MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Keranjang buah



Luna sedang mengobrol bersama Jeje yang terus menghubunginya karena khawatir saat Luna mengatakan akan menginap dirumah Dindra beberapa hari. Feelingnya sebagai seorang adik mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Tapi setelah dia mendengar penjelasan Luna, dia akhirnya mau menerima penjelasan kakaknya meskipun agak sedikit tidak percaya.


Sendirian di kamar sebesar ini terang membuat Luna bosan, Dindra sejak tadi sudah pergi karena ada kuliah penting. Iseng dia lalu membuka sosial media toktok miliknya, menonton video - video lucu tampaknya bisa mengusir sedikit rasa bosan yang melandanya. Sampai kemudian ada video toktok tentang Rein dan seorang artis pendatang baru. Interaksi keduanya benar - benar menggemaskan, begitulah kira - kira kebanyakan komentar yang dia baca di akun tersebut. Kenapa dia sebal sekali melihat video ini. Dia lalu melemparkan ponselnya asal dan kembali memejamkan matanya, sampai kemudian pintu kamarnya terbuka dan nampak Eric datang diikuti oleh Rein yang mengekor di belakangnya.


"Lo... ngapain?" tanya Luna bingung.


"Schedule gue dibatalin hari ini. Daripada gue bengong gue kesini, mau lihat kapan lo bisa mulai kerja lagi" ucapnya yang meskipun terdengar sadis dan sinis, tapi nada bicaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.


"Lo tenang aja, setelah gue sembuh gue bakal kerja keras buat gantiin waktu selama gue sakit. Biar lo nggak rugi udah hire gue, lagipula kontrak gue sebagai asisten lo berakhir tiga bulan lagi jadi selama tiga bulan kedepan gue nggak bakal ngecewain lo udah hire gue jadi asisten"


"Emang lo mau berhenti setelah ini?" tanya Rein


"Iya, gue mau fokus sama kuliah gue yang tertunda. Gaji dari lo selama enam bulan lebih dari cukup buat bayar UKT gue sampai selesai dan biaya masuk universitas adik gue" kata Luna lagi yang terlihat berat harus melepaskan pekerjaannya ini.


Mendadak Rein tersenyum kecut, sejujurnya dia tidak mau jika Luna berhenti sebagai asistennya tapi menilik dari ucapan Luna, sepertinya dia serius untuk berhenti tiga bulan lagi.


"Kenapa tampang lo sedih gitu Rein? Nggak rela kalau Luna tiba - tiba berhenti?" ledek Eric sambil terkekeh. Rein serta merta melotot mendengar ucapan Eric.


Tiba - tiba pintu kembali terbuka, semua orang menoleh saat seorang pemuda tanggung datang membawa sekeranjang buah - buahan. "Kak Zayn?" seru Luna.


Zayn tersenyum dan meletakkan keranjang buah ke atas nakas lalu segera memeluk Luna erat. Berbeda dengan Rein yang langsung mendelik melihat saingannya datang entah darimana tiba - tiba memeluk Luna seperti itu.


"Ekhem" Rein sengaja berdehem untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri dan ada dirinya juga diruangan itu.


"Kenapa lo, sakit tenggorokan?" tanya Zayn sinis.


"Luna, kok kamu nggak ngabarin aku dirawat. Aku tahu dari kak Alena loh" ucap Zayn seolah - olah bisa memahami tatapan bingung Luna melihatnya dirumah sakit.


"Kamu sakit apa?"


"Cuma demam biasa aja kok kak, besok juga boleh pulang"


"Sorry, tapi lo ngapain ya kesini?" tanya Rein dengan muka bersungut - sungut.


"Gue kesini mau mancing keributan sama lo, ya gue mau jenguk Luna lah. Orang kerumah sakit ngapain kalau nggak berobat dan jenguk orang sakit" balas Zayn.


Dijawab begitu Rein langsung keki, dan menunjukkan wajah kesalnya.


"Cih, dasar" batin Luna geli melihat ekspresi Rein.


Rein merasa jika sikap Zayn yang mendekati Luna seolah tampak dibuat - buat. Terlebih dari gerak tubuh Zayn terlihat sekali kalau lelaki itu tertarik dengan Luna.


"Lun, lo tuh butuh pacar, jadi kalau lo lagi sakit gini ada yang nemenin lo dan lo nggak sendirian. Kalau lo mau, gue bersedia jadi pacar lo" tiba - tiba Zayn menunjukkan wajah serius saat mengucapkan hal tersebut.


"Uhukkk....uhukkkk" Rein yang sedang meneguk minuman dari botol air mineral seketika tersedak mendengar ucapan Zayn.


Eric bahkan sampai menepuk punggung Rein yang terbatuk - batuk sambil berbisik, "Lo cemburu ya?" Rein yang wajahnya memerah karena tersedak langsung mendelik sadis.


