MY DARK

MY DARK
MD#45



Saat Allice dkk sudah berada didepan ruangan Sena, mereka langsung masuk begitu saja, sedangkan Sena ia terkaget karna ia sedang melakukan panggilan video dengan Karin sang istri.


"Buset, ngapain lu pada kesini?!" Kaget Sena bertanya.


"Kenapa?" tanya Karin dari layar HP.


"Nih, bocil pada gangguin." Ucap Sena mengarahkan Hpnya pada Allice dkk.


"Oh hello Tante tersayang." Sapa Azza langsung mengambil alih HP Sena dan duduk disofa bersama Adel.


Allice yang masih berdiri dengan melipat tangannya didada, menatap Sena dengan tatapan penuh selidik.


"Lu..? apaan, sini duduk." Ucap Sena langsung menarik kursi untuk Allice. Allice langsung duduk berhadapan dengan Sena.


"Kenapa? ada yang mau lu tanyain?" tanya Allice.


"Ngapain bawa bawa gw diacara lulusan?" tanya Allice.


"Eleh cuman itu aja, nggak terima lu? protes aja sono sama bapak lu, orang yang suruh dia." Jawab Sena.


"Kok bisa?" tanya Allice lagi.


"Tau dah gw, gw cuman disuruh itu aja, yaudah gw umumin itu aja." Jawab Sena lagi.


"Lice, masih lama kaga lu?" tanya Adel yang sudah selesai mengobrol dengan Karin.


"Hmmm." Jawab Allice berdehem.


"Kalo masih lama kita keroftop duluan." Ucap Azza.


"Sono." Ucap Allice acuh.


"Nih Hp." Ucap Azza mengembalikan Hp Sena.


"Udah sono pergi lu pada, gangguin orang aja kerjaannya." Usir Sena.


"Budu." Balas Azza.


"By Om tercinca, jangan kangen." Ucap Azza dan Adel bersamaan berjalan pergi.


"Nah elu ngapain masih disini? kaga ikut sepupu somplak elu?"


"Om lu masih hidup." Ucap Allice memberi tahu, karna ia sudah diberitahu oleh Bastian bahwa rumah yang ada ditengah hutan teou tebing adalah persembunyian Aldo dan Sindi.


"Hah!? dimana?" tanya Sena kaget.


"Sembunyi." Jawab Allice.


"Dimana? gw samperin sekarang, gw bales dendam atas kematian kakak (Sisil)." Ucap Sena menggebu gebu menahan marah juga mengingat bagaimana sang kakak meninggal saat hari pernikahannya.


"Urusan gw." Ucap Allice.


"Nggak bisa!" Bantah Sena. "Gw harus ikut." Lanjutnya.


"Lu ikut? mau anak lu jadi korban selanjutnya?" Ucap Allice. Sena yang mendengar langsung terdiam.


"Kaga mau kan? jadi biar gw." Ucap Allice lagi hendak pergi.


"Mau kemana?" tanya Sena.


"Balik, kemarkas." Jawab Allice.


"Mau musnahin kapan?" tanya Sena.


"Malam ini juga." Jawab Allice. "Jangan kasih tahu papa sama kak Iel." Pesan Allice langsung pergi.


"Tapi.." Ucap Sena tak diteruskan karna Allice sudah pergi menjauh.


"Ashhh gimana nih? gw kasih tahu nggak, kalo nggak Allice dalam bahaya, kalo iya gw yang dalam bahaya." Ucap Sena bimbang harus melakukan apa.


"Bodo amat gw kasih tahu ntar malem langsung kemansion, dari pada gw kehilangan ponakan gw yang 11 12 kaya kakak." Ucapnya lagi memutuskan.


"Allice?" tanya Austin pada Azza dan Adel.


"Masih diruang kepsek." Jawab Adel.


"Segitunya lu sama Allice, baru juga ditinggal bentar udah nanyain aja." Ejek Gilbert.


"Yang baru mah emang beda." Imbuh Ryan.


"Apanya yang baru?" tanya Austin.


"Ya elu lah, baru jadian sama Allice." Jawab Gilbert.


"Siapa bilang, orang belum." Balas Austin.


"Lah yang tadi apaan, mesra banget?" tanya Ryan merasa heran.


"Kepo amat." Jawab Austin cuek.


"Eh tadi katanya lu mau cerita tentang yang Allice tadi." Ucap Gilbert pada Adel.


"Iya, tapi nggak tahu boleh apa engga." Ucap Adel. "Takut dia marah." Lanjutnya.


"Tenang, ada Austin, pawangnya." Ucap Ryan.


"Iya nggak papa." Imbuh Gilbert meyakinkan.


Austin hanya mengangguk meng iya kan karna ia juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Allice.


"Yaudah deh iya, gini ya Allice itu punya sisi gelap yang nggak semua orang punya, dia juga nggak tahu itu didapet dari mana, sekalinya keluar nggak ada yang bisa ngehentiin." Ucap Adel menjelaskan.


"Dan sebelum dia ngebunuh orang dia nggak akan berhenti." Imbuh Azza. "Ciri cirinya kalo keluar ya kaya tadi, warna matanya berubah, nggak cuman mata tapi juga tangan, tapi kalau udah balik lagi jadi Allice, si Allice ntar lemes badannya kayak pengen pingsan." Lanjut Azza.


Austin dkk yang mendengar langsung melongo dan tak mengira bahwa hal tersebut benar benar ada.


"Atau jangan jangan waktu pertama kali ketemu dia habis bunuh orang." Ucap Austin dalam hati mengingat pertama kali ia bertemu dengan Allice.


"Magic." Ucap Ryan.


"Magic palak mu, itu masih mending dia udah bisa ngendaliin meski belum sepenuhnya, waktu kecil parah." Ucap Azza.


"Sisi gelapnya kok bisa keluar?" tanya Gilbert diangguki Austin.


"Ya karna ada yang ngatain atau nyangkut pautin mama Sisil." Jawab Adel.


"Tapi tadi Austin bisa nenangin Allice." Ucap Ryan.


"Nah itu juga kita nggak ngerti, mungkin Austin punya tempat khusus dihati Allice." Jawab Azza.


"Gitu, tapi entah karna gw atau karna tadi gw bisikin tentang mamanya." Ucap Austin dalam hati.


"Yaudah yang penting kita udah tahu, dan sekarang ada pawangnya, kita mabar aja sambil nunggu Allice kesini, juga habis ini pulang." Ucap Ryan mengusulkan.


"Yaudah ayok." Jawab semuanya mulai memiringkan HP masing masing.


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