
Benar saja trio M menghampiri Austin dkk.
"Austin.." Ucap Manda dengan nada manja bergelayut dilengan Austin. Austin yang merasa jijik hanya menatapnya nanar dan belum melakukan apapun.
"Ryan, Sayang." Kini gantian Mela yang mendekati Ryan.
"Apaan sih lo, sono pergi!" Usir Ryan yang merasa risih.
"Heh lo sono pergi, gw mau duduk bareng bebep gw." Usir Melly mendorong Adel hingga Adel hampir saja terjatuh.
"Heh lo apaan sih, dateng dateng ngusir orang, nggak ada otaknya!" marah Gilbert memegang pinggang Adel agar ia tak terjatuh.
"Ishh Bebep, kamu kok gitu sih sama aku, aku kan nggak sengaja." Ucap Melly bergelayut dilengan Gilbert
"Nggak sengaja matamu!" Marah Gilbert menghempas tangan Melly dengan kasarnya.
Adel yang melihat Gilbert begitu perhatian dengannya, dalam hati kecilnya ia merasa sangat tersentuh.
"Nggak ada sebelumnya yang kayak gini ke gw, perhatian banget." Batin Adel menatap wajah tampan Gilbert.
"Lu jangan gitu dong, Melly kan suka sama lu." Ucap Mela membela Melly.
"Lu juga apaan, sono pergi lu, nggak tahu malu banget." Usir Ryan.
"Kamu apaan sih Sayang, aku kan kesini buat nemenin kamu, lagian ini cewe ngapain sih deket deket sama kamu, kamu kan milik aku." Ucap Mela begitu percaya diri.
Azza yang mendengar sekali dia mencabik cabik mulut Mela dengan kasarnya. Ryan yang melihat Azza menahan emosinya langsung saja merangkul pundaknya dengan sayang, ia tak perduli lagi dengan keadaan kantin yang sudah riuh.
"Ish kamu kok malah peluk peluk dia siu, dia kan ******." Protes Mela.
"Heh jaga ya mulut lo! situ nggak ngaca apa, bedak udah tebel banget kayak kulit badak cap kaki tiga, lipstik udah tebel kayak orang habis minum darah, alis juga udah kaya jalan pantura, panjang kaga hingga." Marah Azza mencibir semua penampilan Mela dkk.
"Itu juga baju ketat amat bor, udah kaya kupu kupu malam." Imbuh Adel.
"Lu beruda ya!" marah Manda dkk sudah melayangkan tangannya menuju pipi mulus Adel dan Azza, namun dengan cepat Austin dkk menahannya.
"Apa lo, mau nampar kita?" Ucap Azza.
"JANGAN MIMPI!" Kompak Azza, Adel, Ryan dan Gilbert.
"Asal lo tahu, nggak ada satu pun yang bisa nyakitin milik gw." Ucap Ryan menekan setiap katanya dan langsung menghempaskan tangan Mela dengan kuatnya. Begitu dengan Austin dan Gilbert.
"Sayang, kamu kok belain mereka sih." Ucap Manda pada Austin dengan menunjuk Adel dan Azza.
"Siying kimi kik biliin miriki sih." Ejek Azza mengulangi ucapan Manda.
"Sayang sayang pala lo peyang." Imbuh Ryan.
"Pergi lu bertiga." Suruh Austin datar dan dingin.
"Nggak aku nggak mau pergi." Ucap Manda bersikukuh merangkul tangan Austin.
"Jangan sampe gw berbuat kasar sama lu." Ucap Austin dengan nada mengancam dan memperingatkan, dengan mata menatap tajam Manda.
Glek
Manda yang melihat tatapan Austin seketika menjadi takut dan merinding, perlahan ia melepaskan tangan Austin dari genggamannya.
"Jangan pernah gangguin gw." Ucap Austin sebelum pergi dengan menekan setiap katanya. Ia lalu pergi kearah roftop diikuti Ryan, Gilbert, Azza dan Adel.
Namun sebelum pergi Azza dan Adel menjukurkan lidahnya bermaksud mengejek Manda dkk, yang langsung membuat Manda dkk mengumpat kesal.
"Awas aja kalian, tunggu pembalasan gw." Kesal Manda. "Cabut." Ucap Manda langsung pergi meninggalkan area kantin.
Diroftop Austin dkk juga Adel dan Azza duduk dengan tenang dengan memegang HP masing masing.
"Mabar aja yuk." Ajak Azza.
"Boleh tuh." Setuju Adel.
"Lu ikutan nggak, Tin?" tanya Gilbert pada Austin yang terlihat serius.
"Nggak." Jawab Austin.
"Yaudah."
