MY DARK

MY DARK
MD#53



"Udah sekarang kita lanjutin acaranya." Ucap Sisil.


"Bastian!" Seru Sisil memanggil Bastian.


"Iya, Queen ku sayang." Balas Bastian merespon panggilan Sisil.


"Sayang sayang, mau lu gw penggal." Ucap Alvaro cemburu pada Bastian.


"Wadidaw ngambek nih anak orang, canda elah, baperan amat lu, gw juga udah punya bini kali." Ucap Bastian.


"Urus dia." Ucap Sisil menunjuk Sindi yang sudah tidak bernyawa.


"Baik, Queen." Balas Bastian sopan, kembali seperti biasa, seperti bawahan pada atasan.


"Ok semuanya, maaf atas ketidak nyamanan, acara akan terus berlanjut, lupakan kejadian hari ini, anggap seolah kalian tidak melihat apapun." Ucap Sisil mengambil alih mic.


"Saya Sisilia Faraqueen pemilik sah sekolah ini, Saya akan menyerahkan kepemilikan pada putri saya Allice Fera Faraqueen dan Gabriella Faraqueen." Ucap Sisil lagi mengumumkan. Para murid yang mendengar bahwa Allice adalah anak dari Sisil dan Alvaro langsung ternganga khususnya trio M.


"Kita salah cari lawan selama ini." Ucap Mela menyadari.


"Iya, untung kita nggak terlalu berlebihan." Imbuh Melly.


"Kalo kita sampe gangguin mereka lagi mungkin kita akan jadi seperti dia." Lanjutnya menunjuk Sindi yang sedang dibereskan oleh Bastian.


"Lu juga Man, jangan ngadi ngadi lagi." Ucap Mela pada Manda.


"Iya gw tahu, gw nggak akan godain Austin lagi, lagian si Austin juga gitu sikapnya ke gw, gw juga nggak mau kali nyawa gw melayang dengan mudahnya." Ucap Manda meng iya kan.


"Guddd." Kompak Mela dan Melly mengacungkan kedua jempolnya pada Manda.


"Hmmm, ada ada aja lu pada." Ucap Manda yang sudah bertobat.


"Mari turun, lanjutkan." Ajak Sisil pada anggota keluarganya lalu menyuruh MC untuk mengambil alih acaranya lagi.


Acara demi acara telah berlangsung, kini Allice dkk juga Austin dkk resmi lulus dengan nilai yang memuaskan, meskipun mereka jarang mengikuti pelajaran, namun kepintaran dan kejeniusan mereka saat menghadapi soal soal ujian sudah tidak bisa diragukan lagi.


Kini semuanya sudah berkumpul dimansion Sisil dan Alvaro termasuk Alvian dkk. Mereka semua berkumpul ingin mendengar penjelasan Sisil dan Oca tentang bagaimana Sisil bisa kembali lagi menapaki tanah dengan kokoh.


"Gimana ceritanya sih, kok bisa lu udah dikubur bisa balik lagi?" tanya Vera.


"Iya Kak, Aku juga penasaran, orang Kakak dimasukin kekubur didepan mataku." Ucap Dinda.


"Lu aja dah yang cerita, gw mau main sama ponakan gw." Ucap Sisil mengambil anak Karin dan Serena.


"Hati hati, Kak." Ucap Serena.


"Heh nggak usah lu kasih tahu gw juga tahu, mau nih gw potekin pala anak lu." Kesal Sisil.


"Eh jangan, yakali Kak, bikinnya susah itu." Ucap Karin.


"Susah susah gitu lu juga suka." Ucap Sisil.


Sena dkk yang mendengar ucapan Sisil barusan langsung terngaga malu.


"Hahah muka lu pada, seru luh." Ejek Gabriel.


"Hust nggak boleh gitu." Ucap Raiden mengingatkan Gabriel.


"Ish iya iya."


"Hahah makan tuh, emang enak dimarahin calon suami." Cibir Sena.


"Enak aja lu, Kak beresin." Ucap Gabriel mengkode Karin.


"Ok, malam ini kmu tidur diluar." Ucap Karin menuruti Gabriel.


"Ish kok gitu sih, dasar ponakan kek dakjal." Kesal Sena mempelototi Gabriel.


"Jadi cerita nggak nih?" Tanya Oca yang sudah menunggu.


"Cepetan, ditungguin juga lu dari tadi." Ucap Nindi.


"Iye Baedah sabar."


