
Setelah pulang sekolah, Allice dkk langsung pergi kemarkas BDG untuk mengecek keadaan markas dan berlatih, juga bermain bersama Cio (Harimau peliharaan Sisil dulu, yang kini sudah ditaklukan oleh Allice).
Saat mereka bertiga masuk kedalam markas, Bastian langsung menghampiri mereka dengan membawa sepucuk surat untuk diberikan kepada Allice.
"Nih ada surat cinta." Ucap Bastian memberikan suratnya. Allice langsung mengambil dan membukanya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Apa isinya?" tanya Adel.
Tak menjawab Allice langsung memberikan suratnya pada Adel dan langsung pergi keruang latihan, dan menguncinya dari luar.
"Woy Lice, ini gimana, iya atau engga?" tanya Adel setelah membaca suratnya.
Brak!
Allice langsung menutup pintunya dan memulai latihannya.
"Yah, biarin aja dulu deh, kaga usah dibales, lagian juga nggak mungkin mereka bisa nyari, orang Allice aja kaga nemu nemu apa lagi mereka." Ucap Adel.
"Tapi ini bisa dicoba sih." Ucap Azza.
"Ntar aja nunggu Allice, kita latihan aja diruang sebelah." Ucap Adel.
"Yaudah."
Diruang latihan Allice, Allice terus memainkan senjatanya, namun pikirannya tertuju pada sosok yang hadir dalam mimpinya tadi siang.
Ia terus berfikir siapa yang akan datang dan merusak keluarganya, bahkan ia tak memiliki musuh diluar mafianya.
Sementara dimarkas Black Bit, Austin dkk sedang menunggunya balasan dari mafia BDG.
"Mana nih, kaga ada balesan." Ucap Ryan.
"Ditolak kali yah, orang kita kan ya nggak terlihat meyakinkan." Duga Gilbert.
"Diterima." Ucap Austin yang sungguh yakin dengan apa yang ia ucapkan.
"Yakin amat lu." Ucap Ryan.
"Lihat aja." Ucap Austin percaya diri.
"Eh iya, tapi ya gw denger denger nih, dulu setelah leader pertamanya meninggal ketembak waktu itu, posisinya langsung diganti sama anak pertama nya, yang juga sama sama cewe, tapi setelah anak kedua mereka dewasa diserahin sama dia." Ucap Gilbert yang sepertinya sungguh tahu seluk beluk dari mafia BDG.
"Lengkap amat informasi lu." Puji Ryan. "Tapi yang gw bingung nih, itu pembunuhnya pro banget bisa lolos dengan semudah itu." Imbuhnya.
"Nyamar." Celetuk Austin yang sedari tadi menyimak infomasi dengan memutar otaknya.
"Iya lah nyamar, mana mungkin nggak, kalo enggak pasti mereka udah mati." Ucap Gilbert.
"Queen, kakak pertama, mirip Allice, atau jangan jangan dia." Ucap Austin berfikir dan mulai menyambung nyambungkan cerita Gilbert dengan apa yang ia lihat dimansion Alvaro, yaitu ruangan yang bertuliskan queen.
"Kaga."
"Kapan nih kita nggak jadi nerd, sumpah gw bosen banget jadi nerd, kaga ada faedahnya, dikejar cewe sih udah engga, tapi dijadiin bahan bullyan." Ucap Gilbert.
"Mana tuh cewe yang namanya Manda seneng banget bully kita, pengen gw rasanya motek pala mereka satu satu." Ucap Ryan yang geram akan trio M.
"Baru juga sehari." Cibir Austin langsung pergi begitu saja.
"Mau kemana lu?" tanya Ryan pada Austin yang siudah diambang pintu.
"Balik." Jawabnya singkat.
"Nggak nunggu balesan surat lu?" tanya Gilbert.
"Nggak akan dijawab sekarang." Ucap Austin langsung pergi diikuti Gilbert dan Ryan dibelakangnya.
Dimarkas BDG. Setelah Allice dkk selesai latihan mereka berkumpul diruang tengah bersama Bastian.
"Gimana Lice?" tanya Adel. Allice langsung menaikkan satu alisnya pertanda 'Apa?'
"Itu lho surat tadi." Tutur Adel.
"Biarin." Jawab Allice.
"Nggak lu coba dulu gitu?" tanya Azza.
"Ntar." Jawab Allice, langsung berdiri. "Balik." Lanjutnya langsung berjalan diikuti Adel dan Azza. Kini tinggalah Bastian sendiri.
"Buset emang pada nggak ada akhlak nya, disini ada orang kaga dianggep." Ucap Bastian "Untung udah gede, masih bayi gw lempar kelaut." Imbuhnya langsung pergi keruangan nya.
***************************************
~BERSAMBUNG~
LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5
JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE
JANGAN LUPA👆
SEE YOU NEXT EPISODE 😉
BYE~
AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