MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Tanggung Jawab



"Aichi, woi.... Aichi" panggil Rein yang tiba - tiba saja menepuk pundaknya. Luna yang tadi sedang melamun seketika tersentak karena panggilan Rein.


"Eh Rein, kenapa? Ada perlu apa? Makan? Kopi? Apa?" tanyanya gelagapan.


"Lo ngelamun lagi? Bisa - bisanya nanya kenapa. Ini udah malem, katanya lo mau pulang cepet. Ngapain masih disini?"


Luna tersenyum kecut, "Nggak ngelamun, ya udah gue pulang dulu kalau gitu" kilah Luna.


Rein mengangkat alisnya, sepanjang hari ini tingkah Luna benar - benar tidak seperti biasanya dan lebih banyak diam. Bahkan Luna yang biasanya membantah ucapannya kali ini tidak terlalu keras membantah bahkan terkesan patuh.


"Mau kemana lo, gue juga mau pulang. Syuting hari ini juga sudah selesai. Kita pulang bareng aja, lagian mobil lo juga ada ditempat gue" sungut Rein.


Luna mengangguk dia lalu mulai memasukkan barang - barang Rein kedalam mobil dibantu oleh Eric yang juga ikut mendampingi Rein hari ini, kemudian mereka kembali ke apartemen.


****


Dirumah Luna


Luna menatap nanar sekeliling rumahnya yang tampak sepi, ruang tamu tempat ayah dan ibunya biasa menonton tv bersama - sama, dapur tempat mereka bekerja sama membuat pesanan kue. Sejak ayahnya pergi rumah terasa jauh lebih sepi, meskipun ibunya masih membuka usaha bakery miliknya dan menerima pesanan yang terus berdatangan. Luna tahu jika ibunya sangat patah hati, jika sudah selesai membuat kue pesanan dan membersihkan diri, Ibunya lebih sering berada di dalam kamar dan tidak keluar lagi. Terkadang Luna dan Jeje takut jika terjadi sesuatu dengan ibunya, hingga diam - diam mereka seringkali mengintip kedalam kamar untuk memastikan apakah ibunya masih bernafas atau tidak.


Selesai mandi, Luna masuk kedalam kamarnya, merebahkan dirinya serta menarik selimut agar dia bisa segera tertidur. "Kak... udah tidur?" suara Jeje mengetuk pintu mengejutkan Luna.


"Masuk Je"


Jeje melongok kedalam sebelum dia masuk, "Kenapa?" tanya Luna.


"Kak Luna cuti kuliah?" Luna meremas selimutnya saat mendengar pertanyaan dari adiknya itu.


"Kakak nggak usah ngelak deh, gue tadi ke kampus kakak. Terus ketemu sama temen kakak dan mereka bilang kakak cuti. Kenapa kak? Kakak tahu kan kalau ibu bakal marah banget kalau tahu soal ini" tanya Jeje dengan tatapan menyelidik.


"Lo nggak perlu ikut campur, lo sekolah aja dan bantuin ibu jualan. Sekarang ayah udah nggak ada, jadi udah jadi tanggung jawab kakak buat cari uang buat keluarga kita. Nggak usah ngandelin ayah lagi dan lo jangan minta uang lagi ke ayah" seru Luna, Jeje bisa melihat kalau Luna sekarang teramat membenci ayah mereka, atau lebih tepatnya dia sangat kecewa.


"Gue juga nggak lama cutinya, cuma semester ini doang. Lo nggak boleh bilang soal ini ke ibu" tegas Luna.


Jeje mau tak mau mengangguk, dia tahu kalau sekarang Luna memikul beban berat dipundaknya jadi dia memilih untuk tidak menambah beban kakaknya atau dia akan kekurangan jatah uang jajan miliknya.


