
Saat Gabriel masuk kedalam ruangan dua orang yang sudah menunggu nya langsung berdiri.
"Nona." Sapanya ramah.
"Ah tidak usah sungkan Tuan Andreas, silahkan duduk." Ucap Gabriel sopan.
"Silahkan duduk, Nona?" ucap Gabriel diakhiri dengan nada bertanya.
"Sintiya." Jawabnya langsung duduk.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama, karna saya tadi ada urusan sebentar diluar." Ucap Gabriel.
"Lama banget." Gumam Sintiya yang dapat didengar oleh Gabriel. Gabriel langsung menyunggingkan senyumnya yang hampir tak terlihat.
"Kalo bukan di kantor, udah gw rusak tuh mulut jadi rujak cingur." Batin Gabriel.
"Langsung pada intinya saja, Tuan." Ucap Gabriel.
"Ah iya, Nona." Ucap Andreas. "Kami dari perusahaan Mandala ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan anda, Nona." Lanjut Andreas langsung menyebutkan keperluannya bertemu dengan Gabriel.
"Oh kerja sama ya." Ucap Gabriel yang seakan akan belum tahu apapun, karna sebenarnya ia sudah tahu bahwa mereka hanya ingin memanfaatkan S'F Company untuk keperluan pribadi mereka, yaitu kekuasaan dan ketenaran.
"Dan ini putri saya juga ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan anda, Nona." Ucap Andreas
"Saya juga ingin mengajukan kerja sama dengan anda Nona, saya dari perusahaan Geovani Corporation." Ucap Sintiya.
"Geovani? apa hubungan anda dengan perusaan Geovani, bukankah anda ini putri keluarga Mandala." Ucap Gabriel yang berpura pura tak mengetahui apapun.
"Ah Nona, keluarga Geovani mempunyai hutang yang besar terhadap perusaan Mandala, saat tak bisa melunasinya maka Geovani Corporation jatuh ketangan kami." Tutur Sintiya menjelaskan dengan wajah dan pembawaan yang meyakinkan.
"Memang pro sekali, pantas saja Raiden ketipu, tapi dianya juga **** sih." Batin Gabriel meruntuki kebodohan Raiden.
"Kalau begitu kerja sama ini akan saya bicarakan dulu bersama asisten pribadi saya dan sekretaris saya." Ucap Gabriel.
"Kalian berdua masuklah." Ucap Gabriel bermaksud memanggil Raiden dan sekretaris nya.
Saat Raiden dan Sekretaris Gabriel masuk, Andreas dan Sintiya dibuat kaget akan kehadiran Raiden. Begitu juga Raiden yang kaget melihat Andreas dan Sintiya, tersirat dalam matanya kebencian yang mendalam untuk keluarga Mandala.
"Wah dia tampan sekali." Ucap Sintiya kagum akan ketampanan Raiden.
"Wah ****** nih orang terpesona, tapi bagus juga, makin mudah." Ucap Gabriel dalam hati melihat Sintiya yang terpesona oleh ketampanan Raiden, lalu ia beralih melihat Raiden yang sedikit terkejut.
Gabriel memberikan kode mata pada Raiden untuk bersikap tenang dan profesional, ia tak ingin rencana yang sudah ia susun menjadi brantakan. Raiden yang melihat kode mata Gabriel langsung mengangguk mengerti.
"Kamu?!" Kompak Andreas dan Sintiya menunjuk Raiden.
"Kalian kenal dengannya?" tanya Gabriel memulai dramanya.
"Ah dia.." Belum Sintiya menyelesaikan ucapannya langsung dipotong oleh Andreas.
"Kami tidak mengenalnya." Ucap Andreas cepat.
"Oh ini yang dimaksud drama." Ucap Raiden dalam hati yang mulai mengerti arah pemikiran Gabriel.
"Baiklah kalau kalian belum mengenal, maka kalian berkenalan lah dulu, karna nanti yang akan menghendel dan merancang kerjasama dengan kalian adalah dia Raiden, asisten pribadi saya." Ucap Gabriel.
"Mana mungkin dia bisa, dia hanya asisten." Ucap Andreas meremehkan Raiden.
"Anda meremehkan saya Tuan, dibandingkan putri anda saya jauh lebih mampu memimpin sebuah perusahaan." Ucap Raiden membalas meremehkan.
"Good, ini nih yang gw suka." Batin Gabriel tersenyum.
"Kau.." Tunjuk Sintiya marah pada Raiden.
"Ah maaf Nona, jika kenyataan yang saya katakan ini terlalu pahit untuk, Anda." Ucap Raiden.
"Sudah jangan berjabat." Ucap Gabriel.
"Berdebat, Nona." Ucap Sekretaris Gabriel.
"Emang tadi saya bilang apa?"
"Berjabat." Jawabnya.
"Oh salah." Ucap Gabriel cengoh.
"Aduh nih orang bisa bisanya ngelawak." Batin Raiden menahan tawanya melihat wajah cengoh Gabriel.
"Jadi bagaimana Tuan, Nona, apa kalian setuju?" Tanya Gabriel.
Sintiya yang sebenarnya sama sekali tidak faham akan urusan kantor dan bisnis langsung melihat sang ayah Andreas.
"Baiklah kami setuju." Ucap Andreas.
"Baiklah kalau begitu, senang berkerja sama dengan Anda, untuk kontrak kerja sama, minggu depan datanglah kemari untuk meng official kan." Ucap Gabriel.
