
Flashback Dirumah Angeline
Roy datang ke rumah Angeline, kedatangannya kali ini untuk memperingatkan Angeline. Sudah sekitar setahun yang lalu Angeline mengetahui identitas Roy yang sebenarnya tapi dia masih saja terdiam dan tidak mengatakan apapun, karena dia ingin mengetahui apa yang sedang direncanakan oleh Rein. Sampai kemudian dia menyadari bahwa itu justru membuat Rein dalam bahaya. Hari ini dia secara khusus ingin meminta Roy untuk mengundurkan diri dan menjauhi Rein serta tidak lagi muncul dihadapan Rein.
"Hey Roy, kau sudah datang. Duduklah. Ada yang harus kita bicarakan" ucap Angeline.
Roy pun mengambil tempat duduk diseberang Angeline, asisten rumah tangga mereka pun segera memberikan segelas minuman untuk Roy dan kemudian menyingkir.
"Ada perlu apa bu Angeline memanggilku kesini?" tanya Roy dingin seperti sudah mengetahui alasan dia dipanggil ke rumah Angeline secara pribadi.
Angeline tidak menjawab dan hanya memberikan sebuah amplop coklat yang Roy yakin berisi sejumlah uang, "Maksud bu Angeline apa memberiku uang ini?" tanya Roy.
"Tidak perlu berbasa - basi, pergilah sejauh mungkin dari Rein. Jika uang itu kurang beritahu aku, akan aku tambahkan" ucap Angeline tanpa basa - basi.
Roy tersenyum dan melempar uang itu ke atas meja, "Sepertinya ibu sudah tahu siapa aku?" seringainya.
"Baiklah karena ibu sudah tahu soal ini, aku tidak akan berbasa - basi lagi. Aku sama sekali tidak berniat menghancurkan Rein, walaupun mungkin apa yang akan aku lakukan memberikan dampak besar terhadap karir dan kehidupan Rein. Tapi itu bukan salahku, salah dia karena memiliki orang tua serakah dan bajingan" ucap Roy tanpa rasa malu lagi.
Angeline menatap nyalang ke arah Roy, "Jaga bicaramu Roy, selama ini kami sudah begitu baik denganmu. Tapi balasanmu seperti ini. Tega sekali kau" pekik Angeline.
"Jangan mengatakan tega padaku, kalau kau sendiri tidak ingat dengan apa yang kau lakukan!!!" teriak Roy yang tak mau kalah.
"Aku tidak akan menjauh dari Rein dan aku juga tidak akan mengundurkan diriku. Anda tidak bisa mengancamku. Jika anda memaksa, saya pastikan foto - foto ini akan tersebar ke media" ucap Roy sambil menyerakkan sejumlah foto kepada Angeline.
"Kau!!!!!" pekik Angeline begitu dia melihat foto - foto itu.
"Bayangkan jika Rein tahu soal itu, aku yakin dia akan meninggalkanmu Angeline. Ladang uangmu akan pergi, kalau dia tahu kenyataan sebenarnya tentang anda" seringai Roy sambil beranjak dari tempat duduknya saat dia mendengar kedatangan Rein. Angeline langsung mengemasi foto - foto yang terserak ke atas meja dan membakarnya di halaman belakang rumahnya. Diam - diam, asisten rumah tangga Angeline mengambil salah satu foto yang tidak terbakar dan menyembunyikannya.
***
Eric terkejut melihat ponselnya, dia baru saja menerima informasi soal Roy. Rupanya selama ini Roy sengaja mendekati Rein, alasan dibalik itu masih belum diketahui oleh Eric. Selama ini Roy berpura - pura bertemu dengan Rein secara kebetulan dan mengakrabkan diri dengan Rein, bahkan perkenalannya dengan Soraya merupakan campur tangan dari Roy.
"Dasar brengsek, beraninya dia. Apa dia berniat untuk menyakiti Rein? Tapi tidak ada bukti soal itu. Sepertinya aku harus berhati - hati dalam bertindak atau Rein akan berada dalam bahaya" gumam Eric.
Eric lalu menutup layar ponselnya, "Wah bang itu siapa? Lucu banget di wallpaper" tanya Luna saat dia melintasi Eric yang sedang termenung di ruang tamu.
"Eh - oh, oh ini. Dia adik gue, dia meninggal dalam kecelakaan waktu mau jemput gue sekolah" jawab Eric dengan wajah muram.
"Eh, maaf bang. Gue nggak maksud" kata Luna. Eric menggeleng dan tersenyum seraya menepuk kepala Luna lembut sebelum dia pergi kekamarnya, Rein yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat itu dan menghampiri Luna dengan wajah cemburu. "Kamu ngobrolin apa sih sama bang Eric? Kok kayaknya seru banget"
"Kamu cemburu?" tanya Luna sambil bergelayut manja pada Rein.
"Menurut kamu?" Rein bertanya balik dengan tatapan jenakanya.