Luna kembali merebahkan tubuhnya, pikirannya menerawang memikirkan apa yang terjadi padanya, mulai dari ayahnya yang dipecat dari perusahaannya, dia yang awalnya berusaha mencari pekerjaan agar dia masih bisa berbelanja online tapi malah berakhir dengan memikul tanggung jawab membiayai keluarganya karena ayahnya pergi dari rumah setelah mengkhianati keluarganya. Mungkin pertanyaan Rein ada benarnya, masalahnya tidak terlalu berat dibandingkan dengan orang lair diluar sana. Tapi tetap saja, pengkhianatan ayahnya lah yang memberikan trauma tersendiri untuknya. Luna terkekeh tanpa menyadari sudut matanya yang mulai berair.


***


Sementara Luna sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Rein justru sedang menelpon Dindra untuk menanyakan perubahan sikap Luna hari ini dari obrolannya bersama Dindra, rupanya Dindra juga tidak tahu menahu soal apa yang sedang terjadi kepada Luna.


"Ngomong - ngomong kenapa lo nanya gitu? Apa jangan - jangan lo naksir sama Luna?" ledek Dindra.


"Nggak usah ngomong sembarangan deh, Gue cuma nggak suka lihat dia nggak fokus kerja" Rein terus berkelit menjawab pertanyaan Dindra.


"Kalau lo naksir juga nggak masalah kali Rein, gue dukung sepenuhnya. Apalagi Luna nggak pernah pacaran sama sekali, yang naksir sih banyak tapi dia nggak pernah pacaran karena bokapnya strict banget. Ngomong- ngomong udah dulu ya Rein, sebenernya gue pengen ngobrol lebih lama sama lo, tapi ayang gue di dunia nyata udah manggil. Semoga sukses cari tahu Luna kenapa, biar lo bisa tidur nyenyak malam ini" ucap Dindra lagi.


Rein menutup sambungan teleponnya, apa semua teman - teman Luna kalau ngomong suka ceplas ceplos begini?


"Lagi mikirin apa lo?" tanya Eric tiba - tiba.


Rein menatap Eric, sejak kapan dia ada disini?


"Bukan urusan lo" sungut Rein seraya beranjak pergi. Tapi Eric malah melemparkan sesuatu ke hadapan Rein yang membuat dia memandang Eric penasaran. "Apa ini?" tanyanya.


"Bukti kalau nyokap lo ikut andil dalam kematian Soraya"


Rahang Rein seketika mengeras, tangannya terkepal saat dia membuka dan membaca informasi yang tercantum di sana. "Apa informasi ini benar?" tanya Rein.


"Terserah kalau lo nggak percaya, tapi itu informasi valid yang berhasil gue dapatin setelah gue jadi bodyguard lo selama sebulan ini. Lo harus tahu kalau nyokap lo punya andil besar atas kematian Soraya dan gue nggak akan tinggal diam. Gue pastiin nyokap lo bakal terima balasan setimpal." ujar Eric lagi.


"Mulai hari ini gue juga bakal ngundurin diri sebagai bodyguard lo, gue tahu lo nggak suka dengan keberadaan gue" lanjut Eric lagi seraya akan beranjak pergi.


Rein terdiam, "Tunggu.... Gue bakal bantuin lo. Gue juga mau tahu rahasia dibalik kematian Soraya. Gue nggak mau terus dihantui rasa bersalah ke dia" ucap Rein seraya mengulurkan tangannya kepada Eric.


Eric tersenyum dan menyambut uluran tangannya, "Gue harap lo nggak menyesal sama keputusan lo". Eric lalu kembali lagi kekamarnya sendiri, begitu juga dengan Rein yang langsung memejamkan matanya selepas merebahkan tubuhnya keatas ranjang.


Bukan tanpa alasan Rein bersedia bekerja sama dengan Eric, selama ini dia selalu dihantui rasa bersalah terhadap SOraya, meskipun perasaan cintanya kepada Soraya sudah menguap, tapi kenyataan bahwa dia meninggal secara tidak adil juga adalah kesalahannya yang ikut meninggalkannya saat itu.


Untuk menebus hal itu, Rein bersedia untuk bekerja sama mencari tahu melalui Angeline, jika memang Angeline bersalah maka sudah pasti dia harus dihukum karena kesalahannya.


***


Hai - hai


Terima kasih banyak yang udah kasih like dan baca novelku, benar - benar mood booster banget.


Love you sekebon❤️❤️❤️❤️