meletakkan makanannya dan mengekor mengikuti Rein dibelakangnya.
Rein mengusap keringat Luna yang bercucuran, entah kenapa dia merasa cemas melihat Luna demam seperti ini, padahal dia hanya seorang asisten tapi kenapa dia seolah tidak tahan melihat kondisi Luna yang lemah seperti sekarang.
"Lo tunggu disini aja, biar gue yang nemenin Luna kedalam. Lo artis, apa jadinya kalau ada yang lihat lo nganterin asisten lo ke rumah sakit" sergah Eric tapi tidak dipedulikan oleh Rein yang langsung membopong tubuh Luna dan membawanya ke dalam IGD.
Tubuh Luna benar - benar seringan kapas, sampai - sampai Rein heran apa yang ada didalam tubuhnya sampai Luna tidak terasa berat sama sekali. Apa Luna tidak makan dengan baik, padahal Luna suka sekali makan. Jangan - jangan dia cacingan.
Beruntung ruang IGD tidak terlalu ramai dan hanya ada beberapa pasien saja yang tidak memperatikan kehadiran Rein, dibelakangnya Eric datang dan menyerahkan topi serta masker untuk Rein agar dia bisa menutupi wajahnya.
Singkat cerita, dokter yang memeriksa mereka mengatakan jika Luna terlalu banyak pikiran, stress, serta kelelahan sehingga dia harus dirawat beberapa saat dirumah sakit.
"Luna dimana?" tanya Dindra yang baru saja datang karena dipanggil oleh Rein.
"Masih diinfus, sorry gue hubungin lo. Soalnya gue nggak tahu nomor keluarganya" balas Rein, yang langsung dihampiri oleh Dindra. Tampak wajah Luna benar - benar pucat luar biasa, tubuhnya panas.
"Ya udah biar gue aja yang hubungin Jeje sama tante Winda" kata Dindra lagi tapi segera ditahan oleh Luna.
"Jangan bilang mereka Din, gue nggak mau ibu cemas dan ngelarang gue kerja lagi.... Gue...." Luna melirik ke arah Rein, seolah mengerti kalau Luna butuh waktu berdua dengan Dindra. Rein pun pergi menjauh.
Selepas Rein pergi, Luna menangis kencang di pelukan Dindra, "Lo kenapa Lun. Lo ada masalah apa? Cerita sama gue" kata Dindra sambil mengusap punggung Luna.
Luna lalu menceritakan permasalahannya dan betapa perceraian kedua orang tuanya sangat mempengaruhi dirinya, Dindra diam membiarkan Luna mengungkapkan semua isi hatinya sampai akhirnya Luna mulai mengantuk, dan tertidur. Sementara di balik tirai ranjang IGD Rein mendengar semua yang dikatakan oleh Luna, dia termenung. Nasib mereka kurang lebih sama, kedua orang tua Rein juga bercerai saat dia masih kecil karena ayahnya berselingkuh dengan pengasuhnya. Sejak saat itu, ibunya berubah menjadi wanita dingin dan memaksa Rein melakukan apa yang dia inginkan. Angeline merasa bahwa impiannya menjadi artis besar harus kandas karena dia tiba - tiba hamil dengan ayah Rein dan harus membesarkan Rein, tapi saat Rein berusia 3 tahun ayahnya justru mengkhianati Angeline.
Dindra lalu beranjak dari ranjang Luna saat seorang perawat datang untuk memindahkan Luna ke ruang perawatan. "Lo masih disini?" tanya Dindra terkejut mendapati Rein masih ada di rumah sakit.
"Iya gue masih disini, Luna gimana?"
"Aman, dia bilang sama tante Winda kalau dia bakal nginap dirumah gue buat beberapa hari kedepan, nemenin gue yang 'sendirian' dirumah" jelasnya.
Rein sekali lagi menatap Luna yang sedang dibawa ke ruang rawat, Dindra, Rein serta Eric mengekor di belakangnya.
***
"Hah gue dimana?" tanya Luna sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia lalu teringat kalau dia dibawa kerumah sakit semalam oleh Rein.
Luna terbelalak melihat kamar rumah sakit yang tampak mewah itu. Apa Rein gila membawanya ke kamar seperti ini. Bagaimana dia akan membayar biaya rumah sakit. Sementara asuransinya hanya menanggung kamar perawatan yang biasa saja.
"Lo bangun Lun" lirih Dindra seraya menggeliat meregangkan badannya. Begitu juga dengan Rein yang ikut terbangun.
"Din, kok gue di kamar begini sih. Mahal banget gue nggak bisa bayar" bisik Luna pada Dindra.
Dindra tertawa terkekeh, "Lo tenang aja Lun. Semuanya udah diurusin sama boss lo tercinta ini. Jadi lo nggak usah khawatir dan pikirin aja kesehatan lo" jelas Dindra.
"Lo udah baikan kan, kalau gitu gue balik dulu. Lo nggak usah kerja dulu sampai kondisi lo membaik" seru Rein dan langsung beranjak pergi setelah sebelumnya membangunkan Eric yang masih tidur pulas.
"Kenapa lo senyum - senyun Dind?"
Dindra menoleh, "Kayaknya Rein suka sama lo deh Lun"
"Hah? Ngaco lo. Masa Rein suka sama spek upik abu kayak gue"
"Gue serius, lo nggak tahu sih dia begadang semalaman nungguin lo, bahkan dia nolak waktu semalam gue suruh pulang. Padahal kan udah ada gue yang nungguin lo, tapi dia keukeuh buat nungguin lo sampai kondisi lo membaik. Kalau nggak suka sama lo terus apa? Dia artis terkenal, ngapain coba buang - buang waktu buat nungguin asistennya sakit"
Luna mulai menerawang, memang akhir - akhir ini sikap Rein terhadapnya sedikit manis kepadanya, tapi hanya sedikiiiit sekali hampir - hampir tidak terasa. Luna tak mau berharap begitu saja dengan ucapan Dindra yang mengatakan kemungkinan Rein menyukainya. Bagaimana kalau misalnya sikap Rein yang sedikit berubah itu hanya untuk menyakitinya.
Bagaimanapun juga Luna sadar diri, kalau dirinya tidak sebanding dengan Rein. Dia juga tidak menampik kalau jantungnya kerap berdegup kencang saat berdekatan dengan Rein dan merasa kesal jika Rein dekat dengan wanita lain. Rein berasal dari keluarga kaya, sementara dia hanya dari keluarga biasa. Luna tidak mau asal menyimpulkan perasaannya sendiri, ketakutan dengan rasa sakit hati yang mungkin akan dia terima membuatnya membangun tembok tinggi untuk melindungi harga diri dan juga hatinya.
Kalaupun mereka saling mencintai dan menjalin hubungan, setelahnya bagaimana. Mengingat fans Rein yang mungkin akan mengganggunya atau Angeline yang menentang hubungan mereka. Luna tak bisa membayangkan hal tersebut, menurutnya menjalin hubungan dengan Rein justru akan membawa masalah baru baginya. Hidupnya sekarang hanya berfokus untuk ibu dan adiknya, dia tidak sanggup kalau harus merasakan sakit hati karena dipermainkan atau dicela karena memiliki hubungan dengan Rein. Menjadi asisten saja Luna kerap menerima berbagai macam celaan dari fansnya, apalagi menjadi kekasihnya.
Membayangkannya saja sudah membuat Luna bergidik
****
Thank you readers.
Selamat membaca