
Sepanjang perjalanan Luna hanya menangis sesenggukan, dia tidak menyangka akan mengalami insiden pelecehan di tempat seperti itu. Rein pun juga tidak mengatakan apapun, membiarkan Luna menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Mobil Rein berbelok ke apartemennya, menyadari itu Luna segera meminta Rein untuk menghentikan mobilnya tapi tidak dihiraukan oleh Rein sampai mobil yang mereka tumpangi berhenti di tempat parkir.
"Kok malah berhenti disini, gue mau pulang" ucap Luna dengan suara terisak.
Rein menghela nafasnya, "Lo mau pulang dengan kondisi lo kayak gini? Ngaca dulu deh mending. Muka lo udah kayak pemeran hantu di film horor tau nggak" balas Rein.
Luna memandangi wajahnya di cermin, tampak wajah yang sudah basah, maskara luntur meninggalkan bekas hitam di matanya.
"Lo tenangin diri lo dulu ditempat gue, tenang aja gue nggak bakal ngapa - ngapain lo kalau itu yang ada di pikiran lo"
"Dindra sama Amanda juga lagi kesini bareng sama Eric nyusulin, jadi lo tenang aja"
"Udah gue bilang kan jangan deket - deket sama Zayn, ngeyel sih dibilangin" omel Rein panjang lebar.
Diomeli seperti itu malah membuat Luna makin menangis kencang, "Loh eh, jangan nangis dong. Tar disangka gue ngapa - ngapain lo lagi" ucap Rein panik.
"Bodo amat, nggak peduli" teriak Luna. Luna menangis bukan karena Rein mengomelinya, tapi karena dia terlalu berekspektasi tinggi terhadap Zayn yang dia kira orang baik. Padahal dari tutur kata dan tinfakannya tidak menunjukkan sikap brengsek sama sekali. Sekali lagi Luna salah mempercayai orang.
Setelah beberapa saat akhirnya Luna berhenti menangis, "Udah nangisnya? Nih tissu basah buat ngelap muka lo yang berantakan"
Luna sejenak melotot ke arah Rein, yang benar saja, masa dia mengelap wajahnya dengan tissu basah bergambar bokong bayi? Memangnya wajahnya bokong bayi?
"Kamu nggak ada micellar water apa? Masa aku ngelap muka aku pake tissu basah sih? Bisa jerawatan nanti"
Giliran Rein yang mendelik gemas, disituasi seperti ini masih saja dia memikirkan jerawat. Kadang Rein tidak habis pikir dengan Luna, terkadang dia tampak begitu menggemaskan tapi terkadang juga tampak begitu menyebalkan, contohnya saja sekarang.
Meskipun Rein rutin melakukan perawatan wajah untuk menunjang penampilannya, mana mungkin dia membawa micellar water kemana - mana.
"Udah nggak usah pusing mikirin jerawat, kalau muncul jerawat tar gue bawa ke klinik kecantikan biar diobatin. Daripada lo keluar dengan muka kayak gitu, mau bikin takut bocil lo" balas Rein sambil menyerahkan tissu basah itu sekali lagi.
Dengan enggan Luna menerima tissu basah itu dan membersihkan wajahnya, sehingga membuatnya wajahnya nyaris polos tanpa make up.
"Udah selesai? Temen - temen lo udah diatas nungguin" lanjut Rein lagi.
Rein membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya kepada Luna tapi segera ditepis, "Gue bisa jalan sendiri" katanya.
Dalam hati Luna bingung kenapa Rein bisa berada disana, tapi dia juga berterima kasih karena berkat bantuannya Luna berhasil lepas dari Zayn. Tangan luna terkepal mengingat saat laki - laki mesyum itu meraba tubuhnya, bahkan dengan berani memasukkan tangannya untuk menyentuh melon miliknya. Kurang ajar!!! Dia pikir Luna sama dengan gadis - gadis murahan di luar sana yang dengan rela disentuh hanya karena dia seorang artis terkenal. Lihat saja, kalau dia muncul lagi dihadapannya. Luna akan memberikan pelajaran kepada artis mesyum tidak tahu malu itu.
****
"Dindra, Manda....." teriak Luna sumringah saat melihat kedua sahabatnya itu dan langsung memeluk tubuhnya.
"Lo kenapa pulang cepet, kak Zayn sampai nyariin lo tahu nggak. Dia bingung soalnya tiba - tiba lo ninggalin dia dirumah hantu. Kenapa sih?" tanya Dindra.
Luna melirik ke arah Rein dan Eric. Mengerti akan kode itu, Rein pun mengajak Eric untuk menyingkir membiarkan ketiga sahabat ini bercerita satu sama lain.
Luna menceritakan semua kejadiannya kepada kedua sahabatnya yang langsung memaki Zayn dengan mengeluarkan semua umpatan dan nama hewan yang mereka tahu. Mereka tidak menyangka wajah polos Zayn ternyata menipu hingga melakukan pelecehan terhadap Luna.
"Terus lo mau laporin dia?" tanya Amanda.
