MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Nasi Padang dan Es Kelapa Muda



"Jadwal lo hari ini, selain syuting adegan terakhir buat film lo. Lo juga bakal ada konferensi pers buat perilisan film lo akhir bulan ini. Terakhir rekaman lagu kolaborasi buat theme song pertandingan olahraga internasional." Luna memberitahu Rein soal jadwalnya hari ini.


"Hemm" balas Rein tanpa menoleh sedikit pun.


Luna lalu pergi dan seperti biasa dia menyiapkan semua kebutuhan Rein kedalam satu koper besar, sementara Rein langsung menghela nafas panjang begitu Luna pergi meninggalkannya.


Rein melirik dari sudut matanya penasaran kenapa Luna tidak mengatakan apapun kepadanya. Apa pernyataannya waktu itu masih belum jelas?. Kenapa Luna sepertinya mengacuhkannya?. Rein ingat saat Dindra mengirimi foto saat Luna keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu, Zayn yang entah kenapa bisa berada disana membuat Rein cemburu. Apa mungkin Zayn menyukai Luna seperti yang dia bilang? Rein merasa dirinya tidak bisa membiarkan Luna terlalu dekat dengan Zayn, tapi menilik dari status mereka sekarang tentu Rein tidak punya hak untuk melarang Luna dekat dengan siapapun.


Seketika Rein ingat bahwa adegan terakhir hari ini juga ada Zayn, senyumnya seketika mendadak kecut. Jangan sampai disana nanti Zayn kembali menggoda Luna.


"Kayaknya boss lo udah gila Lun" sahut Eric sambil menunjuk Rein yang menyeringai jahil. Luna manatap sekilas Rein yang juga meliriknya, saat tatapan mata mereka beradu mereka segera mengalihkan pandangan mereka masing - masing dengan canggung.


"Bang, semua udah aku siapin. Kita berangkat sekarang aja daripada kena macet" balas Luna sambil menggeret koper yang berisi pakaian dan barang - barang yang akan digunakan oleh Rein hari ini terburu - buru. Berada di ruangan yang sama dengan Rein membuat Luna canggung, setelah pertengkaran mereka tempo hari mereka bahkan masih belum saling berbicara satu sama lain, Luna juga mengabaikan pesan yang dikirim oleh Rein. Hatinya masih ragu apa benar yang diucapkan oleh Rein. dan bukan semata - mata ingin mempermainkannya saja.


Tiba - tiba saja Rein meraih koper yang tampak berat dari tangan Luna. "Eh" pekik Luna pelan.


"Kalau lo lelet gini, kita bisa beneran telat" sahut Rein tanpa mempedulikan tatapan keki dari Luna.


"Ngapain lo masih berdiri disitu, nggak pergi? Jangan kayak patung disana, ngehalangin orang lewat doang"


"Kamprer lo ngatain gue patung"


Sementara di belakang mereka Eric hanya bisa menggelengkan kepalanya geli melihat tingkah laku dua orang di hadapannya.


"Biar gue aja yang bawa" seru Luna tapi Rein segera menepis tangan Luna dan gegas pergi menuju mobilnya kemudian memasukkan koper berat itu ke dalam bagasi.


"Gak usah, biar gue yang bawa. Lo masuk aja sono ke mobil" ujar Rein.


Luna benar - benar tidak habis pikir dengan sikap Rein hari ini yang menurutnya aneh, dia seolah tahu apa yang Luna butuhkan. Di sela - sela syuting, Luna kehausan dan ingin membeli minuman, tapi karena lokasi sekitar tidak banyak yang menjual makanan Luna memilih untuk memesan makanan secara online, baru saja dia akan memilih makanan di daftar pencarian, tiba - tiba Rein datang dan memberikan es kelapa muda untuknya. Hanya untuknya, bahkan Eric yang protes karena tidak dibelikan pun diabaikan oleh Rein. Dasar pelit!!!


Kemudian saat Luna harus berlari membawa beberapa pakaian lumayan banyak dari sponsor yang akan Rein gunakan, Rein dengan sigap mengambil alih pakaian itu dan membawanya sendiri ke ruang ganti. Belum lagi saat tiba waktunya makan siang, Rein tiba - tiba memberikan seporsi nasi padang untuknya, dan kebetulan Luna memang sedang ingin makan nasi padang. Padahal dia tidak mengatakan apapun pada Rein kalau dia ingin makan nasi padang. Kenapa bisa pas sekali.


Tanpa diketahui, rupanya Rein melihat status dari wasap Dindra yang berisi curhatan Luna yang sedang ingin makan nasi padang.


