
Luna menatap ayahnya dengan penuh rasa kecewa, apalagi ibunya terus saja terisak. "Kenapa ayah lakuin itu?" tanyanya. "Kenapa yah....!!!!" tanyanya lagi dengan setengah berteriak.
Wanita yang mengaku sebagai teman dari ibu kandung anak kecil bernama Rian ini terus menunduk dan memeluk anak kecil itu, "Ibunya meninggal? Jangan konyol. Lo ibunya kan, wajah kalian saja begitu mirip. Apa Lo pikir gue sebodoh itu bisa percaya sama omongan lo tadi?" tanya Luna lagi.
Dirga sejak tadi terdiam, dia bingung harus mengatakan apa. Siapa yang mengira perselingkuhannya lima tahun yang lalu harus terbongkar sekarang, padahal dia sudah memutuskan hubungannya sejak dirinya di PHK. Dirga juga sudah memberikan sejumlah uang agar wanita itu meninggalkannya, dugaan Luna benar wanita yang saat ini ada bersama mereka dan mengaku sebagai teman ibu dari Rian adalah ibu kandungnya. Dia terlampau takut mengaku jika dia adalah ibunya, karena dia tahu Dirga memiliki putri yang sebaya dengan dirinya dan sangat sangat sangat mengerikan jika sedang marah yaitu Luna.
"Kak, hubungan ayah sama dia sudah berakhir dan ayah juga sudah memberikan uang untuk dia supaya tidak mengganggu keluarga kita lagi....." ucap ayahnya terbata - bata, bahkan Dirga sendiri menciut melihat tatapan tajam Luna yang seolah akan membunuhnya hidup - hidup.
"Ah ayah kasih uang sama perempuan jalaaang ini sementara kita sendiri kekurangan uang? Luar biasa sekali" Luna beranjak berdiri dan dengan satu kali gerakan dia menarik rambut wanita yang akhirnya mengaku bernama Nadila itu.
Luna menjambak wanita itu dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, "Ayah berhenti disitu. Jangan lakukan apapun kalau ayah nggak mau lihat aku lebih menggila dari ini. Jeje, bawa ibu ke kamar" perintah Luna yang langsung dituruti oleh Jeje tanpa sedikit pun dia membantah, dia menatap ngeri pada sorot kemarahan di wajah kakaknya yang selama ini tidak pernah dia lihat. Luna terlampau kecewa, sangat kecewa lelaki yang menjadi cinta pertama dan kebanggaannya tega mengkhianati keluarganya untuk seorang perempuan murahan yang usianya hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dari Luna.
"Kak, cukup. Hentikan" lirih ibunya.
"Tapi bu... dia....."
"Hentikan kak... Ibu nggak mau kamu jadi orang jahat karena sakitin dia" ujar ibunya lagi.
Terpaksa Luna melepaskan cengkraman tangannya, peremouan itu melirik ke arah Dirga yang tidak membantunya sama sekali dan terus memeluk anaknya yang juga menangis kencang.
"Heh, kamu bisa diam nggak. Nangis terus dari tadi, berisik. Mau aku kasih cabe mulutmu nangis terus" ancam Luna pada Rian. Luna tahu, anak kecil itu tidak bersalah dia lahir atas kebodohan dan kesalahan kedua orang tuanya, tapi melihatnya Luna merasa benci terlebih ayahnya hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Ayah, sekarang terserah kamu. Yang pasti aku mau kita bercerai. Aku nggak sanggup kalau harus dimadu" kata - kata ibunya membuat Luna dan Jeje terkejut begitu juga dengan Dirga yang tidak menyangka dengan keputusan ekstrim Winda istrinya.
"Ayah nggak mau kita cerai bu, ayah sudah ninggalin dia. Kami tidak ada hubungan apa - apa lagi..."
"Mas, kamu nggak bisa begitu. Rian anak kamu, kamu nggak mungkin ninggalin kita gitu aja" ucap Nadila dengan wajah penuh rasa tidak tahu malu.
Winda beranjak dari sofa dan masuk kekamar, tak lama kemudian dia keluar kembali dengan membawa sebuah amplop dan tanpa mengatakan apapun dia menyerahkan kepada Nadila dan Dirga.