"Gini ya, waktu itu setelah pemakaman kan pada balik semua tuh, nah si Alvaro langsung kemarkas sama Gabriel, si Allice dibawa sama Momy langsung kemansion." Ucap Oca.


"Terus?" Ucap Dinda yang penasaran.


"Bentar jangan lu potong ntar kaga bisa disambung." Ucap Oca.


"Terus gw kayak nggak yakin gitu kalo Sisil udah end, terus gw yakinin diri gw tuh, langsung aja gw bongkar makamnya, dan waktu gw cek nadinya ternyata denyut bor, tapi nggak terlalu kerasa gitu sih, terus gw hubungin si Vian buat bawa Sisil ke negara Z buat dapet perawatan." Tutur Oca menjelaskan panjang lebar.


(Vian dan Alvian berbeda ya, Vian itu salah satu tangan kanan Sisil di BDG, juga sahabat karib dari Bastian dan Kenan. Kalo Alvian itu Papanya Austin).


"Terus waktu gw bangun, gw udah ada disatu ruangan, banyak banget dokter disitu, gw tanya dah sana Vian penjelasannya." Ucap Sisil menimpali.


"Waktu kamu udah sembuh kok nggak langsung balik sih?" tanya Alvaro.


"Mama balik kali Pa, kalian aja yang ngga nyadar." Ucap Allice.


"Kok kamu tahu?" tanya Alvaro. "Kok nggak pernah cerita sama Papa?" Tanyanya lagi.


"Papa nggak tanya." Jawab Allice.


"Lice, atau jangan jangan orang yang selalu ngikutin kita tiap hari pakai jubah itu?" tanya Adel menduga.


"Iya." Ucap Allice meng iya kan.


"Wah berarti selama ini kita deket, tapi nggak nyadar aja." Ucap Dinda.


"Lu aja pada yang nggak nyadar, orang gw juga udah kasih petunjuk waktu tunangan anak lu." Ucap Sisil pada Dinda.


"Lah berarti kalung itu beneran kamu yang tinggalin?" Tanya Ale memastikan.


"Kakak ku sayang kamu pintar sekali." Puji Sisil.


"Gw." Sombong Ale.


"Pinteran gw." Ucap Sisil lagi.


"Momy nggak yangka banget." Ucap Momy Unna. "Pasti kamu selama ini banyak ngalamin kesulitan." Ucapnya lagi.


"Nggak lah Mom, Sisil nggak ngerasa gitu kok, Momy tenang aja, habis ini kita adain pesta." Ucap Sisil.


"Pesta? pesta apa?" tanya Gabriel.


"PESTA PERNIKAHAN MU DAN ADIK MU." Seru para orang tua.


Ohok ohok


Gabriel dan Allice batuk secara bersamaan.


"Kenapa nggak mau? nggak mau yaudah nggak usah nikah." Ucap Alvaro.


"Mau, Pa." Seru Gabriel spontan, sedangkan Allice masih diam melihat Austin.


"Kalian berdua kenapa? nggak mau?" tanya Vera menunjuk Austin dan Allice.


"Terserah Austin aja, Tan." Ucap Allice.


"Nah Allice secara nggak langsung nungguin kamu itu, tinggal kamu aja." Ucap Alvian pada Austin sang putra.


"Iya Pa, mau." Ucap Austin mengangguk.


"Nah udah kan? besan kita." Ucap Vera menyenggol Sisil.


"Iyain biar seneng." Balas Sisil.


"Gw yang tunangan duluan, yang nikah duluan siapa." Gumam Ryan masih didengar semuanya.


"Heh Bambank, iri lu? gw juga." Ucap Gilbert ditertawakan semua orang.


"Kalian ini ada ada saja, pernikahan kalian nanti kita adakan setelah Allice dan Gabreil menikah." Ucap bijak Nindi.


"Gilbert, emang kamu mau nikahin siapa?" tanya Ale.


"Anak Om lah, siapa lagi." Jawab Gilbert dengan percaya dirinya, tidak ada ketakutan sama sekali diwajahnya.


"Nggak boleh." Ucap Ale bergurau.


"Lah kok gitu Om, Tan boleh ya." Ucap Gilbert pada Oca.


"Boleh kok, asal Adel bahagia." Ucap Oca.


"Wahhh makasih Tante, emang Tante ini mertua idaman." Puji Gilbert.


"Anak lu bukan sih itu?" tanya Ale pada Aldo.


"Loh ya jelas, orang keberaniannya aja nurunin bapaknya." Ucap Aldo bangga pada Gilbert.


"Terseerah lu."


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