
[Gila Vania licik banget]
[Sekali jalaaang tetep jalaang]
[Parah sih, sampe rekayasa begitu. Ketawain aja guys]
[Masih mantau sambil ngemil keripik]
Berbagai komentar yang berbalik menghujat Vania mulai bermunculan di akun gossip, portal media dan juga sosial media miliknya. Vania masih juga belum menyadari hal itu, sebagai banci sosial media yang selalu update apapun yang dia lakukan, dia terlalu lelah bermain - main dalam pesta semalam.
Vania baru menyadari hal itu setelah siang, saat dia terbangun. "Sialan apa - apaan ini?" Vania terkejut saat banyak sekali mention dan komentar yang berbalik menyerangnya, padahal baru beberapa hari yang lalu dia sudah berhasil meraih simpati publik. Kenapa sekarang semua berbalik menyerangnya? Apa yang sudah terjadi? Vania tidak bisa membiarkan semua orang mengetahui kebohongannya selama ini.
Dia lalu mulai mencari tahu dan seketika wajahnya menjadi pucat pasi, video percakapan dirinya dengan Natasya tersebar luas, bahkan apa yang mereka bicarakan juga terekam dengan jelas. Rekaman cctv saat dia berada di private party sepulang dia dari apartemen Rein juga ternyata sudah bocor.
"Sial,sial,sial.... Kenapa semua jadi kayak gini? Darimana mereka bisa tahu soal ini semua? Jangan - jangan Natasya yang udah bocorin semuanya. Gue harus ngomong sama dia" tanpa menunggu lama, dia menelpon Natasya.
"Natasya, kenapa rekaman cctv party lo bisa bocor?"
"Kenapa lo nanya sama gue, mana gue tahu. Bukan gue yang ngurus cctv, lagipula rumah itu cuma rumah sewaan, gara - gara video lo gue jadi ikut dihujat, anjing!!!"
"Harusnya lo tahu dong kok bisa rekaman itu bocor, dan rekaman itu? Siapa yang udah nyebarin?" Teriak Vania dia benar - benar kesal karena tidak bisa mendapatkan informasi yang dia inginkan.
Vania menatap frustasi semua komentar yang semakin menyudutkannya, "Brengsek!!!!! pekiknya lalu membanting ponselnya hingga pecah.
****
Rein full senyum, melihat situasi sudah berbalik mendukungnya. "Ternyata ada gunanya juga temen lo" ujar Rein pada Luna yang sepertinya sedang melamun. Luna yang biasanya terlihat bersemangat belakangan ini terlihat pendiam bahkan lebih murung dari biasanya, masalah di keluarganya rupanya sangat berdampak bagi kehidupan sosialnya. Terlebih sejak hari itu, ayahnya juga sudah meninggalkan rumah mereka.
"Aichi, temen lo hebat juga. Bilangin gue berterima kasih sama dia karena udah bantuin gue. Gue juga makasih sama lo udah bawa dia buat bantuin gue" ujar Rein yang terus tersenyum, tapi tidak digubris oleh Luna yang sedang melamun.
"Aichi, lo ngelamun?" Rein mendekat dan duduk disamping Luna. Sambil memperbaiki posisi duduknya, Luna menoleh.
"Nggak, Gue nggak ngelamun" kilah Luna sambil menyandarkan punggungnya ke sofa dan berpura - pura memperhatikan jadwal Rein yang sempat dibatalkan beberapa waktu lalu.
"Pakai ngeles lagi, jelas - jelas lo ngelamun, muka lo udah kayak ayam ompong tau nggak" sergah Rein membuat Luna langsung mengangkat punggungnya tidak jadi bersandar. Dia menatap wajah Rein sebal.
"Tadi lo ngomong apaan? Makasih? Ternyata mulut lo bisa ngomong makasih juga" sindir Luna.
"Gue udah sampein ucapan makasih lo ke Dindra, tenang aja" lanjutnya lagi.
"Lagi ada masalah lo? Kayak masalah lo berat aja" cibir Rein. Luna mendelik mendengar ucapan Rein. Memangnya kenapa kalau masalah Luna terasa berat baginya? Apa Rein tidak tahu kalau setiap orang memiliki masalahnya sendiri - sendiri? Kenapa jadi dia seperti mau adu nasib antara masalahnya dengan masalah Luna?.
"Hari ini gue ijin pulang lebih cepet, ada yang harus gue urusin dirumah" ucap Luna kemudian.
"Urusan apaan? Penting aja atau penting banget?" tanya Rein sambil memicingkan matanya penasaran.
