
Beberapa hari ini Rein sering sekali menerima bingkisan baik makanan, minuman ataupun barang - barang mahal lainnya sebagai hadiah. Tidak jelas siapa yang mengirim selain sebuah nama dan alamat palsu.
"Ini barang - barang semua mau diapain? Makanan udah pada busuk di kulkas, terus itu tas cenel, elvi, balen masa mau lo buang sih?" tanya Eric yang membantu Rein membereskan barang - barang pemberian fans itu.
Rein melirik sekilas, "Nanti gue bakal posting ke sosial media, dan bilang kalau semua barang ini bakalan gue jual dan duitnya bakal gue sumbangin. Sekalian ngomong kalau nggak usah kirimin gue hadiah mahal kayak begini. Gue yakin pengirim itu pasti bakalan lihat postingan gue" ucapnya.
Eric mengangguk saja dengan keputusan Rein, toh selama ini dia jarang membantah permintaan Rein.
"Eh tas ini bagus banget" celetuk Luna saat dia melihat sebuah tas elvi keluaran terbaru yang simple dan elegan itu.
Rein melirik, "Kamu mau, ambil aja sayang" kata Rein lagi.
Luna mencebik, "Nggak ah, masa aku terima barang dari fans kamu yang kamu tolak, kayak aku mungut dari tempat sampah aja" cibir Luna.
Rein tergelak mendengar ucapan Luna yang ceplas ceplos itu, "Ya udah nanti aku beliin" katanya lagi.
"Nggak usah, kemahalan. Aku biasa pakai tas murah. Kalau pakai tas mahal, dompet aku menjerit. Karena saldo atm sama harga tasnya nggak seimbang" ucap Luna lagi.
"Kalau kamu mau beliin aku, beliin ini aja" kata Luna seraya menunjukkan sebuah menu makanan, di salah satu aplikasi ijo.
"Bakso?"
"Iya, aku laper soalnya. Mending kamu beliin aku makanan daripada barang begini. Makanan begini aja aku udah seneng soalnya ini kesukaan aku" kata Luna sambil tersenyum tipis.
Rein menggeleng, disaat perempuan lain ingin diberikan tas dan barang - barang branded lainnya. Luna malah ingin dibelikan makanan yang harganya bahkan tidak sampai lima puluh ribu. Padahal sebagai kekasihnya, Luna bisa saja meminta lebih atau memanfaatkan Rein membelikan semua barang - barang mahal yang dia inginkan.
"Bang, pencarian ayah sudah ada perkembangan? tanya Rein pada Eric.
Eric menggeleng, sudah beberapa hari ini pencarian Arif mengalami jalan buntu, seolah - olah Arif menghilang ditelan bumi. "Apa mungkin dia ada di luar negeri?" tanya Rein.
Eric menggeleng, "Gue udah ngecek, dia nggak ada pergi keluar negeri selama dua puluh tahun terakhir"
"Bang, gue penasaran deh sama lo" kata Luna tiba - tiba.
"Penasaran kenapa?"
"Kok lo bisa gampang banget dapat informasi, sebenernya lo siapa sih? Nggak mungkin banget lo orang biasa, apalagi semua informasi yang lo dapat nggak sembarangan orang bisa cari" ujar Luna lagi. Rein pun mengatakan hal yang sama, selama ini dia tidak pernah mengetahui jati diri Eric.
Selama ini setiap kali Rein membutuhkan informasi tentang sesuatu, pasti Eric akan dengan mudah mendapatkannya, meskipun itu adalah sebuah informasi yang sangat sulit untuk didapatkan.
Seperti rekaman cctv di apartemen Soraya, dia bisa dengan mudah mendapatkan rekaman itu padahal kepolisian saja tidak memiliki bukti itu.
"Mau tau aja, atau mau tau banget?" ledek Eric.
"Kalau lo mau tahu, bantuin gue sama Dindra. Gimana?" tawar Eric pada Luna.
"Dih, nawarnya gitu amat. Ngomong - ngomong lo suka banget sama Dindra bang? Emang yang lo suka apaan? Gini ya sebagai sahabatnya, gue harus seleksi dulu nih. Apalagi gue kenal sama lo dan sahabatan sama Dindra, gue nggak mau aja misal lo jadian sama Dindra dan berujung kalian putus, hubungan gue sama lo dan hubungan gue sama Dindra rusak. Bang Eric paham kan kayak gimana maksud gue" ucap Luna lagi.
