
Sejak Luna menjadi asisten dari Rein dia mengikuti sosial media milik Rein dan malam ini dia memposting sesuatu ke media sosialnya, yaitu sebuah kue dan juga kado dari Dindra serta tumpukan kado lain dari fansnya yang diberi caption, 'terima kasih atas hadiahnya. Kuenya enak banget sih. Sesuai sama selera gue'.
Diam - diam Luna tersenyum membaca caption dari Rein, untung saja dia suka dengan cheese cake yang dibuat oleh ibunya, tidak sia - sia dia membantu ibunya untuk membuat kue ini.
[Thank you kue nya, gue udah makan dan enak] Luna terhenyak sat melihat notifikasi pesan dari Rein muncul di layar ponselnya.
[Lo kok tahu nomor pribadi gue?] tanya Luna.
[Lo asisten gue kan, dan lo isi nomer hp lo waktu interview] jelas Rein.
[Ini lo beli dimana?] tanya Rein.
[Apanya?]
[Kuenya lah, emang kita lagi bahas apaan sih]
[Oh, itu ibu gue yang buat. Lain kali kalau misal lo mau pesen cake atau kue pesen sama ibu gue aja dijamin enak, ini profil tokonya] jawab Luna sambil mengirim link sosial media kue penjualan ibunya.
Luna menunggu balasan dari Rein, tapi tidak ada. Akhirnya dia pun tidur pulas.
---
Subuh - subuh Luna udah dibangunkan dengan suara berisik dari arah dapur, dia menggeliat dan mengucek matanya melihat jam weker yang terletak di samping nakas tempat tidurnya. Masih jam empat pagi, tapi kenapa di dapur rame banget? Sayup - sayup Luna bahkan bisa dengar Jeje dan ibunya berbicara satu sama lain. Penasaran Luna pun bangkit dari ranjangnya dan keluar kamar.
Luna melongo melihat ayah, ibu dan adiknya sibuk membuat adonan kue dan cookies sepagi itu. Biasanya mereka memang membuat adonan untuk persiapan bakery ibunya tapi tidak sepagi ini.
"Kak, udah bangun. Ayo bantuin kita. Kita dapat boom order" kata Jeje semangat.
"Eh nggak usah, kakak tidur aja. Semalam kakak pulang kerja malam banget, pasti capek. Udah lanjutin tidur aja kak. Maaf ya kalau ibu berisik" sahut ibunya lembut.
"Boom pesanan gimana Je?" tanya Luna penasaran.
Jeje lalu mencuci tangannya dan menunjukkan sebuah snapgram di akun milik Rein, di situ Rein mempromosikan bakery milik ibunya, kalau dilihat dari jam dia posting itu setelah dia selesai chatting dengan Rein.
"Jadi malem - malem kemarin pas aku lagi buka instagram banyak pesan masuk di dm buat pesen, langsung aja aku catet - catetin semuanya" ucap Jeje yang memang diminta Luna untuk membantu ibunya mengelola bakery, karena diantara mereka berdua hanya jeje yang mewarisi tangan emas ibunya dalam hal masak memasak dan bikin kue.
"Syukurlah kak, pesanan banyak" senyum ibunya.
Luna tersenyum canggung melihat kesibukan ibu dan adiknya sementara ayahnya melipatĀ kardus untuk kue - kue dan menempelkan label pada toples - toples cookies.
"Ya udah aku bantuin lipetin kardus aja, karena aku nggak bisa bikin kue takut gosong" balas Luna tapi segera dilarang oleh ayahnya.
"Udah kakak istirahat aja, biar ayah yang lakuin. Kamu harus kerja kan nanti. Jangan sampai kecapekan. Hari ini Jeje libur jadi biar jeje aja yang bantuin ayah sama ibu" ucap ayahnya.
"Ya udah kalau gitu, Luna tidur lagi ya yah. Nanti bisa tolong bangunin Luna jam 9 nggak?" pintanya, ayahnya mengangguk.
Luna seketika mencibir, "Makanya jadi anak pertama" cibirnya.
