
Sementara dikediaman Alvaro, semuanya sudah berkumpul untuk melihat keadaan Sisil. Termasuk Momy Unna dan Bibi Rosa.
"Sisil, kamu tidak apa apa, Nak?" tanya Momy Unna mengelus punggung Sisil dengan sayangnya.
"Tidak, Mom." Jawab Sisil tersenyum.
Saat itu juga Gabriel bersama Raiden, Azza dan Adel baru saja kembali.
"Bagaimana? ada petunjuk?" tanya Alvaro.
"Masih belum, Pa." Jawab Gabriel.
"Kau tak apa, Sayang?" tanya Dinda menghampiri Azza.
"Tidak Ma, tapi Allice." Jawab Azza.
"Sudah, jangan bersedih lagi, istirahatlah, kau pasti lelah." Ucap Dinda.
"Iya." Ucap Azza menurut.
"Mom, Kak, Bang, kita balik dulu, kasihan Azza biar istirahat." Ucap Devano berpamitan diangguki yang lain.
"Ale juga." Pamit Ale menggandeng Oca juga merangkul Adel.
"Siapa itu?" tunjuk Momy Unna pada Raiden.
"Saya, Raiden." Ucap Raiden membungkuk sopan.
"Calon Gabriel, Mom." Ucap Alvaro.
"Owalah, gitu toh." Ucap Momy Unna mengangguk angguk.
"Saya pamit pulang dulu, nanti kesini lagi." Ucap Raiden berpamitan dengan sopan nya.
"Iya, hati hati." Ucap Momy Unna.
"Istirahtalah." Pesan Raiden untuk Gabriel sebelum pergi.
"Emmm." Angguk Gabriel.
"Iel kekamar." Pamit Gabriel.
"Kenapa Mama tidak menyapa ku sama sekali, Raiden saja dibiarkan begitu saja." Ucap Gabriel merasa aneh, ia terus berjalan menuju kamarnya.
Dimansion Ale.
"Aku kekantor sebentar ada klien yang sudah menunggu, jika ada kabar langsung beritahu aku." Pesan Ale pada Oca.
"Iya, hati hati." Jawab Oca. Ale langsung pergi mengendarai mobilnya menuju kantor.
"Adel kamu istirahat, Mama ke super market dulu, ada yang mau Mama beli, kalau kamu nanti butuh sesuatu bilang saja sama bibi." Pesan Oca.
"Iya Ma, Adel kekamar duluan." Angguk Adel langsung kekamarnya.
Oca langsung bergegas pergi, namun bukan menuju super market, melainkan kesebuah rumah tua diujung kota. Entah apa yang akan dilakukannya disana, dan dengan siapa ia akan bertemu.
"Aku sama sekali tidak yakin, aku akan menghilangkan keraguanku sekarang." Ucap Oca saat sudah turun dari mobilnya, namun ia memastikan kesekeliling, bahwa tidak ada orang yang melihatnya.
Saat dirasa sudah tidak ada seorang pun, ia langsung masuk begitu saja mencari seseorang.
"Dimana dia." Gumam Oca terus mencari.
"Ada apa?" tanya seseorang dari belakang Oca dengan menepuk pundaknya.
"Kocheng beranak binak." Kaget Oca latah.
"Lu samain gw sama kucing, gw penggal juga palak lu." Kesal orang tersebut.
"Elah masih sama aja lu, kirain udah berubah, taunya masih sama aja." Ucap Oca.
"Yaiyalah sama, masa iya seorang Sisilia Faraqueen berubah dengan begitu cepat." Ucap Sisil. (Yap orang tersebut adalah Sisil, the real Sisil).
"Eits bentar bentar, kalo lu disini, yang dimansion lu siapa?" tanya Oca. "Gw kira itu tadi elu, tapi gw liat liat lu kaya nggak kenal sama gw, gw ragu jadi gw kesini." Lanjutnya.
"Sindi." Jawab Sisil.
"HAH?! ITU SINDI." Kaget Oca, Sisil langsung membekap mulut Oca.
"Diem, kalo ada orang yang denger diluar gw tebas lu." Ancam Sisil masih membekap mulut Oca.
"Hmmmm hmmmm." Ucap Oca berusaha berbicara.
"Lu ngomong apaan dah, jang jelas napa." Ucap Sisil.
