
Ryan yang sudah menyusun kata kata, langsung mengutarakan dengan kata kata yang sudah ia susun dalam hatinya.
"Azza, memang kita belum lama mengenal, namun saat pertama kali saat aku memasuki sekolah dengan status anak baru yang berpenampilan nerd, kamu orang pertama yang menolong ku, mulai saat itu aku merasa ingin dan terus berada didekatmu." Tutur Ryan membuat semuanya terharu.
"Jadi dimalam ini, aku ingin melamar mu sebagai calon istri dan calon ibu dari anak anak ku kelak, apa kah kamu menerima?" Ucapnya lagi.
Azza yang mendengar penuturan dan kalimat terkahir yang diucapkan Ryan, langsung dengan otomatis mengangguk, meng iya kan.
"Tanpa paksaan aku menerima mu, sebagai calon suami dan ayah dari anak anak ku kelak." Ucap Azza setuju.
Ryan langsung memasangkan cincin dijari manis Azza begitu juga sebaliknya
"Kyaaa bagus." Celetuk Gabriel setelah merekam semuanya.
"Buset nih anak direkam." Ucap Oca.
"Biarin dong, kaga bisa diulang lagi ini." Ucap Gabreil.
"Kirim yak." Ucap Dinda.
"Asiyap, Tanteku tercinca." Ucap Gabriel.
"Ini indah banget hiasannya, apa lagi itu kena pohon bunga yang dimansion lu, Al." Ucap Aldo pada Alvaro.
"Iya Al, dari sini aja kelihatan." Imbuh Disa. Karna taman belakang milik Devano dan Alvaro hanya dipisahkan oleh sekat tembok yang tidak begitu tinggi.
"Iya juga baru ngeh gw." Ucap Devano yang baru menyadarinya.
"Bisa aja lu pada, itu juga bunga nya lagi mekar mekarnya jadi bagus." Ucap Alvaro.
Sementara Adel yang sedari tadi menatap dua pohon bunga tersebut, melihat kejanggalan, ia terus menatapnya tanpa berkedip, saat ia menemukannya ia langsung memberitahu Allice yang berdiri disampingnya.
"Lice, itu lihat." Ucap Adel menunjuk pohon bunga tersebut.
Allice langsung melihat arah yang ditunjuk oleh Adel, bukan hanya Allice melainkan juga yang lain.
Allice melihatnya dengan teliti.
"Sosok itu, itu sosok yang didanau." Ucap Austin dalam hati yang dapat didengar jelas oleh Allice.
"Ada apa?" tanya Disa.
Namun sama sekali tidak dijawab oleh Allice maupun Adel, Allice malah langsung lari dan melompati tembok pembatas hingga masuk kedalam taman belakang mansionnya sendiri.
Semua yang melihat tingakah Allice langsung bingung dan tercengang, mereka tak tahu apa yang dilihat oleh Allice.
"Adel ada apa? kenapa dengan Allice?" tanya Vera.
"Ikutin aja, Tan." Ucap Adel langsung keluar menyusul Allice menuju taman belakang mansion Alvaro diikuti semuanya.
"Aduhhhh." Batin Oca yang menyusul paling belakang.
Ditaman belakang mansion, Allice yang sudah sedari tadi disana hanya duduk dibawah pohon bunga dengan menggenggam sebuah kalung ditangannya. Sosok tersebut dengan cepat menghilang saat Allice mendatanginya.
"Allice, ada apa, Nak?" tanya Momy Unna sang nenek pada cucunya ini.
Allice yang duduk langsung berdiri dengan wajah datar dan dingin khasnya. Ia langsung menaikkan tangganya, membuka telapak tangannya menunjukkan kalung yang ia pegang.
Ale, Oca dan Alvaro yang melihat kalung ditangan Allice langsung terkaget dan terheran.
"Ka..kalung itu." Kaget Oca.
"Kenapa bisa disini?" tanya Alvaro.
"Kalian tahu kalung ini?" tanya Momy Unna.
"Itu kalung hadiah pemberianku untuk Sisil saat dia menikah dengan Alvaro Mom, saat malam resepsi sebelum semuanya bubar Ale ngasih itu ke Sisil, dan itu juga yang pilihin Oca." Jelas Ale, diangguki Oca.
Sekarang pikiran Allice sangat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi selama ini, setiap hari ia selalu diikuti oleh sosok yang ia tak tahu itu siapa, baru saja juga ia tahu Gabriel bukanlah Kakak kandungnya, dan sekarang ia memiliki harapan dihati kecilnya seakan akan Mamanya masih hidup.
Allice langsung mendekat kearah Austin dengan Austin yang menatap Allice dengan pandangan seakan akan ia tahu yang akan diucapkan Allice padanya.
"Kapan?" tanya Allice.
"Tadi sore, setelah lu balik." Jawab Austin.
"Ngomong apa?"
"Dia ngomong kalo gw harus jagain lu." Jawab Austin yakin.
Semuanya tak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Allice dan Austin.
"Awalnya gw mau tanya sama lu, lu ada masalah atau musuh sama siapa gitu, soalnya dia bilang harus jagain lu, tapi gw juga nggak tahu harus jagain lu dari siapa." Ucap Austin sengaja membatin, agar dirinya dan Allice saja yang mengetahui.