Luna menggeleng, dia tidak mau melaporkan Zayn ke polisi, pertimbangannya selain tidak ada saksi, dia juga tidak mau namanya dikenal luas. Walaupun dalam hati Luna ingin sekali melaporkan tindak pelecehan itu, tapi membayangkan dampak yang akan terjadi padanya membuat Luna mengurungkan niatnya.
"Ya udah, yang penting lo nggak papa. Untung aja ada Rein yang nolongin lo. Tapi kok bisa ada dia sih?" tanya Dindra penasaran.
"Sama gue juga pengen tahu kenapa Rein bisa ada di Dufan" sahut Luna kemudian.
Dindra dan Luna saling berpandangan, "Maksud lo? Tahu apaan?" tanya mereka.
Amanda lalu menjelaskan kalau Rein sudah mengikuti mereka sejak di pameran lukisan, waktu itu Amanda melihat Rein bersembunyi di balik pilar, tapi dia tidak yakin kalau itu adalah Rein. Amanda menjadi yakin saat melihat Rein keluar bersama Luna menggunakan pakaian yang sama seperti yang dia lihat di pameran.
Luna terdiam seketika, maksudnya Rein mengikutinya dari pameran? Tapi buat apa, bukankah kemarin saat Luna mengajaknya Rein menolak ajakan itu mentah - mentah. Lalu sekarang dia mengetahui kalau Rein sudah mengikutinya sejak pagi. Apa mungkin Rein khawatir dengannya?
"Lo yakin Manda?" tanya Luna memastikan lagi. Amanda pun mengangguk yakin. Pria yang dirinya lihat di pameran adalah Rein. Meskipun wajahnya tertutup masker, tapi Amanda bisa mengenali pakaian yang digunakan sama persis dengan yang dipakai Rein saat ini.
"Lun, kayaknya Rein emang beneran suka deh sama lo. Liat aja dia sampai nyusulin dan ngikutin lo sampai ke Du-fan. Lo yakin nggak punya perasaan apapun sama dia?" tanya Dindra.
"Gue juga bingung, gue nggak tahu Din. Jauh di lubuk hati gue, gue emang suka sama dia. Tapi lo tahu kan alasannya kenapa gue berhati - hati banget buat jalin hubungan sama lawan jenis" kata Luna sendu.
"Iya gue paham kok, apapun itu gue sama Manda bakalan dukung lo kok" ujar Dindra seraya memeluk erat Luna diikuti Amanda yang juga ikut berpelukan
"Love you girls" sahut Luna terlalu.
"Love you too darling" balas Dindra dan Amanda bersamaan, lalu mereka saling tertawa lepas.
Rein dan Eric yang mengintip ketiga sahabat itu, tersenyum simpul karena akhirnya Luna sudah kembali tenang dan tidak lagi menangis.
"Ngomong - ngomong Din, lo kayaknya makin deket sama bang Eric" sergah Luna yang langsung membuat Dindra tersipu malu.
"Apaan sih, nggak. Nggak udah ngaco deh" sanggah Dindra.
Luna dan Amanda segera tergelak melihat sikap Dindra yang tampak salah tingkah.
...****************...
Di kamar Rein pertanyaan yang sama diajukan juga oleh Eric tentang apa yang terjadi, sama seperti Dindra dan Amanda. Eric pun juga langsung menyumpahi Zayn, diajuga minta maaf kepada Rein karena tidak menyadari hal itu.
"Ngapain lo yang minta maaf bang? Gue tahu lo sibuk mengembalikan kesadaran lo yang melayang setelah main Hysteria bareng Dindra"
"Ternyata ada yang lo takuti juga ya" ledek Rein yang dibalas tatapan melotot dari Eric.
"Tapi untung ada lo, jadi Luna nggak kenapa - kenapa" kata Eric lagi.
"Iya, gue udah curiga sama dia bakalan macem - macem sama Luna didalam. Ternyata bener dugaan gue, Zayn emang benar - bener bajingan tengik. Bisa - bisanya dia nyari kesempatan dalam kesempitan" desis Rein dengan mata berkilat penuh kemarahan.
Rein sudah memikirkan pembalasan apa yang dia lakukan untuk Zayn karena sudah berani melecehkan Luna, dia harus tahu bahwa tidak semua wanita bisa dia sentuh. Orang - orang seperti Zayn lah yang merasa bahwa wanita bisa dijadikan sebagai obyek kepuasan mereka tanpa memikirkan perasaan wanita yang sudah dia lecehkan.ย Harga diri dan martabat wanita itu pasti akan hancur berkeping - keping serta bukan hal yang mudah untuk menyembuhkan trauma akibat pelecehan.
Disaat mereka sedang mengobrol, tiba - tiba saja ponsel Eric berdering. Melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, menbuat Eric keluar dari kamar untuk mengangkat teleponnya.
"Jadi lo udah tahu siapa pembunuh Soraya?" ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Bagus, besok kita ketemu di tempat biasa, gue bakalan ajak satu orang lagi buat lancarin rencana ini" sahut Eric sembari menutup panggilannya.
...***...
Hayo kira - kira siapa nih pembunuh Soraya yang sebenernya?
...Thank you so much sudah membaca cerita ini...
...Othor love kalian semua ๐๐๐...