
“Liliana... Maukah kau menikah denganku? Aku mau kau jadi ibu dari anak-anakku kelak” Senyum Andri yang begitu mempesona ditambah pemandangan danau dan matahari senja. Gadis manapun pasti memimpikan hal ini.
“Maaf.. aku gak bisa..” Ucap Lili dengan begitu serius. Tak ada ekspresi canda dirautnya.
“Liliana.. a-aku kurang apa? Apa kau tidak menyukaiku selama ini? Lalu untuk apa kita menjalani hubungan setahun ini? Apa karena aku tidak punya banyak uang?” raut Andri sudah benar benar kacau. Karena diamengira jawaban lili pastilah iya. Tapi kenyataan begitu pahit.
“Siapa bilang? Aku begitu menyukaimu bahkan sangat mencintaimu.. aku tak menilai seseorang dari wajah ataupun kekayaannya. Cuman aku memang tak bisa menikahimu Dri..” tuturan lembut dari lili sambil memainkan kakinya, dia masih betah duduk diayunan itu.
“LALU KENAPA??” Teriak Andri. Emosi yang tertahan tak sengaja sudah terlepas.
“Karena aku Liliana gadis yang sangat kau cintai ini bukan gadis perawan..” sebutir air mata jatuh dipelupuk mata Liliana akan tetapi senyumnya masih belum pudar seakan-akan dia masih berusaha menyembunyikan kesedihannya. Sejak menjalani hubungan dengan Andri ini pertama kalinya Andri melihatnya.
“Apa karena sebuah kecelakaan..atau ada yang memperkosamu?? Tak apa Lili, aku akan menerima asal kau menceritakannya padaku dengan jujur. SIAPA YANG MENGAMBILNYA??” raut Andri kali ini benar-benar panik dan dia sudah kesulitan mengontrol emosinya
“Mantanku.. dan aku sendiri yang menyerahkannya dengan sukarela..” Tak ada raut kebohongan dimatanya
Kotak cincin itu sudah dibanting ke tanah menghamburkan cincin yang ada didalamnya. Ingin Andri berteriak akan tetapi dia masih mencoba menahannya.
“Oke..tak apa semua orang pasti melakukan kesalahan.. Berapa kali kalian melakukannya?” Mata Andri kali ini sudah berkilat kemarahan dan kebencian yang mendalam.
Kali ini Lili berdiri dan menghampiri Andri untuk menenangkannya. Akan tetapi saat tangannya hampir menyentuh pipi Andri, Andri menepisnya degan sangat kuat.
“Apa itu penting..?” Kali ini Lili tak bisa menahan raut sedihnya
“Berarti kau memang sering melakukannya..dan jangan bilang mantan-mantanmu tidak hanya satu dan kau meniduri mereka?” Kali ini andri menyunggingkan senyum meremehkan gadis dihadapannya. Apakah dia masih bisa disebut gadis. Baginya kali ini dia memang seperti wanita ****** lainnya.
“Tida—“ Sebelum sempat menyelesaikannya, pipinya ditampar dengan begitu keras.
Plakk..
Dengan senyuman licik Andri berkata “Tak disangka selama ini aku berhubungan dengan wanita *******.. Jijik aku melihatmu” sebelum pergi meninggalkan Lili sendirian. Di hutan yang sangat jauh dari perkotaan.
“Akhirnya.. semuanya selesai..”Ucap lili menengokkan kepalanya keatas, tak selang beberapa lama rintik hujan mulai turun dan semakin deras. Tempat itu menjadi gelap dalam sekejap. Lili berjalan dengan pelan menuju tempat pikniknya, mengambil sesuatu dalam kotak. Tak lain itu adalah pisau buah yang terselip diantara makanan yang sudah disiapkannya dengan penuh cinta. Pisau itu kali ini diarahkan ke pergelangan tangannya.
“Selamat tinggal...”ucapnya kepada dirinya sendiri dengan wajah yang begiitu bahagia seakan-akan bebannya hilang begitu saja.
