
Eric dan Rein menunggu disebuah cafe dimana mereka akan bertemu dengan informan yang mengetahui alasan kenapa Soraya dibunuh. Setelah menunggu beberapa saat, orang yang dia tunggu ternyata datang. Tanpa berbasa - basi, pria itu menyerahkan sebuah tablet yang memuat video rekaman CCTV saat pembunuhan terjadi.
Direkaman itu tampak seorang dengan pakaian serba hitam keluar dari apartemen Soraya sesaat setelah melakukan aksinya, pria itu lalu menunjuk seorang pria yang bersembunyi di balik pintu darurat.
"Roy!!!!" teriak Rein pelan.
"Kalau kalian ingin mengetahui tentang alasan kenapa Soraya dibunuh, kalian bisa tanya ke orang ini. Dia satu - satunya saksi saat kejadian dan juga mengenali pelaku" ujar Pria itu.
"Sekarang, mana uang yang kalian janjikan. Sulit sekali buat gue cari rekaman cctv ini karena polisi nggak masukin ini sebagai barang bukti" ucap Pria itu.
Setelah menerima segepok uang dari Rein, pria itu lalu pergi meninggalkan Erid dan Rein berdua dengan wajah kebingungan
***
"Aichi, gue laper. Beliin gue makanan!!"
Luna menghela nafas panjang. Hari ini sepertinya Rein sedang dalam mode bocil, rewel sekali sejak pagi. Padahal Luna berusaha untuk membatasi interaksi antara dirinya dan Rein, karena masih canggung dengan kejadian kemarin.
"Mau makan apa?" tanya Luna berusaha seramah mungkin.
"Apa ya, gue bingung" jawab Rein. "Lo ada saran nggak?"
Luna menghela nafas panjang, padahal dia yang lapar dan dia yang mau makan kenapa juga Luna yang harus mikirin isi perutnya. "Soto, sate, bakso, nasi padang, sushi, atau apa?" tawarnya.
"Ehmmm nggak deh, udah bosen. Lo gimana sih, nawarin makanan yang enak dong!"
Luna langsung melongo, "Lah kenapa jadi gue yang disalahin?" batinnya.
"Jadi lo tuh mau makan apa?" tanya Luna yang sudah mulai gregetan
"Nggak tahu, bingung juga"
Kalau tidak ingat Rein sudah menolongnya kemarin, mungkin Luna sudah menimpuk kepalanya menggunakan power bank yang sedang dia genggam sekarang ini.
"Duh lo tuh cowok ribet banget sih mau makan doang, ngalah - ngalahin cewek banget" Luna memandang Rein dengan perasaan jengkel.
"Ya udah kalau gitu lo temenin gue makan di luar sekarang" Rein segera beranjak menuju mobilnya.
"Loh... Heh... Maksudnya apaan? Lo masih ada satu adegan lagi" seru Luna bingung.
"Udah gue kelarin semua tadi. Jadi udah nggak ada scene lagi gue, buruan cepet. Gue laper" balas Rein dengan memaksa dan langsung ngeloyor pergi menuju mobilnya sambil memegang dadanya merasakan detak jantungnya terasa begitu cepat dari biasanya.
Selesai mengatur nafas, Rein kembali berteriak memanggil Luna untuk segera bergegas.
***
"Bang Eric nggak ikut?" tanya Luna saat melihat Eric tidak turun dari mobil sesampainya mereka disebuah restoran jepang yang sangat terkenal enak.
"Nggak... Gue disini aja makan di warteg, gue nggak mau jadi obat nyamuk" balas Eric.
"Nggak papa bang, ayo ikut makan. Masa bang Eric makan sendirian di warteg?"
"Udah deh Chi, dia nggak mau ikut ngapain lo maksa sih. Ayo cepet masuk" tarik Rein.
Luna menghela nafas kasar, dia tidak bisa lagi memaksa Eric untuk makan bersama mereka. Kalau begini ceritanya apa mereka bisa dikategorikan sedang nge-date?
Mereka lalu mulai memesan menu masing - masing, saat menunggu pesanan mereka datang. Tanpa sadar Luna memandangi wajah Rein lekat - lekat, "Lo ngeliatin gue nggak usah segitunya juga. Gue tahu kalau gue ganteng"
"Pede amat bro, siapa juga yang liatain lo" sanggah Luna yang tampak salah tingkah.