Oca langsung menarik tangan Sisil dari mulutnya.
"Kalian?!" Ucap Allice setelah bangun dari pingsannya.
"Allice!" Kaget Oca.
"Hmmm." Dehem Allice dingin, ia langsung beralih menatap Sisil, namun Allice langsung menjauhi Sisil.
"Allice, kenapa?" tanya Sisil. "Ini Mama, Nak." Lanjut Sisil berusaha memeluk Allice.
"Nggak kamu bukan Mama, seorang Ibu tidak akan mendorong anaknya sendiri kedalam jurang dengan sengaja." Ucap Allice.
Oca langsung menyadari apa yang dikatakan oleh Allice. Ia langsung sadar bahwa Sindi yang sekarang memakai muka Sisil lah yang sengaja ingin memusnahkan Allice.
"Allice dia Mama mu, Sisil, aku sendiri yang dulu menolongnya, yang mendorongmu semalam adalah Sindi yang memakai wajah Mamamu." Ucap Oca.
"Dulu saat semuanya sudah meninggalkan pemakaman, aku langsung membongkar makamnya, karna aku yakin bahwa Sisil, Mama mu masih hidup, dan ternyata benar, aku membawanya kenegara Z untuk mendapatkan pengobatan untuknya tanpa diketahui siapapun termasuk Papa mu." Lanjut Oca.
"Ja...jadi Ma..ma yang nyelametin aku tadi malam." Ucap Allice langsung memeluk Sisil dengan menangis tersendu sendu.
"Hiks hiks Mama, Mama jahat, kenapa Mama nggak temuin Allice, Allice kangen sama Mama, kak Iel pasti juga kangen sama Mama, apalagi papa, setiap malam papa selalu mandang foto Mama hiks." Tangis Allice memeluk Sisil.
"Sayang, berhentilah menangis, lagian selama ini Mama selalu jagain kalian, meskipun dari jauh." Ucap Sisil mengelus rambut Allice dengan sayang.
"Jadi sosok yang selalu ngikutin Allice itu Mama." Ucap Allice melepas pelukannya.
"Iya, Sayang." Ucap Sisil.
"Aduh penuh bawang." Ucap Oca mendramatisir. Allice langsung menatapnya dengan tatapan penuh dengan selidik.
"Jangan gitu kenapa, gw juga disuruh Mama lu jangan bilang bilang, ya gw nggak bilang lah, sekali bilang putus palak ku." Ucap Oca yang mengerti tatapan Allice, ia langsung bersembunyi dibalik badan Sisil menggunakannya untuk tamengnya.
"Sudahlah sayang Bibi mu yang bodoh ini tidak sepenuhnya bersalah, lagian dia juga yang bangkitin Mama dari kubur." Ucap Sisil.
"Kau bilang aku ini bodoh?!" Kesal Oca.
"Kenyataan." Jawab Sisil santuy.
"Terserah kau saja, sekarang apa rencana kalian?" tanya Oca.
"Lusa kelulusan bukan?" tanya Sisil.
"Iya, Ma." Jawab Allice.
"Kita lakukan saat itu juga." Ucap Sisil.
"Bagaimana caranya?" tanya Oca.
"Itu urusanku dan Allice, kau hanya perlu merahasiakan hal ini saja, jangan sampai ada yang tahu, dan pastikan diacara kelulusan semuanya hadir tanpa terkecuali, dan perintahkan Bastian untuk menjaga." Ucap Sisil.
"Oh ok, aku mengerti." Ucap Oca.
"Tapi Bastian masih nyari Allice sampai sekarang dijurang." Ucap Oca.
"Pakailah otak mu." Ketus Sisil.
"Dasar, iya iya, kali ini aku yang repot." Kesal Oca.
"Yasudah aku pulang dulu, tadi aku hanya pamit pergi ke supermarket, kalau kelamaan nanti pada curiga." Pamit Oca.
"Udah sono pergi." Usir Sisil. Oca langsung pergi.
"Maaaa." Ucap Allice.
"Iya Sayang, mari kita makan, pasti kau lapar, Mama akan masak untuk mu, tapi hanya sederhana saja." Ucap Sisil.
"Tidak masalah Ma, asal Mama yang masak." Balas Allice tersenyum.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