MY DARK

MY DARK
MD#33



Keesokan harinya, Gabriel dan Alvaro sudah ada dimeja makan menunggu Allice turun bergabung dengan mereka.


"Mana sih, lama amat." Gumam Gabriel yang sudah sedikit lama menunggu.


"Kamu samperin gih." Suruh Alvaro.


"Hmmm." Angguk Gabriel lalu pergi kelantai dua menuju kamar Allice.


Tok, tok, tok.


Gabriel mengetuk pintu kamar Allice, namun tidak ada jawaban sama sekali dari Allice. Ia langsung membuka pintunya, saat masuk Gabriel mendapati Allice masih tertidur dengan pulasnya.


"Buset nih anak kaga sekolah apa yak." Ucap Gabriel mendekat, hendak membangunkan Allice.


"Lice, bangun udah pagi nih, kaga sekolah lu, papa udah nunggu dibawah noh." Ucap Gabriel menarik selimut Allice, membangunkannya layaknya anak sendiri.


"Emmmmm" Allice bangun dengan meregangkan otot otot tubuhnya yang kaku.


"Bangun lu." Suruh Gabriel. "Udah siang ini, kaga sekolah lu." Ucap Gabriel seperti emak emak.


"Kayak emak emak lu." Cibir Allice. "Crewetnya minta ampun." Imbuhnya.


"Buruan turun udah ditunggu papa." Suruh Gabriel hendak pergi dari kamar Allice.


"Lu nggak mau ngomong apa gitu?" Ucap Allice sebelum Gabriel pergi.


"Ngomong apa?" tanya balik Gabriel yang belum mengerti.


"Yaudah sono lupain, lagian gw udah tahu." Ucap Allice.


Gabriel langsung berpikir sejenak.


"Tau apa lu?" tanya Gabriel.


"Semuanya." Jawab Allice masih duduk dikasur empuknya.


Gabriel langsung mendekat dan memeluk Allice dengan eratnya.


"Maafin gw, seharusnya gw ngomong langsung sama lu, gw nggak berani ngadepin kekecewaan lu." Ucap Gabriel tulus memeluk Allice sang adik.


"Santai aja, awalnya emang gw marah, tapi ada seseorang yang buat gw jadi nggak marah sama lu." Ucap Gabriel membalas pelukan Gabriel lalu melepaskannya.


"Siapa?" tanya Gabriel.


"Nggak perlu tahu." Jawab Gabriel. "Tapi yang pasti gw tahu kalo lu sayang sama gw, seperti adik kandung sendiri." Ucap Gabriel lagi.


"Iyalah, gw sayang banget sama lu, selain papa, cuman lu yang bisa jadi temen gw, ya meskipun lu datar kek triplek." Ucap Gabriel dengan akhir mencibir.


"Tapi lu tahu dari siap? Papa?"


"Dari lu sendiri." Jawab Allice.


"Kapan?"


"Waktu lu ngomong sama calon kakak ipar dikantor." Jawab Allice.


"Kakak ipar gundulmu."


"Lah emang iya, lu aja yang ga sadar." Ucap Allice santai.


Sementara Alvaro yang sedari tadi sudah berada didepan kamar Allice, yang juga sudah menguping pembicaraan kedua putrinya ini, langsung tersenyum bahagia.


"Untung lah, mereka tidak apa apa." Batin Alvaro pergi meninggalkan kamar Allice, kembali kemeja makan.


"Udah ayok, udah ditunggu papa." Ajak Gabriel.


"Okok." Ucap Allice langsung beranjak, turun bersama Gabriel.


"Lama sekali kalian." Ucap Alvaro.


"Iya Pa, ngebo ini anak." Ucap Gabriel.


"Loh, kamu nggak sekolah, Sayang?" tanya Alvaro yang tidak melihat Allice mengenakan seragam sekolahnya.


"Nggak Pa, males, ntar Allice mau kekantor aja, bantuin Kakak tercinca." Ucap Allice.


"Lebay lu." Cibir Gabriel.


"Biarain, itung itung gw akrab sama calon kakak ipar." Ucap Allice membuat malu Gabriel.


"Cieee ada yang malu nih." Ejek Alvaro pada Gabriel.


"Ish Papa, jangan gitu ish." Malu Gabriel.


"Bulshing, bulshing lu." Ucap Allice.


"Lu sih, bikin orang malu mulu hobi lu." Kesal Gabriel.


"Udah udah dimakan dulu sarapannya." Ucap Alvaro menengahi.


"Ntar gw nyusul aja." Ucap Allice.


"Hmm, terserah lu." Balas Gabriel.


"Awas aja kalo sampe ada yang ngalangin gw lagi dikantor, gw bunuh." Ucap Allice.


