
Dua tahun yang lalu...
Lilian pov
Saat ini aku masih menjadi mahasiswa manajemen difakultasnya
Masih lama lulus, aku pengen cepetan wisuda , dapat pekerjaan. Yah, uangnya kutabung buat jasa kakakku yang merawatku selama ini. Saat ini aku sedang mempersiapkan magangku di salah satu perusahaan Pratama Company. Banyak isu bahwa CEO nya sangat menakutkan, dan semua korban kemarahannya adalah wanita. Ada-ada saja, biasanya kalau horang kaya itu sukanya dideketin banyak perempuan tapi CEO satu ini malah takut sama perempuan. Otaknya gak normal kali ya. Pikirku sambil membenarkan kacamata yang sedikit berantakan karena tadi membereskan dokumen.
Aku menyusuri lorong sambil membawa buku. Aku itu cantik aku akui aja, tapi aku gak suka dilihat orang, karena itulah aku memakai kacamata yang bisa menutupi wajahku. Biarlah kata mereka Culun kek Kutu Buku kek Aku gak peduli, aku hanya pengen sendirian. Rambutku kukucir agar aku bisa leluasa. Dulu sih aku suka cipika cipiki bareng teman gengsku tapi sekarang tidak. Karena aku sadar diri.
Sepulang kampus
Aku pulang kerumah, yah walau hanya ada kakaku dan aku tapi aku tetap enjoy aja karena seperti ini lebih menenangkan dibandingkan setiap harinya diisi teriakan-teriakan dan tangisan. Benar-benar aku ingin melupakannya.
“Non..sudah pulang ya..” Ucap Mbak Tina keluar dapur membawa pisau.
Oh..My..God... Aku lupa ada Mbak Tina yang juga ikut membantu disini dan selalu mengawasiku, bahkan aku tak boleh mengurung kamar sendirian setidaknya pintu kamarku harus terbuka atau aku akan kena omel kakakku sorenya. Kakakku benar-benar overprotektif padaku. Dia benar-benar tak memberikanku waktu untuk sendirian. Pernah aku mencoba pergi diam diam, aku malah pulang bersama polisi karena kakakku yang sangat khawatir padaku. Jadi aku pun menerima dengan lapang dada, walau kesal. Aku hanya tidak diawasi saat dikampus, tapi bagiku kampus terlalu bising.
“Iya, Lili cape tapi besok kayaknya makin cape deh. Besok kan hari pertamaku magang Bi..” Ucapku sambil berselonjor disofa dan menyalakan TV.
“Oh..iya..non mau masakan apa? Kebetulan Bibi baru beli bahan makanan lengkap dari supermarket “ Ucapnya lagi
“Tahu rebus, Tempe Oseng sama sambal kecap yah Bi..” Aku masih berkutat dengan tontonan tvku
“Yah non, itu makanan rakyat jelata. Coba Non sebutin masakan yang lebih gitu Non. Bibi aja makan lauk ikan laut Non. Masa Non malah tempe tahu terus Non nanti makin kurus lagi”
“Yah..bi... aku kan suka itu..nafsu makanku kan itu aja..pokoknya itu saja titik tanpa koma “ Ucap Lili Lantang
“Baiklah Non..”ucap mbak Tina dengan lesu. Majikannya itu memang unik. Setiap hari selalu minta lauk tahu tempe. Kalaupun diganti Majikannya Lili itu akan ngambek dan tidak mau makan. Mbak Tina hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
Mbak Tina pun melanjutkan memasaknya didapur sedangkan aku sudah ketawa sendiri menonton talkshow saat itu.
Selang beberapa lama, makanan sudah tertata. Aku tentu lahap dengan makan hingga 3 porsi. Aku lebih menyukai masakan rumah dibandingkan restoran bintang lima. Mungkin karena dulu Almarhum Ibuku tak pernah menghiraukan aku makan, sehingga aku beli lauk dengan uang jajanku setiap harinya cuma 10 ribu. Ibuku selalu sibuk dan tak sempat memperhatikanku, karena itu sejak kecil aku berinisiatif menggunakan uang jajanku 5 ribu beli tahu tempe, dan 5 ribu untuk kutabung.
Padahal pekerjaan Ayah dan Ibuku dulu bekerja di perusahaan akan tetapi aku pun bingung karena selalu mendapat uang jajan yang terbilang sangat sedikit. Tapi daripada aku kelaparan saat itu lebih baik aku memanfaatkannya. Dari tinggi badanku pun terlihat badanku tidak tinggi karena aku kekurangan gizi, tapi setidaknya aku mendapat badan ideal. Karena aku hampir tidak memakan daging ataupun makanan kalori atau karbohidrat lainnya.
Selesai makan, aku kembali ke kamar untuk belajar. Saat malam hari kakakku pulang membawa cemilan snack yang kusukai yang biasanya menemani malamku untuk membaca buku-buku novel. Setidaknya aku lebih bahagia dibanding saat diasuh Ibuku yang hampir 24 tidak ada untukku. Aku bahkan ragu dia ibuku atau tidak.
Pagi harinya pukul 06.00
Seperti rutinitas biasanya, Ka Lisa lah yang membangunkan tidurku.