Diapartemen Andri
Tidak terasa sudah tengah malam sejak pulang meninggalkan Lili, Andri tertodur nyenyak setelah meluapkan emosinya ke semua barang yang ada diapatemennya.
Tring..Tring.. Tring..
Entah berapa kali telpon itu bergetar, karena tak berhenti berdering sejak sejam yang lalu. Dia pun mengangkatnya walaupun matanya masih enggan membukanya.
“Andrii.. kamu dimana? Adikku bersamamu kan?” ucap seseorang dibalik telepon tersebut
“Andri, tolong katakan dimana adikku! Ini sudah tengah malam. Aku sangat menghawatirkannya..”
Seketika Andri langsung tersadar dan terbangun.
“Lili benar-benar belum pulang Ka Lisa??” Andri memastikannya seakan tadi telinganya tuli
“Buat apa aku menelponmu kalau dia sudah pulang dri.. apa dia tidak bersamamu..?” kali ini sudah terdengar tangisan kaka Lili dibalik telepon.
“Aku meninggalkannya didanau..”
“APA !? ANDRI..Ka-kau meninggalkannya ..Sendirian??” Kali ini terdengar teriakan begitu keras.
“Maaf ka..ak—“
TUTTTT...... telepon langsung terputus.
Dengan panik andri langsung beranjak dari kasurnya mengambil baju jaketnya dan kunci mobilnya.
Ting..ting..ting..bunyi bel rumahnya berbunyi.
Andri pun sembari memasang sepatunya membukakan pintu dan dalam sekejap.
BUKKK..
Tonjokan begitu kuat kali ini dari kakak kandungnya sendiri. Brian Anaska Pratama.
Wajahnya yang merah padam tak dapat ditutupi. Kali ini dia benar-benar marah dengan kelakuan adiknya. Terlihat disampingnya Ka Lisa masih terisak menangis. Entah apa yang membuat kakaknya kandungnya begitu tau dengan cepat tapi bukan itu yang harus dipikirkan. Dia harus memikirkan Liliana yang ditinggalnya sendirian. Entah apa yang terjadi padanya, sedangkan diluar masih hujan deras.
“DASAR BRENGSEK, AKU MALU PUNYA ADIK SEPERTIMU..” teriak Brian ingin memukul adiknya itu tapi dihalau Lisa karena saat ini bukan waktunya bertengkar
“Kalau sesuatu terjadi dengan Lili,ndri.. Jangan harap kau bisa menganggapku kakakmu lagi!!” Teriaknya untuk kedua kali tapi tidak sekeras yang pertama.
“Sudah cukup Brian, Andri.. Cepat antarkan kami ke tempat kau meninggalkan adikku” Ka Lisa yang selalu tersenyum ramah kali ini memancarkan kesedihan mendalam. Baju dan rambut begitu kacau menandakan kepanikannya.
Tanpa babibu lagi mereka bertiga menaiki mobil Andri dan langsung melesat menuju Danau.
Butuh waktu dua jam untuk sampai ke danau karena memang tempat itu agak terasingkan. Selama perjalanan Lisa benar-benar dilanda kepanikan memikirkan adiknya yang ditinggal ditempat yang jauh dari perkotaaan dan terasingkan sendirian. Kita garis bawahi.sendirian.
Sekarang pukul 02.30 malam.. Tiga orang itu sekarang panik saat melihat Lili duduk bersandar dipohon dengan badannya penuh dengan darah. Bnyak goresan luka-luka dibadannya. Wajahnya pucat dan tubuhnya terasa sangat dingin. Sedangkan denyut nadinya sangat lemah. Untung saja ada rumah sakit terdekat saat turun dari gunung. Lili langsung diberi perawatan intensif.
"Bagaiamana dok kabar adik saya... " Ucap Lisa saat ini sudah tak karuan, matanya bengkak karena selalu menangis apalagi saat melihat adiknya terkulai tak berdaya. Saat ini dia masih berada didekapan Brian.
