
Sementara Allice.
Ia melajukan mobilnya menuju markas, saat sudah sampai ia langsung keruangan Bastian hendak menanyakan rincian apa saja yang ia dapatkan dilokasi.
"Udah balik lu." Ucap Bastian melihat Allice masuk.
"Buta?" Balas Allice dengan nada bertanya.
"Kaga bisaan banget basa basi." Ucap Bastian kesal.
"Nih, semua yang lu mau." Ucap Bastian memberikan laptopnya berserta bukti foto yang sudah ia cetak sebelum Allice datang.
"Tapi anehnya disana banyak banget tebing, rumput rumput yang ngehalangin." Ucap Bastian.
"Sengaja, biar nggak diketahui sama orang luar, khususnya BDG." Ucap Kenan yang baru saja muncul, ia datang kemarkas karena dipanggil oleh Bastian untuk membantunya.
"Udah dateng lu." Ucap Bastian.
"Ya iyalah, kalo masalah war gini gw maju, lagian ini juga menyangkut pembunuh Queen, jadi gw harus ikut." Balas Kenan duduk disamping Bastian.
"Gimana, strategi kita?" tanya Kenan pada Allice.
"Tangan kanan mama emang pada nggak guna, gini aja tanya, ya pikir lah." Ucap Allice sedang berpikir.
"Buset selaw bor, ini gw mikir." Ucap Kenan tak terima.
"Lu nggak mau lihat dulu mukanya si Aldo?" tanya Bastian pada Kenan.
"Mana." Ucap Kenan mengangkat dan membuka telapak tangannya.
"Nih." Bastian memberikan foto Aldo pada Kenan, dengan Kenan langsung melihat dan mengamatinya dengan seksama.
"Gantengan juga gw." Ucap Kenan merasa sangat percaya diri.
"Najis." Balas Bastian.
"Bawa 10 mafioso terbaik, 1 helikopter buat jaga jaga, langsung kepung." Ucap Allice sudah merencanakan formasi nya.
"Gw bagian mananya?" tanya Kenan.
"Kanan." Balas Allice. "Bastian kiri." Ucap Allice lagi menunjuk layar laptop.
"Lu?" tanya Bastian.
"Depan." Jawab Allice.
"Terus yang belakang?" tanya Kenan.
"Buta ye mata lu, belakang udah langsung tebing, mau lari kebelakang auto melayang." Jawab Bastian.
"Belakang siapin helikopter, tapi nyusul." Ucap Allice.
"Siap." Ucap kompak Kenan dan Bastian.
"Alvaro? Gabriel?" tanya Bastian pada Allice.
"Jangan ada yang ngasih tahu." Balas Allice karna ia tahu resiko apa yang akan dia dapatkan jika harus membawa keluarganya, ia sudah bertekad bahwa resiko apapun yang akan menimpa dirinya, ia akan menerimanya demi menghukum pembunuh namanya.
"Tapi mereka juga berhak tahu." Ucap Kenan yang tidak setuju. "Ini resikonya gede, nanti kalau mereka nggak bisa lihat lu untuk terakhir kalinya, kita yang juga akan menyesal." Lanjut Kenan.
"Resiko apapun akan ku tanggung sendiri." Ucap Allice bertekad.
"Kematian sekalipun." Lanjutnya membatin.
"Terserah kau saja, kita akan melindungimu." Ucap Bastian mendukung Allice, karna ia paham betul apa yang ada dikepala Allice.
................
Sementara disekolah, Austin dkk juga Azza dan Adel masih menunggu Allice kembali.
"Mana nih Allice kaga balik balik." Ucap Ryan yang sudah lelah menunggu.
"Iya, mana ini bel pulang udah bunyi dari tadi, disekolah nih tinggal kita doang." Imbuh Gilbert
"Yok." Setuju Adel lalu berjalan terlebih dahulu menuju ruangan Sena.
Sampai diruangan Sena.
Sena yang sedang menata berkas hendak kembali kerumah dikagetkan dengan kedatangan Azza dkk.
"Om tamvan." Ucap Azza.
"Buset!? apaan dah, ngagetin mulu kerjaan lu pada, ngapain kesini rame rame?"
"Nyari Allice lah, ya kali nyari harta kirun." Balas Azza.
"Aduh mereka nyari Allice lagi, gw harus jawab apa, gw bilang aja dia udah balik kali ya, lagian habis ini gw kemansion bang Al." Ucap Sena dalam hati.
"Hello, Om." Ucap Adel menggoyangkan tangannya didepan wajah Sena.
"Ah lu pada nyari si Allice, dia udah balik kali dari tadi." Balas Sena berbohong.
"Lah kok kaga ngasih tahu kita sih, kita udah nunggu dari tadi diroftop." Kesal Adel.
"Lah mana gw tahu, lu telpon aja sono, gw mau balik." Ucap Sena yang ingin cepat cepat pergi.
"Hush, hush, minggir, gw mau balik." Ucap Sena langsung pergi, karna ia tak mau ditanya tanya lagi oleh Azza dkk.
"Balik kemana nih si Allice, markas apa mansion?" tanya Ryan.
"Mene ketehe, kita aja tadi bareng kalian." Ucap Azza.
"Tin, telpon sono tanyain." Suruh Gilbert.
"Hmmm." Dehem Austin langsung menelpon Allice. Namun nomor Allice sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda kehidupan.
"Mati." Ucap Austin.
"Kemansion aja lah, lu juga pada ikut, sekalian kita bicarain soal penampilan diacara lulusan." Ucap Adel.
"Iya, tapi kita juga balik dulu aja, ntar malem kita kesana bareng." Ucap Gilbert.
"Langsung kemansion Allice aja." Ucap Azza.
"Yaudah, yok kita balik, ngeri juga disini sendiri." Ucap Ryan.
"Cemen." Ejek Azza.
"Biar, asalkan perasaan aku ke kamu nggak cemen." Gombal Ryan.
"Najis." Kompak Gilbert dan Adel. Sedangkan Austin sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan yang lain.
"Allice beneran balik kemansion atau kemarkas?" Tanyanya dalam hati. "Tau ah, lagian Adel sama Azza lebih tahu." Ucapnya lagi tetap melanjutkan langkahnya.
"Buset ditinggalin kita." Ucap Gilbert.
"Yaudah ayok buru, udah petang juga nih langitnya." Ucap Azza langsung pergi menarik Adel, diikuti Ryan dan Gilbert dibelakangnya.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