
Adel membawa Gilbert mengelilingi markas BDG dengan berjalan kaki, sampai dimana mereka berada ditaman belakang markas, disitu juga ada satu kandang berdiri kokoh dengan satu penghuni didalamnya.
"Buset, ni markas gede baget, cape juga." Keluh Gilbert duduk dikursi taman.
"Cemen lu, baru jalan gini dong udah cape, gw aja yang tiap minggu lari keliling muterin markas aja nggak ngerasa apa apa." Ucap Adel duduk disamping Gilbert.
"Yeee itu kan elu, kalo gw mah ogah, mending gw lari dari kenyataan." Ucap Gilbert.
"Kenyataan? apaan? pahit hidup lu?" tanya Adel serius.
"Iya kenyataan, kalo gw sayang sama seseorang tapi dia nggak tahu." Ucap Gilbert.
"Dia udah punya gebetan." Batin Adel yang tanpa sadar ia merasa kecewa.
Gilbert melihat kekecewaan yang tersirat dari kedua mata Adel, ia sedikit terkejut, namun berusaha untuk tenang dan menunggu ekspresi selanjutnya.
"Gw bisa nih kayak nya." Ucap Gilbert dalam hati.
"Punya doi juga lu." Ucap Adel.
"Iya, tapi dia nggak pernah peka, dikasih kode keras juga nggak peka, gw harus gimana dong, mau utarain takut ditolak, cinta ditolak rasanya ambyar." Ucap Gilbert.
"Ya lu sih cemen jadi cowok, kalo suka ya bilang suka, jangan diumpetin, ntar diembat cowok lain baru tahu rasa lu." Ucap Adel yang sebenarnya merasa kecewa.
"Kalo itu elu gimana?" Ucap Gilbert berhasil membuat Adel menatap Gilbert dengan mata yang sudah membulat sempurna, sedangkan Gilbert tersenyum menatap Adel.
"Lu..?" Ucap Adel tak bisa meneruskan ucapannya.
"Iya, cewe itu elu, gw suka sama lu." Ucap Gilbert terus terang.
"Sejak?" tanya Adel masih tak percaya bahwa Gilbert benar benar mengatakannya, padahal sebenarnya ia juga menginginkannya.
"Entahlah." Jawab Gilbert. "Lu gimana? mau jadi pacar gw? kalo mau biar nanti gw ngomong sama mama papa mu, biar dapet restu." Lanjut Gilbert.
Adel yang tidak tahu harus menanggapi dengan kata apa lagi, langsung saja mengangguk menerima.
"Yes!" Senang Gilbert.
"Anu... se..sebenarnya gw juga suka sama lu, tapi gw cuman nunggu lu aja buat ngomong." Ucap Adel sedikit malu dan gugup.
"Hahah nggak usah gugup gitu, tadi katanya kalo suka bilang suka." Ucap Gilbert.
"Ish lu ah." Ucap Adel malu memukul dada bidang Gilbert.
Grep
Gilbert langsung menarik Adel hingga masuk kedalam dekapannya.
"Sakit tahu, kalo mau peluk bilang aja, nggak usah kode segala." Ucap Gilbert penuh kepedean.
"Pede banget lu." Ucap Adel membalas pelukan Gilbert. Gilbert hanya tersenyum kecil menanggapi tingkah Adel.
"Hahah malu malu tapi mau." Ucap Gilbert mengelus rambut belakang Adel dengan lembutnya.
Namun tiba tiba
Graung, Graung.
Harimau dikandang langsung meraung dengan kerasnya, hingga Gilbert terkaget dan melepaskan pelukannya.
"Buset apaan tuh?" tanya Gilbert kaget dengan wajah yang cengoh.
"Hahah muka lu bikin mules." Ucap Adel menertawakan wajah cengoh kaget Gilbert.
"Seriusan itu apa? macan? singa? atau apa, kenceng banget suaranya." Ucap Gilbert dengan wajah sangat serius juga takut.
"Santai santai, itu Cio harimau peliharaan mama Sisil, sekarang Allice yang jadi tuannya." Ucap Adel menjelaskan.
"Wah jinak dong." Ucap Gilbert.
"Kata siapa, jinak kelihatannya doang, tapi sebenarnya galak, nurutnya sama si Allice doang." Balas Adel.
"Lu ya, awas Allice denger dimasukin ke kandang Cio baru tahu rasa lu." Ancam Adel.
"Eh nggak nggak." Tolak cepat.
"Tau takut." Ejek Adel.
Dibalkon Azza sedang menjelaskan tentang dirinya pada sang tunangan, Ryan.
"Iya aku emang BDG, dulu juga mama BDG, Queen pertamanya itu mamanya Allice." Ucap Azza.
"Aku ikutan kesini itu mau bantuin Allice nyari pembunuh mamanya yang kabur waktu itu, tapi udah lama kita nyari nggak ketemu ketemu, Aku sama Adel udah nyerah, tapi Allice tetep kukuh nyari sampai bisa ketemu." Lanjut Azza.
"Kamu kok nggak bilang dari awal?" tanya Ryan.
"Kamu juga nggak bilang dari awal, kalo Kamu Black Bat." Ucap Azza balik mempertanyakan.
"Iya, Aku minta maaf, ini juga karna si Austin." Jawab Ryan.
"Terus Kamu tahu kalau Aku Black Bat dari mana?" tanya Ryan.
"Allice." Jawab Azza.
"Kok dia tahu?" tanyanya Ryan lagi.
"Buat Allice informasi kecil kaya gitu, 2 menit dia udah bisa dapetin secara lengkap." Ucap Azza.
"Hebat." Puji Ryan.
"Iya, Aku tahu, Aku ini sangat hebat." Sombong Azza.
"Allice nya, bukan situ." Elak Ryan.
"Oh sekarang pilih Allice, yaudah silahkan." Ucap Azza cemburu langsung membalikkan badan tidak mau melihat Ryan.
Ryan hanya tersenyum kecil, ia langsung memeluk Azza dari belakang.
"Cemburu nih ceritanya." Ucap Ryan memeluk.
"Nggak." Elak Azza.
"Beneran?" goda Ryan.
"Ish iya!" Ucap Azza berterus terang. Ryan langsung membalikan badan Azza agar menghadapnya.
"Makasih udah mau cemburu sama sepupu sendiri pula, itu tandanya Kamu sayang sama Aku." Ucap Ryan menatap kedua manik mata Azza dengan intens.
"Hmmm." Dehem Azza tersenyum.
"Udah masuk aja." Ajak Ryan.
"Iya, dingin juga." Ucap Azza setuju, lalu mereka berdua masuk kedalam.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