MY DARK

MY DARK
MD#35



Diruangan Gabriel.


Allice langsung duduk begitu saja disofa.


"Bikin kesel aja tuh orang." Ucap Allice yang masih kesal dengan kejadian yang selalu sama dan berulang.


"Udah lupain aja, jangan diinget lagi." Nasehat Raiden yang berdiri didepan Allice.


"Duduk, Kakak ipar." Suruh Allice menyuruh Raiden duduk disampingnya.


"Iya." Raiden langsung duduk disamping Allice. "Kamu kenapa panggil kakak ipar terus?" tanya Raiden setelah duduk.


"Lah kan emang situ calon kakak ipar gw." Ucap Allice.


"Tau dari mana lu?" tanya Gabriel yang tiba tiba masuk.


"Dasar demit." Cibir Allice.


"Enak aja lu, mana ada demit cantiknya kayak gw." Ucap Gabriel mengibaskan rambutnya.


"Sok cantik lu." Cibir Allice. "Cantikan juga gw." Imbuhnya menyombongkan diri.


"Iyain biar seneng." Ucap Gabriel ikut duduk. "Jadi ngapain lu kesini?" tanya Gabriel setelah duduk.


"Lu hari ini ada ketemukan sama keluarga Mandala?" tanya Allice.


"Kok kamu tahu?" tanya Raiden.


"Iya dong Kakak ipar, apa sih yang nggak gw tahu." Ucap Allice. "Panggil aja lu gw, nggak perlu aku kamu, kaya doi aja." Ucap Allice berusaha akrab pada Raiden. Raiden hanya mengangguk mengerti.


"Terus apa hubungannya?" tanya Gabriel.


"Banyak lah ogeb, nih hari ini lu mau ngesahin kontrak kerja sama kan, lu ambil aja kesempatan buat ambil saham keluarga Mandala, terus lu ambil tuh harta keluarga Geovani, biar calon Kakak ipar gw bisa cepet bebas dari lu." Ucap Allice.


"Caranya?" tanya Raiden.


"Gampang." Jawab Allice.


"Kenapa bengong lu?" tanya Allice pada Gabriel yang terlihat bengong.


"Oh gw tahu nih, lu nggak mau kan ditinggalin calon Kakak ipar." Ucap Allice menebak.


"Tau aja lu." Ucap Gabriel yang tidak sengaja keceplosan, Raiden yang mendengar langsung tersenyum bahagia.


"Hahah tuh kan." Ejek Allice.


"Ngejek lagi gw gibas lu." Kesal Gabriel yang malu pada Raiden.


"Udah udah, jangan gitu, kasihan itu loh, malu." Ucap Raiden membela Gabriel.


"Cieee belain nih ceritanya." Ejek Allice.


"Alliiiceeeeeeee." Geram Gabriel.


"Ok ok." Ucap Allice diam.


"Serius." Ucap Allice langsung dengan muka serius, datar dan mematikan.


"Nanti kalau keluarga Mandala dateng, kalian baik baikin, khususnya anaknya itu yang namanya Sintiya, yang nggak paham masalah bisnis sama sekali, terus nanti lu Kak pura pura minum terus tumpahin airnya keatas dokumen yang udah ditanda tangani, terus lu pura pura aja nggak sengaja." Ucap Allice sangat serius.


"Terus?" tanya Gabriel tak kalah serius.


"Lu panggil Sekretaris lu buat ambil dokumen yang baru, nah disitu, dokumennya gw ganti dengan pengalihan harta kekayaan yang udah direbut dari keluarga Geovani jadi milik Raiden Daren Geovani." Ucap Allice lagi mendengarkan.


"Waktu udah ditanda tanganin ntar gw masuk bikin drama." Ucap Allice.


"Terus tugas dia apa?" tanya Gabriel pada Allice menunjuk Raiden.


"Iya tugas gw apaan?" tanya Raiden.


"Gampang, tugas lu, tebar pesona." Jawab Allice.


"HAH?!" Kaget Raiden dan Gabriel kompak.


"Kenapa? salah?" Tanya Allice.


"Gila lu?" tanya balik Gabriel.


"Iya iya, gw tahu lu itu cemburu, tapi nggak usah ngegas juga dong." Ucap Allice.


"Lah elu nya kaga mikir." Kesal Gabriel.


"Tugas lu Kak," ucap Gabriel menunjuk Raiden. "Diem aja, ntar lu juga tahu." Ucap Allice, padahal Raiden sudah menunggu jawaban yang tidak nyeleneh.


"Setuju?" tanya Allice.


"Yaudah deh setuju aja." Ucap Gabriel, Raiden hanya mengikutinya dengan mengangguk.


