MY DARK

MY DARK
MD#49



Sudah tengah malam, semuanya masih mencari keberadaan Allice yang tiba tiba menghilang tanpa jejak, namun Austin dan Gabriel tetap kukuh ingin tetap mencari Allice sampai ditemukan.


"Pa, Ma, kalian pulanglah saja dulu, pasti lelah, biar kita aja yang cari disini." Ucap Gabriel menyuruh Alvaro dan Sisil untuk pulang terlebih dahulu.


"Tapi..." Balum Sisil meneruskan ucapannya, langsung dipotong oleh Gabriel.


"Ma, pulang ya, Mama pasti juga udah cape, lagian dimansion juga ada kak Serena sama kak Karin, mereka pasti juga udah nungguin kita." Ucap Gabriel.


"Pa, please pulang ya, Iel nggak mau kalian sakit." Pinta Gabriel.


"Baiklah Sayang, jaga dirimu, jangan sampai kamu sakit." Pesan Alvaro.


"Kak, lu juga." Tunjuk Gabriel pada Sena dan Kelvin.


"Eits kaga, gw mau cari Allice sampe ketemu." Tolak Kelvin.


"Lu berdua kaga balik, anak lu gw jadiin sup." Ancam Gabriel membuat Sena dan Kelvin langsung membulatkan matanya sempurna.


"Udah sono balik, jagain Mama Papa." Ucap Gabriel bersikeras mengusir, Sena dan Kelvin hanya menurut saja, namun dalam hati kecil mereka, mereka sangat ingin ikut mencari Allice.


Gabriel dan yang lain terus mencari Allice hingga matahari memunculkan sinarnya.


"Iel, kita pulamg ya, udah pagi, biar mafioso sama pihak berwajib yang nyari, kamu pasti juga udah cape, semalaman kamu nggak istirahat sama sekali." Ucap Raiden membujuk.


"Hemm iya." Jawab Gabriel menurut, karna ia juga sudah merasa lelah mencari semalaman namun tidak ada jejak apapun.


"Kalian semua balik aja, biar gw sama Kenan tetep nyari, kalo ada kabar kita langsung kasih tahu." Ucap Bastian yang sudah melihat Gabriel dan yang lain sudah mulai lelah.


"Iya lu pada balik aja, kita usahain buat nemuin Queen kecil kita." Imbuh Kenan.


"Lu pada juga Azza, Adel, udah sembab juga mata lu." Lanjutnya berbicara pada Azza dan Adel.


"Hmmm." Dehem Azza dan Adel yang masih bersedih juga sudah kelelahan.


"Tin, kita balik ya." Bujuk Gilbert pada Austin.


"Lu balik balik aja, gw mau cari Allice." Balas Austin ketus. Gilbert langsung menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Austin, lu jangan keras kepala, ntar kalo lu sakit siapa yang mau cari Allice, kalau lu sakit Allice nggak akan sedih gitu?" Ucap Raiden berusaha membujuk.


"Beneran, Bang?" tanya Austin.


"Iya, coba kalo Allice disini, dia pasti udah nyuruh lu buat istirahat, dia pasti nggak mau kalau lu kelelahan apalagi sakit." Jawab Raiden masih berusaha membujuk.


"Iya, ayo pulang, istirahat dulu, masih ada Bastian dan Kenan yang disini, nanti juga pasti ada pihak berwajib, helikopter nya juga udah ganti 3 kali." Ucap Gabriel juga berusaha membujuk.


"Iya, Kak." Ucap Austin yang akhirnya mau untuk pulang.


"Lu berdua ikut sama gw, biar Austin sama Gilbert dan Ryan." Ucap Gabriel pada Azza dan Adel.


"Iya."


Gabriel, Raiden, Azza dan Adel langsung masuk kemobil dengan Raiden yang menyetir.


"Tin, ayok." Ajak Gilbert.


"Hmmm." Dehem Austin langsung berjalan pergi.


Sampai didepan mansion Austin, mereka bertiga langsung turun dan masuk kedalam mansion.


Didalam ada Alvian dan Vera yang sudah menunggu Austin kembali.


"Austin, kamu dari mana aja, semalaman nggak pulang." Ucap Vera yang melihat Austin datang namun Austin tidak menghiraukan ucapan Vera, ia langsung berlalu dan masuk kekamar begitu saja.


"Ada apa dengannya?" tanya Alvian.


"Entahlah." Jawab Vera.


"Om, Tan, nanti kita ceritain, biar Austin istirahat dulu." Ucap Gilbert.


"Iya, kalian kok kelihatan lesu banget, ada apa? ada masalah apa?" tanya Vera.


"Duduk aja dulu." Ucap Alvian menyuruh duduk.


"Iya, Om." Kompak Gilbert dan Ryan.


