MY DARK

MY DARK
MD#30



Sementara diluar ruangan Gabriel, sedari tadi sudah berdiri Allice yang sudah mendengar obrolan Gabriel dan Raiden dari awal hingga akhir.


Awalnya ia kekantor hanya untuk melihat dan membantu pekerjaan Gabriel, ia juga sudah mendapatkan cara agar Raiden dapat mendapatkan hartanya kembali, namun tak disangka ia malah mendengar kebenaran yang mengejutkan.


"Nona, Anda..." Ucap Sekretaris Gabriel yang melintas didepan ruangan Gabriel. Allice langsung mengangkat tangannya membuka telapak tangannya bermaksud agar Sekretaris tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Sekretaris Gabriel yang mengerti langsung mengangguk diam.


"Jangan bilang kalau saya datang." Pesan Allice langsung pergi meninggalkan kantor dan tidak jadi bertemu dengan Gabriel.


"Baik." Jawab Sekretaris sebelum Allice menjauh.


"Ada apa dengan nona muda, kenapa dia tidak jadi masuk." Batin Sekretaris berjalan menuju ruangannya sendiri.


Setelah tidak sengaja mendengar semua ucapan Gabriel, Allice merasa sangat terpukul dan terkejut, ia tak menduga bahwa selama ini orang yang mendampinginya bukanlah kakak kandungnya.


"Kenapa? kenapa? nggak bilang dari awal!" Marah Allice dalam mobil melajukan mobilnya kesuatu tempat yang selalu ia datangi sendirian.


Sampai ditempat tujuan Allice langsung turun dan berlari langsung duduk ditepi danau yang berada tak jauh dari hutan kota, danau tersebut jarang dikunjungi orang karna letaknya yang dalam dan suasana yang sepi.


Allice disana duduk sendiri, perkataan Gabriel tadi terus terngiang ngiang ditelinganya.


"Ahh." Teriak Allice mengusap wajahnya frustrasi.


Dari kejauhan datang seorang laki laki mendekat kearah Allice, ia mendekat karena mendengar teriakan Allice. Antara yakin dan ragu ia mendekat .


"Kaya kenal itu postur tubuh, pakaiannya juga item item, jangan jangan bener dia." Ucap lelaki tersebut mendekat. Saat ia sudah berada disampaing Allice ia langsung membuka suaranya.


"Ngapain lu disini?" tanyanya pada Allice, Allice yang mendengar seseorang bertanya padanya langsung mendongak dan menatap orang tersebut.


"Elu? ngapain lu?" tanya Allice balik.


"Lah gw yang nanya duluan lu belum jawab lu nanya balik." Protesnya langsung duduk disamping Allice.


"Ada masalah lu? cerita aja kali, kita kan udah jadi temen." Ucap Austin, yap laki laki tersebut adalah Austin yang kebetulan juga sedang berada didanau tersebut sendirian.


"Nggak ada." Ucap Allice datar.


"Eleh jangan boong lu, orang tadi gw lihat lu frustrasi banget." Sangkal Austin.


"Cerewet juga lu." Cibir Allice.


"Yeee, ke elu doang kali." Ucap Austin tanpa sadar.


"Hah?!" Kaget Allice.


"Nggak, lupain aja, cerita aja sama gw, apa masalah lu, kali gw bisa bantu." Ucap Austin.


"Gimana rasanya, kalau orang yang selama ini deket ama kita, udah kaya kakak kandung sendiri, sebenarnya bukan keluarga kandung kita?" tanya Allice. Austin langsung berpikir sejenak.


"Maksud lu? kak Gabriel bukan kakak kandung lu?" tanya Austin yang juga terkejut.


"Hmmm." Dehem Allice meng iya kan.


"Kalau menurut gw, lu jangan ambil kesimpulan yang jelek jelek dulu, lu tanya dulu sama kakak lu, kenapa dia nggak jujur dari awal, mungkin karna dia juga nggak tau harus mulai jelasin dari mana, dia mungkin juga takut bakal kehilangan elu, secara dia kelihatan sayang banget sama lu, sayangnya juga melebihi kakak kandung kalo menurut gw." Tutur Austin.


Allice langsung tertegun mendengar ucapan Austin, ia langsung sadar akan bagaimana harus bersikap.


"Makasih." Ucap Allice berterima kasih.


"Santai aja." Ucap Austin. "Btw, lu tahu BDG?" tanya Austin.


"Ngapain nih anak nanyain." Ucap Allice dalam hati.


"Tau, kenapa?" tanya Allice.


"Gw ya kemarin nawarin buat bantuin mereka nyari pembunuh leader pertamanya, eh udah dua minggu kaga ada jawaban." Ucap Austin yang entah bagaimana ia bisa membongkar rahasia nya sendiri tanpa ragu dihadapan Allice.


"Lah kenapa lu nggak dateng langsung ke markasnya?" tanya Allice memancing.


"Mana berani gw, bisa langsung mati gw." Ucap Austin.