Andrian? Dia hanya bisa termenung dengan tatapan kosong. Menyesali perbuatannya yang meninggalkan kekasihnya seorang diri dan ditemukan dengan keadaan mengenaskan.
"Saat ini kondisi pasien sangat kritis, mungkin saja malam ini adalah malam terakhirnya. Karena kondisi pasien sangat lemah. Suatu kejaiban jika dia bisa melewati malam ini. Sekali lagi saya minta maaf sebesar-besarnya. Bahkan saat ini pasien hanya ditompang dengan alat rumah sakit. Semoga keluarga bisa melepaskan dengan ikhlas. Saya pamit dulu" ucap dokter Irawan.
Walaupun jauh dari perkotaan rumah sakit itu memiliki peralatan lengkap dan dokter yang hebat.
Lisa hanya bisa meraung nangis dan langsung menghampiri adiknya.
"Kak Lisa.. ma-maafkan aku.. semua salahku.. seandainya aku tidak meninggalkannya.. " ucap Andrian mencoba menghampiri Lili.
"PERGI KAU ANDRIAN!! Aku tidak sudi melihatmu disini... Aku cuma punya satu adik ketika kedua orangtuaku sudah meninggal.. dan kau membuat adingku sekarang sekarat dan menghadai kematian sendiri.. SEUMUR HIDUP AKU TAK AKAN MEMAAFKANMU ANDRIAN PRATAMA" Kali ini sudah habis kesabaran Lisa, Matanya coklat indahnya memacarkan kebencian yang begitu mendalam. Seakan-akan siap menerkam siapa saja yang menjadi musuhnya.
Lutut Andrian begitu lemas, dengan gontai dia berjalan keluar kamar dan duduk dikursi. Menelungkupkan wajahnya dibalik kedua tangannya. Air mata kali ini benar-benar jatuh dari matanya. Menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Aku tau kau bukanlah orang bodo*h Ndri.. Sekarang katakan alasan kenapa kau meninggalkan Lilian sendirian disana.. " ucap Brian dengan sangat tegas menahan emosinya agar bisa bertindak bijaksana.
"Aku ingin melamarnya kak.. tapi saat aku tau dia bukanlah gadis baik-baik.. aku merasa sangat kecewa dan frustasi.. "Ucap andrian
" Walaupun begitu. Tak seharusnya kau meninggalkannya seperti itu. Terutama Lili dia mengalami gangguan bipolar karena masa kecilnya yang hancur. " Ucap Brian dengan tenang, walau sebenarnya dia juga terkejut.
"Bipolar?? kenapa kaka tidak memberitahuku." Kali ini Andrian menatap Brian dengan seksama seakan meminta kejelasan.
"Aku pun baru tau.. tentang Lili kehilangan keperawanan dan tentang penyakit mentalnya itu karena--" belum sempat terselesaikan, Brian dikejutkan dengan suara Lisa.
"BRIAN.. Panggil dokter.. adikku.. adikku.. " Lisa keluar kamar dengan panik, terlihat denyut Lili benar benar tidak stabil. Lalu terdengar
Tettt....
Tak lama dokter dan perawat pun datang
" Tekanan darahnya menurun.. Jantungnya melemah..Siapkan alatnya.. " ucap dokter kepada perawatnya
"Semua siap dok.. "
"150 joule.. satu.. dua.. "
Badan Lili terlonjak akan tetapi tidak ada reaksi.
Dokter mencoba memacu jantungnya akan tetapi tidak ada perubahan. Masih tetap garis lurus
"200 joule.. "
Dokter tersebut masih belum menyerah seakan mencoba lagi. Denyut nadi Lili mulai kembali dan stabilstabil di alat elektrokardiograf tersebut
Semua orang yang berada bisa bernapas lega seakan akan beberapa saat oksigen bagai menghilang selama waktu tersebut.
"Pasien mulai stabil, tapi kami akan tetap waspada karena ada kemungkinan hal ini masih bisa terjadi.. " ucap dokter itu lalu pergi dari kamar tersebut.
Lisa terkulai lemas dan hampir jatuh pingsan. Untung saja Brian menangkapnya.