Dia sedang tersedak, bisa - bisanya Eric menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. Diam - diam Rein memicingkan telinganya ingin tahu reaksi Luna terhadap perkataan Zayn.


"Maaf kak, tapi aku masih belum pengen pacaran dulu, aku mau selesaiin kuliah aku dulu dan cari kerjaan" Zayn tampak kecewa dengan penolakan Luna itu.


"Nggak papa Lun, gue bakal nunggu lo sampai lo jatuh cinta sama gue" kata Zayn dengan yakin.


"Nggak, gue mau disini nemenin Luna. Lagipula hari ini gue lagi longgar juga. Kalau lo mau pulang, pulang aja gih. Tar lo infeksi lagi kelamaan di rumah sakit" ledek Zayn tajam.


Rein mendengus kesal dan langsung mendaratkan bokongnya di sofa, mengisyaratkan kalau dia tidak mau pulang. Begitu juga dengan Zayn yang ikut duduk di sofa. Luna jelas merasa tidak enak melihat kedua orang yang merupakan artis besar, menungguinya.


"Mereka berdua bener - bener kayak anak kecil" ujar Eric yang dibalas anggukan kepala oleh Luna.


"Temen lo kemana Lun" tanya Eric yang mengambil posisi duduk di kursi di samping ranjang Luna.


"Lagi ada kegiatan di kampus bang, kenapa?"


"Nggak papa, cuma penasaran aja kok dia nggak ada disini".


Perdebatan antara Rein dan Zayn terus berlangsung, keduanya seolah ingin melakukan semua hal bagi Luna, saat Luna ingin turun mengambil minum mereka berdua berebut mengambil air minum hingga akhirnya air minum itu malah tumpah ke lantai.


Lalu saat Luna ingin memakan buah pemberian Zayn, Rein serta merta memakan habis buah itu dan mengatakan akan mengganti buah pemberian Zayn dengan buah yang lain yang lebih terjamin kualitasnya.


Luna bahkan sampai heran sendiri dengan perilaku Rein yang diluar nalar itu.


"Mual kan lo" ledek Zayn saat Rein tiba - tiba berlari ke toilet setelah menghabiskan satu keranjang buah sendirian.


"Maruk sih, sekeranjang dimakan semua" tandasnya lagi.


"Rein lo nggak papa?" tanya Luna yang cemas melihat wajah Rein tampak memerah, kecemasan Luna bukan tanpa alasan dia hanya khawatir kalau Rein tiba - tiba ambruk memakan seluruh buah itu sendirian.


Rein mengangkat tangannya mengisyaratkan kalau dia tidak apa - apa, setelah selesai menguasai dirinya, Rein menghampiri Zayn. "Lo... mending pergi deh dari sini. Gue nggak suka lo deket - deket dan ganggu asisten gue" ucap Rein tegas.


Zayn tersenyum remeh melihat Rein yang terbakar api cemburu dengan kehadirannya. "Oke gue pulang dulu ya Luna, besok gue bakal datang lagi jenguk lo. Lo nggak papa kan kalau gue jenguk lagi?" tanya Zayn.


"Nggak papa kok kak, tapi besok aku udah pulang. Jadi kayaknya kakak nggak perlu jenguk aku deh" kata Luna pelan.


"Nggak usah, besok dia pulang. Nggak usah lo jenguk - jenguk segala" seru Rein lagi.


"Gue pulang dulu. Baik - baik lo sama asisten lo, atau gue bakal ambil dia dari lo" kekeh Zayn seraya berlalu pergi.


Setelah Zayn pergi, Luna menatap Rein heran, "Lo kenapa sih hari ini? Aneh banget? Nggak kayak biasanya"


Rein berbalik, mendekatkan wajahnya ke arah Luna yang langsung tersipu, "Gue biasa aja kok, biasanya juga kayak gini. Emang kenapa? Ngomong - ngomong gue nggak suka lo deket sama Zayn"


Luna melongo, kenapa juga Rein melarang dia dekat dengan Zayn. Memangnya dia siapa merasa berhak melarang Luna untuk dekat dengan siapapun.


"Kenapa emangnya, kak Zayn baik orangnya dan gue senang ngobrol sama dia"


"Kalau lo mau ngobrol, lo ngobrol sama gue nggak usah sama Zayn"


"Dih kenapa emangnya?"


"Bisa nggak sih lo nggak usah bantah, pokoknya gue nggak suka!!!" seru Rein sengit


"Ya kenapa nggak sukanya?" tanya Luna tak kalah sengit


"Karena gue suka sama lo!!!!" teriak Rein, yang langsung membuat Luna terdiam, terpaku, terpana bingung harus mengatakan apa.