"Mbak Nadila, saya tahu Rian bukan anak mas Dirga" balas ibunya pelan.
"Heh, dengerin dulu ibu gue ngomong. Bisa diem nggak sih congor lo" sela Luna sambil berteriak.
Winda menghela nafasnya kasar, "Tujuh tahun yang lalu, mas Dirga mengalami kecelakaan yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Saat dirumah sakit, ternyata diketahui ayahmu menderita penyakit yang mengharuskan dia menjalani prosedur vasektomi. Itu adalah hasil dari pengobatan waktu itu"
DUARRR!!! Bak disambar petir, Nadila langsung melongo mendengarnya, begitu juga dengan Dirga, Luna dan Jeje.
"Nggak mungkin, mbak pasti bohong" ucap Nadila yang masih terus saja berkelit.
WInda menggeleng, "Saya tidak berbohong. Selama ini saya menyembunyikan fakta ini dari mas Dirga karena tidak ingin dia kepikiran, dan selama ini dia tidak tahu jika sudah menjalani prosedur itu. Kalau mbak tidak percaya, silahkan periksa ke rumah sakit" jelas Winda.
Luna seketika mencibir, "Jadi kalau bukan anak ayah? Anak siapa dia, anak bram? berame - rame?" ledeknya.
"Dan kamu mas, meskipun dia bukan anak kamu. Tapi tetap tidak menutup kenyataan kamu sudah mengkhianati keluarga kita, apapun kesalahan yang mas lakukan masih bisa aku maafkan tapi tidak dengan perselingkuhan dan kdrt. Sekarang aku minta mas pergi dari rumah ini dan bawa perempuan itu. Aku tidak mau melihatnya disini" ujar Winda yang bangkit dan masuk kedalam kamarnya ditemani oleh Jeje yang muak berlama - lama diruangan yang sama dengan ayahnya.
Saat Dirga menghampiri dan akan memegang tangan ibunya, dengan cepat Jeje menepis tangan ayahnya. "Nggak usah pegang - pegang yah, Jeje benci dan jijik sama ayah" serunya tajam sambil menuntun ibunya.
Luna lalu berdiri, menatap Nadila yang masih shock dan menggumamkan sesuatu, "Nggak, seharusnya nggak gini. Tanggung jawab kamu mas, ini anak kamu" teriak Nadila dengan seruan melengking.
"Kamu dengar sendiri apa istriku bilang, dia bukan anak aku. Pergi kamu dari sini, pergi. Kamu sudah menghancurkan keluargaku" Dirga menyeret perempuan beserta anaknya itu keluar dari rumah dan mengusirnya.
"Kak, tolong bujuk mama untuk maafin ayah. Ayah tahu kalau ayah bersalah, maafkan ayah" pintanya sambil memegang tangan Luna yang bersiap untuk pergi bekerja.
Luna berhenti dan kembali menatap ayahnya, "Kenapa harus aku yang membujuk ibu untuk memaafkan ayah saat kesalahan ayah tidak termaafkan. Permisi aku mau kuliah, kalau ayah tahu diri. Ayah bisa pergi dari rumah ini dan susul selingkuhan ayah itu. Supaya kalian bisa hidup dan hancur sama - sama" balas Luna sadis.
***
Didalam mobil air mata Luna yang sejak tadi dia tahan akhirnya tak bisa lagi dia bendung, hatinya sakit melihat ayahnya begitu tega berselingkuh, dia menangis sekencang - kencangnya sepanjang perjalanan menuju apartemen Rein. Keluarganya yang selama ini selalu mendapat predikat keluarga cemara, ternyata hanyalah sebuah omong kosong. Ayahnya dengan tega menghancurkan semuanya.
Sulit bagi Luna menerima kenyataan yang baru saja dia alami, apalagi kondisi kesehatan ibunya yang perlu diperhatikan dengan baik, ayahnya malah berbuat ulah. Lelaki mana lagi yang bisa dia percaya sekarang, jika lelaki yang dia percayai sepenuh hati sejak dia kecil? Lelaki yang dia percaya tidak akan menyakitinya ternyata justru merusak bayangannya mendapatkan seorang pria seperti ayahnya.