MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Resign, Kuliah, Nikah Lagi



"Baby, kamu ngelamun? Mikirin apa, serius amat?" goda Rein seraya memotongkan potongan daging steak di piring Luna.


Luna yang sedari tadi melamun karena memikirkan sesuatu, menatap Rein. Pikirannya masih terbayang saat kemarin Rein menerima bingkisan mengerikan itu, entah siapa yang mengirimnya tapi bingkisan itu benar - benar sangat mengerikan. Mengirimkan bangkai burung yang bersimbah darah, setiap mengingatnya saja Yura sudah merasa ngeri.


"Kira - kira yang namanya Shelly itu siapa ya? Apa ada orang dideket kamu yang namanya kayak gitu?" tanya Luna.


"Kamu nggak usah repot - repot urusin itu ya, biar itu jadi urusan aku sama Eric. Kamu cukup diam aja jangan lakuin apapun" kata Rein lagi.


"Emang aku bakal ngelakuin apa sih, orang kenal atau tahu yang namanya Shelly aja nggak"


"Ya kali aja, kan kamu suka gitu. Kepooo" ledek Rein.


"Idihhhh apaan sihhh" Luna mencebikkan bibirnya keatas, yang membuat Rein geli sendiri.


'Prangg!!!!' suara piring dan gelas pecah menarik perhatian mereka dan membuat Rein serta Luna menoleh ke arah sumber suara, tampak seorang gadis dengan menggunakan topi dan jaket denim sedang berbicara dengan waitress. "Kayaknya ada yang mecahin piring sama gelas" ucap Luna


"Biarin aja, kayaknya dia juga nggak sengaja" balas Rein, yang kemudian segera meminta bill dan membayar pesanan mereka dan pulang kerumah.


Luna memandangi Rein yang tampak terlihat bahagia, ada sedikit keraguan dihatinya saat ini untuk mengatakan pengunduran dirinya sebagai asisten Rein. Tabungannya sudah cukup dan dia juga sudah melunasi biaya kuliahnya yang tersisa 3,5 semester lagi sehingga dia tidak perlu memikirkan kesulitan untuk membayar biaya kuliahnya lagi. Apalagi ayahnya sekarang seperti lepas tangan dan tidak lagi membiayai kuliahnya


"Rein... Aku mau ngomong boleh?" tanya Luna.


"Ngomong aja, kamu mau ngomong apa?" tanya Rein menatap Luna lembut.


"Bulan depan aku udah harus kuliah lagi. Cuti aku udah abis. Jadi kayaknya aku nggak bisa jadi asisten kamu selama beberapa waktu. Aku mau fokus sama kuliahku dulu, dan aku bakal berhenti akhir bulan ini. Nanti Eric bakal gantiin aku jadi asisten sementara kamu" ujar Luna.


"Aku juga udah ngomong ke bu Angeline, dan dia setuju"


Rein diam tidak membalas perkataan Luna, dia tahu bahwa pasti saat seperti ini akan tiba. Saat Luna memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai asistennya, didalam hati Rein ada sedikit ketidak relaan tapi dia paham jika dia harus mendukung Luna untuk segera menyelesaikan kuliahnya.


Tanpa berkata apapun Rein pergi meninggalkan restoran, diikuti oleh Luna di belakangnya. "Kayaknya dia marah. Tapi gue tetep aja harus bilang sama dia, sebelum dia tahu dari orang lain" pikir Luna.


Sepanjang perjalanan pun baik Luna maupun Rein tidak mengatakan apapun, sampai mereka tiba di apartemen Amanda bahkan Rein juga diam saja ketika Luna berpamitan untuk masuk kedalam serta menolak untuk dipeluk, padahal biasanya mereka akan saling mencium pipi dan dahi masing - masing serta berpelukan sebelum mereka berpisah.


Hal ini membuat Luna sedikit bersedih, dia mempertanyakan keputusannya sendiri apakah dia salah jika dia mengundurkan diri disaat Rein sedang dalam kondisi yang seperti sekarang, mencari ayahnya dan menguak rahasia kematian Soraya.


Tapi Luna juga tidak bisa lagi menunda kuliahnya lebih lama, dia ingin segera lulus supaya dia juga bisa segera bekerja di perusahaan incarannya seperti yang dia impikan selama ini. Luna meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya sudah yang terbaik, dan sebelum dia memberitahu hal ini pun Luna sudah memberitahu Rein jauh - jauh hari sebelumnya. Ya, ini bukan sesuatu yang salah? Luna yakin itu.


***


Luna masuk dengan langkah gontai ke dalam apartemen dan dia terkejut saat melihat jeje ada disana bersama dengan ibunya bersama dengan Manda di ruang tamu dan seorang laki - laki yang terlihat seumuran dengan ibunya.


"Kak..." sapa Jeje.


"Luna, ada tante sama adek lo kesini" sahut Manda.