"Lili...Bangun Lili..Dasar ulat, udah pagi masih belum bangun.. bla bla bla" gerutu Lisa karena setiap pagi dia harus mengomel, walaupuwalaupun bagiku seperti cerita dongeng sebelum bangun tidur. Karena aku merasa lebih diperhatikan jika aku malas-malasan seperti ini. Kakakku memang yang terbaik.
"Lili, cepatlah bangun. Hari ini hari pertama kamu magang. Apa kamu mau kena marahi Li... " sepertinya Ka Lisa sudah kehabisan kesabaran dan menarik paksa selimutku.
"Ahh.. kaka... lima menit lagi ka" ucapku manja dan menelungkupkan wajahku ke bantal.
"Dasar bayi besar ini...mmm.." terdengar Ka Lisa udah geram dan
Pantat unyu ku ditampar Ka Lisa dengan kuat. Aku hanya bisa meringis bangun dan menggerutu menuju kamar mandi. Sedangkan Ka Lisa hanya cekekikan tertawa melihat aku bangun sambil ngambek sembari menyiapkan bajuku dan keluar kamar menyiapkan sarapan.
Setelah berpakaian kemeja putih dan rok span hitam yang tidak terlalu kentat, tak lupa kuikat rambutku dan memasang kacamataku. Aku hanya memakai polesan sedikit pupur dan lip balm. Aku pun langsung ke luar kamar menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, aku tergesa gesa mengambil roti selai rasa tempe tak lupa aku mencium pipi kanan Ka Lisa dan langsung pergi ke perusahaan menggunakan motor matikku sambil mengunyah roti yang masih betah dimulutku.
Ka Lisa dan Mbak Tina hanya bisa geleng-geleng melihat tingkahku yang terbilang sangat manja dan konyol itu. Mereka pun melanjutkan keseharian mereka.
Hanya butuh 30 menit aku pun sampai ke perusahaan. Untunglah aku tak terlambat hari pertama. Aku mencoba berlalu tanpa menyapa orang kantor. Karena aku benar benar malas
"Selamat pagi Li.. " sapa salah satu pegawai, aku benar-benar tak menghiraukannya. Apalagi pandangannya yang cengar cengir memandangku dari kaki sampai kepala. Aku benar-benar merinding ditatapnya. Aku mempercepat langkahku menuju ruang rapat untuk instruksi lebih lanjut mengenai magang ini.
Rapatnya benar benar membosankan. Dan sialnya dipertengahan rapat perutku terasa mules, dan aku tergesa gesa mencari toilet. Aku bertanya dengan salah satu karyawan akan tetapi sangat terlihat wajahnya yang memandang remeh diriku.
"Lurus saja nanti saat ada palang biru kau belok saja ke kanan dan masuk ke ruang utama" kali ini dia berbicara dengan ramah. Aku pun langsung menuju arahannya akan tetapi tak sengaja aku mendengar mereka tertawa seakan akan ada hal yang lucu terjadi.
Aku tak mempedulikannya dan mencari toilet itu karena aku sudah sangat mules. Saat menemukannya aku pun langsung masuk.
Sekang beberapa aku pun selesai dan keluar dan bilik ingin mencuci tangan.
Tapi mataku benar-benar melotot saat aku melihat seorang lelaki melorotkan celana. Aku hampir berteriak karena terkejut. Laki-laki itu juga terkejut.
"A-apa yang kau lakukan di-disini.. ini toilet perempuan.. " ucapku terbata bata
"Dasar cewek gila matamu buta hah...apa kau tidak melihat.. ini toilet laki laki.. mana ad toilet perempuan seperti ini.. dasar b*go.. " jawab Laki-laki itu kesal dan membenarkan celananya. Aku yakin dia pun pasti malu.
Saat kuperhatikan, memang benar ini toilet laki-laki. Aku benar-benar dirundung malu dan mencoba berlari tapi kesialanku masih belum selesai. Saat hendak berlalu aku malah terpeleset karena panik aku malah menarik celana laki-laki itu.
Dan ..
Blakk,
terdengar keras aku terjatuh
Saat itu aku terlentang dibawah dan dia diatas menindihku. Dan bibirnya bertabrakan dengan bibirku. Dan breng*eknya dia malah betah dibibirku, aku pun mendorong tubuhnya.
Dan aku benar benar mengutuk diriku yang bodoh yang mendorongnya., aku malah tidak sengaja melihat juniornya jika mungil aku masih bisa toleransi., tapi malah junior sudah bangun entah sejak kapan seperti siap menerkamku.
"Dasar laki-laki mesum...." Teriakku sambil menampar pipinya yang juga tak kalah terkejut sepertiku.
Wajahku langsung memerah, dengan secepat kilat aku langsung berteriak dan berlari keluar toilet itu.
Aku menutup wajahku, karena aku benar benar melihat sesuatu yang sangat v*lgar seperti itu. Persetan dengan magang atau nilai kuliah. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin.
Kenapa hariku begitu sial. Kebanyakan novel kan melihat roti sobek dulu aku malah melihat hal yang terlalu mesum seperti itu. Gerutu sepanjang jalan.