"Rein ini..."
'Bruk'
Tiba - tiba Eric keluar dan memanggil Rein membuat Luna mendorong Rein dengan keras hingga pria itu terjengkang jatuh ke lantai.
"Kalian berdua ngapain?" tanya Eric heran, tapi dia segera menyadari situasinya.
"Udahlah kalau dirumah ini nggak usah sok - sokan backstreet, gue juga tahu kali kalau lo berdua pacaran. Dindra sama Amanda juga tahu" ledek Eric sambil tergelak melihat posisi jatuh Rein yang tengkurap di sofa dengan bagian bo-kongnya menghadap ke atas.
"Iya mereka tahu, emang lo nggak bilang?" tanya Eric.
"Ya belum lah bang, kan gue sama Rein sepakat buat rahasiain ini dulu"
"Emang kelihatan banget ya?" tanya Luna
Eric mengangguk, siapapun juga bakal nyadar kalau kalian berdua tuh pacaran.
Rein berdiri disamping Luna sambil memeluk pundak Luna, "Ya udah bang, kalau lo udah tahu gue sama Luna pacaran. Tolong lo jangan akrab - akrab sama cewek gue" sindir Rein.
Eric kembali tergelak, "Tenang aja bukan Luna yang gue suka, tapi temen lo Dindra" kata Eric.
"Lun, lo bisa bantuin gue deket sama Dindra nggak. Gue pengen ngajak dia jalan gitu, tapi gue malu ngomongnya" ucap Eric.
"Hahahahaa, Bang.... Bang, lo badan doang gede. Ngajakin cewek ngedate takut. Gimana sih?" ledek Rein.
"Hush, Rein kamu nggak boleh gitu" tegur Luna.
"Tapi bang, Dindra masih punya pacar. Jadi kayaknya susah deh, soalnya dia cinta mati sama cowoknya yang sekarang. Karena cowok itu cinta pertamanya. Tapi jujur gue nggak suka sama cowoknya, terlalu toxic dan ngekang Dindra. Kalau Dindra nggak nurutin maunya, pasti ancamannya ngajakin putus" kata Luna gemas.
"Kalau gitu, gue bakal tikung cowoknya. Selama masih pacaran, masih ada kesempatan buat nikung" kata Eric dengan wajah penuh percaya diri.
"Elah gaya-gayaan mau nikung. Ngajakin ngedate aja nggak berani" ledek Rein yang langsung mendapat lemparan bantal dari Eric.
"Coba aja bang deketin Dindra dulu, kalau emang berhasil ya gue dukung lo sih bang buat jadi pacarnya Dindra daripada cowok tukang ngambek kayak gitu" cibir Luna.
"Ya udah bang, lo pikirin deh gimana cara ngajak Dindra jalan. Gue mau antar Luna pulang dulu" ucap Rein.
Luna menoleh dan menolak tawaran Rein, "Nggak usah Rein, aku pulang naik taxi online aja" tolaknya.
"Nggak, ini udah malam. Bahaya kalau kamu pulang sendiri. Aku anterin kamu pulang Aichi" balas Rein yang tidak menerima penolakan.
Luna pun hanya bisa pasrah dengan tawaran Rein, dia masih belum mengatakan kepada Rein kalau untuk sementara dia tinggal bersama dengan Amanda.
"Rein, anterin aku ke apartemen Amanda aja. Aku tinggal disana buat sementara ini" ucap Luna begitu mereka sampai di mobil.
"Ngapain kamu tinggal di apartemen Amanda?" tanya Rein dengan raut heran.
Luna tak menjawab dan segera masuk kedalam mobilnya, "Ada yang mau kamu ceritain ke aku baby?" tanya Rein lembut yang sudah duduk dibelakang kemudi.
"Lain kali aja ya aku cerita. Sekarang kita fokus sama masalah kamu aja dulu, masalah aku bisa aku selesaiin sendiri kok" kata Luna.
Rein menggenggam tangan Luna, "Kita ini partner baby, jadi kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita sama aku jangan dipendam sendiri. Kalau ada yang bisa aku bantu, aku akan bantu kamu. Bukannya itu gunanya pacar? Aku sayang sama kamu, mana mungkin aku tutup mata saat kamu kena masalah. Sedangkan setiap aku ada masalah kamu selalu ada buat aku, aku juga mau melakukan hal yang sama ke kamu. Ada buat kamu ketika kamu terpuruk" ucapnya.
Luna tersenyum dan memeluk Rein, sementara Rein kembali mencuri sebuah kecupan di bibir Luna.
"Ihhh kebiasaan deh itu bibir nyosor mulu" protes Luna.
"Tapi suka kan" ledek Rein seraya melajukan mobilnya.
Selepas kepergian Rein, seseorang keluar dari tempat persembunyiannya dengan tangan terkepal seraya menatap foto Luna dan Rein yang sudah dia ambil dari kejauhan.