MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Mencari Kebenaran



Rein tampak masih cukup shock, dia tidak menyangka demi kepopulerannya meningkat dan menutupi skandal yang ada, kedua orang tuanya melakukan hal yang sangat jahat. Membunuh, hanya karena takut perselingkuhan mereka terbongkar, dan anak hasil perselingkuhan itu mengganggu Rein.


Hati Luna terasa tercubit melihat Rein tampak kuyu, tatapan matanya kosong. Bahkan dia tidak merespon saat Luna memanggilnya, sampai - sampai Luna harus meninggikan suaranya supaya Rein merespon.


"Baby, kamu pulang dulu aja ya. Aku mau sendirian hari ini, please jangan ganggu aku dulu. Biarin aku tenangin pikiran aku" pinta Rein, sorot matanya terlihat kosong dan ini sangat mengkhawatirkan bagi Luna.


"Nggak, aku bakalan tetep disini. Emosi kamu nggak stabil. Aku nggak mau terjadi sesuatu atau kamu ngelakuin hal buruk" jelas Luna, siapa yang tahu jika nanti setelah dia pergi Rein akan melakukan tindakan ekstrim? Bunuh diri misalnya, apalagi dia juga menyuruh Eric untuk pergi juga dari apartemen  dan menginap di hotel. Luna tidak mau jika hal itu terjadi.


Rein tersenyum, dia meyakinkan Luna kalau dia tidak akan melakukan hal yang buruk seperti yang dia khawatirkan. Dia hanya ingin pergi menemui ibunya dirumahnya malam ini, "Aku temani!!" kata Luna tiba - tiba sambil beranjak dari sofa.


"Kenapa bengong? Ayo, mau ketemu mama kamu kan. Aku sama bang Eric akan nemenin kamu kesana. Ada yang mau kamu omongin kan sama mama kamu?" tanya Luna seraya menarik tangan Rein.


Rein melongo, melihat kelakuan kekasihnya ini. "Kamu masih mau pacaran sama aku?" pertanyaan Rein ini justru membuat Luna tercengang. Disaat seperti ini bisa - bisanya Rein menanyakan hal yang konyol seperti itu.


"Kalian berdua pacaran? Sejak kapan?" tanya Eric dengan mimik tidak percaya.


"Udah bang, tar aja dibahas. Ayok berangkat" ajak Luna.


"Tu-tunggu..." Rein tak kuasa menolak dan menahan ajakan Luna dan menurutinya.


Mereka bertiga pun pergi bersama - sama menuju rumah ibu dari Rein, sesampainya disana hanya Rein dan Eric yang turun menemui ibunya sementara Luna menunggu didalam mobil. Luna berpikir ini adalah urusan keluarganya dan dia tidak berhak untuk ikut campur selain itu dia juga tidak mau Rein menjadi tidak fokus berbicara dengan ibunya jika ada dirinya di ruangan yang sama. Sementara Eric ikut menemui Angeline karena dia ingin tahu alasan sebenarnya Soraya dibunuh, Eric yakin bahwa tidak mungkin Angeline akan membunuh Soraya, hanya karena takut rahasia itu terbongkar pasti ada alasan lain dibalik pembunuhan Soraya yang didalangi oleh Angeline dan Eric akan mencari tahu soal itu.


***


Rein dan Eric segera masuk ke dalam rumah dan mendapati Angeline sedang bersama dengan Roy entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya yang pasti Roy segera pamit pergi begitu melihat kedatangan Rein dan Eric. "Gue cabut dulu Rein" pamit Roy seraya menepuk bahu Rein begitu dia pergi. Walaupun dirinya penasaran kenapa Roy datang menemui ibunya, tapi Rein memilih tidak bertanya apapun kepada Roy.


Sementara itu Angeline melihat kedatangan Rein langsung tersenyum sumringah, "Kau datang Rein. Apa kau sudah makan, bagaimana kalau kita makan malam dulu" tawar Angeline seraya memeluk Rein tapi segera ditepis oleh Rein.


"Kedatanganku kesini bukan untuk makan malam, ada yang harus kita bicarakan terkait kematian Soraya" ucap Rein tajam. Angeline langsung menghentikan gerakannya dan kembali duduk di sofa berbahan kulit yang tampak mahal di ruang keluarga miliknya. Eric yang mengawasi dari kejauhan berencana tidak akan ikut campur dan hanya mendengarkan saja apa yang akan dibicarakan oleh ibu dan anak ini.


