MY PERSONAL ASSISTANT

MY PERSONAL ASSISTANT
Sahabat bagai kepompong



"Bener kamu cuti kuliah kak?" tanya ibunya Luna.


Luna memandang Jeje, "Kamu nggak perlu lihat Jeje. Bukan dia yang ngasih tahu ibu, tapi ayah kamu. Tadi dia ke kampus kamu karena katanya kamu nggak bisa di hubungi dan kata teman kamu, kamu udah 4 bulan cuti kuliah"


"Kamu kenapa diam kak? Bener kamu cuti kuliah?" tanya ayahnya lagi.


Luna terdiam, mau bagaimanapun memang dia sudah bersalah membohongi orang tuanya. Satu - satunya sekarang yang harus dia lakukan hanyalah berkata jujur.


"Iya, aku cuti kuliah selama 1 semester bu. Karena kerjaan aku butuh waktu full time dan gajinya tinggi. Aku jadi bisa nabung buat bayar kuliah sampai selesai dan sekolahnya Jeje juga" jawab Luna terbata, dia tidak berani menatap ibunya yang tampak kecewa.


"Kak, kamu ingat kan apa yang ibu katakan waktu kamu terima kerjaan ini. Nggak boleh ganggu kuliah kamu, tapi kamu malah cuti. Kamu bohongin ayah sama ibu kak. Ibu kecewa sama kamu" seru ibunya.


"Ibu nggak mau tau, kamu harus berhenti dari kerjaan kamu"


"Nggak bisa bu"


"Kenapa nggak bisa, sini biar ayah yang ngomong sama atasan kamu. Ayah kan sudah bilang kalau ayah akan membiayai semuanya dan juga...."


"Dan juga apa yah?" potong Luna cepat.


"Apa? Ayah mau bohong apa lagi. Ayah mau biayain kuliah aku dengan uang apa? Ayah nggak ada kerjaan. Semua pesangon yang harusnya ayah dapatkan ayah kasih semua ke pelakor itu supaya dia bisa tutup mulut. Padahal ayah tahu keluarga kita, Jeje butuh uang untuk masuk universitas" ucap Luna kasar.


"Kak, siapa yang ajarin kamu buat ngomong kasar sama ayah kamu" teriak ibunya yang terkejut dengan ucapan kasar Luna kepada ayah kandungnya.


"Maaf bu, tapi Luna udah nggak bisa lagi percaya sama ayah. Mau ngandalin pemasukan dari toko kue? Nggak cukup bu. Biaya kuliahku satu semester saja sudah berapa? Pemasukan dari bakery berapa. Kemarin kebantu saat Rein endorse gratis. Tapi sekarang menurun lagi kan. Cuma kerjaan ini yang bisa buat aku nabung dan kumpulin uang dan biayain keluarga!!" seru Luna lagi.


Ayahnya serta merta berdiri, "Sudah ayah bilang. Kalau itu tanggung jawab ayah, kamu anak ayah. Sudah sepantasnya ayah tanggung jawab sama kamu dan Jeje untuk membiayai kamu" pekik ayahnya tak kalah keras.


Luna langsung tergelak, sejak perselingkuhan ayahnya terbongkar Luna benar - benar membenci ayahnya, terlebih setelah ayah dan ibunya bercerai Luna tahu jika ayahnya tak lagi memberikan uang hanya saja ibunya selalu menutupi. Luna juga mengetahui kalau pada hari perempuan itu datang dan mengacaukan ketenangan keluarganya, lalu ayahnya keluar dari rumah, dia sudah tinggal bersama dengan perempuan itu kembali bahkan mereka sudah menikah sebelum keputusan cerai dibacakan. Luna mengetahui semuanya, dan dia memilih untuk diam tidak mengatakan apapun kepada ibunya yang dia yakin juga mengetahuinya. Luna  juga tidak ingin Jeje yang sedang bersiap untuk kelulusannya menjadi terganggu karena ayahnya.


"Ayah, jangan buat aku tertawa. Tanggung jawab? Dengan ayah berselingkuh dengan perempuan jalaangg itu saja sudah menunjukkan betapa ayah sangat tidak bertanggung jawab dengan keluarga ayah sendiri. Jangan membuatku muak dengan berbicara seolah - olah ayah adalah orang paling bertanggung jawab didunia!!! Ayah tidak lebih dari bajingan yang tega mengkhianati keluarganya sendiri hanya untuk bertukar lendir dengan jalaang sialan!!!" sergah Luna dengan nada meninggi.


'Plak'


Sebuah tamparan mendarat di pipi Luna, tamparan yang tidak pernah dia dapatkan dari ibunya yang sudah menatapnya dengan wajah memerah karena marah dengan perkataan Luna.