"Tau takut juga lu, ciut nyali lu." Batin Allice menertawakan Austin.


"Kalo lu belum nyoba, mana lu tahu, dicoba aja dulu, niat lu juga kan baik." Ucap Allice.


"Bener juga, besok malem deh gw coba." Ucap Austin bertekat.


"Yaudah gw balik." Ucap Allice langsung pamit.


Saat dimobil.


"Kenapa sosok itu terus ngikutin gw sih, kalo mau ketemu kenapa nggak langsung aja." Batin Allice yang tadi melihat sosok yang terus mengikuti dan mengawasinya bersembunyi dibalik pohon sebrang danau.


Didanau kini tinggalah Austin sendiri yang masih menikmati keindahannya.


"Si Allice ternyata baik juga, kenapa perasaan gw nyaman banget kalo deket dia, terus kenapa dengan gamblangnya tadi gw tanyain tentang BDG sih." Gumamnya tak mengerti akan rasa apa yang ada di dirinya.


Namun tiba tiba muncul seseorang dibelakang Austin dengan mengenakan jubah hitam, menutupi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya pun sama sekali tidak terlihat.


"Jagalah dia." Ucap sosok tersebut lagu pergi dengan cepatnya.


"Hei tunggu, siapa lu?!" teriak Austin hendak mengejar sosok tersebut, namun tiba tiba HP nya berdering menunjukkan panggilan dari sang Mama.


"Ah mama, pakek nelfon segala, hilangkan dia." Kesal Austin sebelum mengangkat panggilannya.


"Ya haloo, ada apa?" tanya Austin to the point.


"Pulang sekarang." Titah Vera disebrang sana.


"Ngapain, ntar dulu ah." Ucap Austin menolak.


"Pulang sekarang atau Mama, goreng burung mu." Ancam Vera yang langsung membuat panik Austin.


"Hah jangan, iya iya Austin pulang sekarang." Ucap Austin cepat lalu mematikan panggilannya, ia tak mau burungnya digoreng dijadikan lauk oleh sang Mama. Ia lalu kembali kemobilnya, pulang kemansion orang taunya.


"Tapi siapa sosok tadi, kenapa dia menyuruh aku menjaga Allice." Gumam Austin bertanya tanya.


"Kalo tadi mama nggak nelpon, pasti udah tahu gw, dia siapa." Kesal Austin. "Tapi yaudah lah, palingan juga dia orang baik, buktinya nyuruh gw jagain Allice." Lanjutnya.


"Eh lah, emang si Allice bakal kenapa?" Ucapnya terus bergumam, namun kali ini ia merasa khawatir terhadap Allice.


"Tau deh, besok gw tanyain." Ucapnya lalu memfokuskan pikirannya menuju jalan didepannya.


Sementara Allice, ia sudah sampai dimansion, ia langsung membuka kamar Gabriel bermaksud mencarinya dan ingin berbicara dengannya, namun ia tak menemukan Gabriel dikamarnya, padahal sekarang jam kantor sudah usai.


Kebetulan Alvaro yang lewat didepan kamar Gabriel hendak pergi kekamarnya, melihat Allice yang mencari Gabriel.


"Kamu cari kakak mu?" tanya Alvaro.


"Iya Pa, dia dimana?" tanya Allice.


"Nggak tahu juga, palingan bentar lagi balik dia, kalo nggak keapartemen nya dulu." Jawab Alvaro.


"Mentang mentang ada yang baru, adiknya sendiri dilupain, awas aja dia." Kesal Allice.


"Baru? siapa?" tanya Alvaro yang tak mengerti.


"Itu si Raiden Raiden itu, suka tuh dia." Jawab Allice.


"Hahahahh kamu ini cemburu sama calon kakak ipar sendiri." Ejek Alvaro menertawakan kecemburuan Allice.


"Yeee biarin, awas aja kalo balik, Allice cincang."


"Biar aja, nanti Papa bantu." Ucap Alvaro memanas manasi.


"Sip." Ucap Allice mangacungkan jempolnya.


"Kamu nanti dateng kemansion Azza sama Papa." Ucap Alvaro.


"Ngapain?" tanya Allice.


"Loh kamu nggak tahu, Azza mau tunangan malam ini." Ucap Alvaro memberi tahu.


"Hah! masa iya, hahahah Papa bercanda." Ucap Allice yang tak percaya.


"Iya, ngapain Papa bercanda, kamu kemana aja hari ini, orang om Dev sama tante Dinda aja tadi udah kasih tahu Papa, palingan Azza juga ngasih tahu kamu, tapi HP mu mati." Tutur Alvaro menjelaskan. Allice langsung membuka Hpnya memastikan.


"Hehe iya Pa, lowbat." Ucap Allice.


"Yaudah, tunggu kakak mu dulu, baru kita kesana bareng." Ucap Alvaro.


"Tinggalin aja, sebelahan juga."


"Eits no no no." Ucap Alvaro tak setuju.


"Hmmm yaudah deh, Allice kekamar." Pamit Allice langsung masuk kekamar.


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