"Apalagi yang mau ku bicarakan, kenapa kau suka sekali membicarakan orang mati. Kalau kau ingin membicarakan hal seperti ini, lebih baik kau pulang saja. Aku tidak ada waktu untuk membicarakan orang mati denganmu" kata Angeline yang tampak gusar dengan perkataan Rein.


"Jawab saja pertanyaanku ini, apa benar kalau mama yang sudah nyuruh papa buat bunuh Angeline?!?!" tanya Rein tanpa basa basi lagi.


"Jawab saja pertanyaanku!!!" teriak Rein dengan nada meninggi.


"Rein, berani kamu bentak mama begini. Apa kau sudah gila?" tanya Angeline.


"Tolong jawab saja pertanyaanku, apa benar papa yang sudah suruh papa buat bunuh Soraya?" pinta Rein yang mulai terdengar putus asa.


Angeline memilih diam tidak menjawab pertanyaan Rein dan pergi ke kamarnya, Rein yang belum puas mengejar ibunya namun sayangnya kamarnya telah dikunci dari dalam. Berkali - kali Rein menggedor kamar itu, tapi Angeline tetap tidak mau membukanya.


"Ma, buka pintunya, atau aku akan memaksa masuk sampai aku dapat jawaban yang jelas" seru Rein. Tapi Angeline tetap tak bergeming.


Tak kehilangan akal, Rein mengambil kunci cadangan dan langsung masuk kedalam kamar ibunya yang sedang menelpon seseorang, Rein seketika merebut ponsel itu dan melihat siapa yang ditelpon oleh ibunya.


Mata Rein membulat mengetahui nama di panggilan telepon itu, Mas Arif. Jadi benar kalau sampai hari ini mereka masih berhubungan, keyakinan Rein bahwa kedua orang tuanya yang sudah berkomplot membunuh Soraya semakin kuat.


"Apa ini ma? Mama masih berhubungan sama papa?" tanya Rein dengan tatapan nanar.


Angeline merebut ponsel itu dari tangan Rein, "Apapun yang mama lakukan itu demi kebaikan kamu dan apa yang kamu tuduhkan itu semua tidak benar. Sekarang keluar dari kamar mama" usir Angeline.


Rein mendengus kesal, "Oke kalau mama masih bersikeras tidak mau mengatakan yang sebenarnya, jalan satu- satunya adalah aku harus mencari papa untuk mencari tahu kebenarannya. Aku tidak mau lagi hidup dengan rasa bersalah seumur hidupku" ujarnya sambil pergi meninggalkan Angeline.


Air mata perlahan mulai menggenangi mata Rein, kemarahan dan kekecewaan dalam hatinya begitu kencang dia rasakan sampai dadanya terasa sangat sesak. Sekarang dia harus mulai mencari ayahnya, untung saja dia mengingat nomor ponsel ayahnya tapi saat Rein mencoba untuk menghubungi, nomor itu sudah tidak aktif.


Sementara di luar rumah, Luna yang bosan menunggu di mobil pun memilih untuk berjalan - jalan sebentar disekitar rumah Rein, dan ketika dia melihat Roy keluar dari rumah Luna langsung saja bersembunyi di balik pagar tanaman seperti pencuri yang ketahuan akan mencuri di rumah Rein.


"Sial, sepertinya Rein mulai curiga. Gue harus gerak cepet, kalau nggak gue bisa ketahuan" ucapnya yang bisa didengar jelas oleh Luna dari balik semak pagar tanaman. Roy pun masuk ke mobilnya dan meninggalkan rumah Rein.


Tak lama, Rein dan Eric yang baru saja keluar dari rumah heran melihat Luna yang juga keluar dari semak - semak, "Ngapain lo disitu Lun?" tanya Eric.


"Oh tadi ada kucing lewat lucu, mau aku kejar ternyata udah hilang" kilah Luna, untuk sementara Luna tidak ingin menceritakan dulu apa yang dia dengar tadi saat Roy keluar karena takut akan jadi salah paham nantinya.


"Gimana Rein, udah bicara sama bu Angeline?" tanya Luna seraya menatap Eric yang memberinya isyarat untuk tidak menanyakan apapun terlebih dahulu