"Ibuuu, kak Luna ngeledekin mulu" seru Jeje manja, tapi ayah dan ibunya hanya menggelengkan kepala mereka pelan sambil sesekali tersenyum.
"Kak, bangunnnnn" Jeje berusaha membangunkan Luna yang masih tidur pulas, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Luna kembali bangun dan meregangkan tubuhnya, "Udah jam sembilan?" tanya Luna kemudian,
"Nggak sekarang jam delapan pagi, ibu mau pake mobil kakak buat belanja bahan kue. Mana kunci sama suratnya?" tanya Jeje.
"Mobil ayah kenapa?" tanya Luna sambil menyerahkan kunci dan STNK ke tangan Jeje.
"Dipakai ayah buat antar kue ke pelanggan, kalau nunggu selesai anter nanti keburu siang beli bahannya" jelas Jeje lagi.
"Ah, kata ayah kalau mau bareng nanti ayah bisa anter kakak ke tempat kerja" sahut Jeje lagi.
Luna langsung menolak dan bilang kalau dia akan naik ojek saja hari ini jadi nggak perlu diantar.
---
Sepanjang perjalanan dia membuka instagram tokonya dan banyak sekali DM masuk untuk memesan cake dan cookies. Kekuatan influencer ternyata memang sangat berpengaruh untuk promosi, baru hari ini saja ibunya menutup pesanan hingga dua minggu kedepan untuk mengerjakan pesanan yang sudah masuk.
Luna harus berterima kasih kepada Rein karena sudah mempromosikan bakery ibunya dengan gratis, Luna sempat berpikir untuk membayar selebgram untuk endorse bakery ibunya tapi karena rata - rata biaya endorse cukup mahal dia mengurungkan niatnya terlebih dahulu sampai bakery ibunya menjadi sedikit stabil dan terkenal.
Dengan promosi gratis dari Rein ini setidaknya bakery ibunya bisa lebih dikenal dan tentunya akan makin banyak pesanan yang masuk, membayangkannya saja Luna sudah sangat senang.
Dia dan Jeje bercita - cita mengembangkan bakery ibunya lebih besar lagi, Luna akan mengurus perihal operasional dan keuangan sementara Jeje akan bertanggung jawab dengan kualitas dan resep. Membuka bakery adalah cita - cita ibu mereka sejak mereka masih kecil tapi tidak pernah terlaksana karena ibu mereka terlalu sibuk mengurus Luna, Jeje dan semua hal dirumah.
Salah satu alasan Luna menabung juga agar dia bisa merenovasi ruko yang dibeli oleh ayahnya beberapa tahun lalu yang sudah rusak untuk dibuka menjadi bakery sesuai keinginan ibunya.
---
Sayup - sayup dari luar Luna bisa mendengar Rein dan Eric sedang berdebat tentang sesuatu, secara jelas dia tidak tahu apa yang mereka perdebatkan karena saat dia masuk mereka berdua berhenti berdebat dan Rein langsung pergi ke kamarnya.
"Kalian berdua kenapa kayaknya tadi abis berantem?" tanya Luna penasaran.
Eric menggeleng pelan, "Nggak kok, biasalah kan Rein masih belum bisa terima saya sebagai bodyguardnya karena berpikir saya mata - mata ibunya" sahutnya.
Luna mencibir, "Kenapa dia kekanakan sekali" cibirnya.
Rein menatap foto Soraya di mejanya, "Eric kakak dari Soraya? Kenapa gue nggak pernah tahu kalau Soraya punya kakak?" tanya Rein dengan wajah gusar.
Kenyataan yang baru dia ketahui sekarang ini cukup bikin Rein gusar, apalagi soal perkataan Eric yang bilang jika Soraya nggak bunuh diri tapi dibunuh. Selama ini dia selalu dihantui rasa bersalah karena mengira Soraya meninggal bunuh diri karena dirinya yang tidak bisa melindungi dia dari komentar jahat, tapi kalau benar Soraya dibunuh artinya dia lebih gagal lagi karena tidak bisa melindungi kekasihnya sendiri.