Luna terdiam seribu bahasa, tampak sudut matanya berair menerima tamparan dari ibunya yang membela mantan suaminya daripada dirinya.


"Kak.... Maafin ibu" tangan ibunya gemetar setelah menyadari apa yang baru saja dia lakukan.


Tanpa mengatakan apapun, Luna pergi ke kamarnya dan mengemasi barang - barangnya, lalu keluar. Melihat putrinya membawa koper, ibunya serta merta langsung menahannya, "Mau kemana kamu kak? Ngapain kamu bawa koper?" tanya ibunya.


"Luna mau pergi dari rumah ini, karena aku rasa percuma aku disini toh ibu masih membela mantan suami ibu yang jelas - jelas bersalah kan"


"Kak, jangan pergi. Kakak juga sudah keterlaluan ngomong gitu ke ayah, aku tahu ayah salah. Tapi nggak seharus...."


"Diam kamu dek. Tahu apa kamu soal ayah. Selama ini aku diam karena nggak mau semua kepikiran. Apa kamu tahu, kalau sekarang ayah kita yang tersayang ini tinggal bersama perempuan itu? Dan apa kamu tahu kalau dia sudah menikah dengan perempuan itu bahkan sebelum keputusan cerai dibatalkan" sinis Luna seraya memandang ayahnya yang terkejut karena putri sulungnya mengetahui hal itu.


"Kenapa yah? Apa pe nis ayah sudah gatal untuk tidak bercinta dengan perempuan sialan itu?" cibir Luna.


"Luna, jaga bicaramu. Bagaimanapun aku ini masih ayah kamu" teriak Dirga ayahnya.


Ayah dan ibunya tak mampu berkata apa - apa lagi, tampak kekecewaan yang sangat besar dari raut wajah putri pertamanya itu dan hanya memandang putrinya pergi dari rumah mereka.


Sementara itu ditempat lain, Rein yang tidak bisa menghubungi Luna menjadi frustasi. Dia menelpon Dindra, tapi rupanya Dindra sedang berada di luar kota. Dia juga sudah menghubungi Amanda dan jawaban yang dia terima sama tidak memuaskannya dengan yang diberikan Dindra.


***


Sesampainya di apartemen Amanda, dan melihat sahabatnya membuka pintu, Luna segera memeluk dan menangis. Amanda diam tak mengatakan apapun, membiarkan sahabatnya ini melepaskan semua beban di hatinya dengan menangis. Amanda lalu membawa Luna ke kamarnya  dan menyuruhnya untuk beristirahat.


'Ting tong'


Bel pintu apartemen Amanda berbunyi, segera Amanda membuka pintu dan tampak Dindra sudah ada disana, "Dimana Luna?" tanya Dindra dengan wajah cemas.


"Di kamar gue, lagi nangis. Kayaknya ada masalah deh dirumahnya" jawab Amanda.


Dindra mengangguk, bersama - sama mereka menghampiri Luna.


"Lun... lo udah enakan belum? Kita boleh masuk nggak?" tanya Dindra.


Tak menunggu jawaban dari Luna mereka berdua pun masuk kedalam kamar. "Lo nggak papa Luna?" tanya Amanda.


Luna menegakkan posisi tubuhnya, "Bohong kalau gue bilang nggak papa" lirihnya.


Tiba - tiba ponsel Dindra berbunyi, dari Rein mereka bertiga berpandangan. "Kalau dia nyariin gue, bilang aja kalian berdua nggak tahu gue dimana dan nggak ada hubungin kalian. Please, pikiran gue lagi sumpek banget" pinta Luna, Dindra dan Amanda pun mengangguk.


"Iya kenapa Rein?" tanya Dindra begitu dia mengangkat teleponnya.


"Dind, lo tahu bisa hubungin Luna nggak. Tolong bilang sama dia kalau gue mau ngomong penting sama dia" pinta Rein.


"Aduh, seharian ini gue nggak ada kontekan sama Luna tuh Rein. Kayaknya dia udah tidur deh jam segini, coba aja besok lo hubungin dia lagi. Btw sorry ya Rein, gue lagi diluar kota nih. Gue tutup dulu ya teleponnya" kata Dindra dan langsung menutup ponselnya.


Tak berapa lama gantian ponsel Amanda yang berbunyi, dan atas permintaan Luna. Dia pun mengatakan hal yang sama dengan Dindra dengan mengatakan tidak mengetahui dan tidak berkomunikasi dengan Luna hari ini.


"Thank you girls" senyum Luna lirih.


"Sekarang lo bisa cerita apa yang terjadi sampai lo mutusin minggat dari rumah" kata Amanda.


...****...


...Mohon dukungan untuk othor, klik like, komen, rate dan vote ya....


...Dukungan kalian berarti sekali untuk othor....


...Terima kasih...


...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️...