"Iya gue paham maksud lo, tenang aja gue nggak sebrengsek itu buat nyakitin Dindra" balas Eric.
Baru aja diomongin tiba - tiba Dindra menelpon Luna dan mengajaknya menonton film Tom Cruise yang terbaru. "Oh lo mau nonton film Tom Cruise, kenapa lo nggak nonton sama Arya aja. Pujaan hati lo itu?" tanya Luna.
"Bekicot sawah gitu juga lo doyan, buktinya tiap dia ngajak balikan lo selalu okein. Sampai - sampai gue ama Amanda eneg lihatnya" goda Luna.
"Nggak usah ngeledek gue deh, kali ini gue beneran putus sama dia. Totally putus. Nggak ada kata balikan, rujuk atau damai. Lo mau nggak ikut, temenin gue nonton. Lo tahu lah Amanda nggak bisa nemenin gue karena sibuk sama pendaftaran beasiswa S2" pinta Dindra lagi.
Setelah terdiam beberapa saat, Luna melihat ke arah Eric dan tersenyum. "Oke deh, gue bakalan datang, dimana dan kapan?"
"Tar malam, jam 7 di mall Central ya. Gue tunggu, awas lo nggak datang" ucap Dindra yang terdengar senang dan langsung menutup panggilan teleponnya.
Melihat Luna tersenyum - senyum, Rein menjadi bertanya - tanya. "Bang, kayaknya dewi cinta berpihak sama lo, malam ini Dindra ngajakin gue nonton, tapi karena gue ada janji sama Rein buat makan malam bareng, jadi lo aja yang datang gantiin gue. Gimana?" tawaran Luna langsung disetujui oleh Eric. Segera saja, Eric menarik Rein ke dalam kamarnya untuk memberikan saran baju seperti apa yang akan dia pakai nanti.
'Ting tong'
Suara bel penthouse Rein kembali berbunyi, segera saja Luna menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang. Rupanya petugas keamanan membawa sebuah kotak dus kecil.
"Ada kiriman untuk pak Reinaldo Hartawan Atmadja" ucap petugas keamanan itu sambil menyebutkan nama lengkap Rein.
"Oh baik terima kasih pak" senyum Luna sambil membubuhkan tanda tangannya di tanda terima.
Luna membawa masuk paket yang sangat ringan itu dan menyerahkannya kepada Rein, sekilas melihat Rein sudah mengetahui siapa yang sudah mengirim paket itu. Rein memutar bola matanya malas, dan langsung menaruh paket itu diatas meja tanpa membukanya.
Karena penasaran Luna pun ijin untuk membuka paket itu, "Arggggghhhh" teriaknya sambil melempar paket itu jauh - jauh dan menatapnya ngeri.
Rein dan Eric segera menoleh, "Kenapa Aichi, baby?" tanya Rein pada Luna yang sudah menutup matanya dan menunjuk ke arah paket.
Rein pun mengambil paket, matanya terbelalak, melihat paket yang berisi burung merpati yang sudah di go-rok lehernya hingga menumpahkan banyak darah di lapisan dalam kardus yang sudah dilapisi plastik beserta sebuah surat ancaman.
[Aku tulus mengirim hadiah itu buat kamu, sebagai tanda keseriusan aku sama kamu. Tapi kenapa kamu malah menjualnya untuk anak - anak kotor dan tidak berguna seperti mereka?"]
[Kamu sudah membuatku sakit hati, mulai sekarang aku tidak akan mencintaimu lagi. Perasaanku kepadamu sudah berubah menjadi benci]
[Aku akan membalasmu Rein, karena sudah menyakitiku]
[Shelly]
Rein meremas surat itu dan membuangnya. Siapa lagi yang sudah berani menganggunya? Apa dia ingin main - main dengannya?
"Bang, lo bisa cari tahu soal ini nggak?" tanya Rein pada Eric.
Eric tersenyum, "No problem"
***
...Mohon dukungannya ya, komen, rate, vote dan like. Gratis....
...Terima kasih dan selamat membaca...
...❤️❤️❤️...