"Ngaku aja kali, nggak usah ngeles. Gue ganteng kan?" tanya Rein sambil menatap mata Luna lekat. Tatapan yang seolah mampu menghipnotis Luna dan membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kedua wajah mereka mendadak merah dan jantung mereka berdetak tak karuan, terlebih saat keduanya sama - sama saling tersenyum satu sama lain.
"Aichi..."
"Lo masih ragu sama gue?" tanya Rein tiba - tiba.
Luna mendadak terpaku, mendengar pertanyaan Rein. Matanya melebar tidak mengira kalau Rein akan berkata begitu.
"Gue takut Rein, gue takut lo cuma main - main sama gue. Apalagi lo sering banget dijodoh - jodohin sama fans lo. Dan kalau ada berita lo dating sama cewek yang nggak sesuai harapan fans lo, pasti dia bakalan di bully habis - habisan. Gue cuma nggak mau ngalamin itu" lirih Luna sambil tersenyum.
Luna sadar kalau perbedaan antara dirinya dan Rein cukup besar, walaupun wajah Luna sendiri cukup cantik tapi siapa yang tahu dirinya tidak akan menjadi sasaran kemarahan fans Rein yang tidak terima dengan hubungan mereka. Dia juga takut memulai hubungan dengan pria yang banyak didekati oleh banyak wanita seperti Rein.
Rein meraih tangan Luna dan menggenggamnya, "Gue janji sama lo, gue bakal serius sama lo dan nggak akan nyakitin perasaan lo. Gue bakal lindungin lo dari fans gue dan orang - orang yang mau ngerusak kebahagiaan kita. Lo tahu, gue marah ngelihat lo jalan sama Zayn kemarin, gue nggak rela kalau lo dekat dengan cowok lain selain gue. Gue cinta sama lo Aichi"
"Lo kenapa sih manggil gue Aichi mulu, aneh tahu nggak" protes Luna berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya itu panggilan sayang gue ke lo, meskipun lo bukan cinta pertama gue. Tapi gue berharap lo jadi cinta terakhir gue"
"Kasih gue kesempatan buat bikin lo bahagia. Lo mau kan jadi pacar gue?"
Sorot mata Rein terlihat lebih dalam, lebih lembut dan lebih hangat dari biasanya. Selama ini memang dia dan Rein selalu saja bertengkar tapi dirinya juga tidak menampik kalau dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rein.
Harapan akan kisah cintanya berakhir bahagia menelusup dalam benak Luna. Mungkin tidak ada salahnya dia memulai hubungan dengan Rein sekarang, dirinya juga tidak rela melihat Rein dekat dengan wanita lain, terlebih wanita seperti Vania.
"Tapi gue orangnya ngambekan"
"Nggak masalah, gue bakal bikin lo nggak ngambek lagi"
"Gue juga banyak makan"
"Tenang aja, duit gue banyak buat beliin lo makan apapun"
"Gue nggak fashionable"
"Gue nggak butuh cewek fashionable, gue cuma butuh lo ada buat gue"
"Gue...."
Jari telunjuk Rein menyentuh bibir Luna mengisyaratkan agar Luna diam sejenak. "Apapun itu, gue nggak peduli. Gue cinta dan sayang sama lo. Gue tahu lo juga punya perasaan yang sama ke gue, jadi kenapa kita nggak jadian dan pacaran aja"
Luna menoleh, menyembunyikan wajahnya yang memanas karena tersipu malu, "Pede amat sih bilang kalau gue suka sama lo"
"Emang kenyataannya begitu kan? Jadi sekarang kita pacaran ya" tandas Rein.
"Loh eh, gue kan belum jawab iya" protes Luna.
"Emang kamu mau jawab nggak?" tanya Reno yang sudah tidak lagi memakai lo - gue dengan Luna.
"Ya nggak juga, tahu ah gelap" ujar Luna yang betul - betul sudah salah tingkah.
"Ya berarti jawabannya iya. Gitu aja repot" ledek Rein gemas dengan sikap Luna yang salah tingkah.
Tiba - tiba sebuah ciuman lembut mendarat di dahi Luna. "Eh..."
"I love you baby" ucap Rein.
"Love you too" balas Luna sambil tersenyum bahagia.
****
...Wihiiii, akhirnya pacaran juga mbak bulan sama abang Rein....
...Semuanya terima kasih sudah membaca....
...Happy Reading...
...🏵️🏵️🏵️🏵️...
...Maaf othor hari ini update 1 bab dulu lagi ada kesibukan di dunia nyata....
...Besok janji bakal up dobel...