"Bi, ambilin minum." Pinta Vera pada asisten rumahnya.


"Bik, Nyah."


"Ini Nyah, minumnya." Ucap Bibi memberikan minum.


"Makasih, Bi." Ucap Ryan.


"Cerita, ada apa?"


"Gini Om, Tan, semalem kita kemansion om Alvaro buat cari Allice, tapi Allice cari pembunuh mamanya, tapi sayangnya Allice jatuh kejurang, dan sampai sekarang belum ditemuin." Ucap Ryan mulai menjelaskan.


"Hah! Allice!" Kaget Vera menganga.


"Pa, calon mantu Mama, Pa." Sedih Vera.


"Tenanglah, pasti Alvaro lebih sedih sekarang, putra kita juga sedang broken heart." Ucap Alvian.


"Tapi Om, Tan, tante Sisil masih hidup, sekarang dia udah balik kemansionnya." Ucap Gilbert.


"Hah apa Sisil." Kaget Alvian dan Vera.


"Iya."


"Saran saya Tan, jangan sekarang, mereka pasti lagi sedih." Ucap Gilbert.


"Iya bener itu apa kata Gilbert, sekarang kita urus dulu Austin." Ucap Alvian.


"Iya." Ucap Vera.


"Kalian juga istirahatlah dulu disini, biar nanti Tante yang bilang ke orang tua kalian." Ucap Vera.


"Boleh, Tan?" tanya Ryan.


"Iya, nanti pakek aja kamar disamping kamar Austin." Ucap Vera.


"Makasih Tan, kita kekamar dulu, cape banget." Pamit Ryan.


"Bi, tolong siapin makan buat Austin sekarang." Pinta Vera.


"Iya, Nyah."


"Jangan banyak tanya dulu." Ucap Alvian pada Vera.


"Iya aku tahu." Jawab Vera.


"Ini Nyah, makanannya." Ucap Bibi memberikan satu nampan berisi menu sarapan untuk Austin.


"Makasih, Bi." Ucap Vera langsung pergi membawa makanan tersebut keatas menemui Austin.


Tok, tok, tok.


Vera mengetuk kamar Austin, namun tak ada jawaban sama sekali, ia langsung saja masuk, Vera mendapati Austin sedang menangis dengan memandangi foto Allice.


"Austin, jangan sedih Sayang, Allice pasti ketemu." Ucap Vera menaruh nampan diatas nakas samping tempat tidur Austin.


"Ma, Allice Ma." Ucap Austin. Vera yang tak tega melihat Austin menangis untuk petama kalinya setelah ia dewasa langsung memeluk Austin untuk menenangkannya.


"Sayang, sudah lah, jangan menangis, Allice pasti ditemukan dengan selamat, yakinlah pada hati mu." Ucap Vera.


"Tapi Ma."


"Yakinlah Sayang, jangan menyiksa batinmu, Allice tidak ingin kamu begini." Ucap Vera.


"Hmmm." Dehem Austin masih dalam pelukan Vera.


"Makan dulu ya." Ucap Vera melepas pelukannya, namun Austin sudah menutup matanya pingsan.


"Austin, Nak, Austin." Ucap Vera menepuk nepuk pipi Austin, ia langsung menidurkan Austin dan berteriak memanggil Alvian.


"VIANN CEPAT KEMARI PANGGIL DOKTER." Teriak Vera hingga mengagetkan Ryan dan Gilbert.


"Ada apa?" tanya Alvian yang datang dengan berlari.


"Austin pingsan, cepat panggil dokter." Ucap Vera panik.


"I iya, kau jangan panik, membuat ku panik saja." Ucap Alvian menelpon dokter.


"Ada apa, Tan?" tanya Ryan yang baru datang.


"Austin pingsan." Jawab Vera.


"Oh." Ucap Ryan dan Gilbert namun satu detik kemudian.


"HAH APA PINGSAN." Kaget mereka kompak langsung mendekati Austin dan memastikan.


"Baru pertama kalinya dia pingsan." Ucap Gilbert.


"Karna Allice, semoga Allice cepet ketemu." Ucap Ryan.


Dokter yang baru saja datang langsung memeriksa keadaan Austin.


"Nyonya Tuan, Tuan Austin tidak apa apa, ia hanya kelelahan dan sedikit tertekan, biarkan dia istirahat total, jangan ada yang menggangu, saya sudah menyuntikan obat." Tutur dokter memberi tahu.


"Baik Dokter, terimakasih, mari saya antar." Ucap Alvian.


"Kalian berdua kembalilah kekamar, istirahat." Suruh Vera sembari menyelimuti Austin.


"Iya, Tan."


Setelah semuanya keluar Vera mengecup kening Austin lalu membawa makanan yang ia bawa tadi keluar, dan menutup kamar Auatin, membiarkannya istirahat.


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