"Iya, gue udah lihat juga kok" sinis Luna melirik ke arah pria yang duduk di samping ibunya.


"Siapa dia?" tanya Luna pada ibunya.


"Duduk dulu kak" pinta ibunya.


Luna pun duduk di hadapan Jeje, sementara Amanda memilih berdiam diri di kamar tidak mau ikut dalam pembicaraan keluarga mereka. "Kak, kamu masih marah sama ibu karena udah mukul kamu?" tanya Winda.


Ibunya tersenyum, senyum yang nggak pernah di lihat oleh Luna sejak kedua orang tua mereka bercerai. "Kenalin, ini om Irwan. Ibu dan om Irwan sudah memutuskan kalau kami mau...."


"Menikah?" potong Luna cepat dan membuat ibunya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


"Kalau ibu kesini cuma mau ngabarin itu, mending ibu pulang aja dan Luna nggak akan setuju ibu nikah lagi. Ayah sama Ibu belum ada 3 bulan cerai terus sekarang ibu mau nikah lagi? Mau saingan sama ayah?" seru Luna.


Irwan yangs edari tadi diam pun ikut angkat bicara, "Luna, mungkin kamu nggak percaya sama om. Tapi om janji akan buat ibu kamu bahagia lahir batin dan juga..."


"Ngomong apaan sih lo, lo pikir gue bakal percaya gitu aja? Lo ada anak juga? Mantan istri lo?" tanya Luna tanpa basa basi lagi/


"Luna, nggak sopan kamu ngomong begitu. Ibu nggak pernah ngajarin kamu ngomong begitu sama orang yang lebih tua ya" tegur ibunya.


"Wah... Wah... Ibu bahkan sekarang belain pacar ibu daripada aku?" tanya Luna mencibir.


"Saya duda tanpa anak, dan istri saya sudah meninggal dunia. Saya juga tidak akan langsung menikahi ibu kamu, kami akan menunggu setidaknya sampai dua - tiga bulan kedepan baru kami akan menikah"


Luna langsung tergelak, "Je, lo setuju ibu nikah lagi?" tanya Luna pada adiknya yang diam saja sejak tadi.


"Jeje setuju aja sih kak, selama om Irwan bisa buat ibu bahagia dan bertanggung jawab" kata Jeje menatap takut - takut kepada Luna.


"Siniin KTP lo!!!" pinta Luna pada Irwan yang menatap bingung tapi tetap juga menyerahkan ktpnya kepada Luna yang langsung memotret dirinya dan juga ktpnya.


"Berani lo nyakitin nyokap gue, KTP lo bakal gue jadiin jaminan pinjol, dan gue juga bakal ngecek status keuangan lo di BIChecking, mana tahu utang lo numpuk dan bakal nyusahin nyokap gue" cibir Luna lagi.


Winda tampak tidak percaya dengan perkataan yang diucapkan oleh putri sulungnya, "Luna, kamu apa - apaan sih. Jangan bikin malu ibu? Kamu kenapa kayak gini?"


"Ayah kamu bisa bahagia dengan istri barunya, apa ibu juga nggak boleh bahagia. Kamu jangan egois!!!" seru ibunya.


"Egois!! Iya Luna emang egois, karena kalau sampai dia nyakitin ibu lagi, yang repot siapa kalau bukan Luna sama Jeje. Sampai kapanpun Luna nggak akan pernah setuju ibu nikah lagi, terserah kalau ibu mau nikah kapan, tapi Luna nggak akan pernah datang dan menginjakkan kaki lagi dirumah itu. Dan satu lagi, rumah itu milik Luna sama Jeje, kalau Pria ini tahu diri, dia nggak bakal numpang di rumah itu dan akan ngajak ibu tinggal di rumahnya sendiri" cibir Luna lagi.


Winda menatap tajam ke arah Luna, dia tidak tahu lagi bagaimana harus berbicara dengan Luna.


"Ayo pulang Je, ngomong sama kakakmu percuma saja" kata Winda seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Je, kalau lo nggak betah buat tinggal sama bokap baru lo, lo bisa hubungin gue dan tinggal bareng gue. Lo tahu kan kalau lo bakal terasing dirumah tanpa ada gue. Karena ibu lagi kasmaran" sengit Luna sambil membuka pintu apartemen dan mempersilahkan ibu, adik dan calon ayah tirinya itu pergi.


Sepeninggal mereka, Luna langsung terduduk lemas dari sudut mata yang sejak tadi dia tahan mulai menggenang dan akhirnya tumpah. Amanda perlahan keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Luna. "Lo yang sabar ya. Lo pasti bisa lewatin ini Lun" peluk Amanda.


...****************...


...Halo, maaf kemarin aku gak update 2 hari karena lagi sakit. ...


...Semoga kalian masih mau membaca karya aku ya....


^^^Bantu author dengan like, komen, vote, dan rate. ^^^


...Terima kasih dan Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...