My Introvert Wife

My Introvert Wife
Bab 68



Setelah selesai dari tempat pemakaman keluarga Isakh, daddy David, mommy Alia, Alex, Elisa, Anggita, Leo beserta asisten Alex dan para bodyguard Elisa serta babysitter Leo, kini sedang dalam perjalanan menuju rumah mendiang granny Alex yang ada di Giethoorn.


Di desa Giethoorn tidak ada jalan beraspal yang bisa dilalui oleh kendaraan mobil, hanya ada pejalan kaki, sepeda dan yang utama adalah kanal untuk jalur perahu, kano dan boat yang menjadi transportasi utama di desa itu.


Sesampainya mereka semua di desa itu, sudah tersedia electric boat yang menanti kedatangan keluarga Isakh. Alex, Elisa, Leo, babysitter Leo, dan Anggita berada dalam satu boat yang sama yang di kendarai langsung oleh asisten Jo, sedangkan kedua orang tua Alex berada di boat yang berbeda dengan para bodyguard Elisa dan bodyguard Alex.


Leo terlihat sangat senang saat boat yang mereka tumpangi mulai melaju menyusuri kanal-kanal yang tertata rapi, dengan lebar yang bervariasi. Leo sangat bersemangat dan dia sangat bahagia, dia lebih banyak bersorak apalagi saat dia melihat bebek yang sedang asik berenang di kanal itu.


“Bebek....Bebek!” ucap Leo dengan semangat dan bertepuk tangan.


“Sayang nanti di rumah eyang juga ada bebek. Nanti Leo bisa main dengan bebek-bebek itu” ucap Alex sambil mengelus kepala sang anak tercinta.


“Benelan dad, Yeeeyyy Leo bisa main sama bebek dong” ucap Leo dengan antusias


“Lex, kenapa granny memilih tinggal disini? Kenapa tidak di Amsterdam saja?” tanya Elisa


“Dulu granny tinggal di Amsterdam, tapi setelah masa tuanya dia ingin suasana yang tenang dan damai, nanti kamu juga akan merasakannya betapa tenang dan damainya desa ini. Disini tidak ada suara bising kendaraan, mungkin satu-satunya suara yang bisa kamu dengar hanya kicauan burung dan bebek saja. Dan ini salah satu tempat aku melarikan diri jika sedang suntuk dengan kehidupan dikota. Granny dan grandpa hidup disini setelah menyerahkan perusahaannya kepada daddy dan mereka tinggal disini hingga menghembuskan nafas terakhirnya di desa ini.” jawab Alex


Elisa mengalihkan perhatiannya ke rumah-rumah pedesaan itu, rata-rata masih memiliki tampilan rumah pertanian dengan atap jerami, dan jendela-jendela besar tanpa tirai, meski ada juga beberapa yang mengenakan tirai juga.


Setiap rumah memiliki parkiran khusus yang bisa di masuki 2 atau 3 perahu, kano atau boat mereka dari berbagai ukuran. Itu merupakan alat transportasi mereka saat ingin keluar dari desa. Dan setiap beberapa meter ada jembatan unik yang menghubungkan daratan satu dengan yang lainnya.


“Saat di puncak musim dingin, kanal-kanal ini akan membeku, berubah menjadi es. Warga disini biasanya memanfaatkannya untuk bermain ski.” Ucap Alex sambil menggenggam tangan sang istri tercinta.


“Wah benarkah? Pasti akan sangat seru sekali” ucap Elisa


“Ya itu menjadi sebuah hiburan musim dingin untuk warga di desa ini.” ucap Alex


“Lalu bagaimana kalau mereka ingin keluar desa? Apa mereka juga punya kereta luncur yang ditarik kuda atau siberian husky seperti di rusia?” tanya Elisa


“Kamu lihat, disana ada jalur untuk sepeda dan pejalan kaki. Ya awalnya memang tidak ada, tapi seiringnya dengan meningkatnya jumlah wisatawan dan komersialisasi, jalur untuk pejalan kaki dan sepeda akhirnya ditambah.” Jawab Alex


“Kalau ada jalur pejalan kaki. Kenapa para wisatawan memilih jalur kanal dong?” tanya Elisa


Alex terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya, menurutnya pertanyaan dari Elisa sangat lucu.