"Bukan urusan lo, itu urusan pribadi gue. Gue bakalan pulang setelah jadwal terakhir lo hari ini, lo bisa kan pulang bareng sama Eric"
Rein mengangguk, "Oke deh, lagipula gue juga bukan anak kecil yang harus ditungguin terus" Jelas Rein membuat Luna memutar kepalanya malas sebelum dia benar - benar beranjak pergi bersama dengan Eric ke tempat parkir.
***
Matahari bersinar cukup terik siang ini, semua orang terlihat sangat sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing begitu juga dengan Rein yang sekarang sedang menjalani syuting untuk film terbarunya, jadwal syuting yang seharusnya dilakukan seminggu yang lalu terpaksa harus tertunda gara - gara ulah Vania dan sekarang Rein bisa bernafas sedikit lega karena Vania seolah menghilang, dia mengunci sosial medianya dan tidak muncul dimanapun. Apalagi saat netizen tiba - tiba membongkar status ekonomi keluarganya yang sekarang sudah bangkrut sejak beberapa tahun yang lalu dan terlibat dalam kasus penipuan. Rumor yang mengatakan bahwa Vania adalah anak dari seorang konglomerat rupanya hanyalah kebohongan belaka, Vania memang berasal dari keluarga kaya raya, tapi tidak cukup kaya untuk disebut sebagai seorang konglomerat dan sejak tiga tahun yang lalu perusahaan orang tuanya mengalami penurunan drastis akibat pandemi hingga terpaksa merumahkan sebagian karyawannya.
Puncaknya saat Juwana, daddy dari Vania mencari investor dia malah terlibat dalam kasus penipuan dan membuatnya dipenjara selama beberapa tahun.
"Meskipun lo dirias begini lo tetep keliatan ganteng loh Rein" puji Alena seorang makeup artis yang sekarang bertugas untuk merias wajah Rein untuk adegan berikutnya, Alena memoleskan darah buatan untuk mempertegas riasannya sebagai korban kecelakaan dalam adegan nanti.
"Kak Alen bisa aja, gue udah ganteng dari orok" tiba - tiba terdengar suara Luna yang terbatuk - batuk. Rein sampai menoleh gara - gara hal itu.
"Aichi, lo sakit? Kenapa sampai batuk begitu" tanya Rein.
"Gue nggak papa, tenggorokan gue cuma gatel" kilah Luna begitu saja.
"Mau permen pelega tenggorokan? Kebetulan gue punya" tawar Alena. Luna mengangguk dan menerima permen pelega tenggorokan yang diberikan oleh Alena padanya lalu memakannya.
"Makasih kak" ucap Luna seraya tersenyum. "Kak Alen tumben sendirian? Suami kakak nggak ikut project ini juga?" tanya Luna.
"Laki gue lagi jagain anak gue dirumah, dia lagi demam. Harusnya sih dia di lokasi lain, tapi terpaksa ijin. Jadinya gue yang kerja dia yang dirumah hari ini" Alena tersenyum.
"Kak Alen? Boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Luna dengan sedikit canggung.
Alena yang masih sibuk merias Rein mengangguk, "Tanya aja. Mau tanya apa?"
"Apa yang bikin kak Alen memutuskan untuk menikah? Apa kak Alen nggak takut... misalkan tiba - tiba suami kak Alen....." Luna menghentikan ucapannya, tenggorokannya seperti tercekat untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Selingkuh? Nggak bertanggung jawab? KDRT?" sela Alena seraya menatap Luna yang terlihat menunduk setelah menganggukkan kepalanya.
Alen kembali tersenyum, "Gini ya Lun, saat gue mutusin nikah sama laki gue, artinya gue harus udah siap dengan semua resiko dan masalah yang mungkin bakalan timbul. Gue nggak bisa jagain laki gue 24 jam karena kita juga sama - sama kerja, gue cuma serahin aja sama Tuhan misalkan laki gue selingkuh, KDRT atau nggak bertanggung jawab katakanlah begitu, gue bisa dikasih kekuatan buat menerima itu dan gak jadi gila. Gue percaya sama laki gue, begitu juga dia. Kita cuma harus saling terbuka satu sama lain" jelas Alena panjang lebar.
Rein yang sedari tadi berpura - pura mendengarkan musik ternyata mendengarkan percakapan mereka berdua, melirik ke arah Luna. Kenapa dia menanyakan hal seperti itu? Apa Luna memiliki ketakutan dengan pernikahan?