"Yang akan langsung diurus oleh Tuan Raiden." Imbuhnya menekankan.
"Tuan, Anda sanggup?" tanya Gabriel pada Raiden.
"Saya sanggup, Nona bos." Jawab Raiden.
"Kami permisi." Pamit Andreas langsung pergi bersama Sintiya.
Saat Andreas dan Sintiya pergi seketika Gabriel dan Raiden langsung tertawa.
"Hahahah lu lihat tadi mukanya, yaampun gila puas banget gw." Tawa Gabriel terlihat puas.
"Hahah iya, kaget gitu pas lihat gw." Ucap Raiden juga tertawa.
"Nona, Tuan?" Ucap Sekretaris yang tidak mengerti.
"Eh, masih ada toh, ketawa aja asik." Ucap Gabriel.
"He..he.. he.." Tawa Sekretaris yang terdengar bingung.
"Lah malah ketawa, kerja." Ucap Gabriel.
"Lah tadi Nona yang suruh saya ketawa." Protes Sekretaris.
"Ah masa? udah udah hayuk kerja." Ucap Gabriel mulai mengerjakan perkerjaan kantor dibantu oleh Raiden.
Saat Gabriel sedang fokus menangani semua berkas dan membaca surat surat pengajuan kerja sama, Raiden terus menatap Gabriel dengan seksama.
"Ngapain lu liatin gw kayak gitu?" tanya Gabriel melirik Raiden. "Gw tau gw ini cantik, tapi nggak usah lu natap gw kayak gitu, jadi ngeri gw." Imbuh Gabriel.
"Apaan sih lu, lebay." Ucap Raiden. "Tapi bener juga, lu cantik." Imbuh Raiden memuji Gabriel. Gabriel yang dipuji oleh Raiden seketika hatinya penuh dengan bunga bunga yang bermekaran.
"Gw mau tanya boleh?" tanya Raiden.
"Apa, bilang aja, asal lu nggak tanya hati gw buat lu apa enggak, yang jelas...." Ucap Gabriel tak meneruskan ucapannya.
"Yang jelas apa?" tanya Raiden penasaran.
"Kaga, cepet buru mau tanya apa lu?" Jawab Gabriel cepat.
"Oh ini gw mau tanya, kenapa lu baik banget sama gw, mau nolongin gw, nggak ngebiarin nyawa gw hilang sia sia, terus ngasih tempat tinggal ke gw, terus mau ngasih kerjaan yang sebagus ini." Tutur Raiden.
"Karna gw tahu, lu itu nggak salah, dan lu juga dijebak." Ucap Gabriel.
"Jadi lu kasihan sama gw." Ucap Raiden mengambil kesimpulan.
"Gini.." Ucap Gabriel mendekat pada Raiden.
"Gw bantuin lu itu ikhlas, gw nggak mandang lu itu dari keluarga kaya ataupun miskin, tapi gw pertama kali ngelihat lu, gw udah bisa simpulin kalau lu itu orang baik, dan lu juga polos sampai sampai ketipu sama keluarga tunangan lu sendiri." Tutur Gabriel menjelaskan.
Raiden yang mendengar penuturan Gabriel langsung tertegun.
"Makasih lu udah sebaik itu sama gw, andai orang tua gw bisa lihat elu sekarang, pasti mereka minta buat lu jadi menantunya." Ucap Raiden.
"Sa ae lu." Ucap Gabriel sedikit tersenyum.
"Gw juga sama kaya lu kali, tapi bedanya lu tahu siapa orang tua kandung lu sebenernya, sedangkan gw.." Ucap Gabriel. Raiden yang mendengar otomatis langsung penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi pada Gabriel dimasa lampau.
"Cerita aja sama gw, gw tahu lu nggak ada tempat buat cerita ini kesiapa pun." Ucap Raiden yang mengerti.
"Ok, gw itu sebenernya bukan anak kandung keluarga gw yang sekarang, gw dulu mau dijual sama preman, tapi saat dijalan gw mau kabur, tapi ketangkep lagi, saat itu juga gw nggak sengaja ketemu sama Papa Alvaro dan Mama Sisil, mereka berdua nolongin gw dan ngebawa gw kemansion mereka, mereka ngerawat dan ngejaga gw sepenuh hati seperti anaknya sendiri, bahkan adik gw nggak tahu kalau sebenarnya gw bukan kakak kandungnya." Ucap Gabriel bercerita panjang lebar.
Raiden yang mendengar cerita masalalu Gabriel, merasa sedih dan tak bisa berkata kata.
"Bodohnya gw ingin akhirin hidup gw yang berharga, padahal orang lain ada yang masalahnya lebih dari gw." Batin Raiden.
"Adik?"
"Iya gw punya adik, namanya Allice, dia itu adik gw satu satunya, dia punya kelebihan yang nggak semua orang punya, gw nggak bisa ngebayangin gimana ekspresi dia kalau dia tahu gw bukan kakak kandungnya." Ucap Gabriel.
"Lu coba aja, bicara sama adik lu, ceritain semuanya, jangan ada yang ditutupin lagi, pasti dia bakal ngerti kok." Ucap Raiden tersenyum seperti memberikan semangat pada Gabriel.
"Makasih, lu mau dengerin cerita gw, gw lega bisa cerita sama lu." Ucap Gabriel tersenyum.
"Santai aja, kalau lu butuh temen curhat atau temen cerita, lu bisa cerita sama gw." Ucap Raiden.
"Makasih." Ucap Gabriel.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