“Sayang jalan kaki memang gratis dan sehat, tapi itu membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam untuk melintasi semua gang darat di desa ini.” jawab Alex dengan wajah yang tersenyum ke arah Elisa


“Ohh I See” ucap Elisa


Tidak lama kemudian boat yang di tumpangi mereka semua berbelok di gang kecil sebuah rumah. Elisa tebak itu adalah parkiran khusus rumah granny nya Alex.


Untuk ukuran dari rumah dan halamannya jauh lebih besar dari rumah di sekitarnya. Kemungkinan empat blok rumah dijadikan satu. Elisa tidak heran mengingat kekuasaan keluarga Isakh yang sangat berkuasa dan tajir melintir.


Alex naik terlebih dahulu, lalu mengambil alih Leo dari gendongan sang adiknya, kemudian tangannya mengulurkan tangannya pada Elisa. Membantu Elisa naik kedaratan, di halaman rumah granny Alex di tanami beraneka macam bunga yang indah.


Meskipun rumah ini sudah tidak ditinggali tapi masih sangat terawat karena daddy David menempatkan asisten rumah tangga di rumah mendiang ibunya untuk merawat rumah peninggalan kedua orang tua daddy David.


Alex menggendong Leo di tangan kanannya, sedangkan satu tangannya lagi merangkul pinggang Elisa. Alex menuntun mereka ke arah pintu masuk rumah grannynya. Daddy david dan mommy Alia juga sudah tiba dan mereka juga menyusul Alex masuk kedalam rumah.


“Selamat datang tuan, nyonya, tuan muda, nona muda” sapa penjaga rumah dengan ramah


“Terimakasih sudah menyambut kedatangan kami, Bi” ucap mommy Alia


“Tentu nyonya, semua pesanan anda sudah saya siapkan di dalam” ucap penjaga rumah


“Oh ya bi pak, perkenalkan ini anak aku namanya Leo dan ini istriku Elisa.” Ucap Alex memperkenalkan Leo dan Elisa kepada penjaga rumah granny nya


“Wah sangat tampan sekali anak anda tuan muda dan istri anda juga sangat cantik. Pasti kalau ada granny dia pasti akan sangat bahagia sekali. Saya ucapkan selamat datang nona Elisa dan den Leo” ucap bibi


“Terimakasih bi” ucap Elisa dan tersenyum ramah.


“Ayo sayang kita masuk kedalam” ucap mommy Alia pada Elisa


Elisa mengikuti mommy Alia, dia melihat desain bangunan dari luar yang terlihat berbeda dengan desain di dalam rumah granny Alex. Desain dalam rumah tersebut terlihat modern dan berkelas, dengan furniture kelas satu layaknya rumah-rumah perkotaan pada umumnya.


“Dad Leo mau main Bebek” ucap Leo dalam gendongan Alex dengan menunjuk beberapa bebek yang terlihat dari jendela besar rumah itu.


“Sus!” panggil Alex


“Ya tuan?” jawab baby sitter Leo


“Tolong temani leo melihat bebek ya, dan ajak para bodyguard juga.” Ucap Alex


“Baik tuan. Ayo Leo sama sus ya lihat bebeknya” ucap babysitter Leo dan mengambil alih leo dari tangan Alex.


Sebelum lebih jauh masuk kedalam rumah mendiang granny Alex, dari arah depan rumah ada wanita yang selalu mengejar-ngejar Alex. Kemudian tanpa permisi dia masuk kedalam rumah dan langsung menyapa Alex.


“Apa kabar Lex? Senang bertemu dengan mu” ucap wanita itu sambil mencium pipi kiri dan kanan Alex.


Elisa sangat kesal melihat kejadian itu, dan lebih kesal lagi saat Alex membiarkan wanita lain mencium pipinya. Bukan hanya Elisa yang kesal tapi semua keluarga Alex juga sangat kesal melihat wanita yang tidak tahu diri itu masuk dan mencium Alex.


“Ck.. kamu tidak tahu diri sekali main masuk ke rumah orang dan berani sekali kamu mencium kakak ku! Dasar wanita tidak tahu malu!” ucap Anggita kesal


Elisa merasa hatinya terasa di sayat dia merasa sakit hati. Elisa langsung berbalik badan dan meninggalkan keluarga Alex dia memilih pergi dan menghampiri anaknya Leo. Alex tidak sadar kalau Elisa sudah pergi.


Dan mommy Alia yang melihat kepergian dari menantunya ada sedikit rasa sedih melihat menantunya pergi. Tapi mommy Alia lebih kesal lagi dengan wanita yang tidak tahu malu yang ada di hadapannya saat ini.


.


.


.


...****************...


Bersambung....