
Malam harinya Austin dkk datang bersama dengan menggunakan satu mobil kemansion Allice, saat mereka datang Azza dan Adel sudah menunggu diteras.
"Nah tuh mereka udah dateng." Ucap Adel menunjuk mobil Austin dkk.
"Iya gw juga liat kali." Balas Adel.
Austin dkk turun dengan tampannya menghampiri Adel dan Azza yang sudah menunggu.
"Udah bilang Allice?" tanya Ryan pada Adel dan Azza.
"Belum, nomornya masih belum aktif." Jawab Azza.
"Yaudah kita masuk aja, palingan dia juga lagi sama kak Iel." Ucap Adel lalu masuk terlebih dahulu.
Saat masuk mereka lamgsung keruang tengah, diruang tengah sudah ada Alvaro, Gabriel dan Raiden yang sedang mengobrol.
"Om, Kak." Sapa Adel.
"Loh kalian, ada apa?" tanya Alvaro.
"Anu Om, kita mau ketemu Allice." Jawab Adel.
"Lah Allice bukannya sama lu pada, dia belum balik kali dari tadi, nih kita juga lagi nunggu." Ucap Gabriel menyahut.
"Loh belum? dimana dong?" tanya Azza.
"Elah Baedah, kalo lu tanya kita, kita tanya siapa." Balas Gabriel cepat. "Bentar gw telpon dulu." Lanjut Gabriel mengetikkan nomor Allice.
"Percuma." Ucap Austin.
"Kenapa?" tanya Raiden.
"Nomornya nggak aktif dari tadi sore." Jawab Austin.
"Lice lu dimana sih." Batin Austin mulai khawatir.
"Nggak biasanya Allice gini." Ucap Gabriel.
"Sebentar, Papa telpon Bastian dulu, siapa tahu dia ada dimarkas." Ucap Alvaro lalu menelpon nomor Bastian. Namun tetap saja nihil nomor Bastian juga tidak aktif.
"Gimana, Pa?" tanya Gabriel.
"Sama." Jawab Alvaro juga mulai gelisah.
"Atau jangan jangan dia lagi nyerang." Ucap Gabriel mulai menduga duga.
"Nggak mungkin Kak, kalau nyerang pasti kita ikut, lagian kita belum ada musuh baru." Balas Azza.
Semuanya mulai gelisah dan khawatir tentang diama sekarang Allice berada. Namun saat itu juga datang Sena bersama Serena, Kelvin dan Karin.
"Kalian kenapa pada panik gitu mukanya?" tanya Karin.
"Gimana nggak panik, Allice belum balik, nggak ada kabar sama sekali, dan HPnya mati." Ucap Gabriel memberi tahu.
"Gw kasih tahu aja sekarang." Batin Sena.
"Bang, gw tahu Allice pergi kemana." Ucap Sena.
"KEMANA?" Kompak semuanya.
"Dia pergi bales dendam sama Aldo dan Sindi." Ucap Sena. "Tadi siang sore disekolah dia bilang kalau dia udah nemuin tempat persembunyian mereka, dan dia mau sergam malam ini juga, dia bilang kalau kita semua nggak boleh ikut, dan gw juga dilarang buat ngasih tahu kalian." Lanjut Sena menjelaskan.
"KOK NGGAK LU KASIH TAHU DARI AWAL SIH!?" Marah Gabriel khawatir dengan nada yang sangat tinggi, membuat Sena merasa bersalah juga takut, didalam yang mendengar kemarahan Gabriel juga bergidik ngeri.
"Tenang dulu, Kak Sena juga diposisi yang nggak tahu bener atau salah." Ucap Raiden menenangkan Gabriel.
"Dimana tempatnya?" tanya Alvaro yang masih berusaha tenang.
"Itu masalahnya Bang, Allice nggak ngasih tahu dimana tempatnya." Ucap Sena.
Alvaro langsung mengusap wajahnya kasar, ia sangat frustrasi menghadapi masalah ini, ia takut kehilangan putri yang ia besarkan sendiri.
"Titik itu." Batin Austin langsung membuka Hpnya melihat titik dimana tempat persembunyian Aldo dan Sindi.
"Gw tahu." Ucap Austin.
"Dimana?" tanya cepat Gabriel.
"Ikutin." Ucap Austin langsung berlari menuju mobilnya.
"Karin, Serena kalian disini, biar kita yang pergi, jagain Baby." Pesan Kelvin langsung mengikuti Austin dengan yang lain, sedangkan Karin dan Serena hanya mengangguk meng iya kan, dengan harap cemas mereka semua kembali dengan selamat.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