
PROLOG
Di danau yang begitu biru, merpati putih mengepakkan sayapnya melewati ruang udara yang begitu ringan melayang ke arah barat. Daun rindang yang menjatuhkan daunnya. Kicauan burung bernyanyi dengan indanya. Angin menyejukkan menambah suasana romantis untuk sejoli yang sejak duduk piknik menikmati pemandangan alam dihadapan mereka.
“Li..” ucap lelaki itu yang saat ini sedang merabhkan kepalanya dipangkuan pacarnya.
“Hmm..”
“Li..” ucapnya lagi dengan manja
“Iya ..ada apa..” sembari mengelus kepala lelaki itu dengan lembut
“Aku suka deh..pipi kamu makin chubby..” sambil mencubit pipi gadis itu.
Kalau dilihat-lihat wanita itu tidak terbilang tinggi malah rendah, dengan badan yang bisa dibilang agak montok. Tapi keindahan wadahnya memang tidak dipungkiri memang cantik hanya saja terhalau kacamata besarnya.
Mendengar tuturan lelaki itu, gadis itu langsung menyingkirkan kepala lelaki itu dari pangkuannya.
“Oke, aku kesel.. yang bikin aku gendut siapa? Yang bikin dietku gagal berkali-kali itu siapa? HAHH!!” ucapnya dengan agak kesal. Wajah cemberutnya memperlihatkan pipi gadis itu makin menggembung dan makin chubby.
“Wahh.. siapa ya?” goda lelaki itu dengan santainya, sekarang dia sudah membenarkan dirinya duduk disamping gadisnya itu. Sambil cekekikan menahan tawanya karena terlalu gemas dengan gadis disampingnya. Dan dicuekin oleh gadisnya itu.
“Oh..ya.. aku beli eskrim jumbo dulu ya dimimarket sana..”ucapnya langsung beranjak kabur karena dia tau dialah penyebab gadisnya makin berisi atau makin montok. Karena apapun yang dibelinya dia yakin perempuannya selalu memakannya terutama ice cream. Hubungan mereka yang sudah terjalin setahun ini tidak dipungkiri berisi kejahilannya untuk menggagalkan diet gadisnya itu. Toh, dia seorang CEO beli satu minimarket bahkan tidak sebanding dengan uang sakunya yang begitu melimpah. Tapi dia memilih merasiakannya saat ini.
Gadis itu beranjak dari tempat duduk menuju ayunan yang cukup dekat dari sana. Tanpa pikir dua kali, gadis itu langsung duduk dan berayun-ayun seperti anak kecil, jangan lupa dia juga sambil bersenandung entah lagu apa yang dinyanyikannya.
“Liliana...” ucap lelaki itu yang saat ini sudah dihadapan gadisnya itu.Liliana.
“Loh..kok cepatnya? Mana ice cream? Jangan bilang kau tidak bawa uang ya? Ya sudah, aku baru gajihan juga, mau beli ice cream apa?” goda Lili
Lili penuh dengan sosok perhatian, dia benar benar tidak membebankan sesuatu kepada kekasihnya itu. Walau dia yakin lelaki itu tak pernah mau menerimanya.
Lelaki itu malah berjongkok dan mengeluarkan kotak kecil disaku celananya. Wajah canda nya tiba tiba berubah serius.
“Liliana... Maukah kau menikah denganku? Aku mau kau jadi ibu dari anak-anakku kelak” Senyum Andri yang begitu mempesona ditambah pemandangan danau dan matahari senja. Gadis manapun pasti memimpikan hal ini.
“Maaf.. aku gak bisa..” Jawab Lili dengan begitu serius. Tak ada ekspresi canda dirautnya.
“Liliana.. a-aku kurang apa? Apa kau tidak menyukaiku selama ini? Lalu untuk apa kita menjalani hubungan setahun ini? Apa karena aku tidak punya banyak uang?” raut Andri sudah benar benar kacau. Karena diamengira jawaban lili pastilah iya. Tapi kenyataan begitu pahit.
“Siapa bilang? Aku begitu menyukaimu bahkan sangat mencintaimu.. aku tak menilai seseorang dari wajah ataupun kekayaannya. Cuman aku memang tak bisa menikahimu Dri..” tuturan lembut dari lili sambil memainkan kakinya, dia masih betah duduk diayunan itu.
“LALU KENAPA??” Teriak Andri. Emosi yang tertahan tak sengaja sudah terlepas.
“Karena aku bukan gadis perawan” sebutir air mata jatuh dipelupuk mata Liliana akan tetapi senyumnya masih belum pudar seakan-akan dia masih berusaha menyembunyikan kesedihannya.