MY DARK

MY DARK
MD#36



Tok, tok, tok.


Sekretaris mengetuk pintu ruangan Gabriel.


"Masuk." Suruh Allice dari dalam.


Sekretaris langsung masuk.


"Nona, saya..." Belum ia menyelesaikan ucapannya langsung dipotong oleh Allice.


"Cepat sekali." Ucap Allice yang membuat bingung Sekretaris. "Ini ambilah, langsung berikan pada kakak ku, nanti bilang saja kalau suratnya sama persis dengan yang tadi." Ucap Allice memberikan satu lembar kertas yang sudah ia ubah isinya menjadi penyerahan dan pengalihan harta kepada Raiden.


"Baik, Saya pergi dulu." Ucap Sekretaris langsung pergi kembali keruangan khusus.


"Nona, Tuan, ini surat kontrak yang Anda minta, sama persis seperti tadi." Ucap Sekretaris memberikannya pada Gabriel.


"Sini sini, Aku dulu yang tanda tangan." Rebut Sintiya, Gabriel hanya menyunggingkan senyumnya melihat kebodohan Sintiya yang tak mau membaca suratnya terlebih dahulu.


Gabriel langsung melirik Raiden agar menjalankan rencana selanjutnya, yaitu membuka semua perekam yang ada dalam ruangan, baik suara maupun gambar. Raiden langsung membukanya dengan hanya menggunakan remote kecil yang berada disaku jas nya. Dengan otomatis semua perekam langsung merekam kejadian dimana Sintiya dan Andreas menandatangi suratnya tanpa ragu juga akan merekam kejadian yang akan datang.


"Ini, Pah." Ucap Sintiya memberikan suratnya pada Andreas.


Andreas juga dengan yakinnya menandatangi tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Sudan Nona, sekarang giliran Anda." Ucap Andreas memberikan kertasnya, Gabriel menerima dengan senyumnya. Namun saat Gabriel akan menandatanganinya ia melihat hanya ada satu tanda tangan yang kosong, bukan atas namanya melainkan Raiden.


Gabriel dengan senyumnya memberikan kertasnya pada Raiden.


"Tanda tanganlah." Suruh Gabriel pada Raiden, Raiden langsung menerima dan menandatangani nya tanpa ragu.


"Nona, apa apaan ini, kenapa dia yang menandatangani." Ucap Andreas langsung berdiri dari kursinya.


"Apanya yang salah?" tanya Gabriel masih duduk.


"Seharusnya Anda yang menandatangani nya bukan dia, dia hanya asisten Anda." Jawab Andreas menggebu gebu.


Brak!


Allice masuk dengan membuka pintunya keras keras mengagetkan Andreas, Sintiya san Sekretaris Gabriel.


Prok, prok, prok


Allice bertepuk tangan untuk kebodohan yang dilakukan oleh Andreas dan Sintiya.


"Selamat atas kebangkrutan kalian." Ucap Allice.


"Siapa kamu!?" tanya Andreas dengan nada tinggi.


"Hei Pak tua, turunkan nada bicaramu!" Marah Gabriel tak terima.


"Anda.." Ucap Andreas terpotong ucapan Allice.


"Iya, Kakak saya, dan dia calon Kakak ipar saya." Ucap Allice lalu menunjuk Raiden, Raiden yang ditunjuk langsung berdiri.


"Dari kemarin Anda bilang, kalian tidak mengenali saya, padahal saya adalah tunangan, ah maaf mantan anak Anda." Ucap Raiden.


"Anda menggunakan anak Anda untuk merebut semua harta kekayaan keluarga Geovani secara bukan? dan sekarang apa yang menjadi hak saya, harus menjadi milik saya." Lanjut Raiden lagi.


"Ka...kalian menipu ku!" Marah Andreas hendak merebut kertas didepan Raiden, namun dengan cepat Allice merebutnya.


"Tidak semudah itu." Ucap Allice.


"Selamat atas kebangkrutan keluarga Mandala." Ucap Gabriel menertawakan Andreas dan Sintiya.


"Dan ya, untuk mu Nona Sintiya yang terhormat, jangan pernah mengganggu milikku." Ucap Gabriel menekan kata katanya.


Raiden yang mendengar tersenyum senang, karna dengan terang terangan Gabriel mengatakan bahwa Raiden adalah miliknya.


"Kalian semua akan mati ditangan ku!" Ucap Andreas menodongkan pistol tepat dihadapan Raiden. Raiden seperti terlihat ketakutan begitu juga Sekretaris yang berada dibelakang Gabriel.


"Harusnya aku membunuhmu dulu baru orang tua mu." Ucap Andreas tak sadar telah mengakui kejahatannya.


"Hahahahahh." Gabriel dan Allice langsung tertawa ngakak.


"Kalian gila?! ini pistol." Ucap Sintiya menunjuk pistol yang berada ditangan Andreas.


"Yang bilang mainan siapa *****." Ejek Gabriel.


"Nona..." Ucap Sekretaris takut.


"Tenang lah." Ucap Gabriel.


"Pistol murahan." Ucap Allice datar, ia langsung mengeluarkan pistolnya dari balik jaketnya dan mengarahkannya pada Andreas.


Andreas dan Sintiya langsung gemetar ketakutan karna melihat pistol Allice memiliki lambang BDG.


"BDG." Batin Raiden didengar oleh Allice, Allice hanya melirik Raiden sekilas lalu fokus lagi pada Andreas dan Sintiya.


"Hmmm bagaimana? kita mulai dari mana dulu? atau mau ku masukkan kekandang singa." Tawar Allice.