"Kali ini kaga ada, pada takut sama lu, orang setiap karyawan baru yang nggak ngebolehin lu masuk dan nggak tahu kalo lu juga pemilik S'F Company lu bantai." Ucap Gabriel.


"Salah sendiri, ngapain ngalangin gw masuk."


Memang setiap kali saat Allice akan masuk keperusahaan, ia selalu dihadang oleh satpam baru bahkan resepsionis baru yang belum tahu ia juga pemilik perusahaan tersebut.


Disisi lain, dikantin sekolah, Aza, Adel, Gilbert, Ryan dan Austin yang sedang mengobrol dengan memakan pesanan masing masing. Mereka merasa bosan karna tidak hadirnya Allice.


"Iya, nggak ada si Allice bosen juga rasanya, tapi kalo ada bikin gregetan, nggak ada kangen." Imbuh Azza menyetujui.


"Gw yang baru kenal Allice, ya nggak gitu deket sih, tapi juga ngerasain kok apa yang kalian rasain." Ucap Gilbert.


"Ngerti aja lu." Ucap Adel.


"Lah iya, apa sih yang nggak gw ngerti." Ucap Gilbert.


"Perasaan gw." Celetuk Adel.


Ohok, ohok, ohok.


Gilbert langsung tersedak es jeruknya.


"Buset nih bulirnya kegedan, nyangkut." Ucap Gilbert langsung meminum es teh Adel.


"Es gw itu." Protes Adel.


"Dikit."


"Gw mencium bau bau..." Ucap Ryan.


"Cintaaaaa." Ucap Azza meneruskan kalimat Ryan.


"Nah sip, Sayang." Ucap Ryan.


"Sayang sayang, masih ada orang ini, lu berdua udah tunangan dunia serasa milik berdua." Cibir Gilbert.


"Iri lu?" Ucap Ryan, merangkul Azza.


"Kaga, ngapain gw iri." Sangkal Gilbert, padahal sebenarnya ia merasa iri.


"Allice kemana?" tanya Austin yang sedari tadi diam menyimak.


Adel dan Azza langsung bepandangan lalu mengangguk.


"Kekantor." Kompak Azza dan Adel.


"Ngapain?" tanya Austin lagi.


"Bantu kak Iel." Jawab Adel.


"Lu suka ya sama Allice?" tanya Ryan.


"Hmmm." Dehem Austin.


"Hmmm, hmmm, hmmm iya atau nggak?" Ucap Gilbert


"Hmmm." Dehem Austin lagi, tak menyebutkan iya atau tidak.


"Gw harap itu iya." Ucap Adel.


"Kenapa?" tanya Gilbert.


"Banyak tanya lu." Cibir Adel.


"Eh gw mau tanya dong, itu yang kemarin datang berempat bawa anak kecil siapa? terus yang dateng bareng kak Gabriel siapa?" tanya Ryan.


"Oh yang berempat itu Om dan Tante kita, namanya Sena, Serena, Kelvin sama Karin, yang Serena itu istrinya Kelvin, terus yang Karin istrinya Sena." Jawab Azza.


"Kalo yang dateng sama kak Iel itu namanya Raiden, dia siapa juga kita belum terlalu tahu, soalnya Allice juga belum cerita apa apa, kata om Alvaro si itu calon mantunya." Ucap Adel meneruskan.


"Om dan Tante? bukannya Papa mu cuman punya saudara dua doang?" tanya Gilbert pada Adel.


"Iya, Sena dkk itu adik angkatnya orang tua kita, dulu kata mama ya, Sena dkk itu yang nolong mama Sisil." Jawab Adel.


"Bisa disimpulin kalau mamanya Allice orang baik dan perhatian, pasti yang bikin Allice jadi dingin dan datar gara gara mamanya ninggalin dia." Ucap Austin dalam hati.


"Tin, lu kenapa?" tanya Ryan yang melihat Austin bengong.


"Kaga."


"Mikirin Allice lu ya." Ucap Ryan menebak.


"Cerewet lu." Kesal Austin yang sedari tadi diberi pertanyaan dan ejekan oleh Ryan.


Tiba tiba kantin langsung dihebohkan oleh kedatangan trio M yang mengarah kemeja Austin dkk.


"Adohhhhhh ada cabe cabean." Ucap Adel menepok jidatnya.


"Males amat gw, mana arahnya kesini lagi." Imbuh Azza melirik Ryan. Ryan yang sadar lamgsung berbisik pada Azza.


"Tenang." Bisik Ryan ketelinga Azza.


"Pura pura nggak liat aja deh." Ucap Gilbert menyeruput es jeruknya lagi.


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