"Oh iya, ntar kalo gw udah masuk, nyalain semua kamera pengawas diruangan khusus." Pesan Allice.


"Iya."


Tok, tok, tok.


"Ya, masuk." Suruh Gabriel dari dalam.


"Nona, orang dari keluarga Mandala sudah berada diruangan khusus." Ucap Sekretaris.


"Baiklah." Ucap Gabriel.


"Udah sono lu pada beraksi." Suruh Allice, ia langsung duduk dimeja Gabriel membuka laptopnya dan mengetikkan sebuah dokumen.


Gabriel dan Raiden langsung pergi dari ruangan menuju ruangan khusus dimana ada keluarga Mandala.


"Nona, Anda tidak ikut?" tanya Sekretaris pada Allice.


"Nggak, nanti ada giliran saya, oh iya nanti kalau kamu mau ngambil berkas kerjasama baru langsung temui saya." Pesan Allice.


"Baik." Ucap Sekretaris hanya menyetujui, walaupun ia tak tahu apa yang akan dilakukan Allice.


Diruangan khusus.


Gabriel dan Raiden masuk dengan wibawa yang sudah tertanam.


"Selamat siang Tuan Andreas, Nona Sintiya." Sapa Gabriel.


"Selamat siang, Nona." Sapa balik Andreas.


"Sebelum kita menandatangi kontrak, saya ingin bertanya terlebih dahulu pada kalian berdua." Ucap Gabriel.


"Boleh silahkan." Ucap Andreas mempersilahkan.


"Dua pertanyaan saja." Ucap Gabriel.


"Pertama, jika ada kendala dalam kerjasama kita ini, apa kalian akan langsung menyelesaikannya atau malah pergi mengambil keuntungan?" tanya Gabriel.


"Saya akan menyelesaikannya Nona, karna kerjasama harus berdasar kejujuran dan hasil diakhir, bukan keuntungan diawal." Ucap Andreas yakin.


Sementara Sintiya malah terus memandangi Raiden dengan seksama, bahkan tanpa berkedip. Gabriel menyadarinya.


"Pertanyaan kedua, untuk Nona Sintiya, apa anda ada hubungan atau masalalu dengan asisten saya Raiden?" tanya Gabriel memancing.


Raiden langsung melirik Gabriel. Gabriel langsung memberikan kode tangan dengan menautkan jari telunjuknya dengan ibu jarinya. Raiden mengerti.


"Ah Raiden adalah..." Belum Sintiya menyelesaikan ucapannya langsung dipotong oleh Andreas.


"Kami tidak mengenalnya, kami juga tidak memiliki hubungan dan masa lalu apapun dengannya." Ucap Andreas menjawab.


"Oh ok, tapi saya lihat sepertinya putri Anda menyukai asisten Saya." Ucap Gabriel membuat Sintiya dan Andreas takut. "Ah tapi lupakan saja, mari kita tandatangani kontraknya." Ucap Gabriel.


"Nona, ini dokumennya." Ucap Sekretaris memberikan satu map berisi kontrak kerjasama.


"Baik Tuan, Nona, silahkan dibaca terlebih dahulu." Ucap Gabriel memberikan suratnya pada Andreas dan Sintiya, setelah membacanya mereka menandatanganinya tanpa ragu.


"Sudah, Nona." Ucap Andreas.


"Baik sekarang giliran saya." Ucap Gabriel menganbil dokumen namun ia langsung menyenggol gelas berisi air dengan sengaja, namun dibuat seolah olah ia tidak sengaja.


"Ah aduh maaf maaf saya tidak sengaja." Ucap Gabriel berpura pura.


"Bagaimana ini Nona, kerjasama ini sangat berharga." Ucap Raiden berusaha memperkeruh keadaan.


"Benar apa kata Tuan Raiden, kerjasama ini sangat berharga." Ucap Sintiya.


"Berharga pala mu, lihat saja nanti seberapa berharganya harga dirimu." Batin Gabriel.


"Ah begini saja, buat saja dokumen baru, lagian ini tintanya mulai luntur." Ucap Raiden yang masih mengikuti skenario Allice.


"Benar." Ucap Gabriel.


"Tolong buatkan lagi dokumennya yang sama persis, dalam waktu 5 menit." Suruh Gabriel pada Sekretaris nya.


"Baik Nona, saya permisi sebentar." Pamit Sekretaris.


"Tidak apa apa Tuan, Nona, tunggu sebentar saja." Ucap Gabriel menenangkan Andreas dan Sintiya dan mencoba agar mereka berdua tidak curiga padanya.


"Tadi nona Allice menyuruh kalau mau ngambil berkas kejasama suruh ambil kedia." Batin Sekretaris menuju ruangan Gabriel yang masih ada Allice disana.


**************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕*