
Selesai menerima telepon Luna menghampiri semua orang yang berkumpul disana, "Ada apa Luna?" tanya Roy yang melihat Luna seperti akan mengatakan sesuatu.
"Luna?"
"Lo mau ngomong apaan, diem mulu" seru Rein tidak sabar.
Luna membuang muka dan menoleh ke arah Roy, dia lalu bercerita soal Dindra yang menurutnya bisa membantu Rein untuk mengatasi rumor yang beredar sekarang, dia tahu untuk menanggapi rumor seperti ini mereka harus bergerak cepat kalau tidak ingin dampaknya semakin meluas. Luna juga mengatakan persyaratan yang diminta oleh Dindra agar dia mau membantu Rein membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.
Baik Roy dan Angeline saling berpandangan, "Temanmu tahu kalau kau menjadi asisten Rein?" tanya Angeline heran.
Luna mengangguk, dia beralasan kalau Dindra pernah melihatnya bersama Rein ketika Rein hadir dalam peluncuran produk di salah satu mall di kota ini. "Temen saya waktu itu datang pas pemutaran film yang saya ajak foto bersama" ucap Luna kepada Angeline.
"Gimana bu Angel? Kalau memang teman Luna bisa bantu membuktikan kalau Rein nggak salah, bukankah akan menguntungkan. Kita juga bisa menuntut Vania atas pencemaran nama baik" jelas Roy.
Angeline terlihat bimbang, di satu sisi dia tidak mau jika Rein kehilangan project penting yang akan menghasilkan pundi - pundi uang baginya, tapi di sisi lain dia tidak ingin jika kehilangan dukungan dari orang tua Vania.
"Kita selesaikan saja secara diam - diam, Luna, kau panggil temanmu kesini. Lebih baik kita dengarkan dulu apa yang mau dia bicarakan" titah Angeline.
Luna mengangguk dan kembali menghubungi Dindra. Sahabatnya itu langsung memekik kegirangan karena Rein mau menerima tawarannya, dia lalu berjanji akan datang ke apartemen Rein dua jam lagi dan meminta mereka untuk menunggu.Tak lama kemudian Roy dan Angeline pergi dari apartemen Rein untuk meredam rumor yang saat ini beredar luas.
Meredam rumor seperti ini, terutama dalam kasus pelecehan seksual mereka harus memikirkan pengalihan isu yang tepat agar perhatian semua orang tidak lagi fokus terhadap Rein. Angeline menghubungi kenalannya di portal media online, "Kamu bisa tutupi berita Rein dengan berita ini kan?" tanya Angeline sambil tersenyum tipis
Selesai mendapat konfirmasi dari kenalannya, Angel memutuskan sambungan ponselnya dan melihat ke arah ipad yang menyimpan foto seorang artis sedang berpesta narkoba. Roy melirik kearah foto itu, "Sepertinya dia akan menumbalkan seseorang lagi" batinnya kesal.
***
Rein memandang Dindra dari ujung kepala hingga ujung kaki, "Aichi, sini bentar. Gue mau ngomong" panggil Rein.
"Bentar ya Dind" bisik Luna pada Dindra.
Rein dan Luna pergi menjauh ke arah dapur yang memiliki sekat sehingga mereka tidak akan terlihat dari ruang tamu oleh Dindra dan Eric.
"Gue sih nggak tahu ya, informasi apa yang dia punya. Tapi gue tahu kalau sahabat gue bisa dipercaya, terserah lo sih kalau emang nggak percaya, gue bisa suruh dia pulang sekarang" jawab Luna ketus sambil beranjak pergi.
"Eh tunggu... Ya udah gue percaya kali ini, tapi awas ya kalau dia malah bikin semuanya jadi makin runyam" ancam Rein sadis.
Luna memandang Rein kesal, bukannya berterima kasih karena ada yang membantu tapi dia malah bersikap skeptis. Ini yang terkadang membuat Luna ragu membawa Dindra, Luna khawatir Dindra akan shock kalau tahu sifat asli Rein seperti apa.
Rein yang selama ini tampak oleh fans adalah sosok yang ramah dan baik hati, bukan Rein yang judes, sadis, mulut setajam silet akan se-shock apa kalau Dindra tahu soal ini.
"Rein.... tunggu"
"Dindra itu fans lo, fans berat lo. Jadi lo bisa nggak buat nggak judes dan jutek sama dia, gue nggak mau dia kecewa karena ekspektasinya ke lo tinggi banget dan dia ngebantuin lo juga karena dia ngefans banget sama lo" pinta Luna. Rein melengos, tapi saat menuju ruang tamu dia menunjukkan wajah 'menghadapi fans' didepan Dindra.
Dindra lalu mulai menceritakan bahwa Vania terlihat berada di sebuah acara private party, di malam itu. Hal ini dia ketahui dari kakaknya yang hadir sebagai DJ di acara tersebut, menurutnya Vania terlihat pulang pukul tiga pagi dan menurut kakaknya, Vania bahkan berhubungan se x di salah satu ruangan tempat private party itu diadakan. Hal ini diyakini oleh kakak Dindra yang melihat sendiri saat mereka masuk ke dalam kamar dengan kondisi sudah setengah polos.
Sayangnya kakaknya tidak memiliki bukti apapun untuk mendukung ucapannya, karena pada saat acara dimulai semuanya dilarang untuk memakai ponsel di acara itu. Private party itu diadakan di sebuah rumah yang ada di kawasan elit, karena ruangan tempat party diadakan dilengkapi dengan fasilitas peredam suara tidak ada satupun orang yang mengusik meskipun acara tersebut diadakan sampai dini hari.
"Yang ngadain private party itu adalah Natasya, lawan main lo Rein di film terakhir lo. Weekend ini abang gue diundang ke acara itu lagi sebagai pengisi acara, gue bakal minta dia buat masukin gue kedalam dan gue bakal rekam semua acara disana diam - diam. Tenang aja gue bakal pake hidden cam yang nggak bakal ketahuan. Gue juga yakin Vania bakalan datang kesana" seru Dindra lagi.
Dindra juga menyarankan Rein untuk tidak melakukan apapun, dan bersikap seperti biasa. Supaya Vania kepanasan karena umpannya tidak berhasil. "Lo nggak usah bikin klarifikasi apapun, biar itu jadi urusan gue sama fanbase kalau bukti udah gue dapetin. Lo klarifikasi setelah lo dapat kabar dari kita. Gimana? Deal?" tanya Dindra dengan raut wajah yang cukup meyakinkan.
Luna dan Eric sejak tadi memperhatikan kedua orang ini berdiskusi, "Terus gue harus apa nih Din?" tanya Luna.
Dindra tersenyum tipis, "Lo cukup jagain Rein aja jangan sampai kesayangan gue ini lecet, terluka dan menderita. Awas aja lo" seloroh Dindra sementara Rein tampak setuju dengan rencana Dindra, dia juga akan menyiapkan sesuatu yang akan menghantam Vania sehingga dia tidak akan lagi berani menunjukkan wajahnya didepan semua orang. Apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan, apalagi dia berani membuat berita bohong seperti ini. Rein tidak sabar melihat wajah Vania yang panik saat semua kebohongannya terbongkar.
Disisi lain Eric pergi ke arah dapur dan menelpon seseorang, " Bantu gue buat selidiki soal Vania. Gue yakin dia ada kaitannya dengan kematian Soraya" perintahnya di telepon.
"Kali ini gue bakal bantu lo Rein buat membalas Vania. Tapi sebentar lagi lo bakalan lihat pembalasan apa yang bakalan nyokap lo terima atas perbuatannya kepada Soraya" gumam Eric.