Keanehan lain dirasakan Luna saat dia sedang berbicara dengan Zayn, tiba - tiba saja Rein menyela mereka dan langsung mengambil posisi duduk ditengah mereka tanpa permisi, "Lo kenapa sih ganggu aja?" protes Zayn yang tak terima diganggu oleh Rein saat berbicara dengan Luna.


"Kalau nggak suka ya lo pergi aja" ucap Rein santai.


"Enak aja pergi, gue duluan yang disini" imbuh Zayn.


"Kalian berdua bisa nggak sih nggak berantem?" sergah Luna yang tampak jengah dengan mereka yang sudah seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu tidak pernah tidak berdebat.


"Nggak bisa!!!" seru Rein dan Zayn bersamaan.


"Ngapain lo masih disini. Hush... Hush... Pergi sana" seru Rein seraya mengibaskan tangannya mengusir Zayn sepert sedang mengusir lalat.


"Ya udah kalau gitu sampai ketemu besok ya Lun" ujar Zayn sambil beranjak pergi. Rein mendelik mendengar perkataan Zayn.


"Sampai ketemu besok? Emang kalian mau kemana? Ngapain?" tanya Rein penasaran.


Rein seketika protes, "Kok lo ngajakin dia, bukannya gue?"


"Emang lo suka ke tempat begituan? Lagian gue juga nggak berdua doang sama kak Zayn, sama Dindra, Amanda dan bang Eric juga. Lagipula besok gue libur kan, jadi ya gue manfaatin aja kesempatan buat healing. Ditambah lagi kak Zayn juga kenal sama penyelenggara pameran jadi kita bisa kesana saat pameran belum buka biar nggak terlalu rame" imbuh Luna lagi.


Eric juga ikut? Berarti hanya dia yang ditinggalkan sendirian. "Lo mau ikut?" tawar Luna kemudian.


"Nggak, ngapain gue ikut. Gue juga nggak mau ke tempat ngebosenin begitu"  tandasnya dengan muka masam sekaligus gengsi kalau dia menerima ajakan Luna saat itu juga.


"Ya udah" Luna berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Rein yang masih merengut kesal.


Rein memandangi Luna yang berjalan menjauh, kenapa reaksinya hanya begitu saja? Bukankah seharusnya Luna lebih berusaha lagi untuk mengajaknya pergi. Rein ingin sekali ikut, tidak rela rasanya membiarkan Luna pergi bersama dengan Zayn meskipun mereka tidak pergi berdua


Singkat cerita setelah rangkaian kegiatan Rein selesai dan mereka kembali ke apartemen, Luna segera gegas pulang kerumah tanpa mengatakan apapun lagi kepada Rein.


***


Sesampainya dirumah dan mengganti pakaiannya, Rein terlihat gelisah. Tak henti - hentinya dia mondar - mandir seperti setrikaan di ruang tamu. Eric yang melihat tingkah Rein tak urung menjadi penasaran.


"Kenapa lo, mondar - mandir udah kayak setrikaan?" tanya Eric.


"Bukan urusan lo" ketusnya.


Eric memejamkan mata sambil menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, meskipun hubungan mereka berdua kini sudah lebih baik tapi tetap saja Eric masih belum terbiasa dengan sifat ketus dan jutek Rein yang cukup menguji kesabarannya. Meskipun posisi Eric adalah bodyguardnya, tapi tetap saja melihat Rein seperti ini membuatnya sebal.


Tanpa disadari Rein, Eric sudah menimpuk kepalanya dengan bantal sofa, "Apaan sih lo" seru Rein.


"Heh, gue lebih tua enam tahun ya dari lo. Sopan dikit kalau ngomong, dibiarin lama - lama ngelunjak lo ye"


Rein seketika langsung menciut melihat tampang garang Eric, dia tidak mau nasibnya berubah jadi pepesan udang kalau dia melawan. Apalagi kalau sampai Eric menimpuknya lagi, bisa - bisa kepalanya benjol sebesar bola golf.


"Nggak gitu bang, aduh udah deh. Pusing kepala gue" protes Rein sambil masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang.


Eric menggelengkan kepala, "Dia yang jatuh cinta, orang lain yang ikutan ribet" gumamnya.


Baginya tidak ada yang lebih rumit dari urusan cinta dan hati, untuk itulah dia memilih menyendiri sekarang ini. Tapi selama beberapa hari ini bayangan seorang wanita selalu berputar - putar dikepala Eric, sampai - sampai dia terbawa mimpi.


"Dia sedang apa ya?" batinnya.


Kira - kira siapakah dia?


...****************...


...Thank you buat semuanya yang sudah membaca dan kasih jempol, kasih gift....


...SEMOGA MENIKMATI MEMBACA NOVEL INI...


...❤️❤️❤️...