"Ini mana sih datanya, susah banget nyari mereka, pantesan Allice nggak nemu nemu, data dan informasinya aja kayak gini." Batin Austin yang sedang mencari informasi tentang pembunuh Sisil.
"Eh ini, Kelvin dan Karin keponakannya." Batin Austin lagi setelah menemukan sedikit informasi.
"Kacau." Ucap Austin setelah menemukan sedikit petunjuk.
"Apanya yang kacau?" tanya Ryan disela sela mabarnya.
"Nggak." Jawab Austin.
"Gw harus kasih tahu Allice nih nanti malem, kebetulan gw nanti malem mau kemarkas BDG, nepatin ucapan gw ke Allice waktu didanau." Batin Austin lalu memasukkan HP nya kedalam saku.
Sementara di S'F Company.
Allice yang baru datang langsung dipersilahkan masuk oleh satpam yang berjaga didepan.
"Silahkan, Nona." Ucap Satpam sopan membukakan pintu untuk Allice.
"Makasih, Pak." Ucap Allice lalu masuk.
Saat Allice akan masuk kedalam lift khusus atasan, ia langsung dihentikan oleh seorang resepsionis baru.
"Heh baru, penampilan kek ****** gini diterima." Batin Allice.
Semua karyawan yang ada disana hanya melihat dan tak berani mengucapkan sepatah katapun.
"Siapa yang nerima dia?!" tanya Allice.
"Sa...saya, Nona." Ucap manager HRD yang kebetulan ada disana.
"Pecat dia." Ucap Allice memberikan perintah.
"Aduh, aku lupa, itu resepsionis nya baru, udah dikasih tahu belum?" tanya Satpam tadi pada rekannya yang berdiri disebelahnya.
"Aduh belum deh kayaknya." Jawab rekannya.
"Susulin." Kedua satpam langsung masuk.
"Heh siapa lo, berani beraninya mecat gw, gw ini kakaknya yang mimpin perusahaan ya." Ucap resepsionis dengan nada sombong.
"Heh ****** aja belagu." Ucap Allice.
Plak!
Resepsionis langsung menampar pipi mulus Allice dengan keras, Allice langsung mengepalkan tangannya emosi. Dan saat itu juga kedua satpam baru tiba.
"Kita telat." Ucap salah satu satpam.
"Kebetulan ada ada Bapak, tolong ini anak ****** diusir dari sini, Pak." Ucap Resepsionis merendahkan Allice. Satpam langsung diam dan tidak berani berkutik.
PLAK
PLAK
PLAK
Allice langsung menghajar Resepsionis tanpa ampun.
"Jangan pernah lu ngerendahin orang kalo belum tahu posisi lu dimana." Ucap Allice.
"Dan lu bilang, lu Kakaknya pemimpin perusahaan, gw nggak punya kakak ****** kayak lu." Ucap Allice lagi.
"Gw bakal bikin perhitungan sama lu, bocah." Ancam sang Resepsionis memegang pipinya.
"Coba aja." Tantang Allice menampar pipi sang Resepsionis lagi dan lagi.
"Nona Bos." Ucap Sekretaris Gabriel yang langsung masuk tanpa mengetuk ruangan Gabriel terlebih dahulu.
"Ada apa? kenapa panik?" tanya Raiden.
"Anu, Nona, Tuan, nona Allice beraksi lagi." Jawab Sekretaris.
Gabriel langsung keluar dari ruangan menaiki lift menuju lantai pertama menemui Allice diikuti Raiden dan Sekretaris nya.
"Allice..." Panggil Gabriel menghampiri Allice yang sedang menghajar Resepsionis.
"Udah udah berhenti." Suruh Gabriel menarik dan menenangkan Allice.
"Tadi pagi gw bilang apa?!" tanya Allice kesal.
"Iya, maaf gw juga nggak tahu kali." Ucap Gabriel membuat sang Resepsionis membulatkan matanya.
"Udah sono lu masuk aja, biar ini gw yang urus." Ucap Gabriel.
"Dari tadi kek." Kesal Allice.
"Ayo Kakak ipar." Ucap Allice manarik Raiden masuk kedalam lift.
Para karyawan yang mendengar Allice memanggil Raiden dengan sebutan kakak ipar langsung saling pandang tanpa mengucapkan kata kata.
"Nona, tolong jangan pecat saya." Pinta sang Resepsionis memohon.
"Kalian semua kembali bekerja." Suruh Gabriel pada para karyawan.
"Manager HRD." Panggil Gabreil.
"Saya, Nona." Jawabnya menunduk.
"Bereskan sampah tak berguna, dan cari pengganti baru, jangan seperti dia." Ucap Gabriel memberikan perintah dan langsung masuk kedalam lift atasan menuju ruangannya bersama Sekretaris nya.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