"Lisa.. kau bawa istirahat dulu.. biarkan aku menjaga adikmu ya.. akan kucarikan tempat istirahatmu agar kau tidak jauh denganmu.. "
"Makasih Bri.. tapi adikku..." tak bisa dipungkiri Lisa memang sangat lelah, dan matanya pun sangat mengantuk karena begitu banyak kejadian hari ini.
"Biar andrian yang menjaganya dulu.. aku yakin dia tidak akan berbuat hal bodoh lagi.. " tutur lembut Brian mencoba meluluhkan hati Lisa.
"Tidak.. aku tidak mau.. aku ben-"
Cup.
Brian mendaratkan ciumannya
"Kau tau, saat ini mungkin yang paling dibutuhkannya adalah Andrian. Kau fokus istirahat dulu.. Saat Lilian sembuh, akan kuberi dia pelajaran yang setimpal.. " ucapnya sambil melirik Andrian yang serasa kaku ditatap kakaknya dengan tajam.
"Aku masih belum memaafkannya.. tapi.. memang saat ini mungkin lebih membutuhkan Cowo itu.. baiklah.. aku akan istirahat Bri.. " Lisa benar benar enggan untuk menyebut Brian menjadi "cowo itu"
"Terima kasih ka Li--" belum sempat selesai
Plakk
Sebuah tamparan mendarat dipipi Andrian, bahkan bekas tonjokan Brian saja belum hilang.
"Itu untuk kesedihan adikku yang kau tinggalkan sendiri..dan jangan panggil aku kakakmu lagi..aku benar benar muak melihatmu" Lisa langsung pergi meninggalkan Andrian disusul Brian yang mengikutinya dibelakang.
ah.. dua kali dia ditonjok dan ditampar..
akan tetapi terasa tidak setimpal dengan perbuatannya.
Andrian pun duduk disamping ranjang sambil memandangi wajah pucat Lili yang terbaring dengan berbagai alat.
Tidak ada suara cerewet itu lagi.
Tidak ada senyum ceria itu lagi.
Tidak ada yang bisa diejek lagi.
"Lili.. Maafkan aku.. Aku janji akan menerimamu apa adanya.. tolong bangunlah.. ayo kita menikah.. aku tak akan mempermasalahkan masa lalu mu Lili.. Maafkan aku Lili.. " Air mata kembali keluar dipelupuk mata Andrian.
Ruangan itu benar benar sunyi.
Tak ada saksi yang menyaksikan betapa menyesalnya Andrian saat itu.
Seminggu kemudian.
Kondisi Lili sudah mulai membaik dan stabil.
Akan tetapi seminggu itu pula Lili tidak membuka matanya.
Andrian hanya menemani Lili malam pertama saja, setelah itu Lisa seakan akan benar benar membenci Andrian dan melarangnya menjenguk Lili.
Brian bahkan mencoba membujuk Lisa, tetapi tidak berhasil lagi. Andrian hanya bisa mengalah dan saat ini berkutik dengan dokumen dokumen yang ada dihadapannya. Dan disela sela pekerjaannya, sering melamub memikirkan nasib kekasihnya yang masih belum sadar itu.
Dipegangnya kotak cincin yang sempat dihempaskannya saat kejadian itu, dia mengambilnya sehari setelah kejadian. Tapi hanya ada kotaknya., cincinnya hilang entah kemana.
Lalu dipandanginya bingkai foto kebersamaannya dengan Lili.
Terlihat Andrian yang begitu tinggi, dan menampilkan lili yang terlihat cebol rambut hitam lurua sampai sebahu, dengan gaun pendek pink sampai lutut kakinya. Make up natural membuatnya semakin cantik.
Dimana Andrian sedang mengambil kacamatanya dan Lili tidak bisa meraihnya karena tinggi badannya yang tidak sebanding.
" Sungguh, Aku begitu menyesal Li.. " Andrian menelungkupkan wajahnya dibalik kedua tangannya menunggu waktu berjalan sangat lambat.