"Kalian bicarain apa?" tanya Disa.
"Nggak kok, Tan." Jawab Austin.
"Berarti masih ada kemungkinan kalau kakak masih hidup." Ucap Karin mengambil kesimpulan.
"Mungkin kah? kita sendiri yang melihat kakak dimakamkan." Ucap Dinda.
"Sudahlah jangan dibicarakan lagi, kita lanjutkan saja acaranya." Ucap Momy Unna yang sebenarnya tidak ingin memikirkan ulang apa yang terjadi sampai ia harus kehilangan putrinya.
"Iya iya, mari kita kembali." Ucap Bibi Rosa yang mengerti.
"Ayo Allice." Ajak Adel.
"Kalian duluan saja." Ucap Allice.
"Baiklah."
"Pa." Panggil Allice sebelum Alvaro kembali kemansion Devano.
"Iya, Sayang." Jawab Alvaro.
"Simpanlah." Ucap Allice memberikan kalung yang ia pegang pada Alvaro.
"Kenapa tidak kamu saja?" tanya Alvaro.
"Papa aja." Ucap Allice membuka telapak tangan Alvaro dan memberikan kalung tersebut.
Semuanya langsung kembali ketaman belakang mansion Devano melanjutkan acara.
Ditaman belakang mansion Alvaro kini tinggal Allice dan Austin, Austin sengaja tidak ikut kembali, karna ia tahu sekarang Allice membutuhkan teman cerita.
Allice langsung duduk kembali tepat dibawah pohon bunga tersebut. Austin yang melihat Allice duduk, ia juga langsung ikut duduk disamping Allice.
"Gw tahu kok, yang lu pikirin sekarang." Ucap Austin.
"Tau apa lu." Ucap Allice.
"Tau aja, sekarang hati lu pasti bimbang, antara percaya dan tidak kalau mama lu udah sepenuhnya meninggal atau malah masih hidup, dan lu juga baru aja nerima kenyataan kalau kak Gabriel bukan kakak kandung lu." Ucap Austin yang langsung ditatap oleh Allice.
"Dukun lu." Ucap Allice.
"Gw bukan dukun, tapi gw tahu." Ucap Austin.
"Kalau lu mau gw bisa bantuin lu kok." Ucap Austin lagi.
"Bantuin apa lu, gw sendiri 4 tahun nyari pembunuh nyokap gw sendiri masih nggak ada hasil." Ucap Allice.
"Empat tahun?" tanya Austin.
"Hmmm." Dehem Allice.
"Emang nyokap lu kenapa dulunya?"
"Ketembak." Jawab Allice.
"Sama persis sama leader BDG." Batin Austin.
"Ya, nyokap gw leader nya." Ucap Allice langsung membuat Austin memelototkan matanya sempurna.
"Ja...jadi lu itu.." Ucap Austin kaget tak seakan tak percaya.
"Ya." Jawab Allice santai. "Dan lu, Black Bat." Imbuh Allice.
"Lu... ish nggak adil ini." Kesal Austin.
"Apanya yang nggak adil?" tanya Allice.
"Iya, lu udah tahu semuanya tentang gw tanpa harus nyari tahu, dan gw nyari tahu dulu, baru tahu." Jawab Austin dengan kesalnya.
"Itu salah lu sendiri." Ucap Allice.
"Tapi gw tetep bakal bantu lu nyari pembunuh nyokap lu." Ucap Austin.
"Thanks." Balas Allice.
"Lu jangan kasih tahu si Gilbert sama Ryan." Ucap Allice.
"Kenapa?" tanya Austin.
"Sepupu gw yang bakal jelasin sendiri kemereka." Jawab Allice.
"Oh kalo itu gw mah ok ok aja." Ucap Austin menurut.
"Yaudah ayok balik, nggak enak sama Azza juga." Ajak Austin hendak keluar memutari mansion.
"Ngapain lu muter?" tanya Allice.
"Lah orang tadi masuk lewat sini, balik juga lewat sini kali." Ucap Austin.
"Lama lu, loncat." Ucap Allice menunjuk tembok yang sebelumnya ia loncati.
"Gila lu?" tanya Austin.
"Takut lu." Ucap Allice meremehkan.
"Gw takut? hahah nggak mungkin, yaudah loncat ayok."
"Ok."
Jadilah mereka berdua meloncati tembok pembatas.
"Buset atraksi lu berdua." Takjub Karin.
"Wah ini sih pantes masukin sirkuit." Celetuk Gabriel mengundang gelak tawa yang lain.
"Nih orang lawak mulu, tapi kenapa gw jadi suka gini." Batin Raiden.
"Noh ada yang suka sama lu." Ucap Allice pada Gabriel.
"Siapa?" tanya Gabriel penasaran.
"Kepo amat lu." Ucap Allice.
"Huh untung, eh tapi dia kok tahu." Batin Raiden bingung. Allice lalu berjalan mendekat dan sengaja melintasi Raiden.
"Tenang Kakak ipar." Bisik Allice pada Raiden pelan saat melintasinya.
"Emmmm." Angguk Raiden panik dan malu.
"Nih orang kalo bikin orang kelimpungan lucu juga" Batin Austin tertawa melihat tingkah Allice.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