"Ah t...tii...tidak Nona, lebih baik aku mendekam dipenjara dari pada harus masuk kemarkas mu." Ucap Andreas takut.


"Pah, aku nggak mau ya." Protes Sintiya.


"Diam lah." Bentak Andreas pada Sintiya.


"Turunkan pistolmu." Suruh Gabriel.


"Baa...baik." Ucap Andreas gemetar menurunkan pistolnya.


"Kamu telpon polisi sekarang." Suruh Gabriel pada Sekretaris nya, yang langsung dituruti.


"Sambil menunggu bagaimana kalau kita ngopi dulu." Usul Gabriel.


"Lu sendiri aja sono." Ucap Allice acuh.


"Nggak asik lu." Cibir Gabriel.


Raiden terus memandang Gabriel dengan tatapan meminta panjelasan.


"Iya, ntar gw jelasin." Ucap Gabriel yang mengerti. "Duduk aja." Suruh Gabriel pada Raiden.


"Siniin tuh laptop." Ucap Allice meminta laptop.


"Matiin perekamnya." Suruh Allice.


"I.iya." Ucap Raiden langsung mematikan.


"Chipnya mana?" tanya Allice.


"Sebentar, Nona." Ucap Sekretaris mengambilkan chip berisi rekaman.


"Kalian sungguh licik." Ucap Sintiya.


"Hei diamlah, untung adikku tidak jadi membunuhmu." Ucap Gabriel membungkam mulut Sintiya.


"Nantikan saja rumah baru berjerujimu." Imbuh Gabriel.


"Ini, Nona." Ucap Sekretaris memberiakn chip.


Allice langsung menyimpan videonya dilaptop dan mengunggahnya kedalam media sosial.


"Selesai." Ucap Allice.


"Ngapain lu tadi?" tanya Gabriel.


"Buka aja HP lu." Suruh Allice, sontak semuanya membuka HPnya, membuka kabar berita yang tranding no.1


"Wah hebat, Nona." Puji Sekretaris.


"Adik gw itu." Ucap Gabriel.


"Tapi cepet amat viralnya." Ucap Raiden.


"Siapa dulu calon Kakak ipar ku tersayang." Ucap Allice membuat Sintiya terbakar hebat.


Diberita tertulis bahwa keluarga Mandala sudah mengambil harta kekayaan keluarga Geovani secara paksa dan berakibat menewaskan Tuan dan Nyonya Geovani, dan sekarang hanya dan kekayaannya kembali ketangan Anak tunggal keluarga Geovani, Raiden Daren Geovani. Juga berisi bukti video pengakuan dari Andreas.


Tak selang berapa lama datanglah polisi mengamankan Andreas dan Sintiya membawanya kekantor polisi untuk menghukum mereka dengan seberat beratnya.


"Oh ya, nih Pak, bukti lengkapnya." Ucap Gabriel memberikan chip tadi.


"Terimakasih, Nona." Ucap Polisi sebelum pergi.


"Kamu amankan dulu surat ini." Suruh Gabriel pada Sekretaris nya.


"Baik, Nona." Ucapnya langsung pergi.


Kini tinggalah Allice, Gabriel dan Raiden.


"Ok gw bakal jelasin, semua keluarga gw itu BDG, mendiang Mama gw itu Queen pertama, gw kedua, dan ketiga Allice." Ucap Gabriel menjelaskan pada Raiden.


"Kalo lu mau pergi ngejauh juga silahkan." Ucap pasrah Gabriel.


Grep


Raiden langsung memeluk Gabriel erat.


"Makasih buat semuanya, gw nggak tahu harus ngucapin makasih dengan cara apa lagi, andai lu jelasin dari awal, gw nggak akan kaget kayak gini." Ucap Raiden masih memeluk Gabriel.


"Jadi?" tanya Gabriel.


"Jadi gw mau terima lu apa adanya, kayak lu terima gw yang apa adanya, mafia juga tidak sepenuhnya jahat." Ucap Raiden menatap mata Gabriel.


"Makasih." Ucap Gabriel.


"Aduh mata gw." Ucap Allice sengaja mengganggu.


"Elah ganggu aja lu." Cibir Gabriel.


"Lu aja buta, masih ada gw main peluk peluk aja." Elak Allice.


"Iya juga." Ucap Gabreil cengoh. "Lu sih, malu kan gw." Lanjutnya memukul pelan dada Raiden.


"Udah sono lanjutin gw mau pergi." Ucap Allice.


"Kemana lu?" tanya Gabriel.


"Kepo amat." Jawab Allice langsung berjalan keluar.


"Heleh palingan juga ketemu si Austin." Ucap Gabriel menebak.


"Sok tahu." Ucap Allice tersenyum tanpa melihat Gabriel.


"Keluar yuk." Ajak Raiden.


"Kemana?" tanya Gabriel.


"Keluar aja, cafetaria depan juga boleh." Ucap Raiden.


"Yaudah ayok, tapi bentar keruangan dulu, mastiin suratnya aman." Ucap Gabriel beranjak diikuti Raiden.


"Nah aman." Ucap Gabriel yang sudah melihat surat yang ia cari.


"Nih simpen jangan sampe ilang." Ucap Gabriel memberikannya pada Raiden.


"Iya nanti ku simpen, biar disini aja, aman pasti, kita keluar dulu." Ucap Raiden.


"Yaudah ayok."


***************************************


~BERSAMBUNG~


LIKE, COMMENT, KASIH RATE 5


JANGAN LUPA VOTE & TAMBAHKAN FAVORITE


JANGAN LUPA👆


SEE YOU NEXT EPISODE 😉


BYE~


AUTHOR SAYANG KALIAN💕💕